Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Basket 2


__ADS_3

Selamat membaca!


.


.


.


"Kenapa mereka terlihat menyeramkan?" Bisik Albert pada David di sebelahnya.


"Entahlah! Aku merasa ada yang aneh." Balas David ikut berbisik.


"Max... bolanya lempar kemari." Teriak Albert setelah menganggukkan kepala pada David.


HUP


BUGH


"Aw..."


"Kamu baik-baik saja, Al?" Tanya David yang menghampiri Albert yang terjatuh akibat kakinya dicekal oleh pria dengan nomor punggung 3.


"Ya. Aku tidak apa-apa." Balas Albert lalu berdiri dibantu oleh David.


"Sepertinya mereka mulai bermain kasar." David menatap tajam pria dengan no punggung 3 yang baru saja mengoper bola pada Gibran.


"Go Gibran... go Gibran..." Teriakan cheerleader memberi semangat setelah Gibran berhasil mencetak 2 poin.


Bola kini beralih ke tangan Rihan. Rihan dengan tenang menggiring bola sehingga Gibran mulai berusaha mendekati Rihan. Gibran lalu memberi kode pada Johar, pria dengan nomor punggung 3 untuk mendekat pada Rihan.


Rihan yang mengetahuinya, hanya melirik sekilas dan mulai menggerakkan/memutar badan sambil bertumpu pada salah satu kaki. Sambil bergerak, Rihan terus menjaga bola agar tidak direbut oleh tim lawan. Apa yang Rihan lakukan merupakan teknik pivot.


Gibran yang melihat gerakan Rihan, hanya menggertakkan giginya. Jarang sekali ada yang menggunakan teknik pivot dengan sempurna seperti yang dilakukan Rihan. Gibran sendiri selalu mengandalkan teknik pivotnya untuk mengecoh lawan. Dan tidak disangkah, Rihan menggunakannya untuk menjaganya merebut bola darinya.


"Alex..." Panggil Rihan lalu melempar bola pada Alex ketika sekilas dia melihat Johar ingin mencekal kakinya. Rihan lalu melompat menghindar dari gerakan licik Johar.


HUP


Alex berhasil menangkap bola. Alex kemudian mendribble bola hingga beberapa meter di depan ring lawan, Alex lalu melakukan jump shoot dan...


TUK


SRING


Alex berhasil mencetak 2 poin untuk timnya.


[SEMANGAT PRIA DINGIN...]


"Panggilan untuk kak Alex ternyata keren juga," Canda Albert lalu tertawa kecil diikuti oleh David dan Max.


"Aku setuju." Balas Max.


"Waktu hampir habis, jangan biarkan mereka menambah poin lagi." Ucap Rihan cepat.


Skor kini 20 : 10.


"Siap!"


Permainan terus berlanjut. Hingga...


Prieeeet


"Yes! Tim Tuan Muda Rehhand menang..." Teriak para fans Rihan.


"Pertahankan kerja sama timnya. Ingat untuk tidak terkecoh, dan perhatikan gerak-gerik mereka." Ucap Rihan pada keempat pria dengan berjalan beriringan menuju tempat istriahat.


"Siap. "


"Minumnya, Tuan Muda." Ayu dan Ariana hampir bersamaan memberikan minuman botol untuk Rihan yang baru saja duduk.


Rihan hanya menatap datar dua gadis di depannya yang berusaha menarik perhatiannya. Sedangkan Dian, dia juga ingin melakukannya, tetapi tidak jadi karena Ariana dan Ayu sudah lebih dulu melakukannya. Sehingga Dian beralih pada keempat pria di depannya.


"Maafkan saya yang terlambat, Tuan Muda. Ini minuman anda, Tuan." Alen dengan nafas terengah-engah karena berlari.

__ADS_1


"Hmm." Deheman Rihan lalu menerima minuman itu dan meneguknya.


Ariana dan Ayu yang melihatnya hanya bisa menghela nafas kecewa dan menatap tajam Alen. Sayangnya, Alen tidak mempedulikannya.


Sedangkan di sisi Gibran.


BRUK


"Sial... kenapa kita bisa kalah jauh?" Marah Gibran setelah melempar botol minumnya yang tidak sempat dia habiskan karena emosi.


"Dan kamu Johar... aku memintamu untuk menjalankan rencana B. Lalu apa yang kamu lakukan?" Tanya Gibran sambil mengambil minuman baru di sampingnya dan meminumnya.


"Maaf, Bos. Aku sudah melakukannya, dan hanya pria yang dipanggil Albert yang kena, tapi dia baik-baik saja. Sedangkan untuk Tuan Muda, sepertinya dia tahu rencana kita sehingga bisa menghindar." Johar menjawab menatap takut pada Gibran.


"Kamu saja yang bodoh! Setelah babak ketiga ini, aku harap bukan hanya Johar yang melakukannya, tetapi yang lain juga. Aku tidak ingin kalah dari pria anti sosial itu. Apapun caranya, kita harus menang. Karena seorang Gibran tidak pernah kalah." Gibran meremas kuat minuman botol di tangannya melampiaskan amarahnya.


"Baik, Bos."


Prieeet.


Kedua tim kembali berkumpul karena babak ketiga akan segera dimulai.


"Karena babak pertama dan babak kedua hasilnya seri, maka ada babak ketiga sekaligus babak penentu siapa pemenangnya. Kedua tim siap?" Tanya sang Wasit diakhir kalimatnya.


Biasanya basket membutuhkan 4 set untuk bermain, tapi mereka kali ini tidak bermain full dan hanya bermain dengan memakai metode sederhana. Pengambilan poin seperti dalam permainan volly.


"Siap."


Prieeet.


Permainan pun dimulai.


Tim Gibran kini memegang kendali.


"Lempar bolanya kemari, Jo." Teriak Gibran pada Johar.


HUP


"Heh... ingin melawanku? Jangan pernah bermimpi!" Ejek Gibran yang berhasil menghindar dari Max dan Albert.


Gibran kini sudah semakin dekat dengan ring lawan. Dengan menggunakan teknik Slam dunk yang merupakan teknik menembakkan bola dengan cara melompat ke udara, dimana pemain harus mampu melompat setinggi mungkin dan memasukkan bola secara langsung ke dalam keranjang. Jadi, bola tidak sekadar dilempar atau dilambungkan ke arah ring.


Ketika Gibran berhasil melompat dan ingin memasukan bola,


SLAP


Seseorang berhasil menghalau bola yang masuk ke dalam ring. Akhirnya bola yang tadinya ingin dimasukan oleh Gibran, tidak berhasil masuk. Gibran dengan marah menatap tajam orang yang tadinya menghalanginya memasukan bola ke dalam ring.


"Kau selalu saja bisa membaca gerakanku,Tuan Muda." Geram Gibran dalam hatinya sambil menatap tajam Rihan yang ternyata ikut melompat bersama Gibran untuk menghentikan bola yang akan dimasukan ke dalam ring.


Rihan yang sadar dengan tatapan itu, hanya membalas dengan memasang senyum miring pada Gibran, membuat Gibran semakin emosi.


"Rupanya kamu ingin bermain-main denganku. Kita lihat saja!" Gumam Gibran dalam hati sambil mengepalkan tangannya.


...


Bola kini berada di tangan Max karena baru saja dioper oleh Rihan. Max dengan serius mulai mendribble bola menuju ring lawan. tapi, dihalangi oleh Johar dan satu temannya lagi. Sepertinya mereka tidak ingin membiarkan Max melewati mereka.


Prieeet.


"Ada apa?" Tanya Max bingung karena waktu masih ada tetapi wasit sudah menghentikan permainan.


"Pelanggaran!" Jawab Wasit membuat Max melongoh sedangkan Johar dan temannya tersenyum senang.


"Maksud anda?" Tanya Max masih bingung.


"Peraturan 8 detik." Jawab Wasit membuat Max sadar jika ternyata dia dihalangi dengan ketat tanpa cela, agar dia membuat pelanggaran.


Peraturan 8 Detik yaitu, Pemain boleh mempertahankan bola di daerah timnya sendiri, tetapi dibatasi waktu selama 8 detik. Jika bola masih berada di daerah pertahanan tim setelah lewat waktu 8 detik, hal ini dianggap sebagai pelanggaran.


Permainan kini semakin sengit. Tim Gibran unggul 2 poin. 12 : 10, sedangkan waktu masih 5 menit berlalu.


"Aku ingin orang pertamanya adalah Albert." Bisik Gibran pada Johar.

__ADS_1


"Siap, Bos." Balas Johar lalu menuju temannya dan membisikkan kalimat yang sama kemudian diangguki oleh pemain bernomor punggung 5.


Bola kini di tangan Max. Dia sedang berusaha agar tidak lagi melakukan pelanggaran. Max kemudian menatap Albert yang kini dekat dengannya.


"Al... bolanya." Panggil Max lalu melempar bola pada Albert.


HUP


Albert berhasil menangkap bola. Max lalu mendribble bola menuju ring lawan.


"Rei..." Panggil Albert kemudian melempar bola pada Rihan.


HUP


BRUK


Bola berhasil ditangkap oleh Rihan, bersamaan dengan jatuhnya Albert karena disengaja oleh Johar yang mencekal kaki Albert ketika hendak melangkah.


Rihan hanya menatap datar Johar dan temannya. Rihan beralih menatap Alex kemudian memberi kode untuk melihat Albert. Setelah Alex menuju Albert, Rihan mulai menggiring bola rendah hingga mendekati ring lawan.


Rihan mengerutkan keningnya ketika Gibran dan seorang temannya menghalangi jalannya. Rihan menyadari sesuatu dan melirik sekilas waktu permainan yang terus berjalan.


"Ingin aku membuat pelanggaran?" Batin Rihan memasang senyum miring pada Gibran.


Rihan sadar jika Gibran ingin membuatnya melakukan pelanggaran, atau melanggar peraturan 24 Detik, dimana pemain boleh melakukan serangan hanya dalam waktu 24 detik sebelum bola menyentuh ring. Bila penyerangan dilakukan lebih dari waktu yang ditentukan, tim akan dinyatakan melakukan pelanggaran.


Rihan yang ingin bermain-main dengan Gibran hanya berusaha menghindar sambil melirik waktu yang menunjukan sudah berapa detik Rihan melakukan penyerangan.


Rihan yang sedang bermain-main, membuat Gibran berpikir bahwa dia tidak tidak bisa menghindar hingga melakukan pelanggaran nanti. setelah waktu sudah 20 detik, Rihan lagi-lagi melakukan teknik pivot untuk menghindari Gibran dan temannya.


Rihan kemudian menggunakan Lay Up atau teknik yang menggabungkan tiga gerakan sekaligus, yaitu lari, lompat, dan menembakkan bola. Setelah mendribble bola dan berhasil lolos dari Gibran, Rihan melangkah lebar sebanyak dua kali ke arah ring, kemudian melompat sambil melambungkan bola agar masuk ke keranjang.


TUK


Rihan berhasil mencetak 2 poin sehingga skor mereka menjadi 12 poin, selisih 1 poin dengan tim Gibran.


"Sial... bajingan itu!" Gibran mengutuk karena tidak bisa membiarkan Rihan membuat pelanggaran.


...


Waktu masih 8 menit, tetapi wasit tiba-tiba memberi waktu istirahat dadakan karena Albert yang mengalami cedera pada kakinya akibat jatuh tadi.


"Kamu baik-baik saja, Al?" Tanya David ketika melihat kaki bengkak Albert.


"Sepertinya mereka sangat ingin menang. Aw..." Jawab Albert sambil meringis ketika Rihan menekan kakinya yang bengkak dan membiru.


Rihan membuka tasnya dan mengambil sebuat botol kecil seperti parfum dan mulai menyemprotkan pada kaki Albert.


"Wah... cepat sekali efeknya." Albert senang karena kakinya mulai terasa lebih baik.


Jangan salah jika efeknya secepat itu, karena itu merupakan racikan khusus untuk memar dan keseleo sehingga Rihan selalu membawanya kemana-mana.


"Maafkan aku, Al." Max merasa bersalah.


" Hei... ini bukan apa-apa, jangan terlalu dipikirkan." Albert tidak enak hati. Resiko bermain dengan orang curang sudah biasa bagi Albert.


"Kaum masih bisa bermain, Al?" Tanya David.


"Bisa. Kakiku sepertinya sudah sembuh." Jawab Albert dan berusaha berdiri.


"Diam di tempatmu." Ucap Rihan datar.


"Tapi bagaimana dengan permainannya?" Tanya Albert ragu-ragu dan kembali duduk.


"Biar saya saja yang bermain, Tuan." Tawar Alen.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.

__ADS_1


__ADS_2