
Sebelumnya, maaf karena part ini kebanyakan narasi.
.
.
.
"Maafkan aku karena datang terlambat, gadis kecil. Aku benar-benar minta maaf," Suara Zant terdengar lirih.
Zant kini menatap tubuh Rihan yang terbaring kaku di brankar. Mereka saat ini ada dalam helikopter menuju rumah sakit.
Sebagai seorang dokter, Zant jelas tahu seperti apa kondisi Rihan. Melihat lubang di jantung Rihan, dadanya berdenyut sakit. Zant merutuki kebodohannya sendiri karena datang terlambat.
Jika saja dia tidak membersihkan para mata-mata terlebih dahulu di kediaman presiden Jerman, pasti dia tidak akan terlambat. Jika saja dia tepat waktu, gadis kecilnya tidak akan mengalami semua ini.
Beberapa menit lalu, Zant tiba di ruang bawah tanah. Jantungnya hampir saja berhenti berdetak melihat kondisi Rihan yang begitu parah.
Menenangkan dirinya sendiri, Zant kemudian memerintahkan para bawahannya untuk mengurus Mommy Rosse dan Mama Shintia yang sudah tidak sadarkan diri. Untuk Rihan, Zant sendiri yang akan mengurusnya.
Karena kondisi Rihan yang begitu parah, sehingga Zant membawa Rihan lebih dulu dengan helikopter. Untuk kedua ibu Rihan, mereka dibawa oleh mobil ambulance yang tiba beberapa menit setelah helikopter.
Tangan Zant bahkan gementar karena denyut jantung Rihan hampir tidak terasa. Kondisi tubuh Rihan sudah tidak tertolong lagi. Samurai tajam yang menembus jantungnya membuat organ tubuhnya rusak parah.
"Melihat kondisi jantungnya, waktunya paling lambat besok, Tuan. Tidak ada cara lain untuk menyelamatkannya. Luka di jantungnya benar-benar tidak bisa ditolong lagi.
Meski kita melakukan transplantasi jantung, tetap saja tidak bisa tertolong, mengingat jantungnya yang sekarang adalah hasil pencakokan. Jadi..." Jelas Dokter Edward yang duduk di samping Zant sambil menatap tubuh Rihan di depan mereka.
"Aku tahu! Tapi, aku akan melakukan segala cara untuk menyelamatkannya. Meski nyawaku sendiri taruhannya. Aku tidak ingin kehilangannya lagi, Ed." Zant mengenggam erat tangan Rihan yang mulai terasa dingin.
"Saya mengerti maksud anda, Tuan. Tapi itu mustahil! Dalam setiap kasus seperti ini, belum pernah ada satupun pasien yang selamat." Dokter Edward bisa menebak hasil akhir kondisi Rihan.
"Karena itu... karena itu, aku... aku akan menyelamatkannya apapun caranya." Balas Zant pelan. Tanpa sadar air matanya pria itu jatuh membasahi pipinya.
"Aku pikir tidak akan bertemu denganmu lagi. Terima kasih karena sudah kembali padaku. Aku akan berusaha semampuku untuk menyelamatkanmu. Tenang saja, gadis kecil. Meski harus memakan waktu bertahun-tahun, aku akan tetap berusaha menyelamatkanmu. Sudah cukup aku kehilanganmu waktu itu. Tidak untuk kali ini." Batin Zant sedih.
Zant semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Rihan, berharap bisa menghangatkan tangan dingin itu.
***
Srekk
__ADS_1
Brakk
Prang
Prang
Srekk
Brukk
Zant membuang semua buku kedokteran miliknya karena marah tidak menemukan satupun jalan keluar untuk menyelamatkan Rihan. Ruang pribadinya sudah seperti kapal pecah dengan banyaknya buku-buku berserahkan, bahkan banyak buku dia robek kemudian membuangnya sembarangan.
Saat ini Zant berada di perpustakaan miliknya di kediaman presiden Jerman. Pria itu sedang berusaha mencari buku kedokteran yang mungkin bisa membantunya menyelamatkan Rihan. Sayangnya, tidak ada satupun buku yang sesuai.
Rihan sudah dibawa ke rumah sakit untuk dirawat. Sebenarnya itu hanya sia-sia karena tidak akan ada perubahan pada gadis itu. Mommy Rosse dan Mama Shintia juga dirawat di rumah sakit yang sama, dengan kamar VVIP yang bersebelahan.
Alex, Alen, Mentra, Beatrix dan Dokter Galant begitu khawatir dengan kondisi Rihan. Alex bahkan menyakiti dirinya sendiri ketika melihat tubuh sang majikan yang begitu pucat. Mendengar bahwa waktu sang majikan paling lambat besok pagi, Alen dan Beatrix menangis sejadi-jadinya.
Zant sebelum membawa Rihan ke rumah sakit, pria itu sudah memberitahu kondisi Rihan pada keluarganya begitu juga kedua ibu Rihan. Semua orang begitu khawatir.
Mommy Rosse dan Mama Shintia langsung dibawa ke ruang operasi setelah mereka tiba di rumah sakit. Kondisi dua wanita kesayangan Rihan itu baik-baik saja. Mereka hanya membutuhkan transfusi darah, juga operasi untuk menutup luka akibat samurai itu.
Avhin juga ikut serta dengan Alex dan yang lainnya. Presiden Jerman bersama sang istri juga menyempatkan waktu untuk melihat Rihan, setelah itu kembali ke kediaman mereka. Semua orang hanya bisa berdoa semoga Rihan baik-baik saja.
Alex dan yang lainnya masih setia di ruang rawat Rihan. Alex mengepalkan tangannya. Emosi pria itu sama sekali belum stabil. Ingin sekali dia membunuh Elle karena melakukan hal ini pada majikannya. Untung saja Alen dan Beatrix menenangkan pria itu sehingga dia mengurungkan niatnya untuk mencari Elle.
Menghela nafasnya berkali-kali berusaha tenang, ponsel Alex berbunyi mengalihkan perhatian pria itu. Dengan pelan Alex mengambil ponselnya dalam saku celananya dan menemukan nomor asing mengirim pesan suara padanya.
Tanpa pamit pada yang lainnya, Alex keluar dan duduk di kursi tunggu depan kamar Rihan. Alex lalu memasang earphone di telinganya yang sudah terhubung dengan ponselnya. Dia memutar pesan suara itu.
"Kak...!"
Satu kata pembuka itu membuat jantung Alex berdebar kencang. Dia sangat-sangat mengenali suara itu. Tanpa sadar air matanya menetes.
"Aku tahu kak Alex pasti menyalakan diri sendiri. Tapi, Kak... semua ini keputusanku. Kak Alex pasti tahu seperti apa aku, 'kan? Pesan suara ini sengaja aku atur agar dikirim padamu setelah pertarungan terakhirku. Entahlah, aku hanya merasa firasat buruk sebelum pergi menyelamatkan kedua wanita terhebatku.
Padahal misiku untuk membalas Ariana belum terlaksana. Jika aku meminta kak Alex dan yang lainnya untuk berhenti membalas dendam pada Ariana dan Elle, itu pasti percuma. Kalian akan tetap melakukannya.
Jika aku benar-benar tidak bisa selamat, tolong jaga kedua orang tuaku, ya. Karena kak Alen sudah menjadi bagian dalam keluarga Papa Jhon, maka dia yang akan menjaga mereka. Sebaliknya, kak Alex harus menjaga Mommy Rosse dan Daddy Jhack untukku. Daddy Jhack sudah menambahkan nama kak Alex dalam kartu keluarga. Jadi, jika aku tiada, kak Alex akan menjadi pewaris J2R Lesfingtone. Jaga mereka untukku, ya.
Untuk R.A Group, aku percaya, kak Alex, kak Alen, kak Mentra dan kak Beatrix akan mengurusnya dengan baik. Aku percaya semua orang kepercayaanku akan bekerja dengan baik. Kalian selalu menjadi andalanku.
__ADS_1
Terima kasih sudah berada di sampingku selama ini. Maafkan aku karena belum mengabulkan permintaan kalian untuk tersenyum. Sampaikan salamku pada kak Alen juga. Aku menyayangi kalian.
Berbicara sepanjang ini, membuat lidahku terasa lelah. Tapi... masih banyak yang harus aku katakan pada semua orang yang aku sayangi. Bantu aku sampaikan pesanku pada mereka ya, Kak.
Untuk Daddy Jhack, Papa Jhon, Mommy Rosse, Mama Shintia, dan Kak Avhin, maaf karena memendam semua ini sendiri. Aku hanya tidak ingin membuat kalian khawatir. Lebih baik aku terluka dari pada harus melihat kalian yang terluka. Jangan marah padaku.
Maaf karena belum bisa memenuhi harapan kalian untuk kembali menjadi bocah mungil kalian yang lucu dan selalu ceria seperti dulu. Kalian tenang saja! sudah ada kak Alex dan kak Alen yang menggantikan posisiku di sisi kalian. Aku bersyukur terlahir menjadi anak kesayangan kalian. Sehat selalu, orang-orang tersayangku. Sekali lagi maafkan aku.
Untuk kak Zant, kakak laki-laki yang menjadi teman bermainku dulu sewaktu berlibur di Jerman. Maaf karena tidak mengenalmu sejak bertemu. Wajar saja karena waktu kecil kakak sangat gemuk dan jelek. Hehehe... aku bercanda. Kakak tampan, kok. Sekarangpun sangatlah tampan. Tapi maaf, ketampanan kakak masih di urutan ketiga setelah daddy dan papa.
Kak Zant sudah menjadi dokter yang hebat ternyata. Cita-citamu sejak kecil akhirnya tercapai. Aku senang untukmu.
Terima kasih sudah memenuhi janji untuk melindungiku. Bahkan berharap kita menikah setelah dewasa.
Sebelum pergi aku berjanji akan kembali dan memberi jawaban untukmu, Mommy Lily dan Daddy Wily. Sayangnya, aku mengingkarinya. Maafkan aku! Sampaikan maafku juga pada mommy dan daddy, Kak.
Untuk yang lain yang tidak mendapat pesan dariku, maafkan aku. Waktuku tidak banyak lagi. Sebentar lagi aku sampai di tempat kedua ibuku. Aku menyayangi kalian semua. Teruslah tersenyum meski tidak ada aku."
.
"Kami juga menyayangimu, Nona. Untuk pesan anda, akan aku sampaikan pada mereka. Tapi bukan berarti aku menyerah dan membiarkan anda meninggalkan kami. Tidak! Aku akan menjaga mereka semua hingga anda bangun dan menjaga mereka sendiri.
Aku bersumpah dengan nyawaku sendiri, aku akan berusaha menyelamatkan anda, Nona. Jangan lupa jika janji asisten pribadimu ini selalu ditepati." Gumam Alex dan berakhir dengan senyum tipis, meski wajahnya penuh dengan air mata.
***
"Di mana anak presiden itu berada?" Tanya Dokter Galant ketika mengingat sesuatu. Karena suara Dokter Galant, semua orang yang berada di ruang rawat Rihan menatapnya heran.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Mentra mengerutkan kening.
"Aku ingin bertemu dengan anak presiden itu. Ada yang harus aku bicarakan dengannya. Ini berkaitan dengan Tuan majikan." Jawab Dokter Galant lalu berdiri.
"Aku harap ini berhasil!" Ujar Dokter Galant dalam hati lalu pergi dari sana setelah Mentra mengatakan dimana Zant berada.
.
.
.
Mari berdoa bersama untuk Rihan.
__ADS_1