Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Menggoda


__ADS_3

Zant baru saja keluar dari ruangannya sambil membawa iPad di tangannya. Pria itu sedang sibuk mengamati kondisi pasien yang akan dioperasi nanti.


Pasiennya sedang dalam perjalanan dari Jerman ke sini.


Karena ini operasi besar, sehingga tingkat kesulitannya juga bukan main-main. Karena Zant ada di New York, sehingga ketika ada pasien darurat di Jerman, mereka harus dikirim kemari. Lagipula ada cabang rumah sakitnya juga di sini.


Jika pasien darurat, biasanya dokter yang harus ke tempat pasien, maka berbeda dengan Zant. Pria itu tidak ingin melakukan perjalanan jauh dan meninggalkan gadis kecilnya. Oleh karena itu, dia memberi perintah untuk membawa pasien darurat itu ke sini.


Zant lupa membawa ponselnya sehingga harus keluar dari ruangannya untuk memanggil sendiri asistennya untuk operasi nanti. Ada beberapa hal yang harus mereka diskusikan sebelum operasi berlangsung.


Masuk ke UGD yang merupakan tempat sang asisten berada, Zant bertanya pada beberapa perawat sambil menatap layar iPad dengan serius. Jika berurusan dengan pasien darurat, Zant adalah dokter yang paling serius.


Apalagi jika operasinya hanya beberapa jam kedepan, dan dia baru dihubungi sehingga waktu Zant untuk mempelajari kondisi pasien tidaklah banyak.


"Maaf, Dok. Bisa bantu aku sebentar?"


Suara itu mampu mengalihkan fokus Zant dari iPadnya. Dokter muda itu menoleh dan menatap cukup lama gadis muda di sampingnya ini.


"Gadis kecil..." Gumam Zant dalam hati.


Zant menatap intens wajah cantik di disampingnya ini. Keduanya saling menatap dalam diam. Zant kemudian tersadar dan menggeleng tidak percaya.


"Tidak mungkin dia. Gadis kecilku masih di sana. Jika dia sadar, Alan pasti sudah menghubungiku. Lagipula, Gadis ini sedang terluka." Ujar Zant dalam hati lalu menatap lengan gadis di sampingnya ini. Zant lupa jika dia tidak membawa ponsel, jadi bagaimana Dokter Galant akan menghubunginya?


Di saat-saat menunggu gadis kecilnya bangun, Zant ingin menjadi orang pertama yang dilihat. Zant sebenarnya enggan keluar dari Lab. Sayangnya pasien ini hanya bisa ditangani olehnya. Apalagi pasien darurat ini sudah datang dari jauh.


"Ekhem... ada yang bisa saya bantu?" Tanya Zant datar.


"Bantu obati luka saya sebentar, Dok. Saya sudah cukup lama di sini. Saya juga ada urusan mendesak dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Karena hanya anda dokter yang tidak sibuk sekarang, jadi tolong bantu saya sebentar." Ucap Gadis itu yang tidak lain adalah Rihan.


"Maaf, tapi saya juga sedang sibuk. Kamu bisa menunggu sedikit lagi karena dokter lain sedang dalam perjalanan." Tolak Zant datar.


"Wajah mereka memang mirip. Tapi gadis ini terlalu cerewet," Sambung Zant dalam hati.


"Setahu saya, seorang dokter harus mengutamakan pasien di depan matanya. Dan saya sedang membutuhkan anda sekarang." Rihan membalas dengan santai.


"Saya tahu, tapi saya ada operasi nanti. Kamu bisa menunggu dokter lain." Tolak Zant berusaha sabar.


"Kenapa saya merasa, anda sepertinya menghindar? Anda takut tergoda?" Goda Rihan dan tersenyum tipis.


"Kamu sama sekali bukan tipeku. Lagipula saya sudah menikah." Zant menjawab dengan datar. Kesabarannya sudah mulai menipis.


"Benarkah? Kalau begitu, tidak ada alasan lain untuk menolak mengobatiku. Lagipula, operasi anda masih lama dan menurut saya, operasi itu hanya operasi kecil bagi anda. Bukan begitu?" Balas Rihan lalu dengan santai menarik ujung jas dokter Zant agar mengikutinya.


"Dia wanita ketiga yang tidak bisa aku lawan selain mom dan gadis kecilku," Kesal Zant dalam hati sambil berjalan pelan mengikuti langkah Rihan.


...


"Jika anda sudah menikah, seharusnya anda memakai cincin. Tapi, kelihatannya tidak ada." Pancing Rihan dan menyeringai sambil menatap Zant yang sedang membersihkan lukanya.


"Saya ada operasi sebentar lagi, jadi cincinnya dilepas." Jawab Zant datar.


"Begitu, ya. Tapi, kenapa saya merasa anda berbohong?" Ucap Rihan dengan santai. Zant hanya membalas dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Mata anda tidak bisa berbohong, Dok. Anda belum menikah. Dan juga, wajah anda masih terlihat perjaka. Bagaimana jika mencobanya denganku?" Goda Rihan dan mendekatkan wajahnya pada Zant.


"Kau... obat sendiri lukamu!" Kesal Zant lalu berdiri dan meninggalkan Rihan yang terkekeh karena berhasil menggodanya.


Rihan menatap lengannya yang ternyata sudah selesai diperban. Jelas sekali Zant tidak mungkin pergi sebelum tugasnya selesai. Sekesal apapun seorang dokter, dia akan menyelesaikan tugasnya dengan baik sebelum pergi.


"Hari pertama bangun, ternyata tidak buruk." Gumam Rihan setelah berbaring di brankar. Senyum tipis masih terlihat di bibirnya.


Tidak lama kemudian Gledy datang dengan sebotol air mineral. Rihan lalu meminumnya. Keduanya kemudian pergi dari sana setelah Rihan menulis memo dan menitipnya pada bagian administrasi.


...


"Maaf, Dok. Ada memo untuk anda," Seorang Suster bagian administrasi menghentikan Zant yang hendak ke ruangannya. Suster itu sedang menahan senyumnya.


Zant sedikit mengerutkan kening lalu mengambil memo dan membacanya.


"Gadis itu..." Gumam Zant dan meremas kuat memo di tangannya.


Isi memo:


...'Tolong bayar biaya administrasiku, calon suami.😉'...


[Aku baru tahu, ternyata calon istri Dokter Lyan sangat cantik.]


[Benar. Dia juga masih muda.]


[Ternyata tipe Dokter Lyan seperti itu,]


}Gadis itu sangat beruntung,]


Begitulah bisikan dua suster bagian administrasi itu, yang tentu saja masih didengar oleh Zant. Zant hanya menatap keduanya tajam dan berlalu pergi dari sana setelah meletakkan dengan kasar kartu hitam miliknya.


***


Rihan dan Gledy baru saja sampai di depan ruko tempat Elle disekap. Tidak ada penjagaan apapun di sana karena sistem keamanan sudah ditingkatkan oleh Alex, sehingga tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana. Lagipula, tidak akan ada yang tahu ada orang disekap di ruang bawah tanah ruko itu. Jika dua tahun lalu ruko itu kosong, kini sudah dijadikan minimarket oleh Alex.


Rihan dan Gledy masuk ke dalam dan sengaja membeli minum, kemudian Gledy akan mengalihkan perhatian kasir sehingga Rihan bisa masuk ke dalam. Untuk sistem keamanan, bukan hal yang sulit untuk ditembus oleh Gledy.


Turun ke ruang bawah tanah, Rihan menyeringai ketika melihat kondisi mengerikan wanita di dalam ruang kaca itu.


Elle terlihat sangat menyedihkan. Jika dulu dia adalah wanita yang sangat terawat dan selalu memperhatikan penampilannya, maka sekarang sangatlah berbeda. Wajahnya terlihat membengkak karena tamparan. Bagian tubuh selain wajah penuh bekas luka cambukan. Tubuhnya juga sangat kurus, seperti tidak diberi makan saja.


"Alex benar-benar melakukan tugasnya dengan baik." Gumam Rihan dalam hati.


Rihan melangkah pelan memasuki ruang kaca itu. Rihan bisa merasakan betapa dinginnya suhu di sana. Sayangnya itu tidak terlalu berpengaruh padanya, karena 2 tahun dia habiskan dengan tinggal dalam tabung es yang suhunya melebihi suhu dalam ruangan ini.


Rihan kemudian menghampiri Elle yang sedang tidur di brankar. Hati kecil Rihan iba melihat lebih dekat wajah menyedihkan Elle. Bajunya terlihat acak-acakan dan sebagian sudah sobek.


"Entah ini membuatnya berubah atau tidak," Gumam Rihan pelan.


"Ka...kamu... siapa?" Tanya Elle pelan yang terbangun karena merasa kehadiran orang lain di ruangan ini.


Elle tidak bisa bangun. Tenaganya sudah terkuras habis karena melayani 10 pria sekaligus. Untungnya mereka belum memberinya racun sehingga Elle masih baik-baik saja. Pandangannya sedikit mengabur karena terhalang genangan air matanya.

__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Rihan datar.


"Ak...aku... tolong keluarkan aku dari sini. Aku sudah tidak kuat lagi. Mereka menyiksaku di sini. Hiks...hiks... tolong aku. Selamatkan aku dari sini,"


"Pikirkan, seandainya kamu di posisi mereka. Apa yang akan kamu lakukan jika orang yang kamu sayangi dibunuh?" Tanya Rihan yang kini sudah berpindah posisi dan duduk di brankar sehingga lebih dekat dengan Elle.


"Aku... aku mungkin tidak akan memaafkan mereka." Jawab Elle pelan. Wanita itu lalu berpaling ke samping agar tidak melihat wajah Rihan. Air matanya sudah mengalir deras.


"Begitu juga yang mereka pikirkan." Balas Rihan pelan.


"Ja...jadi... apa yang harus aku lakukan?" Tanya Elle setelah menghapus air matanya dan menatap lekat Rihan.


"Itu terserah padamu. Saranku, jika kamu merasa bersalah, minta maaflah pada mereka. Minta maaflah pada orang-orang yang sudah kamu lukai. Minta maaflah pada orang-orang yang sudah kamu manfaatkan.


Aku yakin, dalam hatimu pasti ada sesuatu yang mengganggu. Cobalah ikuti saranku, dan lihat apakah kamu merasa lebih baik atau tidak. Tapi, jika kamu tidak merasa bersalah, anggap saja apa yang aku katakan barusan angin lalu. Kamu juga akan terus seperti ini."


"Bagaimana jika mereka tidak memaafkanku?" Tanya Elle lagi. Air matanya semakin mengalir deras.


"Itu tergantung seberapa besar usahamu, seberapa besar kamu ingin mereka memaaafkanmu, dan seberapa besar kamu ingin berubah. Semua itu tergantung padamu. Sampai ketemu lagi." Rihan lalu berdiri hendak keluar.


"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Elle setelah Rihan berdiri dari brankar.


"Hapus air matamu, dan lihat aku baik-baik." Jawab Rihan setelah menoleh dan menatap datar Elle.


"Kamu..." Perkataan Elle tertahan. Air matanya semakin mengalir deras. Dia menutup mulutnya dengan tangan agar suara tangisannya tidak didengar.


"Aku pergi!" Rihan kemudian berlalu pergi dari sana. Samar-samar Rihan bisa mendengar suara Elle yang meminta maaf sambil menangis.


...


"Selanjutnya kita kemana, Tuan?" Tanya Gledy setelah keduanya keluar dari minimarket.


"Kemana saja, dan tunggu kita dijemput." Jawab Rihan santai. Gledy membalas dengan anggukan. Robot pintar itu lalu melajukan motor pergi dari sana.


***


Di laboratorium, Dokter Galant baru saja sadar dari pingsannya, dan sedikit meringis sakit di tengkuknya. Merasa agak baikan, pria itu mengalihkan pandangan ke arah tabung dan seketika syok karena tabung sudah terbuka dan isinya kosong.


"Tuan majikan..." Gumam Dokter Galant panik. Pria itu segera mengambil ponselnya dan menelpon Zant sambil berlari kecil naik ke atas.


Sampai di atas, Dokter Galant memutuskan sambungan telepon ketika melihat ponsel Zant tertinggal di atas meja. Pria itu menghela nafas kemudian menelpon Alex dan yang lainnya.


Karena panggilan Dokter Galant, semua orang menjadi panik. Alex mengerahkan semua bawahan Rihan berpencar di seluruh kota New York untuk mencari sang majikan.


Alex juga membuka kamera pengawas di dalam Lab, di dalam My Albany dan sekitarnya, tetapi tidak ada rekaman yang tertinggal. Jelas sekali, karena Gledy sudah mengurus semua itu. Alex menjadi murka dan menghancurkan apa saja di depannya.


...


Di lain tempat, motor sport Gledy baru saja sampai di pelabuhan kecil yang tidak terlalu dikenal orang. Entah alasan apa robot itu membawa Rihan ke sini.


"Kapal pesiar?" Gumam Rihan setelah turun dari motor dan menuju jembatan.


"Waktunya bersenang-senang, Tuan majikan. Mereka mungkin akan butuh waktu sebelum menemukan kita." Gledy naik ke atas kapal kemudian membantu Rihan naik.

__ADS_1


"Kamu benar-benar membuat mereka khawatir, Gledy." Balas Rihan lalu merentangkan tangannya menghirup angin laut. Kapal pesiar itu sudah meninggalkan pelabuhan.


__ADS_2