Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Pelajaran Untuk Hanami


__ADS_3

"Kamu cantik dan kaya. Lalu apa? Jika kamu mati, semua itu bukan lagi milikmu. Kamu hanya akan dikenang selama beberapa waktu, kemudian dilupakan." Hanami bergumam dalam hati, setelah masuk ke mobil dan meminta sopir pergi dari Cognizant Technology.


"Bawa anak Jhack Lesfingtone untukku. Hidup atau mati! Akan lebih baik jika dalam keadaan hidup, karena aku ingin menunjukan padanya siapa sebenarnya seorang Hanami." Perintah Hanami pada seseorang di seberang telepon lalu memutuskan sambungan tanpa menunggu jawaban.


"Keluarga Lesfingtone hanya kaya, tetapi tidak memiliki kekuatan apapun. Berbeda dengan keluarga Satoru. Kami memiliki kekuatan yang bisa digunakan untuk membunuh semua musuh. Setelah kamu mati, aku dengan mudah mendekati kak Lyan. Hahahaha..." Hanami berbicara sendiri hingga tertawa, membuat sopir paru baya yang sedang mengunudi hanya bisa menggerutu dalam hati Tuannya ini sepertinya sudah gila.


...


Setelah makan siang, Rihan dan Zant berpisah di depan restaurant karena Rihan harus melakukan sesuatu, sedangkan Zant akan kembali ke perusahaan. Meski Zant sudah berusaha membujuk Rihan untuk ikut, tetapi Rihan menolak. Pria itu akhirnya hanya pasrah dan pergi dengan cemberut.


"Cepat sekali wanita penggoda itu bergerak," Gumam Rihan setelah melihat kaca spion mobil dan menemukan satu sedan hitam yang mencurigakan sedang mengikutinya.


Tidak ingin mengundang perhatian orang, Rihan memacu mobilnya ke lorong yang jika siang hari jarang sekali orang melewatinya. Karena mobil yang Rihan pakai bukan mobil modifikasi, sehingga Rihan terpaksa harus berolahraga di siang hari.


BRUK!


Menutup pintu mobil, Rihan berdiri dan bersandar dengan bersidekap dada di samping mobil menunggu kedatangan sedang hitam itu.


"Dia sudah menunggu kita, Bos. Hahaha..."


"Bodohnya dia, karena membawa kita ke tempat yang sepi."


"Wajahnya dilihat secara langsung benar-benar cantik. Sedikit berbeda dengan di TV."


"Benar, Bos. Tubuhnya pasti nikmat saat kita cicipi. Apalagi jika dia perawan. Hahaha..."


"Aku sudah tidak sabar mencicipinya. Bawakan dia untukku!"


"Baik, Bos."


Rihan tetap santai di tempatnya meski di depannya ada lima orang pria berbadan besar dan berotot. Jangan lupakan wajah sangar mereka.


Hap


Krakk


Arghh


Seorang pria berteriak kesakitan karena Rihan yang mematahkan tangannya yang ingin menyentuh wajahnya.


"Dia bukan gadis biasa ternyata. Jangan ragu untuk menyiksanya. Setelah itu kita nikmati bersama,"


"Siap, Bos!"


Satu orang sudah mundur karena tangannya yang patah, sehingga tersisa tiga orang yang mulai maju. Si Bos sendiri hanya bersantai beberapa meter dengan Rihan dan yang lainnya.


BUGH


BUGH


BUGH


BRUK


BRUK


BRUK


Hanya hitungan menit, ketiga pria itu sudah ambruk. SI Bos yang melihatnya terkejut. Dia tidak menyangka anak buahnya cepat sekali dikalahkan.


"Bersyujurlah karena pukulan yang kalian terima tidak seberapa. Jika saja aku tidak menggunakan pakaian ini, katakan selamat tinggal untuk hidup kalian."


Mendengarnya, para pria itu menelan ludah susah paya. Pukulan gadis ini sudah membuat mereka patah tulang dan tidak bisa bergerak. Bagaimana jika dia memakai pakaian santai?


"Dan kamu... hubungi wanita penggoda itu. Katakan padanya sampai ketemu nanti." Rihan kemudian berbalik dan masuk ke mobilnya.


Sebelum pergi dari sana, Rihan menelpon para pengawalnya untuk mengurus para perusu itu. Rihan tidak mungkin membiarkan mereka lolos begitu saja.


...


"Nona... Wanita penyihir itu sudah mati. Dia bunuh diri dengan membenturkan kepalanya berulang kali di tembok tempat dia dikurung. Dia hanya menulis surat permintaan maaf pada anda dan semua orang yang sudah dia sakiti.


Dia bunuh diri karena malu untuk meminta maaf secara langsung pada mereka yang sudah dia lukai. Katanya dia tidak pantas menerima maaf dari mereka.


Dia juga menitip pesan pada anda agar mengurus semua yang ditinggalkan di Jepang. Dia ingin anda membagikan semua harta miliknya yang didapat secara legal maupun ilegal kepada yayasan sosial. Ada juga surat terakhir untuk anda. Anda bisa membacanya sendiri." Gledy berbicara panjang lebar pada Rihan yang duduk di sofa kamarnya, sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya.


"Karena dia yatim piatu, katakan pada Tom untuk mengurus pemakamannya dengan layak. Makamkan dia di tempat kelahirannya,"


"Baik, Nona."


"Bagaimana dengan permintaanku?"


"Semua sudah siap, Nona. Anda bisa berangkat ke sana sekarang."


"Ayo berangkat!"


Rihan dan Gledy keluar mansion dan menuju ke tempat yang dikatakan Gledy.


Mobil yang dikendarai Gledy kini terparkir di depan sebuah minimarket. Adakah yang masih ingat tempat ini? Ya, ini tempat dimana Elle dikurung dan disiksa.


Sampai di ruang bawah tanah, Rihan sedikit mengeryit dan menggosok pelan telinganya dengan tangan kanan karena terganggu oleh suara teriakan seorang gadis.


"LEPASKAN AKU! SIAPA KALIAN? BERANINYA MENCULIKKU? KALIAN TIDAK TAHU SEPERTI APA KEKUATAN KELUARGA SATORU? LEPASKAN AKU...!!!"


"Suaramu sungguh mengganggu pendengaranku, wanita penggoda." Sahut Rihan datar.

__ADS_1


Rihan mengambil posisi duduk di salah satu sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan Hanami yang terikat di ranjang tiga meter di depannya.


Mereka ada di ruangan yang beberapa jam lalu masih dihuni oleh Elle. Karena wanita itu sudah meninggal, jadi ruangan itu kosong. Akan tetapi, belum dibersihkan.


"J****G... BERANINYA KAMU MENCULIKKU? LEPASKAN AKU!"


"Kenapa harus? Tempat itu sangat cocok untuk wanita penggoda sepertimu."


"KAU..."


"Kamu pikir dengan mengirim mereka untuk menangkapku, kemudian menyiksaku sampai mati, selanjutnya merebut calon suamiku? Ckckckck... pikiran bodoh. Kamu berpikir keluarga Lesfingtone tidak punya kekuatan untuk mengurus hama kecil seperti keluarga Satoru?


Rencana busukmu dan ayahmu yang menginginkan kak Zant menikahimu benar-benar basi. Mengakusisi semua aset perusahaan mereka di Jepang, kemudian membeli setengah saham hingga hampir semua saham, membuat perusahaan hampir bangkrut. Selanjutnya, berpura-pura membantu Cognizant Technology dengan mengajukan syarat.


Kalian pikir calon suamiku bodoh dan tidak tahu rencana busuk kalian? Meskipun Cognizant Technology adalah perusahaan kecil yang sudah berdiri cukup lama, tapi kenapa dia tetap bertahan hingga sekarang? Hanya orang bodoh yang tidak tahu kenapa perusahaan itu masih berdiri sampai sekarang.


Karena ada orang hebat yang menopang di belakangnya. Dan orang hebat itu adalah calon suamiku. Jika hanya tersisa 1% saham sekalipun, perusahaan itu tidak akan pernah bangkrut." Rihan berbicara dengan nada datar dan aura dingin khasnya membuat Hanami yang berbaring di ranjang menegang.


"Lepaskan borgolnya!"


Borgol yang menahan kedua kaki dan tangan Hanami kini terlepas. Gadis itu dengan marah bangun dari tempat tidur berniat menghampiri Rihan dan memukulnya.


SRET!


BRUK


"Akhhhh..."


Hanya tersisa beberapa senti tangan Hanami mengenai wajah Rihan, tangannya berhenti di udara, kemudian dia jatuh dan berteriak marah sambil berusaha melepaskan rantai yang mengikat lehernya.


Sebelum Hanami berhasil menyentuh wajah Rihan, sebuah rantai tersembunyi keluar dari ranjang dan melingkar di leher Hanami membuat gadis itu seperti dicekik.


"Sayang sekali, tanganmu benar-benar pendek. Tapi tenang saja, aku akan membantumu."


PLAK


PLAK


PLAK


Tiga tamparan mendarat di pipi Hanami.


"Kasihan pipi yang satunya,"


PLAK


PLAK


PLAK


"Ukuran kedua pipi akhirnya sama,"


"Ingin merebut calon suamiku? Jangan mimpi!"


PLAK


"Berpikir untuk menjadikan dia milikmu saja, sudah salah."


PLAK


"Di mana tangan yang dengan beraninya menyentuh calon suamiku?"


"Tangan kanannya, Nona."


"Oh.. "


SRET!


SRET!


SRET!


Dengan tidak berperasaan, Rihan menyayat telapak tangan Hanami dengan pisau kecil hingga tulang tangannya terlihat, bersamaan dengan darah yang menyemprot keluar.


"Ada baiknya tangan ini tidak ada," Gumam Rihan datar kemudian mengganti pisau dengan samurai.


SRET!


"Akhhhh..."


Sekali tebas, pergelangan tangan Hanami putus. Darah kembali meluncur keluar. Hanami hanya lemas di tempatnya.


Rihan benar-benar santai melakukan ini. Dia juga senang karena hanya ada dia dan Gledy sehingga dia bebas melakukan apapun tanpa takut terkena cipratan darah.


Jika bersama yang lainnya, maka Rihan tidak akan bisa melakukan ini. Mereka jelas sekali akan melarangnya menyiksa orang.


"Masih kuat? Tentu saja! Wanita penggoda sepertimu pasti tidak akan mati dengan mudah."


"Ak...aku mo...mohon, le... paskan aku. Aku janji akan men... jauhi kak Lyan. Tolong ma...afkan aku..." Suara Hanami terbata karena lemas tidak berdaya.


"Baru sebelah tanganmu. Tanganmu yang lain akan cemburu." Rihan menyeringai dan menoleh ke tangan Hanami yang satunya.


"Benar juga... seingatku, tangan kirimu ini yang melempar vas bunga padaku, 'kan?"


SRET!

__ADS_1


Rihan kembali menebas pergelangan tangan Hanami hingga putus. Jadilah kedua tangan Hanami buntung. Wanita itu tidak mampu lagi bersuara karena sangat lemah. Darah di kedua sisi pergelangan tanganya berdampak buruk bagi tubuhnya.


"Ingin sekali aku membunuhmu sekarang, tapi akan tidak seru jika kamu tidak melihat kehancuran keluarga Satorumu itu. Aku juga ingin melihat kehancuran ayahmu karena kehilangan anak tercintanya."


"Berikan dia racun yang sama dengan Elle. Tapi tambahkan dosisnya. Aku ingin melihat dia tersiksa setiap 4 jam selama satu hari ini. Setelah itu, berikan dia racun pelumpuh saraf sebelum berita kehancuran keluarganya terbit besok."


"Baik, Nona."


Gledy kemudian memaksa Hanami menelan satu botol sedang racun yang Rihan katakan tadi. Racun itu akan bekerja 30 menit kemudian.


"Ayo kembali! Sebelum itu ke markas. Aku ingin membersihkan diri."


"Baik, Nona."


"Selamat bersenang-senang, Wanita penggoda."


"Ib...lis."


Rihan hanya menyeringai mendengar satu kata yang Hanami ucapkan. Sebelum benar-benar pergi dari sana, Rihan meminta pistol pada Gledy.


Dor


Satu tembakan peluru berhasil mengenai dada Hanami. Tapi tenang saja, Rihan tidak menargetkan jantung Hanami. Rihan tidak ingin gadis itu mati dengan mudah. Lagipula racunnya belum bekerja. Hanami tidak mampu lagi bersuara. Dia hanya jatuh berbaring kemudian menangis meratapi nasibnya.


"Tenang saja. Iblis ini hanya ingin memberikan bonus sebelum pergi."


***


Rihan sampai di mansion pukul 4 sore. Gadis itu datang sendiri dengan mobil. Gledy ditinggalkan di markas.


Masuk ke kamar, Rihan tiba-tiba gugup karena mendapati Zant yang duduk di sofa dengan iPad di tangannya. Melihat ekspresi Zant yang sepertinya sibuk. Bukan, Rihan jelas tahu pria itu sengaja menyibukkan diri.


"Seorang gadis keluyuran hingga 4 jam di luar. Dia keluar dan tidak meminta izin akan ke mana dan pergi begitu saja. Tidakkah dia berpikir ada orang yang mengkhawatirkannya? Berita ini patut dijadikan tranding topic, agar para gadis di luar sana tahu seberapa penting mereka di mata orang yang menyayangi mereka." Mendengar suara Zant, Rihan tahu pria itu sedang menyindirnya, alih-alih mengatakan itu berita.


"Gadis ini bahkan tidak menjawab panggilan dari calon suaminya sama sekali. Apa yang gadis ini lakukan di luar sana?"


Rihan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia merutuki kebodohannya karena lupa membawa ponsel ke ruang bawah tanah dan meninggalkannya di mobil.


"Ekhem..." Rihan berusaha menetralkan kegugupannya sekaligus membuat Zant melihatnya. Sayangnya, pria itu sama sekali tidak berpaling dari layar iPad.


"Gadis ini tidak tahu seberapa rindu calon suaminya? Meski mereka berpisah hanya beberapa jam, tapi rasanya bagaikan setahun. Gadis ini sangat tidak peka." Gumam Zant lagi lalu menggeleng.


"Kak..."


"Oh, kamu sudah pulang?"


"Jelas-jelas dia sudah tahu aku pulang," Rihan menggerutu dalam hati.


"Aku merindukanmu, My King." Rihan dengan santai menghampiri Zant kemudian memeluk leher pria itu dari belakang.


"Mari membuatnya senang," Monolog Rihan dalam hati.


"Apa itu benar?" Tanya Zant setelah meletakkan iPad di atas meja, kemudian menoleh pada Rihan yang memeluknya sambil membelai lembut lengan yang melingkar di lehernya.


"Hm. Sangat-sangat rindu," Rihan mengangguk antusias.


"Duduk di sini, aku tidak bisa melihatmu dengan jelas jika di belakang."


"Oke."


Rihan lalu berpindah ke depan Zant berniat duduk di sebelah pria itu.


SRET!


Sebelum Rihan duduk di samping Zant, pria itu sudah lebih dulu menariknya ke pangkuannya.


"Dari mana saja?" Hanya mendengar perkataan Rihan yang merindukannya, kekesalan pria itu hilang entah ke mana.


Rencana awalnya dia akan memberi sedikit pelajaran pada kesayangannya itu karena tidak menjawab teleponnya. Akan tetapi, tingkah menggemaskan Rihan membuatnya luluh.


"Sedikit bermain bersama Gledy. Hehehe..." Rihan menjawab dengan jujur tanpa sadar membuat wajah Zant tiba-tiba berubah datar karena mendengar nama Gledy.


"Gledy laki-laki atau perempuan, hum?" Tanya Zant sambil mencolek hidung mancung Rihan.


"Laki-laki." Jawaban polos Rihan yang belum menyadari seberapa posesifnya King-nya ini.


"Lalu, apa yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan selama 4 jam di luar sana, hum?" Zant kembali bertanya dengan lembut berusaha mengingatkan Queen-nya tentang larangannya untuk tidak berdekatan dengan seorang dengan jenis kelamin laki-laki.


"Maaf. Tapi Gledy akan selalu di sampingku, Kak. Kak Zant jangan marah, ya." Rihan memelas, setelah menyadari maksud Zant.


"Tidak bisakah kamu mencari seorang gadis untuk menjadi asistenmu?"


"Hanya Gledy yang bisa, Kak. Masa kak Zant harus cemburu padanya?"


"Kenapa tidak? Dia seorang laki-laki. Wajar jika aku cemburu,"


"Kakak tidak tahu Gledy siapa?" Rihan kaget ternyata Zant belum tahu siapa Gledy sebenarnya.


"Memangnya dia siapa?"


"Kak Zant benar-benar tidak tahu? Dia itu Gledy, Kak. Gledy!" Tekan Rihan membuat Zant mengernyit berusaha berpikir siapa yang dimaksud.


"Jadi..."


"Ya. Dia hanya sebuah robot yang aku buat, Kak. Jadi, berhenti cemburu padanya."

__ADS_1


CUP


"Aku bisa tenang kalau begitu,"


__ADS_2