Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Kecelakaan Membawa Berkah


__ADS_3

Rihan dan Zant baru selesai makan siang. Keduanya duduk bersantai di sofa ruang kerja Zant.


"Bagaimana dengan masalah perusahaan?" Tanya Rihan membuka suara.


"Awalnya aku pikir ada masalah besar sehingga mereka memaksaku datang ke perusahaan. Nyatanya, hanya para tikus yang ingin bermain-main denganku." Zant menjawab sambil memperhatikan Rihan yang merapikan kotak bekal yang sudah kosong, sekaligus membersihkan meja dengan tisu.


"Aku pikir ada masalah besar. Jika Cognizant Technology membutuhkan bantuan, R.A Group dan J2R Lesfingtone bisa membantu kapanpun," Balas Rihan lalu berdiri dan menuju tong sampah membuang tisu yang sudah tidak terpakai lagi.


"Tidak perlu. Untuk saat ini aku hanya ingin mendengar pendapat para pemegang saham, sekaligus ingin menarik para tikus itu keluar dari sarangnya. Lagipula, aku punya banyak cara mengatasi mereka." Rihan hanya mengangguk sambil mengitari ruang kerja Zant.


"Maaf, Tuan. Ada yang perlu saya sampaikan," Vian baru datang setelah mengetuk pintu dan masuk.


"Ada apa?"


"Tuan Naboru Satoru ingin bertemu dengan anda. Jika anda setuju, beliau akan mengirimkan tempat pertemuannya,"


"Untuk apa pebisnis asal Jepang itu ingin bertemu denganku?" Tanya Zant tanpa menatap Vian, karena pria itu fokus menatap layar iPad di tangannya.


"Saya tidak tahu, Tuan. Tapi beliau hanya berpesan bahwa beliau akan datang dengan seseorang."


"Hm. Jadwalkan pertemuannya malam ini,"


"Baik, Tuan. Saya permisi,"


"Vian!" Panggil Rihan sebelum Vian membuka pintu untuk keluar. Zant menatap memicing pada Rihan.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona muda?" Tanya Vian setelah menghampiri Rihan.


"Membungkuklah sedikit, kamu terlalu tinggi." Vian dengan patuh mengikuti instruksi Rihan.


Entah apa yang Rihan bisikan, telinga Vian menjadi merah. Zant yang melihatnya menjadi tidak senang. Pria itu penasaran apa yang calon istrinya bisikan.


"Ini rahasia diantara kita berdua," Rihan berbicara dengan santai, melupakan aura kecemburuan Zant yang mulai meningkat secara perlahan-lahan.


"Baik, Nona Muda."


"Apa yang kalian berdua sembunyikan dariku?" Tanya Zant kesal.


"Tentu saja itu rahasia antara aku dan Vian." Jawab Rihan teramat santai.


"Apa yang Nyonya Veenick bisikan padamu?" Zant kembali bertanya pada Vian.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa mengatakannya."


"Sebenarnya kamu bekerja untuk siapa?" Zant semakin kesal.


"Untuk anda, Tuan. Hanya saja..."


"Kamu sudah bisa keluar, Vian. Biar Tuanmu aku yang urus." Potong Rihan lalu menghampiri Zant.


"Baik, Nona Muda. Saya pamit,"


"Malam ini kamu tidak diizinkan pulang, Vian! Bantu aku menyelesaikan berkas-berkas itu." Ucap Zant datar.


Vian hanya membungkuk dan keluar dari sana. Dia jelas tahu, sang Tuan sedang menghukumnya.


"Sudah sejauh mana hubungan kalian? Apa yang kamu bisikan padanya? Kamu tidak menyatakan cinta padanya, 'kan?" Tanya Zant kesal lalu meletakkan iPad di sampingnya dengan kasar.


"Huh? Menyatakan cinta? Pikiran macam apa itu?" Rihan menggeleng merasa lucu.


"Kalau begitu, apa yang kamu bisikan padanya, sampai telinganya memerah?" Desak Zant masih saja kesal.


"Wajah tembok sepertinya bisa malu juga?" Bukannya menjawab, Rihan justru bertanya membuat Zant semakin cemburu.


"Jawab pertanyaanku, My Queen."


" Itu rahasia! Kakak akan tahu nanti. Tenang saja, tempat King di hatiku tetap kak Zant. Aku pergi, ya." Rihan tersenyum tipis kemudian keluar dari sana setelah mengecup cepat pipi Zant agar pria itu tidak kesal lagi.


"Aku tidak bisa marah terlalu lama. Dia terlalu manis," Gumam Zant sambil menyentuh pipinya dan tersenyum senang.


***


Pukul 7 malam, di salah satu restaurant berbintang New York, dua orang pria dengan usia berbeda sedang berbincang santai. Keduanya tidak lain adalah Zant dan Tuan Naboru Satoru.


"Saya dan kedua orang tuamu berteman baik. Sayang sekali keduanya sudah meninggal. Maaf, karena tidak sempat hadir di acara pemakaman keduanya."


"Tidak apa-apa, Tuan Naboru. Lagipula, saya masih muda waktu itu. Saya pasti tidak mengenal anda jika anda datang,"

__ADS_1


"Hahaha... kamu bisa saja. Panggil saja paman. Tuan terlalu kaku. Lalu bagaimana kabar presiden dan ibu Negara Jerman?" Tanya Tuan Naboru setelah menyesap pelan secangkir kopi di depannya.


"Mommy dan Daddy baik-baik saja. Paman mengenal mereka?"


"Tentu saja! Pak presiden, kedua orang tuamu dan aku adalah teman baik. Kami bersekolah di tempat yang sama."


Zant hanya mengangguk dan melirik ponselnya berharap ada pesan masuk dari Queennya. Ternyata tidak ada.


"Paman tidak menyangka kamu sudah sebesar ini, bahkan bisa membangun perusahaanmu sendiri. Anak muda yang berbakat."


"Semua karena bantuan keluargaku, Paman Naboru. Jadi, ada apa paman ingin bertemu denganku?"


"Benar juga. Paman ingin memperkenalkanmu dengan anak paman. Sebentar lagi dia akan datang,"


"Papa... hay Kak Lyan." Sapa seorang gadis yang baru datang.


Zant mengerutkan kening karena merasa asing dengan gadis yang usianya mungkin satu atau dua tahun di bawahnya.


"Kamu mengenalku?" Tanya Zant mengerutkan kening.


"Duduk di sini, Sayang."


"Wajar jika kak Lyan lupa. Kakak pernah datang ke kampusku di Inggris. Namaku Hanami." Gadis bernama Hanami itu menjawab dengan lembut, kemudian tersenyum manis.


"Hanami? Kamu gadis cerdas yang sangat disayangi Prof. Jason? Ternyata kamu sudah banyak berubah," Balas Zant dan tersenyum tipis.


"Akhirnya kak Lyan ingat. Hanami takut kakak lupa."


"Kakak tidak mungkin lupa dengan gadis yang begitu cerdas yang menjadi asisten kakak selama penelitian dalam bidang sains di Inggris."


"Hahaha... Kak Lyan bisa saja. Hanami jadi malu karena dipuji,"


"Papa ada urusan sebentar. Lyan, bisa bantu paman menjaga Hanami?" Tuan Naboru berdiri dan bersiap pergi.


"Berapa lama urusan paman? Aku harus pulang lebih awal karena ada yang menungguku di rumah," Ucap Zant sambil melirik jam tangannya.


"Tidak akan lama. Kalian bisa jalan-jalan dulu jika bosan di sini." Tuan Naboru lalu pergi tanpa menunggu jawaban Zant.


Zant hanya menghembuskan nafas pelan dan mengambil ponselnya dan mengirim pesan permintaan maaf karena pulang terlambat pada gadis kecilnya.


"Calon istri. Tidak lama lagi kami akan menikah," Jawab Zant datar dan tetap fokus dengan ponselnya.


"Ca...calon istri?" Ulang Hanami takut pendengarannya salah.


"Hm."


"Aku bosan di sini, keluar yuk, Kak. Aku dengar taman restaurant ini indah." Ajak Hanami dan tersenyum manis.


"Di sini saja." Tolak Zant dan tersenyum tipis menatap layar ponselnya.


"Kak Lyan sedang apa?" Tanya Hanami penasaran.


"Membalas pesan dari calon istri." Jawaban jujur Zant membuat Hanami tersenyum kecut.


"Kak Lyan..."


"Hm."


"Keluar yuk... di sini pengap. Aku juga ingin melihat pemandangan kota New York."


Zant menghembuskan nafas pelan. Ingin menolak tetapi mata berkaca-kaca gadis di depannya ini membuatnya harus mengikuti kemauannya. Dia hanya tidak ingin disangka jahat oleh para pengunjung restaurant karena membuat anak orang menangis.


"Ayo... Tapi tidak lama. Paman Naboru akan segera kembali."


"Siap!"


Keduanya kemudian keluar dan menuju taman restaurant.


Zant tetap fokus membalas pesan dari Rihan tanpa mempedulikan Hanami di belakang yang sedikit kesusahan berjalan karena higheels yang dia pakai melewati bebatuan.


"Aw... Kak, tolong Hanami." Suara Hanami mengalihkan fokus Zant.


"Sepertinya kaki Hanami keseleo, Kak."


Zant mengerutkan kening lalu mendekatkan ponsel ke telinganya menghubungi seseorang.


"Siapa yang kakak telepon?" Tanya Hanami penasaran.

__ADS_1


"Orang yang akan membawamu ke rumah sakit."


"Huh? Kenapa tidak kak Lyan saja?"


"Kakak tidak ingin menyentuh gadis lain selain calon istri kakak."


"Tapi kaki Hanami sakit, Kak. Orang yang kakak telepon pasti akan lama." Rengek Hanami lalu mengepalkan tangannya.


"Tidak! Sebentar lagi dia sampai. Lagipula kakimu tidak separah itu,"


Hanami hanya menggertakkan giginya geram karena penolakan Zant. Gadis itu penasaran siapa calon istri pria yang dia sukai ini. Seberapa cantik dia, sehingga pria ini berani menolaknya.


Hanami sejak dulu sudah merawat diri hanya untuk menampilkan perubahannya di depan pria yang dia sukai sejak lama.


"Mobil sudah siap, Tuan." Seorang pria muncul membuat Zant mengangguk dan memintanya menggendong Hanami untuk dibawa ke rumah sakit.


"Kamu ikut mobilnya. Tenang saja, kakak akan ikut dengan mobil lain dari belakang."


"Sial... tunggu saja kak Lyan. Aku akan menghancurkan hubunganmu dan calon istrimu itu." Batin Hanami kesal.


Melihat kepergian Hanami, Zant juga ikut dari belakang. Dia tidak ingin merusak tanggung jawab yang sudah diberikan Tuan Naboru padanya. Zant menghargai sahabat kedua orang tuanya itu.


Baru beberapa meter Zant meninggalkan tempatnya berdiri, pria itu mengerutkan kening, kemudian menatap ke salah satu pohon dan menyeringai.


***


Rihan saat ini sedang bersantai di ruang tamu, sambil membaca beberapa email masuk melalui iPad di tangannya. Fokus Rihan lalu teralihkan karena notifikasi pesan masuk di ponselnya. Membaca pesan itu, Rihan tersenyum tipis dan bergegas keluar setelah mengambil kunci motor.


Motor Rihan berhenti di sebuah taman. Melihat sekeliling taman, Rihan kemudian mengangguk.


"Gledy!"


"Ada apa, Nona?"


"Berikan aku tangga. Letakkan di pohon itu."


Melihat tangga yang sudah siap, Rihan kemudian menaikinya dan duduk di salah satu dahan pohon. Sedikit menyeringai, Rihan kemudian meminta Gledy mengeluarkan drone sebelum robot itu pergi. Rihan hanya ingin mempersiapkan drone karena dia yakin akan melihat sesuatu hari ini.


Sambil membalas pesan Zant, Rihan tiba-tiba menyeringai karena melihat layar iPad yang menampilkan Zant yang berjalan keluar dari restaurant dengan Hanami di belakangnya.


Tadi siang, apa yang Rihan bisikan pada Vian adalah untuk ini. Mendengar bahwa Tuan Naboru akan memperkenalkan seseorang pada Zant, Rihan langsung menebak pasti seorang gadis. Dan ternyata tebakannya benar. Hanya saja, Rihan sedikit bingung kenapa telinga Vian memerah, padahal dia tidak sedang menggoda pria itu.


Kembali pada Rihan yang fokus dengan layar iPad maupun ponselnya untuk membalas pesan. Melihat gerak-gerik Hanami, Rihan jelas tahu gadis itu menyukai calon suaminya. Rihan hanya bisa menggeleng menonton drama murahan yang dimainkan Hanami.


Senyum Rihan semakin melebar karena penolakan Zant. Sepertinya Rihan harus melakukan hal yang sama. Dalam artian, menjaga jarak dengan lawan jenis. Akan tetapi, akan tidak seru jika dia tidak menggoda calon suaminya itu.


Menatap layar iPad, Rihan berkedip beberapa kali dan menjadi gugup karena seringai Zant. Belum lagi, pria itu terlihat berjalan ke arahnya.


"Benar-benar ceroboh," Batin Rihan dan menyiapkan diri menunggu kedatangan Zant.


...


"Aku baru tahu, ternyata kesayanganku ini suka sekali memanjat pohon." Suara Zant di bawah pohon membuat Rihan menggaruk pelipisnya malu.


"Ayo turun, di situ berbahaya. Atau aku yang menjemputmu di sana?" Sambung Zant dan terkekeh senang. Tingkah Rihan sekarang membuat Zant sangat senang.


"Aku akan turun," Balas Rihan dan bersiap turun.


Rihan kemudian berdiri dan ingin menginjak tangga untuk turun. Rihan bisa saja melompat ke bawah, karena tinggi pohon hanya 5 meter. Akan tetapi dia tidak ingin dilihat oleh Zant. Jadi, Rihan memilih turun dengan tangga.


Sampai di anak tangga ketiga dari atas, Rihan tidak sengaja menginjak tali sepatunya. Dia hanya bisa mengutuk dalam hati sebelum jatuh, karena hari ini misinya benar-benar gagal total.


"Hati-hati sayang...!" Teriak Zant panik.


BRUK


Tiga menit kemudian.


"Lembut dan sedikit basah?" Gumam Rihan dalam hati masih memejamkan matanya.


Rihan tersadar dan dengan cepat bangun, menggeser tubuhnya dari atas Zant kemudian melotot pada pria itu sambil memegangi bibirnya.


Zant awalnya ingin menangkap Rihan yang terjatuh, ternyata gagal. Keduanya berakhir jatuh dengan Rihan yang menindih Zant dan bibir keduanya saling menempel.


Tanpa mengatakan apapun, Rihan segera berdiri dan berlari pergi karena malu. Zant yang ditinggalkan, segera bangun dan terduduk dengan satu kaki ditekuk. Tangan kirinya diletakkan di atas lututnya, sedangkan tangan kanannya menutup wajahnya dan tertawa tertahan.


"Kecelakaan membawa berkah," Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2