
"Anda yakin tidak membawa tambahan orang, Tuan?" Tanya Alex ketika mereka baru turun dari pesawat.
"Mereka adalah manusia buatan, Lex. Membawa banyak orang sama saja mencari mati. Aku tidak ingin orang-orangku mati sia-sia. Kita juga tidak punya banyak waktu. Cukup beberapa orang saja, dengan strategi yang sudah kita buat."
"Baik, Tuan. Saya mengerti."
"Perketat penjagaan di mansion. Bantu Alen di sini Lex. Aku akan baik-baik saja," Rihan membenarkan tas kecil yang diberikan Alex di pesawat tadi. Rihan melingkarkannya di pinggang dengan kuat agar tidak terjatuh nanti.
"Tidak bisakah saya ikut, Tuan?"
"Kalian berdua adalah orang kepercayaanku. Jika terjadi sesuatu padaku, ada kalian yang bisa menyelesaikan masalah yang terjadi. Aku serahkan semuanya pada kalian berdua." Rihan menepuk pelan bahu Alex dan Alen yang kini menunduk.
"Anda tidak boleh berkata seperti itu, Tuan. Kembalilah dengan selamat," Alen menatap Rihan dengan mata yang kini mulai berkaca-kaca.
"Hm. Tunggu aku kembali."
"Baik, Tuan. Kami akan menunggu anda. Saya akan mengirim bantuan nanti, Tuan."
"Hm."
Rihan kemudian menaiki mobil yang sudah terparkir di depannya dan pergi dari sana. Alex dan Alen hanya menatap kepergiannya dengan wajah khawatir.
Hampir setengah jam kemudian, Rihan baru sampai di sebuah lahan gedung kosong di tengah hutan bekas pabrik kayu yang terbakar beberapa tahun lalu. Turun dari mobil, Rihan berjalan masuk ke dalam gedung itu. Sebelum masuk, Rihan menekan chip di belakang telinganya untuk menghubungi Alex. Sayangnya alat itu tidak berfungsi di sini.
"Benar-benar merepotkan," Gumam Rihan mendengus.
Sedikit merenggangkan otot tangannya, Rihan berjalan masuk dengan tenang. Sampai di dalam, dia hanya bisa menghela nafas karena melihat sekitar 10 orang pria terbujur kaku di sana. Rihan yakin, itu pasti pengawal Neo.
Rihan mengalihkan pandangannya pada Neo yang terlihat kelelahan melawan seorang manusia buatan. Beberapa meter di belakang mereka, ada Phiranita dan Elle yang diikat terpisah di sebuah kursi kayu yang dimodifikasi sehingga bisa mengalirkan listrik pada orang yang duduk di sana.
Di lantai atas, ada seorang pria berjubah hitam menutupi seluruh tubuhnya hingga kepalanya, sedang berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada sambil menatap ke bawah.
"Anda datang, Tuan Muda." Suara pria di lantai atas terdengar santai.
"Apa yang kamu inginkan dariku?" Tanya Rihan datar.
"Menguji kemampuan bertarung anda dengan para manusia buatan itu," Jawab pria berjubah hitam itu dan terkekeh.
"Tidak ada untungnya bagiku," Balas Rihan datar lalu melirik Neo yang saat ini terduduk sambil menghela nafasnya yang tersengal.
"Saya akan memberi anda pilihan, Tuan Muda. Jika satu saja pukulan manusia buatan itu mengenaimu, maka kedua gadis itu akan merasakan sakitnya aliran listrik di seluruh tubuh mereka. Hahaha... Bagaimana?"
"Baik."
"Rei..." Panggil Neo pelan dan menggeleng agar Rihan tidak menerima tantangan itu.
"Lalu apa yang akan terjadi jika aku memberi mereka pukulan, bahkan menjatuhkan mereka?" Tanya balik Rihan lalu beralih menatap Phiranita yang sepertinya pingsan.
"Aku rasa itu tidak mungkin. Tapi jika itu terjadi, aku akan secara perlahan melepas ikatan tali yang mengingat kedua gadis itu."
"Aku setuju." Rihan mengangguk.
Pengawal bayangan Rihan sekitar 5 orang tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Kenapa anda hanya membawa lima orang? Saya tidak masalah jika 100 orang sekalipun. Hahaha..." Pria berjubah hitam itu mengejek.
"Mereka saja sudah cukup."
"Anda memang luar biasa, Tuan Muda. Saya menunggu aksi anda. Jangan biarkan satu orangpun keluar dari sini." Perintah pria berjubah hitam itu.
"Baik, Tuan." Jawab serempak manusia buatan yang berjumlah 4 orang itu.
"Mereka bukan lawan yang mudah. Berhati-hatilah!" Rihan sedikit melirik para pengawalnya.
"Siap, Tuan!"
Semua orang kemudian bersiap. Rihan merogoh isi tas kecil yang melingkar di pinggangnya untuk mengambil sesuatu di sana. Ternyata sebuah benda berbentuk persegi panjang. Rihan melihat benda itu, kemudian menekan tombol di sana. Tiba-tiba muncul laser berbentuk pedang.
Di saat Rihan masih menatap pedang laser di tangannya, seorang manusia buatan sudah menyerangnya lebih dulu. Untung saja dia dengan cepat menghindar, jika tidak pisau di tangan manusia buatan itu akan mengenainya.
"Hati-hati, Rei! pisau itu beracun," Teriak Neo setelah menghindari serangan seorang manusia buatan di depannya.
Rihan saat ini melawan seorang manusia buatan, Neo juga melawan satu, sedangkan dua manusia buatan lainnya melawan lima pengawal Rihan.
"Ck... sepertinya racun sudah menjadi ciri khas mereka." Cibir Rihan setelah melakukan salto ke belakang menghindari tendangan manusia buatan di depannya.
Rihan memasang kuda-kuda, untuk menyerang balik. Dia berlari menghampiri lawan di depannya.
Syuut
__ADS_1
Laser miliknya berhasil memotong hingga putus salah satu tangan manusia buatan di depannya.
"Anda memang hebat, Tuan Muda. Hahaha..." Suara pria berjubah di lantai atas kembali terdengar. Rihan hanya bisa menatap pria itu tajam.
Ketika Rihan akan menyerang lagi, dia tiba-tiba berhenti dan sedikit melotot menatap manusia buatan di depannya. Tangan kirinya yang tadinya putus, kini mulai membentuk sel baru menjadi tangan yang utuh lagi.
"Bagaimana bisa?" Gumam Rihan menatap pria berjubah hitam di lantai atas.
"Hahaha... ingat jika mereka adalah teknologi sains yang begitu canggih, sehingga bisa beregenerasi sendiri. Mereka bukan lawan yang mudah untuk anda, Tuan Muda." Pria berjubah itu semakin mengejek.
"Untung saja aku tidak membawa Gledy. Bisa hancur senjata rahasiaku. Sepertinya aku harus memasang sel regenerasi pada Gledy juga," Batin Rihan dan menggenggam erat pedang laser di tangannya.
Rihan menoleh menatap ke arah pengawalnya. Ternyata sudah satu orang pingsan karena goresan pisau beracun di perutnya. Padahal baru 10 menit, tetapi satu pengawalnya sudah dilumpuhkan.
Rihan menghela nafas sebentar kemudian mulai menyerang dan menghindari serangan. Rihan melirik Neo yang sibuk menghindari serangan lawannya. Melihat tanda bahaya pada pria itu, Rihan segera berlari ke arah Neo.
Sret!
Rihan kembali memotong lengan manusia buatan di depan Neo yang hampir saja memberi sayatan di lengan pria itu.
"Sebaiknya kak Neo menyimpan tenaga untuk membebaskan Tata. Serahkan rongsokan itu padaku," Ujar Rihan pada Neo yang bersandar padanya. Keduanya saling bersandar sambil menatap manusia buatan di depan masing-masing.
"Maaf sudah merepotkanmu lagi. Aku serahkan mereka padamu!"
"Hm."
Neo berusaha melarikan diri dan menghampiri Phiranita dan Elle, tetapi lawannya tadi tidak membiarkannya begitu saja. Rihan yang melihatnya hanya bisa berdecak kesal karena gerakan para manusia buatan yang dia juluki rongsokan itu sangat cepat.
"Jika begini, sama saja aku membuang tenaga karena tidak tahu dimana letak kelemahan mereka." Rihan mengelak dari serangan manusia buatan di depannya.
"Berapa kalipun aku memotong tangan maupun kakinya, itu akan tetap tumbuh. Ck..."
"Dada... Benar! dada sebuah manusia buatan adalah inti tubuh mereka. Hm... mari kita coba!" Sambung Rihan dalam hati kemudian mulai maju menyerang dengan berusaha mengincar dada manusia buatan itu.
Rihan terus menyerang maupun menghindar serangan lawannya, hingga dia melompat kemudian menendang kuat punggung manusia buatan itu hingga terjatuh. Ketika manusia buatan itu akan bangun, Rihan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Rihan kembali meninju dengan kuat punggung manusia buatan itu hingga menembus dadanya.
Bugh
Satu pukulan Rihan berhasil membuat manusia buatan itu jatuh dan tidak bisa bisa bangun lagi. Bagaimana tidak jatuh, jika pukulan Rihan yang begitu kuat, tepat mengenai inti tubuhnya hingga rusak.
"Tidak disangka, anda benar-benar hebat, Tuan Muda." Lagi-lagi suara pria berjubah hitam di lantai atas membuat Rihan menoleh dan menatap tajam pria itu. Tanpa membalas, Rihan merogoh isi tas di pinggangnya.
Sret!
Brukk
Rihan yang sudah bosan dengan ocehan tidak bermutu pria berjubah hitam itu, segera merogoh isi tasnya dan mengambil shuriken, 3 sekaligus, kemudian melemparkannya tepat mengenai leher pria itu sehingga jatuh dan mati karena kehabisan darah.
"Titik lemah mereka ada di bagian dada," Rihan memberitahu pengawal bayangannya. Keempat pengawal bayangannya yang terlihat lelah itu, mengangguk dan mulai menyerang membabi buta mengincar inti tubuh manusia buatan itu.
Rihan melirik ke arah Neo yang sedang melawan manusia buatan di depannya. Rihan melirik Phiranita dan Elle yang pingsan. Rihan menghampiri mereka dan membebaskan mereka. Ketika akan melepas ikatan tali Phiranita, suara Neo mengalihkan perhatian Rihan.
"Rei, awas!" Suara Neo yang memenuhi gedung rusak itu berhasil membuat Rihan dengan cepat menghindari sayatan samurai seorang manusia buatan yang hampir saja membuat lengannya putus. Rihan menghindari samurai panjang dan tajam itu sambil mendengus.
"Merepotkan! Dari mana rongsokan ini muncul?" Gumam Rihan setelah menghela nafas. Dia lalu menatap manusia buatan di depannya yang postur tubuhnya sedikit besar dan lebih tinggi dari manusia buatan lainnya.
Keduanya saling menyerang dan menghindar. Manusia buatan dengan samurai di tangan kanannya, sedangkan Rihan dengan pedang laser di masing-masing tangannya.
"Tunggu bagianmu!" Rihan melompat menghindari serangan manusia buatan itu, dan menuju Neo untuk membantu pria itu.
Rihan tanpa membuang waktu, segera memotong dengan brutal manusia buatan yang sedari tadi Neo lawan. Rihan memotong mulai dari kaki, kemudian tangan, dan tidak menunggu manusia buatan itu beregenerasi, Rihan sudah lebih dulu memotong menjadi empat bagian manusia buatan itu, dengan dadanya sebagai titik potong, sehingga dia tidak bisa lagi berfungsi.
"Selamatkan Tata dan kekasihmu, Kak." Ujar Rihan dengan datar dan segera menghadang manusia buatan dengan samurai itu.
"Oke. Hati-hati Rei."
"Hm."
Rihan dan rongsokan itu saling menyerang dengan sekuat tenaga. Rongsokan kali ini kekuatannya dua kali lipat dari rongsokan sebelumnya, membuat Rihan kesusahan.
Sret!
Samurai panjang dan tajam itu, berhasil mengenai lengan kanan Rihan membuat luka yang cukup besar dan dalam.
"Dia benar-benar kuat," Gumam Rihan dalam hati lalu melirik sekilas lengannya yang mengeluarkan banyak darah.
Rihan kembali menghindar dan memotong kaki manusia buatan di depannya, dan mundur beberapa langkah untuk mengambil nafas.
"Salah satu dari kalian bantu kak Neo." Perintah Rihan karena tidak mungkin Neo membopong dua gadis itu sekaligus.
__ADS_1
"Siap, Tuan." Suara PB 007 menjawab dan segera melompat menghindari serangan salah satu manusia buatan kemudian menghampiri Neo.
"Ambil ini!" Rihan memberikan dua pedang laser di tangannya pada dua pengawal bayangannya.
"Bagaimana dengan anda, Tuan?" Tanya salah satu pengawal.
"Aku punya senjata sendiri," Jawab Rihan datar dan beralih menatap manusia buatan yang melawannya tadi.
Pertempuran kembali terjadi. Rihan kali ini hanya menggunakan pisau kecil di masing-masing tangannya. Meski pisau itu kecil, tapi bagi Rihan itu cukup untuk menahan serangan para rongsokan itu.
Rihan terus menahan serangan salah satu manusia buatan yang ingin menyerang Neo dan seorang pengawalnya yang membawa Phiranita dan Elle. Rihan bernapas legah ketika dua sandera sudah dibawa pergi.
Rihan yang masih menghela nafas, dikagetkan dengan PB 008 yang jatuh di belakangnya karena menahan serangan seorang manusia buatan yang mengarah padanya. Pengawalnya itu pingsan setelah memberi senyum tipis pada Rihan. Kini tersisa tiga manusia buatan bersama Rihan dan dua pengawalnya.
"Jika kalian lelah, beristirahatlah. Biarkan aku sendiri." Rihan menggenggam erat pisau di tangannya.
"Kami masih kuat, Tuan."
"Benar, Tuan! Saya masih punya banyak tenaga untuk membuat manusia buatan ini menjadi rongsokan."
"Hm. Itu bagus!"
Pertempuran kembali terjadi menyisahkan dua manusia buatan dan Rihan bersama satu pengawalnya. Lengan Rihan masih saja mengeluarkan darah, begitu juga perutnya yang baru menerima sayatan dari samurai tajam itu. PB 009 yang masih bertahan, tidak luput dari lebam. Untungnya pria itu belum mendapat goresan pisau beracun, sehingga dia baik-baik saja.
Rihan yang sudah merasa kasihan dengan pengawalnya yang satu itu, segera merogoh isi tasnya dan mengambil sebuah jarum kemudian melemparkan pada pengawalnya itu, tepat mengenai leher hingga dia jatuh pingsan.
"Sudah cukup kerja kerasmu. Istirahatlah!" Gumam Rihan setelah pengawalnya itu jatuh pingsan. Rihan lalu mengambil kembali dua pedang laser yang dia berikan sebelumnya.
"Sekarang giliran kalian berdua untuk beristirahat juga," Sambung Rihan dan menggenggam erat pedang laser di masing-masing tangannya dan berlari menyerang dua rongsokan di depannya.
Sret
Sret
Sret
Sret
Empat kali sayatan laser berhasil membelah manusia buatan dengan pisau beracun di tangannya, hingga mati. Kini hanya tersisa satu manusia buatan dengan samurai di tangannya. Keduanya sama-sama saling menatap dengan wajah datar.
Rihan dengan nafas tersengal-sengal menatap tajam manusia buatan di depannya.
"Mari akhiri ini," Gumam Rihan dan maju menyerang.
Bugh
Brukk
Manusia buatan itu dengan cepat mengelak dan memberikan tendangan tepat di perut Rihan yang terluka membuatnya meringis dan jatuh. Dua pedang laser di masing-masing tangan Rihan juga terlepas.
Tidak sampai di situ, manusia buatan itu dengan cepat berusaha menyerang Rihan yang masih berbaring terlentang, tetapi Rihan segera menahan serangan itu dengan kedua tangannya menyilang di depan wajahnya sehingga mengenai jam tangannya dan terlepas.
Rihan kemudian menendang perut manusia buatan itu hingga mundur beberapa langkah. Kesempatan itu, Rihan pakai untuk bangun dan kembali menyerang dengan tangan kosong. Sayangnya Rihan kembali terjatuh akibat tendangan kuat manusia buatan itu.
"Sial... Rongsokan ini benar-benar menyebalkan," Gumam Rihan setelah terbatuk dan memuntahkan seteguk darah segar.
Baru saja dia mengambil nafas karena sakit, bercampur lelah, manusia buatan itu sudah menyerang lagi. Kali ini manusia buatan itu berniat menusuk wajah Rihan.
Belum sempat samurai itu mengenai wajah Rihan, gadis itu sudah menahan dengan tangan kosong samurai tajam itu. Kini samurai itu hanya berjarak beberapa senti dengan wajahnya.
Rihan meringis karena samurai itu membuat telapak tangannya sakit. Dia merasa tulang tangannya hampir putus. Rihan yang berusaha menahan dengan sekuat tenaga, manusia buatan itu juga mendorong dengan sekuat tenaga.
Darah segar terus mengalir dari telapak tangannya bersamaan dengan gesekan pelan samurai itu mendekati wajah Rihan.
Rihan sudah berubah pucat karena darah terus keluar dari setiap lukanya, berusaha bertahan. Riha lmenggeram, kemudian mengelak ke sampingnya sehingga samurai itu hanya menusuk lantai.
Rihan dengan cepat berguling ke samping kemudian bangun, lalu mengambil dua pedang laser yang tadinya terlepas tidak jauh darinya, kemudian memotong manusia buatan itu hingga beberapa bagian sekaligus. Akhirnya manusia buatan itu mati.
Rihan bernafas legah dan akhirnya jatuh terlentang dan sedikit tersenyum.
"Benar-benar lawan yang merepotkan," Gumamnya, kemudian bangun dan berjalan keluar berniat mencari bantuan.
Rihan tidak bisa menghubungi Alex atau Alen, karena chip di belakang telinganya tidak berfungsi. Sepertinya mereka memutuskan jaringan satelit di sekitar sini. Jam tangan pintarnya juga sudah rusak akibat manusia buatan itu.
Rihan terus berjalan dengan langkah gontai sambil terus menahan sakit di sekujur tubuhnya yang terluka. Wajahnya sudah berubah pucat, tetapi dia terus bertahan demi orang-orang di dalam sana. Jika dia pingsan di sini, maka nyawa orang-orang di dalam sana dalam bahaya.
Rihan yakin, pasti terjadi sesuatu di mansion sehingga Alex tidak mengirim bantuan kemari. Padahal Rihan sudah berpesan untuk mengirim bantuan nanti setelah dia pergi selama beberapa jam, atau komunikasi mereka terputus.
Untuk Neo sendiri dan pengawalnya, Rihan berpikir, pasti mereka sibuk dengan Phiranita dan Elle sehingga lupa dengannya, atau mereka juga sedang ditangani oleh dokter.
__ADS_1
Rihan hanya bisa menguatkan diri dan terus maju hingga dia sedikit merasa legah karena sudah memasuki jalan raya. Rihan tiba-tiba jatuh terduduk tepat di tengah jalan menunggu adanya kendaraan yang lewat.
Lima menit kemudian, Rihan jatuh pingsan setelah melihat sebuah sebuah mobil dari jauh.