Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Isi Hati David


__ADS_3

"Anda serius akan menerima tantangan Tuan Muda Rehhand?" Tanya Dom pada sang tuan.


"Ya. Aku ingin tahu sejauh mana pria cantik itu bisa melindungi pionku," Jawab si tuan lalu tersenyum tipis.


"Segera atur waktu pertemuan kita, Dom." Sambung si tuan sambil menatap sekilas Dom.


"Baik, Tuan. Apa saja yang harus saya siapkan untuk pertemuan nanti?" Tanya Dom.


"Tidak perlu. Biar itu menjadi urusanku." Jawab sang Tuan.


"Baik Tuan."


"Pihak Cabang R.A. Group ingin bertemu langsung dengan CEO Miara Group, Tuan. Anda akan bertemu mereka?" Dom bertanya ketika mengingat pesan sekretarisnya.


"Lakukan seperti biasa. Belum saatnya kemunculanku,"


"Baik, Tuan."


***


Setelah para penyusup itu pergi, Rihan dengan tenang menghidupkan mesin mobilnya dan menuju gerbang mansion.


Ketika melihat kedatangan sang majikan melalui kamera pengawas di setiap sudut mansion yang sudah kembali aktif, hampir semua bawahan Rihan terlebih di bagian IT yang ada di mansion keluar dan menyambutnya.


Untung saja, halaman mansion Rihan sangat besar sehingga bisa menampung anak buahnya. Rihan yang melihat mereka hanya mengerutkan keningnya merasa aneh dengan tingkah tidak biasa anak buahnya.


"Ada apa?" Tanya Rihan datar setelah turun dari mobil.


"KAMI MINTA MAAF, TUAN!" Semua bawahan Rihan berbicara serempak.


Rihan yang mendengarnya akhirnya mengerti. Ternyata mereka meminta maaf karena tidak melakukan tugas mereka dengan baik sehingga penyusup bisa masuk ke mansion.


"Hmm. Bagian IT masuk ke One Room. Waktu kalian 5 menit untuk bersiap!" Suara Rihan tegas sambil menampilkan sorot mata tajamnya yang menatap satu persatu wajah mereka di depannya, membuat mereka hanya bisa menunduk takut.


"BAIK, TUAN!"


One Room adalah ruangan khusus tim IT untuk berlatih. Biasanya Rihan akan memasukan satu virus ke setiap komputer, dan anak buahnya diminta untuk menghentikan virus itu menyebar dan merusak data dalam komputer, atau virus yang membuat komputer bisa dikendalikan dari jarak jauh.


Setiap pelatihan, akan ada virus baru yang Rihan berikan untuk melatih mereka. Selain itu, Rihan juga akan melatih mereka dalam menghack komputer lain.


Jika waktu yang diberikan Rihan habis dan ada yang tidak bisa menghentikan virus itu, maka hukumannya adalah mengikuti latihan fisik selama 24 jam tanpa berhenti, hingga orang itu benar-benar pingsan.


Jika ada yang bertanya bagaimana dengan asupan dalam tubuhnya atau makanan dan minuman yang dikonsumsi, maka jawabannya mereka akan meminum pil penahan lapar yang hanya bertahan selama 48 jam.


Untuk mereka yang pingsan, akan diberi penanganan lebih lanjut. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada yang pingsan selama hukuman mereka. Wajar saja karena sebelum mereka dibagi ke bidang masing-masing, mereka harus melewati beberapa tes fisik yang selalu Alex dan Alen sebut dengan latihan neraka.


Mansion Rihan sudah dirancang khusus dengan ruang bawah tanah yang terdiri dari One Room untuk Tim IT, Two Room untuk Tim Penembak Jitu, Three Room untuk Pasukan Bayangan, Four Room untuk Pasukan Penyerang, Five Room untuk Tim Medis.


Dengan masing-masing ruangan memiliki cabang ruangan lagi yang diurutkan berdasarkan tingkatan kemahiran seseorang. Setiap ruangan juga memiliki kapasitas masing-masing untuk menampung banyaknya orang yang akan berlatih, juga orang yang dibutuhkan dalam bidang itu.

__ADS_1


Setiap orang pada masing-masing bidang bukan hanya belajar di bidangnya saja, tetapi 2 kali dalam sebulan akan diadakan pertukaran pelatihan, agar bidang lain bisa mempelajari bidang lain. Itu semua Rihan rencanakan untuk membantu diri mereka sendiri jika sewaktu-waktu bantuan yang mereka perlukan belum datang.


Untuk pelatihan sendiri, Rihan akan melatih perwakilan atau ketua dari masing-masing tim atau pasukan kemudian mereka akan melatih kembali bawahan mereka. Nanti setelah dirasa mereka sudah menguasai apa yang mereka pelajari, Rihan akan membagi waktunya untuk melatih mereka dibantu oleh Alex dan Alen. Satu hari untuk satu bidang keahlian.


Setelah semua pelatihan dilakukan, Rihan akan mengadakan seleksi untuk mencari yang terbaik dari yang terbaik, karena masing-masing bidang dengan tingkatannya tersendiri, mulai dari tinggi, sedang dan rendah. Seleksi akan dilakukan 5 bulan sekali setelah masa pelatihan selesai.


...


Setelah memberikan perintah pelatihan untuk Tim IT, Rihan memasuki mansion dan mendapati Alen yang sudah menyambutnya bersama beberapa pelayan di pintu masuk mansion.


"Selamat datang kembali, Tuan!"


"Dimana Tata?" Rihan bertanya setelah membalas sapaan mereka dengan anggukan kepalanya.


"Nona Phi sedang beristirahat Tuan, karena setelah kamera pengawas di sabotase, saya memberinya obat tidur." Jawab Alen tenang.


Rihan memang sudah berpesan pada Alen untuk memberi obat tidur pada Phiranita jika sewaktu-waktu terjadi hal seperti tadi. Itu semua dilakukan karena mereka takut Phiranita akan histeris yang menyebabkan traumanya kembali.


"Hmm."


"Maaf Tuan, dimana kak Alex?" Tanya Alen karena tidak melihat keberadaan saudara kembarnya.


Mendengar pertanyaan Alen, Rihan mengerutkan dahinya karena baru sadar jika Alex ditinggalkan di kampus. Rihan lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Alex.


"Halo, Tuan. Anda baik-baik saja?" Jawab Alex setelah panggilan tersambung, disertai dengan deruh nafasnya yang naik turun.


"Apa yang terjadi?" Tanya Rihan yang khawatir. Tapi ditutupi dengan wajah datarnya.


"Hmm. Aku akan mengutus orang menjemputmu, tetaplah di sana." Rihan lalu menatap wajah khawatir Alen.


"Ada apa dengan kak Alex, Tuan?" Tanya Alen dengan wajah khawatirnya.


"Dia dihadang di tengah jalan ketika akan menyusulku ke sini." Jawab Rihan tenang lalu berjalan menuju sofa yang berada di depannya dan duduk di sana.


"Kak Alex baik-baik sajakan, Tuan?" Tanya Alen semakin khawatir.


"Ya. Kamu tahu dia bukan orang yang lemah. Hanya para semut. Mereka bukan tandingannya. Segera suruh beberapa orang terlatih kita untuk menjemputnya. Beberapa orang pengawal bayangan tidak bisa muncul begitu saja, karena mereka akan diketahui." Jawab Rihan lalu bersandar dan memijit pelipisnya.


"Baik, Tuan. Saya permisi!"


"Setelah itu siapkan air mandiku," Rihan lalu memejamkan matanya ingin sedikit beristirahat.


"Siap, Tuan."


***


"Dev..." Panggil Sania atau biasa dipanggil Nia, ibu seorang David Alexander.


"Iya, Bu?" Jawab David menghentikan langkahnya yang ingin menuju dapur mengambil air.

__ADS_1


"Mau kemana? Ayo, ke sini sebentar."


"Dev mau mengambil air di belakang, Bu." Jawab David menatap sang ibu.


"Suruh bibi pelayan saja. Ayo duduk bersama ibu. Ada yang ingin ibu tanyakan." Ibu David tersenyum sambil menepuk sofa di sampingnya mengisyaratkan David duduk di sana.


"Baik, Bu. Bi... bibi Lani?" Panggil David agak keras. Maklumlah jika rumah mereka termasuk sangat besar.


"Iya Den... Maaf, bibi tadi di kebun belakang. Ada apa, Den?" Tanya sang bibi.


"Ambil Dev air, Bi. Bawa ke sini! Maaf sudah merepotkan bibi. Terima kasih, Bi." Jawab David lalu tersenyum tipis.


"Baik, Den. Tidak apa-apa. Itu sudah menjadi tugas bibi. Bibi permisi Den, Nyonya." Sang bibi lalu kembali ke dapur setelah mendapat anggukan dari David.


"Apa yang ingin ibu tanyakan?" Tanya David setelah membaringkan kepalanya dipangkuan sang ibu tercinta.


"Ibu penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Ayah Ariana." Ibu David bertanya sambil mengelus sayang surai hitam sang anak.


"Yang mana bu?" Tanya David memejamkan matanya menikmati usapan lembut ibunya.


"Katanya kamu dan Arian sama-sama menyukai orang lain." Jawab Nia tersenyum pada sang anak.


"Oh... Itu... Itu benar, Bu! David memang sudah menyukai bahkan mencintai gadis lain sejak masih di bangku SMA." Jawab David lirih.


Kini dadanya terasa sesak dikala mengingat gadis pujaannya yang belum ditemukan keberadaannya sama sekali.


"Selama itu, Dev? Kenapa tidak memberitahu ibu? Benar juga, ibu dan ayah yang selalu memaksamu untuk mempercepat pernikahanmu dengan Ariana, tanpa memikirkan perasaanmu. Maafkan kami, Nak. Kali ini ibu akan mendukung keputusanmu." Ucap Ibu David dengan nada bersalah.


"Tidak apa-apa, Bu. Ibu jangan sedih. Dev tidak mau ibu sedih, karena Dev sangat menyayangi ibu." David lalu menatap sang ibu dan tersenyum tipis.


"Terima kasih, Nak. Boleh ibu tahu siapa gadis itu?" Tanya Sasania penasaran.


"Dia hanya gadis biasa dengan senyum ceria dan menyejukan hati. Dia juga gadis paling cantik di sekolah Dev. Semua orang do sekolah memanggilnya bintang sekolah. Selain cantik, sopan dan baik hati, dia juga sangat pintar, Bu. Dia sangat sempurna menurut Dev. Entah dimana kekurangannya. Sayangnya, karena Dev sendiri, gadis itu akhirnya pergi meninggalkan Dev, Bu." Jelas David dengan nada sedih diakhir kalimatnya.


"Karena kamu maksudnya?" Tanya ibu David bingung.


"Karena Dev mendekatinya, Ariana cemburu dan selalu membully gadis itu, Bu. Dan terakhir gadis itu masuk rumah sakit setelah ditemukan pingsan di toilet sekolah dengan keadaan memprihatinkan. Ketika Dev akan menjenguknya di rumah sakit, gadis itu sudah tidak ada, Bu. Dev sudah mencarinya kemana-mana, tapi tidak menemukannya.


Apa yang harus Dev lakukan, Bu? Dev sangat ingin bertemu dengannya. Dev merindukannya Bu. Dev..." David sambil menahan sesak di dadanya. Bulir kristal itu akhirnya jatuh juga. Ini pertama kalinya David menangis setelah dia beranjak dewasa.


"Ibu pikir Ariana adalah gadis baik-baik. Astaga... Ibu tidak menyangka dia bisa seperti itu. Sudahlah Nak. Jika kamu mencintai dan ingin segera bertemu dengannya, maka berusahalah. Jika kalian berjodoh, ibu yakin kalian akan segera dipertemukan." Ibu David menyekah air mata David berusaha menenangkan anak keduanya itu.


"Iya, Bu."


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.

__ADS_1


See You.


__ADS_2