
Rihan baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengelap rambutnya yang basah sehabis mandi. Rihan mengerutkan kening melihat Neo yang berdiri menatapnya tajam sambil melipat tangannya. Rihan hanya mengabaikan Neo karena dia jelas tahu maksud dan tujuan pria itu datang ke kamarnya.
Beberapa saat lalu di ruang tamu, Phiranita dengan inisiatif memeluk Neo untuk menyadarkan sang kakak bahwa semua ini bukan halusinasi sehingga terjadilah drama singkat antar kakak beradik itu dan juga sang papi. Mereka begitu senang mendapati Phiranita kembali dengan selamat.
Rihan yang melihat mereka, ikut senang dalam hati. Tidak ingin mengganggu, Rihan diam-diam menuju kamarnya diikuti oleh Alex. Biarlah keluarga itu melepas rindu dan membicarakan banyak hal. Belum lagi Phiranita yang harus tahu kematian ibunya.
Phiranita kemudian menceritakan kejadian yang sebenarnya malam itu hingga dia sadar di rumah sakit dengan Rihan di sampingnya. Neo yang mendengar cerita sang adik menjadi kesal, bukan karena dokter maupun suster yang ingin mencelakai kedua orang tuanya dan menculik sang adik. Neo akan memikirkan itu nanti.
Saat ini Neo kesal pada Rihan yang membuatnya tidak bisa tidur sampai hari ini. Bisa-bisanya pesan dan panggilannya diabaikan begitu saja membuatnya uring-uringan dan tidak fokus bekerja. Bahkan membaca laporan pencarian Phiranita saja dia malas.
Mengabaikan adiknya yang sedang menangis dipelukan sang papi karena mengetahui kematian mami tercinta, Neo pamit pada Papi Evan untuk menemui Rihan di kamar. Neo beralasan ingin berterima kasih.
Jadi, di sini Neo sekarang. Di kamar Rihan dengan berdiri di samping tempat tidur dan menunggu Rihan keluar dari kamar mandi.
Meletakkan handuk yang dipakai ke tempatnya, Rihan membenarkan rambutnya ke belakang dengan satu tangan agar tidak menghalangi dahi mulusnya.
Rihan kemudian menuju sofa dan mengambil laptop meletakkan di pangkuannya dan mulai membuka email tanpa mempedulikan Neo yang sedari tadi menatapnya intens.
"Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?" Neo membuka suara yang terdengar kesal. Bisa-bisanya dia diabaikan.
Pria itu kemudian duduk di samping Rihan dan masih menatap wajah Rihan yang begitu cantik dan tampan secara bersamaan. Belum lagi, ini pertama kalinya Neo melihat dahi mulus Rihan, karena selama ini Rihan menutup dahinya dengan rambutnya.
"Apa yang ingin kak Neo dengar?" Tanya Rihan yang masih fokus dengan laptopnya.
"Bagaimana kamu bisa menyelamat Ira."
"Bukan karena kesal aku mengabaikan panggilan dan pesanmu, 'kan?" Tebak Rihan membuat Neo tiba-tiba menjadi gugup.
"Bu...bukan itu. Aku hanya ingin mendengar bagaimana caranya kamu bisa menemukan pelakunya dan berhasil menyelamatkan Ira," Elak Neo menggaruk pelipisnya sebentar.
"Tata pasti sudah menceritakannya. Intinya saja, Kak. Aku sedang sibuk."
"Kenapa jadi dia yang kesal?" Neo mendengus dalam hati. Seharusnya dia yang kesal.
Tap
"Dengarkan yang lebih tua berbicara!" Kesal Neo setelah menutup laptop Rihan dan meletakkan di atas meja.
__ADS_1
"Silahkan," Rihan juga tidak kesal. Rihan dengan santai mengubah posisi menghadap Neo dan menatap tepat di kedua bola mata Neo.
"Eum... bisakah aku me...melukmu?" Pintah Neo lalu menggaruk kepalanya. Dia benar-benar gugup.
"Untuk ap..."
Grep!
Bruk!
Perkataan Rihan terpotong karena Neo sudah menubruknya dengan pelukan sehingga Rihan sedikit terhuyung dengan Rihan dipojok sofa dan Neo di cekuk lehernya. Rihan ingin berontak tapi dia juga penasaran apa yang ingin Neo lakukan.
"Kenapa mengabaikan panggilan dan pesanku? Kamu tahu, aku tidak bisa tidur selama beberapa hari ini. Bisa-bisanya kamu mengerjaiku ingin pulang ke Indonesia. Aku ingin marah, tapi tidak bisa. Jika mau pulang, tolong katakan padaku. Biar aku yang akan mengantarmu, hm?" Ujar Neo di cekuk leher Rihan. Suara pria itu terdengar lucu di telinga Rihan.
"Baik. Aku minta maaf. Sudah, Kak. Kamu berat." Perkataan Rihan membuat Neo tersadar dan melepas pelukannya.
Neo kini menatap wajah Rihan yang hanya beberapa senti dengannya. Terlihat wajah putih dan bersih, alis yang rapi, iris mata coklat terang, hidung mancung, bibir merah alami membuat Neo terpana. Tanpa sadar Neo memiringkan kepalanya dan,
Cup
"Sudah 1 menit berlalu," Sahut Rihan karena sedari tadi mereka hanya saling menatap. Neo yang mendengar suara Rihan tersadar dari lamunannya.
"Ya, Tuhan. Pikiran jahat apa itu? Tidak-tidak... aku masih normal." Batin Neo lalu menggeleng karena bisa-bisanya dia terpikir untuk mencium Rihan.
"Tidak ada yang ingin kak Neo katakan?" Suara Rihan sekali lagi menyadarkan Neo.
"Bisakah aku memelukmu? Sebentar saja!" Ujar Neo pelan.
"Tidak." Tolak Rihan sambil menggeleng kepalanya.
Grep!
Tanpa mendengar penolakan Rihan, Neo menarik dengan cepat Rihan ke dalam pelukannya.
"Sebentar saja." Gumam Neo ketika Rihan akan mendorongnya. Rihan akhirnya menghentikan niatnya. Rihan juga tidak membalas pelukan Neo.
"Terima kasih sudah menyelamatkan adikku. Kamu sudah seperti malaikat bagi keluargaku. Aku tidak akan pernah berhenti mengucapkan terima kasih padamu,"
__ADS_1
"Hmm."
"Aku sebenarnya kesal karena kamu mengabaikan panggilan dan pesanku. Aku ingin marah, tapi... Bagaimana bisa aku marah pada orang yang sudah menyelamatkan adikku? Asal kamu tahu Rei, aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu. Jadi..."
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini, Kak. Aku juga harus pulang. Ada yang harus aku lakukan di Indonesia. Kak Neo harus terbiasa tidur tanpaku," Potong Rihan membuat Neo menghela nafas di cekuk lehernya.
"Baik, aku mengerti. Tapi selama di sini, atau di saat kita bersama, kamu harus mau tidur bersamaku."
"Kak..."
"Please, Rei. Jangan menolakku." Neo memelas pada Rihan.
"Pria ini benar-benar seperti anak kecil," Batin Rihan menghela nafas pelan.
"Hmm."
"Terima kasih,"
"Sudah, Kak. Aku harus membaca email dari RS Setia."
"Apakah lama?" Tanya Neo setelah pelukan mereka terlepas.
"Memangnya kenapa?"
"Aku ingin secepatnya tidur."
"Ya, sudah. Kak Neo tinggal tidur."
"Aku ingin tidur tapi sambil memelukmu. Jadi jangan lama-lama membaca emailnya,"
"Tidak akan lama. Kak Neo sebaiknya ke kamar duluan," Rihan mengambil laptop dan mulai membukanya.
"Tidak! Aku akan menemanimu sampai selesai. Aku tidak ingin kamu berubah pikiran setelah aku ke kamar,"
"Terserah."
"Selamat bekerja. Anggap saja aku tidak ada di sini," Suara Neo terdenagr begitu bersemangat. Pria itu kemudian bersandar pada sofa dan menatap langit-langit kamar Rihan. Sesekali dia akan mengintip layar laptop tetapi Rihan selalu mendorong kepalanya menjauh.
__ADS_1