
Tok
Tok
Tok
"Kak Alex?" Panggil Alen setelah mengetuk pintu kamar sang kakak.
"Ada apa?" Tanya Alex setelah membuka pintu kamarnya.
"Ya, ampun... Aku jadi tidak tegah melihat wajah kak Alex." Batin Alen sambil menatap wajah kusut sang kakak.
"Kakak baik-baik saja?" Tanya Alen mendorong sedikit bahu sang kakak agar ada celah untuk masuk ke dalam kamar.
"Ya. Ada yang kamu butuhkan?" Tanya balik Alex ikut masuk dan menutup pintu kamarnya.
"Tidak ada. Hanya khawatir dengan sikap kakak yang tidak seperti biasanya." Jawab Alen setelah duduk di pinggiran tempat tidur Alex.
"Ada apa dengan kakak?" Tanya Alex mengerutkan keningnya dan ikut duduk di samping Alen.
"Kakak sepertinya ada masalah." Alen pura-pura tidak tahu.
"Apa terlihat jelas?" Batin Alex bertanya pada dirinya sendiri.
"Tidak ada. Kakak baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir," Balas Alex membelai lembut kepala sang adik.
"Kak..." Panggil Alen ragu-ragu.
"Ada apa, Hmm?" Jawab Alex masih membelai kepala sang adik.
"Sebenarnya..."
Tin
Tin
Tin
"Sepertinya nona butuh sesuatu." Ujar Alex ketika mendengar bunyi pada alat khusus di kamarnya.
"Apa nona tahu aku ingin memberitahu kak Alex yang sebenarnya?" Gumam Alen dalam hatinya.
"Apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Alex yang sudah berdiri dan menatap cermin di depannya sambil membenarkan penampilannya.
"Tidak jadi, Kak. Kakak pasti akan tahu sendiri nanti." Jawab Alen ikut berdiri dan menatap pantulan sang kakak pada cermin.
"Ya, sudah. Kakak akan ke kamar nona. Kamu mau ikut?" Tanya Alex berbalik menatap sang adik.
"Tidak, Kak. Ada yang harus aku lakukan." Jawab Alen menggeleng.
"Hmm."
***
"Anda butuh sesuatu, Nona?" Tanya Alex ketika sudah berada di depan sang majikan.
"Aku ingin kamu memeriksa beberapa berkas di meja kerjaku. Semua harus selesai sebelum jam 11 malam. Itu artinya waktumu hanya dua jam lagi. Setelah itu, berangkatlah ke kantor pusat karena ada pertemuan penting yang mengharuskanmu untuk membantu Mentra di sana." Jawab Rihan sambil menatap datar Alex.
"Tidak biasanya nona meminta orang lain memeriksa berkas di saat dia memiliki waktu luang. Dan juga, kenapa Mentra tidak menghubungiku lebih dulu masalah pertemuan itu?" Gumam Alex dalam hatinya merasa ada yang aneh.
"Ada yang harus aku kerjakan sehingga memintamu untuk memeriksa berkas-berkas itu. Untuk masalah Mentra, kamu bisa bertanya langsung padanya jika merasa bingung." Sambung Rihan ketika melihat kerutan di dahi Alex. Rihan tahu, Alex pasti merasa ada aneh.
"Baik, Nona. Kalau begitu saya pamit." Alex membungkuk hormat pada sang majikan kemudian menuju ruang kerja Rihan.
"Hmm."
"Len, datang ke kamarku sekarang!" Ucap Rihan pada intercom di samping tempat tidurnya setelah Alex keluar dari kamarnya.
***
"Sejak kapan ada berkas sebanyak ini di meja kerja nona?" Tanya Alex bingung pada dirinya sendiri, karena setahunya sang majikan tidak pernah menumpuk berkas sebanyak ini untuk diperiksa, kecuali dia memiliki kesibukan lain.
"Waktuku hanya dua jam untuk memeriksa berkas sebanyak ini? Ya, ampun.!" Keluh Alex mengambil berkas-berkas di meja kerja Rihan dan meletakkannya di atas meja lain untuk diperiksa.
"Kenapa proposal yang sudah ditolak harus ada di sini juga?" Lagi-lagi Alex berbicara sendiri.
Alex hanya bisa menggeleng kepalanya ketika sudah mendapati dua map yang dia periksa berisi proposal kerja sama dari perusahaan lain yang sudah ditolak oleh Rihan.
"Apa yang nona rencanakan dengan proposal yang ditolak ini?" Gumam Alex dalam hatinya sambil terus membuka lembar demi lembar berkas di tangannya.
...
"Bantu aku bersiap, Len. Setelah itu temani Phiranita sebentar. Ada yang harus aku lakukan." Ucap Rihan pada Alen yang baru saja datang.
"Baik, Nona. Saya akan menyiapkan air mandi anda."
"Hmm."
"Air mandi sudah siap, Nona." Lapor Alen yang baru
keluar dari kamar mandi.
"Hmm."
"Maaf, Nona. Dimana kak Alex? Saya tidak melihatnya di kamar anda waktu datang. Padahal setahu saya nona memanggil kak Alex." Tanya Alen sambil memijit lembut bahu Rihan.
"Alex sedang memeriksa beberapa berkas di ruang kerjaku. " Jawab Rihan.
__ADS_1
"Baik, Nona."
Setelah membantu sang majikan bersiap, Alen pamit dan menuju kamar Phiranita.
Tok
Tok
Tok
"Ini saya, Nona." Alen menyapa lebih dulu agar Phiranita membuka pintu kamarnya, karena Phiranita hanya bisa membuka pintu jika yang mengetuk harus memberitahu siapa dia, dan juga dia harus seorang perempuan. Itu semua karena traumanya.
"Masuk, Kak." Balas Phiranita dari dalam.
"Nona Phi butuh sesuatu?" Tanya Alen menatap Phiranita yang sedang berbaring sambil membaca buku novel di tempat tidurnya.
"Aku ingin belajar memasak, Kak. Ajari aku, ya." Jawab Phiranita setelah bangun dan meletakkan novel yang dia baca di sampingnya.
"Belajar memasak sekarang?" Tanya Alen dengan mata melotot karena jam sudah menunjukan pukul 21.30. Jam itu seharusnya Phiranita sudah beristirahat.
"Iya, Kak. Aku tidak bisa tidur. Ehan juga katanya sibuk, jadi kak Alen yang harus menemaniku. Please..." Phiranita memasang wajah memelas sambil kedua tangannya bertaut di bawah dagunya. Alen yang melihatnya menjadi tidak tegah untuk menolak wajah imut di depannya ini.
"Baiklah, Nona. Ayo ikuti saya!" Alen mengulurkan tangannya pada Phiranita.
"Yes! Kak Alen memang yang terbaik," Semangat Phiranita lalu menggapai uluran tangan Alen dan turun dari tempat tidur.
Keduanya kemudian menuju dapur untuk memulai ritual belajar memasak.
***
"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" Tanya seorang pelayan wanita yang kebetulan lewat di dapur.
"Tidak ada, Bi. Kami hanya ingin memasak sebentar. Bibi jangan mempedulikan kami." Jawab Alen datar.
"Baik, Nona."
Setelah kepergian pelayan itu, Alen membuka kulkas ingin mengambil bahan-bahan untuk memasak.
"Masakan apa yang ingin nona pelajari?" Tanya Alen sambil mengeluarkan rempah-rempah dari dalam kulkas.
"Steak daging. Bagaimana menurut kak Alen? Steak merupakan makanan kesukaanku, jadi aku ingin belajar memasaknya." Jawab Phiranita sambil tersenyum manis.
"Eum... Saya akan menyiapkan bahan-bahannya sebentar. Daging apa yang ingin anda pakai?" Tanya Alen diakhir kalimatnya sambil melihat deretan daging di dalam lemari pendingin.
"Daging sapi, Kak." Jawab Phiranita sambil menopang dagunya di atas meja kemudian menatap Alen.
"Baik."
"Jadi... pertama-tama, apa yang harus kita lakukan, Kak? Dan juga bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat steak daging sapi?" Tanya Phiranita ketika menatap bermacam-macam bumbu di atas meja yang hampir semua tidak diketahui apa namanya.
"Yang pertama sekali, kita siapkan bahan-bahannya. Untuk steak daging satu porsi, kita membutuhkan:
▪︎ 500 gr daging sapi
▪︎ Margarin untuk memanggang.
Selanjutnya ada Bahan pelengkap:
▪︎ 1 wortel (iris dadu)
▪︎ 1 jagung pipil
▪︎ 5 buncis (iris)
▪︎ 3 buah kentang (goreng)
Bumbu peredam:
▪︎ 2 bawang putih (haluskan)
▪︎ 2 sdm kecap asin
▪︎ 2 sdm kecap inggris
▪︎ 3 sdm minyak goreng
▪︎ 1 sdm saus tiram
▪︎ 1/2 sdt garam
▪︎ 1/2 sdt lada bubuk
Untuk bumbu saus:
▪︎ 1/2 bawang bombay (cincang halus)
▪︎ 1 siung bawang putih (haluskan)
▪︎ 2 gelas air
▪︎ 2 sdm maizena
▪︎ 1/2 sdt garam
▪︎ 1/2 sdt lada
▪︎ 1/2 sdt gula pasir
__ADS_1
▪︎ 4 sdm kecap manis
▪︎ 1 sdm kecap inggris
▪︎ 2 sdm daus tiram
▪︎ 3 sdm saus tomat
▪︎ 1 sdm margarin untuk menumis."
Alen menjelaskan sambil mengambil setiap bahan dengan takaran yang pas untuk memasak nanti. Untuk bahan lain akan diiris, dihaluskan atau digoreng, akan dilakukan nanti.
"Banyak sekali bahannya, Kak. Sebentar, aku foto dulu bahan-bahan ini. Sekaligus merekam apa saja yang kak Alen katakan. Aku takut lupa."
"Lanjut, Kak." Ucap Phiranita ketika selesai memfoto bahan-bahan di atas meja dan juga mengaktifkan rekaman suara.
"Pertama, iris daging melebar tapi jangan terlalu tipis." Alen memberi instruksi sambil mengiris daging sapi sesuai yang dia katakan.
"Wah... Keren! Biar aku coba, Kak." Phiranita lalu mengambil posisi ingin mengambil pisau di tangan Alen.
"Ini." Alen lalu memberikan pisau di tangannya pada Phiranita.
"Seperti ini, Kak?" Tanya Phiranita ketika berhasil mengiris sepotong daging sesuai ukuran yang diinstruksikan oleh Alen.
"Benar. Lanjutkan, Nona." Alen mengelus sayang pucuk kepala Phiranita. Setelah itu, Alen mengambil bahan lain untuk diiris juga.
"Siap, Bu Bos." Phiranita dengan semangat kemudian melanjutkan aktivitas mengiris daging di depannya.
"Aww... Kak." Ringis Phiranita ketika tidak sengaja tangannya teriris sedikit di bagian telunjuknya hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak.
"Astaga... Nona! Kenapa anda tidak hati-hati? Biar saya lihat luka anda." Alen terkejut dan segera menghampiri Phiranita.
Alen dengan cepat menarik tangan Phiranita membawanya didekat kran air dan membiarkan air membasahi bagian jarinya yang teriris oleh pisau.
"Ayo ikut saya, biar saya mengobatinya." Ucap Alen lembut lalu membawa Phiranita untuk duduk. Alen kemudian mengambil kotak P3K dan mulai mengobati luka Phiranita.
"Kak... Aku merasa pusing. Sepertinya..."
"Nona... Nona Phi..." Panggil Alen panik karena Phiranita tiba-tiba pingsan.
"Ada apa dengan Tata?"
Mendengar suara datar itu, Alen menegang di tempatnya.
"Tuan..." Alen tiba-tiba gugup, karena untuk pertama kalinya dia melihat wajah marah sang majikan.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada Tata?" Tanya Rihan datar. Rihan memasang wajah marah melihat sahabatnya pingsan dalam pelukan Alen.
"Sa... saya... Maafkan saya Tuan, ini salah saya. Saya..."
"Memang salahmu, salah siapa lagi selain kamu yang ada di sini?" Rihan memotong perkataan Alen.
"Maafkan saya Tuan. Saya benar-benar minta maaf!"
"Aku kecewa padamu, Len. Benar-benar kecewa," Rihan menekan kata kecewa, lalu mengambil sahabatnya yang pingsan dan menggendongnya menuju lantai dua.
"Maafkan saya, Nona." Suara Alen pelan setelah Rihan sudah tidak ada lagi di sana. Tanpa sadar bulir kristal di kedua mata Alen jatuh membasahi pipinya.
Alen kini terduduk dan mulai menangis merutuki kebodohannya. Alen tahu ini semata-mata bukan salahnya, karena Phiranita pingsan juga akibat dia yang tidak sengaja mengiris jarinya. Akan tetapi, Alen tetap akan disalahkan karena berada di sana saat Phiranita pingsan.
Dan untuk pertama kalinya dia melihat kemarahan dan tatapan kecewa di mata sang majikan. Alen meski di tempah menjadi seorang yang dikenal dingin tak berkespresi, tetapi dia hanyalah seorang perempuan yang hanya bisa mengeluarkan air matanya jika disalahkan oleh orang yang sangat dia hormati. Orang yang rela Alen tukar nyawanya demi keselamatannya. Alen hanya bisa menangis saat ini.
Alen sangat tahu jika kemarahan sekaligus tatapan kecewa sang majikan padanya karena sang majikan sangat menyayangi sahabatnya yang sudah seperti saudara baginya.
"Hey... Ada denganmu, Len?" Tanya Alex tiba-tiba dengan panik ketika ingin mengambil minum dan disuguhkan dengan keadaan sang Alen yang sedang terduduk memeluk lututnya dan menangis.
"Kak... Hiks...hiks... aku sudah membuat nona kecewa. Apa yang harus aku lakukan, Kak?" Alen menjawab dengan sesegukan pada sang kakak.
"Apa yang sudah kamu lakukan? Ayo, ceritakan pada kakak." Suara Alex lembut lalu menarik sang adik ke dalam dekapannya.
"Nona Phi pingsan karena tidak sengaja mengiris tangannya. Dan nona benar-benar kecewa padaku karena itu, Kak. Hiks...hiks... Apa yang harus aku lakukan?" Cerita Alen dalam pelukan Alex.
"Ayo, ikut kakak dan minta maaf pada nona."
***
"Tuan... Hiks... saya minta maaf." Alen masih menangis.
"Saya juga minta maaf atas nama adik saya, Tuan." Alex berbicara dengan tegas.
"Tugasmu sudah selesai?" Tanya Rihan datar pada Alex sambil terus menatap sahabatnya yang sedang terlelap dalam pingsannya.
"Belum Tuan, saya..."
"Waktu sudah menunjukan pukul 23.02, dan tugasmu belum selesai?" Rihan memotong perkataan Alex.
"Saya minta maaf Tuan, saya akan menyelesaikannya setelah ini."
"Lalu pukul berapa kamu akan berangkat ke Amerika untuk membantu di kantor pusat?" Perkataan Rihan membuat Alex bungkam.
"Ada apa dengan kinerja kalian? Aku benar-benar kecewa." Sambung Rihan kemudian keluar dari kamar Phiranita menuju kamarnya.
"Hiks... Kak." Alen semakin menumpahkan air matanya.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.