
"Siapa dia?" Tanya Brand sambil menunjukan beberapa foto pada Rihan.
Rihan menatap foto-foto yang Brand letakkan di depannya dan mengerutkan kening ke arah Brand.
"Aku tidak sengaja melihat Alex menjatuhkan beberapa berkas dan foto ini juga ikut terjatuh. Apa yang sudah terjadi selama kamu pergi ke luar negeri?" Tanya Brand penasaran. Brand duduk di depan Rihan. Keduanya saat ini berada di ruang kerja Rihan.
"Catherine Leonardo." Jawab Rihan datar.
"Dia..."
"Seperti yang kakak pikirkan," Potong Rihan lalu melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
"Benar-benar tidak terduga," Brand menggeleng tidak percaya.
"Hm."
"Di mana dia sekarang?" Tanya Brand sambil menatap foto di tangannya.
"Entahlah. Wanita itu tidak pernah tinggal lama di suatu tempat. Mungkin tidak lama lagi dia datang ke sini."
"Benarkah? Aku ingin tahu apa yang sudah dia rencanakan,"
"Hm."
"Bukankah Miara Group ada proyek bersama R.A Group? Kenapa kakak sudah pulang?"
"Aku sedang malas berdebat dengan Neo, jadi hanya Dom yang datang ke sana."
"Begitu, ya. Tapi aku penasaran akan satu hal!" Rihan menatap Brand yang sibuk dengan ponselnya.
"Apa?"
"Selama kakak tinggal disini, kakak suka sekali menatap ponsel lama, tapi tidak melakukan apapun. Kesannya seperti kakak menunggu seseorang menelpon atau mengirim pesan."
"Eh... kamu memperhatikanku?" Tanya Brand dan menggaruk pelipisnya malu.
"Tidak juga. Hanya saja..."
"Aku memang menunggu pesan dari seseorang," Potong Brand dan kembali menatap ponselnya. Rihan hanya menatap Brand dengan sebelah alis terangkat.
"Aku akan jujur padamu! Perusahaanku mengembangkan sebuah game yang cukup terkenal beberapa tahun ini. Entah kamu tahu atau tidak, tapi..."
"Jadi dia menunggu pesan dariku?" Batin Rihan menebak kemana arah pembicaraan Brand.
"Beberapa waktu lalu, ada player baru yang menarik perhatianku. Dia baru saja bermain beberapa jam, tetapi sudah mengalahkan player lain yang menduduki peringkat 10 besar beberapa tahun ini.
Karena begitu penasaran dengannya, aku mengirim pesan padanya untuk menantangnya bermain. Sayangnya dia hanya membaca pesanku dan tidak membalasku. Setidaknya balas ya atau tidak supaya aku tidak menunggu," Keluh Brand diakhir ceritanya.
"Kenapa kakak sangat ingin menantangnya?" Tanya Rihan setelah meletakkan pena yang dia pakai di atas meja, lalu menatap Brand serius.
"Entahlah. Bagiku dia menarik. Jika memungkinkan, aku ingin berteman dengannya."
"Aku mengerti. Bagaimana jika dia menolak?" Tanya Rihan lalu meminum segelas air di sampingnya.
"Berarti aku dan dia tidak berjodoh," Balas Brand dan mengangkat bahunya acuh.
"Satu lagi yang ingin aku tanyakan," Rihan kembali menatap Brand dengan serius.
__ADS_1
"Aku akan menjawab selagi bisa."
"Kenapa kak Brand ingin membangun resort didekat sungai itu?"
"Itu... sebenarnya itu bukan keinginanku. Pembangunan itu hanya sebagai umpan," Jawab Brand dan terkekeh.
"Umpan? Sepertinya aku tahu untuk siapa umpan itu," Tebak Rihan dan menyeringai pada Brand.
"Aku tidak yakin dengan jawabanmu. Tapi, jika kamu menebaknya dengan benar, kamu memang hebat."
"Jika tebakanku benar, kak Brand harus menceritakannya secara detailnya padaku."
"Ya, aku janji."
"Yang jelas pembangunan itu bukan untuk kak Neo... Tapi untuk Elle."
"Kamu..." Brand tidak tahu harus berkata apa karena tebakan Rihan benar.
"Aku menunggu ceritamu, Kak."
"Aku akan bercerita, tapi tidak sekarang. Tunggu waktu yang tepat."
"Baik. Aku akan menunggu,"
***
Rihan masih di ruang kerjanya hingga pukul 2 siang. Brand sendiri sudah pergi entah kemana. Rihan sedang membaca hasil penyelidikan para pengawal bayangan tentang kondisi Ariana.
Di sana tertulis, Ariana mengalami kelumpuhan total. Saraf kakinya yang tertembak tidak bisa lagi berfungsi dengan baik. Dokter menyarankan agar dilakukan amputasi untuk menghindari kerusakan pada saraf lainnya. Dan juga, jika Ariana mau, mereka mungkin akan menggantinya dengan kaki palsu. Sayangnya gadis itu tidak ingin diamputasi. Dia masih saja mendesak orang tuanya untuk mencarikan dokter yang bisa menyembuhkan kakinya.
Setelah membaca itu, kemudian membuka lembar berikutnya yang adalah hasil scan kaki Ariana yang tertembak, Rihan sedikit mengangguk membenarkan hasil scan dan diagnosis dokter yang merawat Ariana. Tapi bagi Rihan, masih ada beberapa persen kemungkinan kesembuhan Ariana dari kelumpuhannya.
Setelah itu, Rihan mengambil ponselnya berniat menelpon Dokter Galant untuk menanyakan kondisi Beatrix, tetapi diurungkan karena melihat kedatangan Alex ke ruangannya.
"Ada apa?"
"Tuan Samuel ingin bertemu anda, Tuan. Beliau sudah di bawah. Saya rasa, ayah rubah itu berpikir bahwa andalah yang menyebarkan berita kelumpuhan anak kesayangannya itu."
"Hmm. Ayo turun!"
"Baik, Tuan. Silahkan,"
Sampai di bawah, tepatnya ruang tamu, terlihat Samuel Samantha, ayah Ariana sedang duduk dengan wajah khawatir.
"Maaf sudah mengganggu waktu anda, Tuan Muda. Anda pasti tahu maksud kedatangan saya ke sini," Ucap Tuan Samuel ketika melihat kedatangan Rihan.
"Katakan apa yang anda inginkan," Balas Rihan setelah duduk di sofa depan Tuan Samuel.
"Sebelumnya saya minta maaf atas nama puteri saya, Tuan Muda. Maaf untuk tindakan kekerasan yang dia lakukan pada gadis itu. Dan juga kedatangan saya ke sini, ingin meminta anda menghapus berita yang sudah beredar itu, Tuan.
Angel sangat syok dengan berita itu. Dia saat ini benar-benar frustasi karena kelumpuhannya. Ditambah berita itu, membuat kondisinya melemah. Saya sebagai ayahnya khawatir padanya. Jadi saya mohon Tuan Muda, tolong hapus berita itu.
Saya sudah berusaha menutup media agar berita itu tidak tersebar, tetapi tidak bisa. Kekuasaan saya tidak cukup untuk menahan berita itu tersebar. Saya janji akan menjaga Angel untuk tidak mengusik anda lagi." Jelas Tuan Samuel pajang lebar.
"Kenapa anda berpikir saya yang melakukan itu? Anda punya bukti?" Tanya Rihan santai.
"Saya tidak punya bukti, Tuan. Tapi sejauh ini, Angel hanya membuat masalah dengan anda. Jadi, saya berpikir andalah yang membuat berita itu tersebar."
__ADS_1
"Kenapa saya harus menunggu beberapa hari untuk menyebarkan berita itu, jika saya sendiri bisa menjebloskan anak anda ke penjara karena kasus penculikan, penggunaan senjata ilegal, dan rencana pembunuhan." Rihan dengan santai meminum minuman yang baru saja pelayan antarkan.
"Apa saya lupa memberitahu anda, bahwa kelumpuhan Ariana adalah sebuah peringatan kecil dari saya?" Sambung Rihan bertanya setelah meletak gelas berisi minuman yang hanya sisa setengah itu.
"Maaf karena sudah menuduh anda, Tuan Muda. Saya minta maaf untuk itu. Apa saya boleh bertanya?" Tuan Samuel berbicara dengan takut karena sudah salah menuduh.
"Silahkan."
"Apa anda tahu siapa yang menyebar berita itu? Saya mohon katakan pada saya jika anda tahu, Tuan."
"Sangat mudah untuk menemukan orangnya. Anda bisa bertanya pada anak anda, siapa yang akan menerima keuntungan dari berita ini. Dia pasti akan menemukan jawabannya. Saya rasa pembicaraan ini cukup, karena saya sedang sibuk." Rihan tanpa permisi berdiri dan kembali ke ruang kerjanya.
Tuan Samuel hanya menatap kepergian Rihan yang memasuki lift dengan wajah penuh kebingungan. Dia terus berpikir, siapa kira-kira yang merasa diuntungkan dari berita ini. Sayangnya Tuan Samuel tidak menemukan orang itu. Priq paru baya itu berdiri setelah melihat kedatangan Alen. Asisten Rihan itu lalu mengantar Tuan Samuel ke pintu keluar.
***
Beberapa hari kemudian Beatrix sudah dinyatakan sembuh dan bisa kembali beraktifitas seperti biasa. Ariana yang mendengar berita itu marah setengah mati. Ariana berpikir Beatrix akan mati karena dua tembakan itu.
"Sial... dia itu masih hidup? Satu tembakan saja sudah membuatku lumpuh. Tapi dia... dua tembakan dan masih hidup? Kamu benar-benar beruntung j*****g. Lihat saja! ketika kakiku sembuh, aku akan membuatmu lebih menderita dari hanya dua tembakan." Geram Ariana dan mengacak-acak selimut yang dipakai.
"Sudahlah, Sayang. Simpan tenagamu untuk nanti. Sekarang kita hanya perlu memikirkan rencana untuk membalas anak Julian Antarik itu. Berani-beraninya dia menyebarkan berita itu. Papa akan membayar orang untuk memberi pelajaran padanya." Tuan Samuel berusaha menghibur dengan mengusap pelan rambut Ariana.
"Angel akan menunggu kabar baik itu, Pa. Dan juga... kapan papa akan mencari dokter untuk kaki Angel? Angel tidak mau tahu, pokoknya kaki Angel harus kembali normal." Rengek Ariana pada sang papa.
"Tenang saja, Sayang. Papa sudah mengirim orang untuk mencari dokter hebat di luar negeri. Sekarang fokus dulu untuk luka ringan kamu yang lain." Tuan Samuel tersenyum tipis pada anak kesayangannya.
"Baik, Pa."
...
"Dimana laptopku?" Tanya Rihan pada Alen.
"Saya menyimpannya, Tuan. Akan saya ambilkan."
"Hmm."
"Anda ingin melakukan sesuatu dengan ini?" Tanya Alen setelah meletakkan laptop di depan Rihan.
"Hmm." Deheman Rihan dan membuka laptop bermerek apple itu dan membuka sebuah aplikasi.
"Anda ingin menerima tantangan Tuan Brand?" Alen bertanya karena melihat Rihan membuka apliaksi game dan masuk ke ruang obrolan.
"Mengerjainya pasti akan menyenangkan," Jawab Rihan dan mulai mengetik pesan pada Brand.
"Ternyata anda suka sekali membuat orang lain kesal." Komentar Alen lalu menggeleng. Matanya setia menatap gerakan tangan Rihan di atas keyboard.
***
Di seberang sana, tepatnya gedung perusahan dengan nama Miara Group, Brand dengan senyum lebar menatap ponselnya yang satu menit lalu terdapat notifikasi masuk dari The Devil.
"Ada berita baik, Bos?" Tanya Dom yang baru saja masuk dan melihat wajah bahagia sang Bos.
"The Devil menerima tantanganku. Hari ini juga dia mengajakku bermain. Siapkan laptopku! Ingat untuk tidak menggangguku selama permainan berlangsung," Brand menjawab masih dengan mempertahankan senyumnya.
"Tapi, tumpukan berkas yang harus anda periksa sangat banyak, Bos." Komentar Dom sambil melirik berkas yang berserakan di meja kerja Brand.
"Kamu saja yang periksa. Jangan menggangguku. Kemarikan laptopku!"
__ADS_1
"Saya yakin, anda berpikir The Devil itu seorang gadis sehingga anda sangat ingin berteman dengannya. Niat anda sudah terbaca, Bos..." Gumam Dom pelan sambil merapikan berkas-berkas di atas meja Brand.
"Sebaiknya kamu keluar! Jangan menggangguku. Bawa semua berkas itu juga,"