Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Lamaran Dadakan


__ADS_3

Di mansion utama Jhack Lesfingtone, tepatnya ruang keluarga, semua orang sedang berkumpul dan duduk di sofa. Wajah mereka terlihat sembab, khususnya kaum hawa.


Mereka menangis karena bahagia. Anak kesayangan sekaligus majikan mereka sudah bangun dan baik-baik saja. Awalnya mereka berpikir Rihan diculik, ternyata tidak. Mereka bersyukur untuk itu.


Para pria ikut menangis, tetapi tidak terlalu kelihatan. Yang hanya berwajah datar dan sangat santai adalah Rihan, Zant, Vian dan Gledy. Bahkan Alex, Dokter Galant, dan Mentra ikut meneteskan air mata bahagia.


Rihan yang menjadi pusat perhatian hanya duduk dengan santai di tempatnya. Rihan diapit oleh Daddy Jhack dan Mommy Rosse. Kedua orang tuanya itu, sangat bahagia melihat anak kesayangan mereka.


Mommy Rosse bahkan tidak melepas pelukannya sudah hampir satu jam. Wanita kesayangan Rihan itu seakan takut sang anak akan meninggalkannya lagi.


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya, sayang?" Tanya Daddy Jhack sambil mengelus sayang pucuk kepala anaknya.


"Melakukan konferensi pers besok." Jawab Rihan datar.


"Konferensi pers?" Ulang Daddy Jhack tidak mengerti.


"Mengumumkan pada dunia kemunculan anak gadis seorang Jhack. Setelah itu, mengurus para hama di Indonesia secara langsung." Balas Rihan santai.


"Benarkah? Sudah lama mommy menunggu hari itu. Mommy sangat ingin mengajakmu jalan-jalan layaknya ibu dan anak gadis pada umumnya," Sahut Mommy Rosse dengan senang.


"Maaf sebelumnya, paman, bibi, tapi saya tidak setuju. Gadis ke... maksudku, Rihan sedang terluka. Ada baiknya konferensi pers dilakukan beberapa hari lagi setelah lukanya sembuh." Ucap Zant lalu menatap lengan Rihan yang diperban.


Semua orang lalu menatap lengan Rihan. Mereka ternyata baru menyadarinya.


"Dari mana luka ini datang? Apa yang sudah terjadi padamu, Sayang?" Tanya Mommy Rosse khawatir.


"Semuanya ada di sini, Nyonya." Suara Gledy mengalihkan perhatian semua orang padanya.


Gledy lalu memutar TV yang menayangkan kejadian penyelamatan Rihan tadi pagi.


"Bagaimana bisa kamu melakukan hal berbahaya itu, sayang? Kamu baru saja sembuh, hiks... hiks... jangan buat mommy dan daddy khawatir," Omel Mommy Rosse yang sudah terisak.


"Aku tidak apa-apa, Mom. Ini hanya luka ringan," Balas Rihan dan mengusap pelan lengan sang mommy.


"Ck... Mereka ternyata bertemu di sana." Cibir Zant dalam hati.


Zant menatap tajam Vian di layar TV yang menampilkan wajah Vian yang berdiri dengan anak kecil di sebelahnya. Zant juga mengalihkan pandangannya pada Vian yang berdiri di sampingnya.


Vian yang ditatap, segera menatap ke arah lain. Dia memang belum sempat mengatakan yang sebenarnya pada Zant, dimana dia bertemu Rihan.


"Luka ringan apa? lenganmu diperban seperti ini," Omel Mommy Rosse lagi.

__ADS_1


"Sudahlah, Mom. Yang paling penting Rihan baik-baik saja. Daddy juga setuju dengan Zant. Sebaiknya tunggu Rihan sembuh dulu." Daddy Jhack jelas tahu kekhawatiran istrinya.


"Baik. Mommy juga setuju. Kamu tidak boleh menolak, Sayang. Terima kasih nak Zant, sudah menjaga anak kesayangan kami selama ini. Paman dan Bibi tidak tahu akan membalasmu dengan apa." Mommy Rosse tersenyum tulus pada Zant yang duduk di sofa depannya.


"Saya punya satu permintaan, Paman, Bibi. Saya harap kalian tidak menolak." Zant sudah posisi dudukny menjadi tegap dan menatap serius kedua orang tua Rihan.


"Katakan saja, Nak." Balas Daddy Jhack pelan. Mommy Rosse hanya mengangguk setuju.


"Sebelumnya, saya yakin paman dan bibi pasti sudah tidak mengenal saya lagi. Saya adalah teman bermain Rihan sejak dia berlibur di Jerman. Marga saya yang dulu dan sekarang berbeda. Dulu saya bermarga Hohenzollern. Semoga paman dan bibi masih ingat." Ucap Zant serius.


"Jadi, kamu anak bangsawan yang sudah meninggal itu? Saya masih mengingatmu. Bocah gemuk yang selalu datang mencari anak gadis saya untuk bermain bersama. Ternyata kamu sudah sebesar ini." Balas Daddy Jhack sambil mengangguk kemudian tersenyum tipis.


"Iya, Paman. Jadi, permintaan saya... lebih tepatnya saya ingin memenuhi janji saya dulu untuk menikahi Rihan setelah kami dewasa. Saya harap paman dan bibi setuju.


Perkataan saya ini, serius. Semua masalah pernikahan sudah saya siapkan sejak dulu. Jika paman dan bibi setuju, saya dan Rihan bisa menikah setelah konferensi pers dilakukan." Zant sedikit memberi jeda, kemudian melanjutkan.


"Bukan karena janji saya sejak kecil untuk menikahi Rihan, tetapi karena saya benar-benar mencintainya sejak dulu. Saya mencintai anak gadis paman dan bibi. Jadi, izinkan saya untuk melamarnya sebagai istri saya, menjadi pendamping hidup saya, dan ibu dari anak-anak saya. Maaf, karena saya tidak membawa cincin lamaran. Saya akan membawanya besok bersama kedua orang tua angkat saya." Sambung Zant panjang lebar. Rihan hanya menatap Zant syok. Pria ini sangat berani!


"Pertama kalinya saya bertemu anak muda seberani kamu. Saya salut! Untuk masalah lamaran, semua itu kami serahkan pada Rihan. Dia lebih tahu apa yang terbaik dan apa yang membuatnya bahagia.


Intinya, semua tergantung keputusannya. Kami sebagai orang tua hanya ingin dia bahagia. Kami akan selalu mendukung semua keputusannya." Ujar Daddy Jhack lalu kembali mengelus sayang kepala Rihan seperti anak kecil. Rihan juga tidak protes. Justru dia senang.


"Bagaimana denganmu, Lex? Kamu sebagai kakak Rihan, wajib memberikan pendapat." Mommy Rosse menatap Alex yang juga duduk di depan mereka.


"Nona," Gumam Alex dalam hati.


Pria itu terharu karena sudah menjadi orang penting dalam hidup Rihan.


"Saya juga ingin yang terbaik untuk nona. Jika nona setuju, saya juga setuju. Hanya pesan saya, jika nona setuju, ingatlah untuk menjaganya seperti anda menjaga nyawa sendiri. Jangan pernah membuatnya sedih, karena sudah cukup penderitaan yang nona alami. Terlalu banyak sakit yang nona rasa hingga sekarang. Anda pasti tahu itu. Jadi..." Suara Alex pelan. Alen dan Beatrix sudah menangis di sampingnya. Mata Alex juga berkaca-kaca.


"Aku tahu. Kamu bisa percaya padaku. Aku tidak berjanji untuk tidak membuatnya menangis, tapi aku akan berusaha untuk selalu membuatnya tersenyum. Jika dia menangis, aku hanya ingin dia menangis karena bahagia. Dan bahagianya, karena aku!" Potong Zant dan tersenyum manis dan menatap lembut pada Rihan yang berkedip beberapa kali karena kata-kata romantisnya.


"Baik. Saya percaya pada anda." Balas Alex dan tersenyum tipis pada Rihan.


"Jadi, bagaimana pendapatmu, Sayang?" Tanya Mommy Rosse pada Rihan.


"Umur berapa aku sekarang, Kak?" Tanya Rihan dan menatap Zant datar.


"20 tahun." Jawab Zant dengan jantung berdetak kencang. Pria itu gugup karena menunggu jawaban Rihan.


"Jika kak Zant salah menjawab, Gledy akan menendangmu keluar dari sini." Ucap Rihan datar.

__ADS_1


"Umur kakak sendiri berapa?" Tanya Rihan lagi.


"26 tahun." Jawab Zant. Tiba-tiba Znat merasa tua jika membahas umur.


"Hm..." Deheman Rihan dan sedikit berpikir membuat semua orang menatap penasaran padanya. Terlebih Zant. Jika hanya mereka berdua, dia tidak akan segugup ini.


"Karena aku terlalu muda, sebaiknya kita bertunangan dulu, Kak. Aku harap kakak tidak kecewa. Kakak harusnya tahu, banyak hal yang harus aku lakukan setelah konferensi pers nanti. Kita bisa menikah kapan saja, akan tetapi aku tidak ingin mengabaikan keluarga kecilku karena urusan pribadiku yang belum selesai. Aku harap kak Zant mengerti." Sambung Rihan membuat Zant akhirnya menghembuskan nafas legah.


Setidaknya gadis kecilnya yang sudah dia klaim sebagai Nyonya Veenick ini tidak menolaknya. Zant sangat mengerti hal ini. Dia juga tidak ingin keluarga dan gadis kecilnya nanti harus repot karena masalah-masalah yang akan mereka hadapi.


"Tidak masalah. Aku setuju! Kalau begitu, besok aku akan datang bersama daddy dan mommy untuk acara pertunangan kita." Ucap Zant. Yang lain hanya membalas dengan anggukan.


"Oke. Aku lelah. Aku akan istirahat. Bantu aku sebentar, Kak Alen." Ucap Rihan dan berdiri setelah mencium pipi kedua orang tuanya.


"Tapi kamu belum makan siang, sayang." Sahut Mommy Rosse ketika Rihan sudah menjauh dari mereka.


"Aku belum lapar, Mom. Kalian makan saja dulu." Balas Rihan santai.


***


Malam hari, setelah makan malam, Rihan bergegas ke kamarnya. Dia mengatakan bahwa akan beristirahat lebih awal, padahal gadis itu malah menatap langit malam di balkon kamarnya.


"Setelah konferensi pers, orang itu pasti akan memulai rencananya. Mungkin akan sulit menghadapinya, mengingat dia orang yang licik. Mengurus rubah betina itu bukan hal yang sulit. Yang sulit adalah orang itu." Gumam Rihan dalam hati, lalu menghembuskan nafas pelan.


Brukj


Suara seperti ada yang jatuh, membuat Rihan menoleh ke sumber suara. Ekspresi Rihan berubah datar melihat pria yang baru saja berdiri dan berjalan ke arahnya dengan senyum lebar. Pria itu baru saja melompat dari balkon kamar sebelah ke kamarnya.


"Apa yang kamu pikirkan, Nyonya Veenick?" Tanya pria itu yang tidak lain adalah Zant.


"Memikir orang itu. Kamu pasti tahu siapa dia, Kak." Jawab Rihan datar.


"Untuk sekarang, pikirkan saja calon suamimu ini. Pikirkan bagaimana kamu akan menggunakan gaun dan high heels besok untuk acara pertunangan kita." Ucap Zant lalu memeluk Rihan dari belakang. Dagunya diletakkan di atas pucuk kepala Rihan.


"Aku sudah lupa bagaimana menggunakan gaun dan high heels. Ck..." Kesal Rihan dan berniat masuk kekamar, tetapi ditahan oleh Zant.


.


.


.

__ADS_1


Komentar kalian buat aku semangat updet, padahal aku baru pulang kuliah hampir 3 jam dan kepalaku hampir pecah karena mata kuliahnya matematika.


Lelahnya...


__ADS_2