Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Kakak


__ADS_3

Pukul 09.35, Neo dan Logan sudah sampai di mansion Rihan. Keduanya kemudian dipersilahkan masuk oleh Alen yang sudah menunggu kedatangan mereka.


Masuk ke ruang tamu, di sana sudah ada Rihan yang duduk santai sambil menatap pada iPad di tangannya. Di sebelah Rihan ada Max yang sedang asik dengan game di ponselnya.


Merasakan kedatangan Neo dan Logan, Rihan segera menghentikan aktivitasnya dan meletakkan iPad di atas meja kemudian melihat ke arah dua pria yang baru saja mengambil posisi duduk di sofa depan Rihan.


Tanpa basa-basi, Rihan memberikan kertas hasil tes DNA pada Neo untuk dibaca. Neo dengan senang hati mengambilnya dan membacanya. Senyum tipis terukir di bibirnya membaca hasil pada kertas itu. Neo kemudian memberikan kertas itu pada Logan.


"Karena dia jelas adikku, sekarang aku ingin mendengar kondisinya mulai dari pertemuan pertama kalian hingga sekarang. Aku ingin cerita detailnya." Neo menatap Rihan dan dibalas dengan anggukan.


Tanpa menunggu perintah, Alen segera menjelaskan awal pertemuan mereka dengan Phiranita. Mulai dari mereka yang hampir menabrak Phiranita dan membawanya ke rumah sakit hingga ke mansion disertai dengan hasil pemeriksaan awal sampai pada trauma dan hasil terakhir pemeriksaan Phiranita setelah terapi. Tidak lupa juga Alen menjelaskan siapa yang sudah melakukan semua ini pada Phiranita.


Neo yang mendengarnya mengepalkan tangannya menahan emosi, begitu juga dengan Logan. Keduanya tidak menyangka jika Brand bisa melakukan itu. Neo berpikir adiknya hanya dikurung dan baik-baik saja karena Brand mengancam Neo untuk tidak berusaha mencari Phiranita, jika tidak ingin Brand melakukan hal buruk padanya.


Karena ancaman itu, sehingga Neo hanya bisa memantau pergerakan Brand tanpa tahu bagaimana keadaan adiknya. Kini, setelah mengetahui apa yang sudah terjadi sebenarnya, Neo ingin sekali membunuh Brand.


"Aku tidak menyangka Brand sampai melakukan hal itu. Astaga... aku tidak tahu harus berkata apa." Logan melirik Neo yang sedang menahan emosinya.


"Terima kasih karena sudah menjaga adikku. Aku akan mengganti semua pengeluaranmu untuk Ira. Katakan saja nominalnya dan aku akan menggantinya." Neo berbicara setelah menenangkan dirinya.


"Dia sudah seperti saudara bagiku. Semua yang aku lakukan untuknya bukan apa-apa. Kamu bisa membawanya setelah berbicara dengannya." Rihan lalu melirik Alen memberi kode untuk menjemput Phiranita di kamarnya.


"Baiklah. Aku berhutang banyak padamu. Jika kamu membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku." Neo kini menatap intens Rihan.


"Hmm."


"Kamu semakin membuatku tertarik untuk berteman denganmu," Batin Neo yang masih menatap Rihan.


Max yang juga di ruang tamu, tidak terlalu mempedulikan percakapan Rihan dan Neo karena dia sendiri sedang asik dengan ponselnya. Sesekali dia akan mencuri dengar percakapan mereka.


Tidak menunggu lama, Alen kembali ke ruang tamu dengan membawa Phiranita bersamanya. Phiranita yang masih takut dengan cepat duduk di sebelah Rihan.


Sebelum Neo datang, Phiranita sudah dijelaskan oleh Rihan siapa Neo beserta hasil tes DNA, sehingga dia ingin melihat Neo sang kakak. Ketika melihat wajah Neo, Phiranita tidak mengenali Neo sama sekali. Maklum saja, karena keduanya dibesarkan secara terpisah sejak usia 5 tahun.


Meski sudah dijelaskan siapa Neo, reaksi tubuh Phiranita masih saja sama yaitu bergetar ketika Neo ingin sekali memeluknya. Belum lagi ada Max juga di sana.


Max yang melihat Phiranita masih saja takut padanya segera bergeser agar sedikit menjauh dari Phiranita. Rihan hanya bisa menghela nafas dan menenangkan Phiranita.


"Dia kakakmu. Mulai sekarang kamu akan menjadi tanggung jawabnya. Tapi jangan takut karena persahabatan kita akan tetap sama." Bisik Rihan pada Phiranita yang menunduk takut dan menggenggam erat tangan Rihan.


"Tidak bisakah aku tetap di sini? Jujur, aku takut padanya." Balas Phiranita juga berbisik.


"Coba sekali kamu menatapnya sebagai kakakmu. Hilangkan pikiran buruk itu. Ayo... aku ingin melihatnya." Rihan masih saja berbisik lalu mengelus pelan kepala Phiranita.


Mengangguk pelan, Phiranita segera mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah Neo yang juga menatapnya dan tersenyum lembut. Awalnya dia takut, tetapi dalam hati mengatakan pada diri sendiri bahwa Neo adalah kakaknya sehingga perlahan-lahan rasa takut itu hilang dan digantikan dengan senyum tipis.


"Bukankah kamu sangat ingin bertemu dengan keluargamu?" Ujar Rihan yang ikut senang dalam hati karena Phiranita tidak takut lagi. Phiranita hanya membalas dengan anggukan.


Neo yang melihat reaksi adiknya sangat senang. Neo lalu berdiri dan merentangkan kedua tangannya minta dipeluk.


"Berikan kakakmu ini sebuah pelukan. Mm?"


"Han..."


"Pergilah!"


Phiranita dengan langkah pelan menghampiri Neo setelah dirinya benar-benar yakin dan tidak lagi merasa takut.


"Kakak..."

__ADS_1


GREP


"Kakak sangat merindukanmu," Ujar Neo pada sang adik dalam dekapannya yang erat.


"Ak...Aku juga rindu,"


"Mulai sekarang ikut kakak, ya. Kita akan berobat ke luar negeri sekaligus bertemu dengan Mami dan Papi."


"Mami... Papi?" Ulang Phiranita yang menengadah menatap Neo.


"Hm. Mami dan Papi pasti senang bertemu denganmu. Kamu harus tahu, jika mereka sangat merindukanmu."


"Rindu? Lalu kenapa aku sejak kecil dirawat oleh paman dan bibi?"


"Kakak akan menjelaskannya nanti. Ikut kakak, ya."


"Tapi..." Phiranita melepas pelukannya dan berbalik menatap Rihan.


"Sesekali aku akan mengunjungimu. Cepatlah sembuh karena aku sudah menyiapkan hadiah untukmu." Rihan masih dengan ekspresi datar tapi matanya menatap lembut sang sahabat.


"Apa dia mati rasa? Dia sama sekali tidak berekspresi." Komentar Logan dalam hati merasa heran dengan Rihan.


"Aku akan ikut kakak. Aku ingin segera sembuh agar bisa jalan-jalan dengan Ehan." Phiranita dengan penuh tekad mengangguk.


"Ira tidak ingin jalan-jalan dengan kakak?"


"Nanti. Setelah pergi bersama Ehan,"


"Asal kamu bahagia kakak tidak apa-apa."


"Ya."


"Eum."


Alen kemudian mengantar Phiranita ke kamarnya sekaligus menjaganya hingga tidur. Melihat kepergian Alen dan Phiranita, Neo kembali duduk di tempatnya dan menatap Rihan serius.


"Apa Brand tahu Ira ada bersamamu?" Tanya Neo.


"Ya."


"Dia sudah pernah bertemu dengan Ira di sini?"


"Tidak."


"Baguslah! Karena Ira sudah aman bersama kita, maka batalkan kontrak dengan Miara Group." Tegas Neo pada Logan.


"Tapi dana pembatalan kontrak sangat besar, hampir menyamai 1% saham perusahaan."


"Aku tidak peduli!"


"Baiklah. Setelah ini, aku akan mengirimkan surat pembatalan kontrak."


"Setelah aku membawa Ira ke luar negeri, mungkin kita tidak akan bertemu lagi." Nada suara Neo terdengar pelan pada Rihan. Entah kenapa dia sedikit tidak rela.


"Hmm."


"Itu lebih baik." Lanjut Rihan dalam hati.


Setelah itu hening, hingga Neo kembali membuka percakapan.

__ADS_1


"Bisakah kamu menerima kontrak kerja sama yang kami usulkan pada RS Setia? Aku hanya ingin membalas kebaikanmu dengan berinvestasi di sana." Neo tiba-tiba mendapat ide agar selalu bertemu dengan Rihan.


"Proposal yang Chi Corporation tawarkan tidak menarik perhatianku. Bagiku, itu biasa saja. Jika kakak di posisiku, pasti berpikiran sama."


"Baiklah, aku mengerti. Besok Logan akan mengirimkan proposal yang lebih menarik untukmu."


"Terserah."


"Lembur lagi. Hish..." Batin Logan memasang senyum menyedihkan.


***


Rihan saat ini sedang bersantai di balkon kamarnya ditemani oleh Alen yang duduk di sebelahnya. Setelah kepulangan Neo dan Logan, Rihan kembali ke kamarnya dan hanya bersantai karena tidak ada kelas hari ini.


Max sendiri sudah pergi ke kampus mengikuti kelas siang dengan berat hati karena harus berangkat sendiri. Sedangkan Phiranita, dia sudah kembali beristirahat.


"Kak Alex dan Dokter Lio akan tiba jam 5 sore nanti, Nona." Alen memecah keheningan.


"Katakan pada Alex untuk tetap di sana dan membantu ulang tahun pernikahan daddy dan mommy. Antarkan saja Dokter Lio. Katakan juga pada Alex untuk tidak lupa dengan apa yang sudah kita rencanakan."


"Baik, Nona."


Setelah itu kembali hening, hingga bunyi notifikasi di ponsel Rihan mengalihkan perhatiannya dari taman mansion.


Mengambilnya, Rihan lalu membuka kunci ponselnya dan mendapati notifikasi tantangan dari king of the game untuk bermain. Karena sedang malas, Rihan hanya mengabaikannya dan meletakkan kembali ponsel di meja sampingnya.


***


Di seberang sana, tepatnya di ruang kerja Brand, pria itu setelah mengirim pesan tantangan pada Rihan, ponselnya tidak diletakkan dan selalu dipegang karena menunggu balasan dari Rihan. Sayangnya sudah 20 menit menunggu, tidak ada balasan apapun. Karena penasaran, Brand kembali membuka pesan itu untuk memastikan apakah pesan itu terkirim atau tidak. Setelah diperiksa, ternyata sudah terkirim dan malahan sudah dibaca.


"Sial... Dia mengabaikanku." Brand meletakkan ponselnya kasar. Dia kesal karena diabaikan.


"Ke ruanganku sekarang!" Brand berbicarq melalui intercom yang ada di atas mejanya pada Dom orang kepercayaannya.


"Ada apa, Bos?" Tanya Dom setelah berdiri di hadapan Brand.


"Bawa ponselku dan tunggu balasan dari The Devil."


"Anda benar menantangnya?" Kaget Dom.


"Ya. Memangnya kenapa?"


"Tidak ada, Bos. Hanya saja, anda tidak takut kalah?" Ujar Dom hati-hati takut sang Bos tersinggung.


"Kamu meremehkanku? Kamu jelas tahu posisiku dalam game. Jangan membuatku kesal, Dom."


"Maafkan saya, Bos."


"Kembali ke tempatku dan jangan lupa bawa ponselku."


"Baik, Bos. Saya pamit."


***


Kritik dan saran dari pembaca sekalian sangat Author harapkan agar cerita ini menjadi lebih baik lagi. Dukung juga cerita ini, ya.


Terima kasih.


Sampai ketemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2