Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Suprise


__ADS_3

Saat ini Alen sedang berlutut di depan kamar sang majikan dengan wajah tertunduk, sedangkan Alex melanjutkan aktivitas memeriksa berkas yang tertunda tadi.


Alex sebenarnya sangat ingin meminta maaf pada sang majikan, akan tetapi dia harus melakukan tugasnya yang belum selesai agar sang majikan tidak semakin kecewa.


Keduanya diliputi rasa bersalah yang begitu besar pada majikan mereka karena kesalahan yang mereka lakukan. Siapapun pasti akan merasa bersalah karena sudah membuat orang yang sangat mereka hormati kecewa.


"Ya, Tuhan! Apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku bisa ceroboh seperti ini. Maafkan saya, Nona." Gumam Alen dalam hatinya sambil terus mengeluarkan air matanya.


"Tuan... Saya minta maaf! Saya rela dihukum asal anda mau memaafkan kesalahan saya. Hiks...hiks... Tuan..." Alen masih dengan air mata yang terus mengalir sambil memandangi pintu kamar Rihan yang tertutup rapat.


"Tuan, saya pamit berangkat ke Amerika. Sebelumnya, saya minta maaf atas nama saya dan Alen. Maafkan kami yang ceroboh." Ucap Alex yang baru datang dan berdiri di samping sang adik dan menatap pintu kamar Rihan.


"Kakak pamit ke kantor pusat. Jaga dirimu sampai kakak kembali. Jangan lupa untuk melihat kondisi Nona Phi di kamarnya." Ucap Alex setelah mensejajarkan tingginya dengan sang adik kemudian mengecup pelan pucuk kepalanya.


"Kakak akan segera kembali dan kita sama-sama meminta maaf pada nona." Bisik Alex pelan lalu membawa sang adik dalam dekapannya.


"Saya pamit, Tuan." Ucap Alex sekali lagi. Sayangnya, tidak ada balasan apapun.


Orang yang mereka harapkan untuk menanggapi perkataan mereka tidak membalas apapun, membuat keduanya hanya bisa menelan rasa bersalah yang semakin menggunung.


Alex hanya bisa menghembuskan nafas frustasi kemudian beranjak pergi dari sana karena helikopter milik sang majikan sudah menunggunya, dan juga dia sudah sangat terlambat menghadiri pertemuan di kantor pusat.


"Aku harap ini menjadi pelajaran untuk kalian berdua," Gumam Rihan pelan sambil menatap datar layar monitor yang menampilkan aktivitas di depan kamarnya.


***


"Kamu sudah menemukan keberadaan pionku?" Tanya Brand pada Dom yang baru saja masuk ke ruangannya.


"Belum, Tuan. Keamanan di sana sudah semakin dijaga ketat. Kita tidak bisa lagi menembus sistem mereka seperti beberapa hari lalu. Dan juga..." Dom ragu-ragu diakhir kalimatnya.


"Apa?" Tanya Brand menatap tajam Dom.


"Bukankah Tuan Muda Rehhand sudah meminta kita untuk tidak mengusiknya?" Dom menatap sekilas Brand. Dom masih mengingat jelas tatapan tajam Rihan waktu itu.


"Aku tidak peduli! Yang aku inginkan adalah pionku harus kembali ke tanganku. Dan tidak ada seorangpun yang boleh menentangnya." Suara Brand penuh penekanan.


"Kenapa anda sangat ingin sandera kembali ke sisi anda, Tuan?" Tanya Dom penasaran.


Sampai saat ini Dom tidak tahu alasan apa yang membuat sang tuan menangkap gadis itu, dan bahkan dia sangat bersihkeras untuk menangkap kembali gadis itu. Dom benar-benar penasaran akan tetapi baru kali ini dia berani bertanya.


"Kamu dan para pembaca akan tahu jika sudah waktunya. Tugasmu hanya mengikuti perintahku tanpa membantah." Balas Brand dingin.


"Baik, Tuan."


"Cari cara lain agar anak buahmu bisa menyusup ke sana. Aku hanya ingin kabar baiknya." Brand lalu membalikkan kursinya yang tadinya berhadapan dengan Dom, kini sudah membelakanginya.


"Baik, Tuan."


"Kamu bisa pergi."


"Baik, Tuan. Saya pamit."


"Hmm."


***


Tin

__ADS_1


"Tuan," Panggil Alen dengan wajah berbinar dan segera mengelap sisa air mata di pipinya ketika pintu kamar sang majikan terbuka dan Rihan keluar dari sana.


Rihan hanya menatap datar Alen sekilas dan terus berjalan menuju lift untuk ke lantai satu.


"Nona," Gumam Alen pelan karena Rihan mengabaikan. Dadanya kini benar-benar sesak melihat bagaimana sikap sang majikan padanya.


***


"Temani aku minum." Rihan berbicara pada Max yang saat ini sedang duduk dan memainkan ponselnya di ruang tamu. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 00.10, tetapi Max masih belum tidur dan malah asik memainkan ponselnya di ruang tamu.


"Dengan senang hati." Balas Max dengan senyum menawannya kemudian meletakkan ponselnya di atas meja karena seorang pelayan baru saja datang dan menyediakan wine untuk mereka.


"Silahkan Tuan Muda, Tuan." Pelayan itu mempersilahkan.


"Terima kasih, Bi." Balas Max mengambil botol wine dan menuangkannya ke dalam gelasnya dan gelas Rihan.


"Apa kak Alen berbuat salah sehingga berlutut di depan kamarmu?" Tanya Max penasaran karena sempat melihat Alen yang berlutut di depan kamar Rihan.


"Hmm." Deheman Rihan lalu meneguk wine di tangannya.


"Kenapa rasa wine ini lebih enak dibandingkan wine yang biasa aku minum?" Tanya Max sambil mengerutkan keningnya setelah meminum sedikit wine di tangannya. Rihan yang mendengarnya hanya diam dan menatap datar Max.


Wine itu merupakan wine khusus yang dipesan untuk Rihan, mengingat kondisi tubuhnya yang tidak bisa sembarangan menkonsumsi sesuatu. Wine itu dibuat jika sewaktu-waktu ada tamu yang berkunjung ke mansionnya, sehingga bisa juga dikonsumsi oleh Rihan dan tidak berpengaruh pada tubuhnya.


"Kesalahan apa yang dia buat sehingga kamu menghukumnya seperti itu?" Tanya Max yang masih penasaran. Rihan tetap diam dan hanya menatap wine di tangannya.


"Aku seperti bicara dengan orang bisu." Gumam Max sambil bersandar pada sofa yang dia duduki.


"Kenapa kamu belum tidur?" Tanya Rihan tanpa menatap Max yang menatapnya sambil tersenyum.


"Aku siap mengusirmu sekarang juga!" Balas Rihan datar lalu menatap tajam Max.


"Tidak bisa begitu! Maksudku, mungkin satu atau dua hari lagi aku bisa beradaptasi di tempat baru." Max menggeleng kepalanya takut Rihan mengusirnya. Dia senang tinggal di sini.


"Hmm."


***


"Dari mana, Kak?" Tanya Max yang melihat kedatangan Alex yang memasang wajah lesuh.


"Saya kembali, Tuan." Lapor Alex yang mengabaikan pertanyaan Max.


"Ajak Alen dan istirahatlah." Balas Rihan datar lalu berdiri dan pergi dari sana tanpa mempedulikan Alex yang semakin berwajah kusut.


"Anda sudah memaafkan kami, Tuan?" Tanya Alex harap-harap cemas.


Hening.


Rihan tidak menjawab apapun dan terus melangkah ingin kembali ke kamarnya.


"Sebenarnya ada apa, Kak?" Tanya Max menatap lekat Alex.


Alex hanya menatap Max datar tanpa ada niat untuk menjawab. Asisten Rihan itu lalu berjalan melewati Max karena ingin mengajak adiknya untuk beristirahat.


"Aneh sekali," Gumam Max mengangkat bahunya acuh dan juga bersiap ke kamarnya.


...

__ADS_1


"Tuan," Panggil Alen yang masih berlutut di depan kamar Rihan.


Rihan masih tetap memasang wajah yang sama dan berjalan melewati Alen yang hanya bisa menunduk sedih. Setelah mengakses pintu kamarnya dan hendak masuk..


Tut


Tut


Tut


Terdengar suara alat khusus yang dipasang di kamar Phiranita dengan tujuan agar memudahkannya memanggil orang luar jika terjadi sesuatu.


Tanpa aba-aba Rihan berjalan dengan cepat menuju kamar sang sahabat, bertepatan dengan Alex yang juga baru keluar dari lift dan menuju ke arah Alen.


"Terjadi sesuatu dengan Nona Phi?" Tanya Alex pada Alen.


"Iya, Kak." Jawab Alen lemah.


"Ayo berdiri dan kita lihat keadaan Nona Phi." Alex lalu membantu Alen untuk berdiri. Meski agak sedikit oleng karena terlalu lama berlutut, Alen dengan pelan berdiri dan mengikuti sang kakak.


Keduanya lalu masuk ke kamar Phiranita tanpa mengetuk karena pintu masih terbuka. Sepertinya Rihan sengaja untuk membiarkan mereka masuk.


"Apa yang kamu rasakan?" Tanya Rihan lembut pada Phiranita yang saat ini sudah duduk dan bersandar pada kepala tempat tidur.


"Aku tidak apa-apa, Han. Hanya sedikit pusing." Jawab Phiranita tersenyum tipis. Rihan hanya menganggukkan kepalanya lalu beralih menatap kedua asisten pribadinya.


"Aku menyuruh kalian beristirahat kenapa datang kemari?" Tanya Rihan sambil menatap tajam Alex dan Alen yang hanya bisa menunduk dengan wajah bersalah.


"Untuk hukuman kalian, Jangan bertemu denganku selama 3 hari dan masuklah ke ruang eksekusi. Hukuman lanjutan kalian di sana. Lakukan sekarang!" Sambung Rihan datar.


"Tuan..." Panggil Alen dengan mata yang kembali berair.


"Baik, Tuan. Sekali lagi maafkan saya dan Alen." Alex menunduk hormat kemudian menarik tangan sang adik menuju ruang eksekusi yang dimaksud.


Dari namanya saja tentu kita tahu jika ruangan itu merupakan tempat untuk mengeksekusi orang yang melakukan kesalahan. Bukan hanya membunuh tetapi hanya disiksa jika kesalahan yang dilakukan tidak terlalu berat.


Mendengar perintah tegas dari sang majikan, kedua kakak-beradik itu yakin jika sang majikan benar-benar kecewa pada mereka.


Keduanya hanya bisa berjalan dengan bermacam prasangka di kepala masing-masing hingga mereka tiba di ruangan yang dimaksud. Alex dan Alen lalu masuk. Akan tetapi ruangan itu begitu gelap.


"Nyalakan lampunya, Kak." Pintah Alen sambil merabah-rabah sekitar berniat mencari saklar lampu.


"Ya."


"Ini dia," Ucap Alen ketika berhasil menyentuh saklar lampu. Alen kemudian menekannya.


"SUPRISE!!!"


"SELAMAT ULANG TAHUN KEMBAR!"


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.

__ADS_1


__ADS_2