
"Aku tidak melihat Rei. Kemana dia? Seharusnya dia ada di sini dan menyaksikan penderitaan penyihir itu." Tanya Brand.
Setelah tidak ada pembicaraan dalam ruangan itu, Brand akhirnya menyadari sesuatu. Tidak ada Rihan di sini. Pria itu sama sekali belum tahu perihal kondisi Rihan.
Semua yang ada di sana hanya diam. Memang kasus Rihan ini masih menjadi rahasia. Hanya orang-orang yang terlibat dan keluarganya, serta orang-orang kepercayaan Rihan saja yang tahu kondisinya sekarang. Mereka juga tidak ingin media tahu kondisi Rihan.
"Kenapa kalian diam saja? Apa aku melewatkan sesuatu?" Tanya Brand lagi.
"Apa kamu tahu sesuatu, Dom?" Brand menoleh dan bertanya pada asisten pribadinya.
"Saya juga tidak tahu, Bos. Jika saya tahu, saya akan memberitahu anda." Jawab Dom pelan.
Brakk
"Seseorang tolong katakan sesuatu padaku." Desak Brand setelah memukul kuat meja di depannya.
"Berikan padanya." Zant memberikan iPad di tangannya pada pria yang berdiri di sampingnya.
"Silahkan, Tuan." Ucap pria yang Zant suruh itu.
Brand mengambil iPad dan mulai menekan tanda pause sehingga video diputar. Semua hanya diam dan membiarkan Brand menonton sendiri.
Melihat isi video itu sejak awal, wajah Brand sudah memerah menahan marah. Tangannya terkepal kuat. Dia begitu marah melihat bagaimana Elle menyiksa Mommy Rosse dan Mama Shintia, memberi perintah pada para manusia buatan itu untuk menyerang Rihan, dan yang membuat emosi Brand semakin meningkat, adalah tindakan bodoh Neo dan berakhir dengan pingsannya Rihan.
"Bajingan itu... aku akan membunuhnya! Di mana pria bodoh itu, Logan?" Tanya Brand dengan wajah merah padam. Brand bahkan menghampiri Logan menarik kerah baju pria itu.
"Dia sedang dirawat di rumah sakit." Jawab Logan sambil berusaha melepas cengkraman tangan Brand di kerah bajunya.
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Brand mengerutkan kening lalu perlahan-lahan melepas kerah baju Logan.
"Dia depresi berat." Jawab Logan pelan.
"Apa maksudmu?" Tanya Brand tidak mengerti.
"Dia baru menyadari tindakan bodohnya pada Tuan Rei, sehingga dia sangat menyesal. Sayangnya itu semua sudah terlambat." Jawab Logan lagi dan menunduk.
"Sudah terlambat maksudmu?" Tanya Brand lagi.
"Tuan Muda Rei tidak bisa diselamatkan lagi," Jawab Logan lirih.
"Katakan sekali lagi. Aku pasti salah dengar. KATAKAN SEKALI LAGI!" Teriak Brand dan kembali mencengkram kerah baju Logan. Brand bahkan bersiap meninju wajah Logan.
"Luka tusukan di jantungnya membuat dia tidak bisa diselamatkan. Aku minta maaf atas nama Neo. Tolong maafkan dia sebagai sahabatmu." Logan menjawab dan menatap penuh permohonan pada Brand.
"Itu tidak mungkin! Lex, Katakan padaku, bahwa semua ini tidak benar. Rei tidak mungkin meninggal... tidak. Aku sama sekali tidak percaya. Ini pasti hanya prank. Hahahah... aku tidak percaya." Brand menggeleng tidak percaya.
Brand menatap satu persatu orang di dalam sana. Melihat ekspresi mereka, air mata pria itu lolos dari pelupuk matanya. Tanpa mengatakan apapun, Brand dengan langkah pelan berjalan ke pintu keluar.
"Anda ingin kemana, Bos?" Tanya Dom yang menghalangi pintu.
"Membunuh seseorang!" Jawab Brand datar.
Dom menjadi merinding mendengar nada suara sang Bos. Ini pertama kalinya dia melihat Brand semarah ini. Selama belasan tahun berada di samping sang Bos, ini pertama kalinya dia melihat ketenangan yang sangat menakutkan.
"Berhenti melakukan hal bodoh. Kembali ke tempatmu!" Suara datar Zant membuat Brand segera menatapnya dengan nafas naik turun saking emosinya.
Sret
__ADS_1
Tak
"Berhenti melakukan hal yang sia-sia. Dengan membunuh pria bodoh itu, tidak akan membangunkan Rei. Dan juga, kamu akan menyesal karena membunuh sahabatmu sendiri." Ujar Zant setelah menahan tinju Brand yang akan melesat ke wajah tampannya.
"Aku tidak akan menyesal membunuhnya. Lagipula, kamu siapa hingga mengaturku?" Tanya Brand kembali menarik tangannya yang ingin meninju Zant.
"Bukan siapa-siapa. Hanya orang tidak penting yang ingin menonton pertunjukan." Jawab Zant santai.
"Hahaha... jadi bajingan itu sudah mati? Hahaha... rasakan itu! Tidak sia-sia aku memanfaatkan pria bodoh itu." Suara Elle di dalam sana mengalihkan perhatian semua orang.
"Kau... wanita terkutuk!" Kesal Brand dan berjalan masuk ke dalam ruangan Elle. Semua orang hanya membiarkan Brand begitu saja.
Plak
Plak
Dua tamparan Brand berikan pada pipi Elle. Brand bahkan tidak peduli dengan penampilan polos Elle saat ini. Pria itu sedang marah dan tidak memikirkan apapun. Brand hanya mencengram dagu Elle lalu menampar wanita itu dengan kuat.
"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, hah? Bagaimana bisa ada wanita yang begitu kejam sepertimu?" Teriak Brand marah.
Plak
"Aku ingin membunuhmu sekarang!" Marah Brand lalu mengambil pistol di dalam jas yang dia pakai.
"Kematian terlalu mudah untuknya!" Zant kini berdiri di sebelah Brand. Tidak lupa, sebelum itu Zant menarik selimut di atas brankar dan melempar asal kepada Elle agar menutup tubuhnya.
Zant melakukannya karena merasa jijik menatap tubuh yang penuh dengan tanda merah dan banyaknya cairan menjijikan di sana.
"Lyan! Ternyata kamu masih peduli padaku. Tolong keluarkan aku dari sini." Ucap Elle pelan dan mengulurkan tangannya berniat menggapai tangan Zant yang sedang berdiri di depannya.
"Sepertinya kamu sangat senang menyentuhnya," Sindir Zant pada Brand yang masih mencengram dagu Elle. Sebelum itu, Zant segera menghindari Elle yang berniat menggapai tangannya.
Brand melepas cengkramannya dengan kuat sehingga Elle terhempas ke belakang. Brand kemudian berdiri dan menyimpan kembali pistol dibalik jasnya. Elle yang terhempas, meringis sakit dan segera menutup tubuhnya dengan selimut.
"Aku hanya tidak suka melihat hal memalukan ini, jadi jangan salah paham. Aku juga ingin bertanya padamu. Apa kamu mencintaiku?" Tanya Zant dan mundur dua langkah dari Elle diikuti oleh Brand.
"Aku sangat mencintaimu. Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkanmu," Jawab Elle dan mengangguk mantap. Jangan lupakan senyum manis yang tidak ada manis-manisnya sama sekali.
"Benarkah? Kalau begitu bagaimana dengan dia?" Tanya Zant lalu menunjuk dengan dagunya ke arah luar kaca yang menampilkan seorang pria yang menatap ke dalam dengan wajah datar.
"Sa...sayang! Ka... kamu..." Suara Elle terbata.
Elle berpikir, jika dia bebas dari sini, hanya pria di luar ruangan ini yang akan menerimanya karena dia sangat yakin pria itu begitu mencintainya.
"Wow... sudah seperti j****g. Bagaimana bisa seorang wanita mengatakan mencintai pria lain, lalu memanggil sayang pada pria lain? Benar-benar bakat seorang j****g!" Cibir Brand dan menggeleng.
"Sia-sia saja semua yang aku lakukan untukmu. Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku?" Ujar pria itu datar. Tatapan matanya begitu tajam menatap Elle yang terduduk sambil menggenggam kuat selimut yang membungkus tubuh polosnya.
"Ak...aku..." Elle tidak tahu harus berkata apa.
"Aku mengakui diriku sendiri bodoh karena dengan mudah percaya padamu dan membunuhnya. Betapa bodohnya aku mencintai wanita sepertimu." Ujar pria itu lagi dan menghembuskan nafas pelan.
Elle tiba-tiba menyeringai dan memaksakan diri untuk berdiri. Wanita itu lalu menatap pria di seberang kaca yang tidak lain adalah Neo.
"Hahaha... salahmu sendiri yang bodoh sehingga mudah dimanfaatkan. Asal kamu tahu, aku hanya mencintai Zant. Aku menginginkan hartamu saja. Dan juga... aku ingin membunuhmu karena kamu dan keluargamu yang menyebabkan kecelakaan kedua orang tua Zant dan adik perempuannya.
Kamu masih ingatkan, kecelakaan sekitar belasan tahun lalu? Umurmu mungkin sekitar tujuh tahun. Mobil keluargamu yang menyebabkan kecelakaan itu."
__ADS_1
Deg
"Ja...jadi..." Suara Neo tertahan. Pria beralih menatap Zant dengan tatapan bersalah. Sudah lama Neo ingin bertemu dengan keluarga yang terlibat kecelakaan bersama mereka di masa lalu.
"Benar. Aku baru ingat, wajah pria ini mirip dengan bocah laki-laki di foto itu." Seru Brand dalam hati sambil menatap intens wajah Zant di sampingnya.
"Hm." Deheman Zant lalu memasukkan satu tangannya ke saku celana.
"Bukankah adik perempuanmu selamat? Seingatku, dia dibawa ke rumah sakit yang sama dengan kami. Akan tetapi, hanya beberapa hari dan adikmu sudah tidak ada lagi di sana." Ucap Neo pelan.
"Dia meninggal setelah dua hari dirawat di sana. Dan itu semua karena keluargamu. Zant! Percayalah, aku hanya mencintaimu. Aku sengaja mendekati Neo dan berpura-pura mencintainya agar aku bisa memanfaatkannya. Aku melakukan semua ini karena aku sangat mencintaimu, dan ingin membalas semuanya pada Neo dan keluarganya." Ucap Elle dan dengan langkah pelan ingin menghampiri Zant.
"Aku tahu semua rencanamu. Sayangnya, aku tidak pernah sekalipun berniat balas dendam pada Neo dan keluarganya." Balas Zant tenang.
"Kenapa? Mereka yang sudah membuatmu seperti ini. Karena mereka, semua keluargamu meninggal." Teriak Elle marah.
"Kenapa kamu begitu marah? Lagipula, kenapa aku harus membalas dendam pada orang yang sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun?" Ujar Zant tetap tenang.
"Ap...apa maksudmu?" Tanya Elle gugup.
"Sepertinya kamu tahu maksudku," Balas Zant dan menyeringai menatap Elle.
"Tapi... bukankah, kecelakaan itu karena mobil keluargaku?" Tanya Neo tidak mengerti.
"Semua orang akan berpikir seperti itu, karena memang itu yang direncanakan. Kecelakaan itu dibuat seakan-akan kecelakaan pada umumnya. Sayangnya yang terjadi sebenarnya adalah kecelakaan yang sudah direncanakan. Bukan begitu?" Jelas Zant dan menekan dua kata terakhirnya sambil menatap tajam Elle yang terlihat meneguk ludahnya susah paya.
"Kecelakaan yang direncanakan?" Ulang Brand lalu beralih meminta penjelasan pada Zant.
"Berikan aku kursi. Aku lelah berdiri!" Pintah Zant santai.
Hanya satu menit, pria muda yang ikut bersama Zant tadi segera muncul di sampingnya sambil membawa kursi bersamanya. Zant dengan tenang duduk di sana.
"Cuma satu? Punyaku mana?" Tanya Brand.
Orang kepercayaan Zant itu hanya menatap datar Brand, dan bergegas keluar.
"Ck... dia mengabaikanku." Gumam Brand kesal.
"Kedua orang tua Elle sudah bekerja untuk keluargaku sejak mereka masih muda hingga mereka menikah dan memiliki Elle. Paman Son dan Bibi Lati sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Awalnya mereka hanya pelayan di rumahku. Akan tetapi melihat ketekunan keduanya, kedua orang tuaku akhirnya menaruh kepercayaan pada mereka.
Daddy mengangkat Paman Son sebagai asisten pribadinya, dan mengajarkan sendiri tentang bisnis padanya untuk membantu daddy di perusahaan. Sedangkan mommy juga mengangkat Bibi Lati sebagai asisten pribadi. Bisa dibilang, setelah daddy dan mommy, aku dan adikku, kedua orang tua Elle sudah seperti majikan kedua bagi para pelayan di mansion.
Sayangnya, semakin hari sifat Paman Son berubah karena kekayaan yang sudah menutup matanya. Pria itu bahkan melupakan semua kebaikan kedua orang tuaku padanya. Pria tua itu berniat mengakusisi perusahaan daddy. Untungnya Bibi Lati adalah wanita yang baik, sehingga ia menceritakan semua rencana suaminya pada mommy.
Akhirnya, Paman Son diusir dari mansion. Daddy sebenarnya ingin memasukkannya ke penjara, tetapi mengingat kerja kerasnya beberapa tahun ini, dan juga karena dia masih memiliki Bibi Lati dan Elle, sehingga daddy hanya mengusirnya dari rumah. Bukan hanya itu. Daddy juga membeli sebuah rumah di tengah kota untuk Paman Son dan mengizinkan Bibi Lati dan Elle menjenguknya kapanpun mereka mau.
Daddy berpikir, setelah mengusir Paman Son dari mansion, dia akan berubah. Nyatanya tidak. Pria tua itu kembali menghasut anak gadisnya untuk menghancurkan keluargaku dari dalam. Paman Son bahkan bekerja sama dengan beberapa perusahaan saingan daddy dengan tujuan mengakuisisi perusahaan.
Sebenarnya hari itu, aku juga akan ikut dalam mobil yang sama. Sayangnya, karena Elle menyukaiku, sehingga dia sengaja memintaku bermain bersamanya agar tidak ikut bersama kedua orang tua dan adikku. Akhirnya kecelakaan itu terjadi. Rem mobil tidak lagi berfungsi dengan baik sehingga terjadi kecelakaan yang juga melibatkan mobil keluargamu."
"Ba...bagaimana kamu bisa tahu semua itu?" Tanya Elle tidak percaya. Setahunya, hanya dia dan ayahnya yang tahu hal ini.
"Jangan lupa jika ada Bibi Lati yang lebih memilih majikannya dari pada suaminya yang jahat. Bibi Lati selalu mengikuti gerak-gerikmu dan kamu tidak tahu karena kamu masihlah bocah 7 tahun yang belum tahu apapun. Bibi Lati juga yang menceritakan semua ini dan memberikan semua bukti kejahatan ayahmu padaku sebelum beliau meninggal."
.
.
__ADS_1
.
Berikan saran kalian bagaimana mengatasi Elle dengan baik, selain yang sudah disebutkan di episode sebelumnya.