
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Rihan datar pada Dokter Damar yang baru masuk ke ruang kerjanya setelah memeriksa keadaan Phiranita.
"Setelah saya menscan tubuh Nona Phi, semua baik-baik saja. Hanya bagian kepalanya ada sesuatu yang aneh di sana. Dan itu adalah trauma yang tadinya sudah mengecil, kini mulai bertumbuh lagi. Sepertinya ada sesuatu yang memicu traumanya kambuh, Presdir." Jawab Dokter Damar.
"Apa Tata melihat Brand?" Tanya Rihan pada Alen yang berdiri di sebelah Dokter Damar.
"Iya, Tuan. Nona Phi awalnya ingin melihat keadaan di luar melalui jendela kamarnya. Akan tetapi dia sepertinya melihat Tuan Brand sehingga traumanya kambuh." Jawab Alen tenang.
"Hmm."
"Anda ada saran, Dok?" Tanya Rihan pada Dokter Damar.
"Selain anda yang selalu berada di sisi Nona Phi, saya sarankan untuk menggunakan alternatif lain, Presdir. Akan tetapi..." Dokter Damar ragu-ragu dengan apa yang akan dia katakan.
"Katakan!"
"Nona Phi harus melawan langsung traumanya sendiri, Presdir. Itu adalah alternatif tercepat untuk kesembuhannya. Dan juga, resiko sakitnya sangat besar." Jawab Dokter Damar.
"Bagaimana menurut kalian?" Tanya Rihan pada kedua asisten pribadinya.
"Jika itu cara tercepat, saya setuju, Tuan."
"Saya juga, Tuan."
"Kita akan melakukannya setelah Tata sudah lebih baik dari hari ini. Anda bisa kembali, Dok." Rihan kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar Phiranita.
"Baik, Presdir. Kalau begitu saya pamit."
"Hm."
***
Brand di dalam mobilnya tiba-tiba memusatkan pikirannya akan apa yang dia lihat tadi. Dia merasa ada yang aneh.
"Ada yang sedang anda pikirkan, Tuan?" Tanya Dom sambil menyetir mobil dengan sang Tuan yang duduk di belakangnya.
"Dengan siapa Tuan Muda Rehhand tinggal?" Tanya Brand menatap keluar mobil.
"Setahu saya dengan kedua asistennya bersama para pelayannya saja. Tapi, saya baru mendapat info jika tuan muda dari keluarga Bruneyas baru tinggal beberapa hari di sana."
"Bruneyas?" Ulang Brand karena tidak terlalu mengenal nama itu.
"Iya, Tuan. Keluarga Bruneyas adalah pengusaha tambang dari Jerman yang merintis usaha mereka di Indonesia. Mereka hanya memiliki satu orang pewaris yaitu Maximuz Bruneyas. Akan tetapi, dia mengindap Avoidant personality disorder, Tuan." Jelas Dom.
"Anti sosial? Tapi kenapa dia bisa tinggal di sana?" Brand tidak mengerti.
__ADS_1
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Anak buah kita sedang mencari tahunya." Balas Dom dan diangguki oleh Brand.
"Apa pria itu ada di sana tadi?" Tanya Brand.
"Maksud anda Max?"
"Ya."
"Max sedang tidak ada di mansion waktu kita ke sana, Tuan." Dom mengerutkan keningnya karena bingung dengan pertanyaan majikannya.
"Jika tidak ada orang di sana, lalu siapa yang melihatku di atas sana? Apa perasaanku saja?" Tanya Brand dalam hatinya.
Brand sangat yakin dengan instingnya yang bisa merasakan keberadaan seseorang yang melihatnya. Dia yakin ada orang yang melihatnya dari lantai atas mansion Rihan. Brand lalu menggeleng kepalanya karena tiba-tiba ragu dengan instingnya.
"Ada apa, Tuan?" Tanya Dom karena melihat sekilas gelengan kepala sang majikan dibalik kaca spion mobil.
"Apa kamu merasa ada yang melihat kita di lantai atas saat hendak keluar dari sana?" Tanya balik Brand.
"Saya tidak merasakan apapun, Tuan. Anda melihat seseorang?" Tanya Dom ikut berpikir apa dia melewatkan sesuatu.
"Tidak."
"Berarti perasaanku saja." Sambung Brand dalam hatinya. Brand lalu memejamkan matanya dan menikmati angin sepoi-sepoi yang menembus masuk ke dalam lewat kaca jendela mobil.
***
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Rihan lembut lalu mengusap pelan keringat di dahi Phiranita.
"Han... hiks...hiks... Aku takut. Dia yang menyiksaku, aku melihatnya tadi. Jangan tinggalkan aku Han. Aku takut." Tangis Phiranita memeluk erat Rihan di sampingnya.
"Kamu aman bersamaku. Jangan takut! Mungkin hanya perasaanmu saja." Rihan berusaha menenangkan.
"Ta... tapi tadi aku melihatnya Han... hiks... hiks... aku takut mereka melecehkan aku lagi." Phiranita menggeleng kepalanya takut dengan badan bergetar kuat di pelukan Rihan. Dia sangat ketakutan.
"Tenanglah! Tidak akan aku biarkan mereka menculikmu lagi. Aku akan menjagamu dengan nyawaku sendiri. Karena aku menyayangimu," Rihan mengusap pelan punggung Phiranita. Dia sedih melihat sahabatnya ini.
"Istirahatlah, aku akan menjagamu!" Sambung Rihan melerai pelukan mereka dan membaringkan sang sahabat.
"Jangan tinggalkan aku, Han. Aku menyayangimu," Ujar Phiranita pelan lalu mulai memejamkan matanya dan tidur.
"Aku tahu!"
"Aku lebih menyayangimu. Karena kamu sudah seperti saudara bagiku." Lanjut Rihan dalam hatinya lalu mengelus lembut tangan Phiranita yang menggenggam erat tangannya.
"Siapa yang akan kita pakai nanti untuk terapi ekstrim Nona Phi, Tuan?" Tanya Alex pelan ketika melihat Phiranita sudah tertidur pulas.
__ADS_1
"Entahlah! Biarkan dia tenang dulu. Jangan lupa untuk terus memantau gerak-gerik Brand." Balas Rihan tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah lelap Phiranita.
"Baik, Tuan. Bagaimana dengan makan malam bersama perwakilan Antarik Hospital?" Tanya Alex yang teringat dengan janji temu jam 7 malam nanti.
"Jaga Tata selama saya tidak di mansion, Len. Usahakan dia tidak bangun sebelum saya pulang." Rihan lalu menatap Alen yang setia berdiri di samping tempat tidur Phiranita.
"Baik, Tuan."
"Ayo bantu saya bersiap, Len." Rihan melepas pelan genggaman tangan sang sahabat darinya.
"Baik Tuan."
***
"Malam ini kita akan berangkat. Kamu yakin ingin kita ke sana secepat ini?" Tanya seorang pria pada sahabatnya yang sedang sibuk menandatangani berkas-berkas yang berserahkan di atas meja kerjanya.
"Hmm." Dehemannya sambil terus membaca dengan serius kemudian memberikan tanda tangannya di sana.
"Bukannya pekerjaanmu masih banyak. Bagaimana kalau kita tunda saja?" Ucap pria pertama karena melihat banyaknya berkas di atas meja kerja sahabatnya yang begitu banyak yang harus diperiksa.
"Karena itu, bantu aku. Jangan duduk saja. Sekretaris macam apa kamu?" Kesal pria kedua tanpa melirik lawan bicaranya karena masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Huh... Waktu kerjaku sudah selesai. Sekarang aku sahabatmu bukan sekretarismu. Ingat itu." Balas pria pertama melipat kedua tangannya di atas perut dan bersandar pada sandaran sofa. Enak saja! Tugasnya sudah sesuai beberapa menit lalu. Dia tidak ingin menambah pekerjaan.
"Aku tahu! Sekarang aku memintamu sebagai sahabat yang baik." Ucap pria kedua lalu menutup berkas yang dibacanya dan menatap sahabatnya yang duduk tidak jauh darinya.
"Kamu tahu, aku lelah. Aku belum beristirahat dengan baik sejak semalam lembur. Biarkan aku beristirahat sebelum penerbangan panjang kita nanti. Please, Neo. Kamu tahu, fisikku sangat lemah." Nada suara pria pertama mendramatis diakhir kalimatnya pada sahabatnya yang dia panggil Neo.
"Jangan membuatku menambah pekerjaanmu di pesawat nanti, Logan. Lemah dengan badan kekar itu?" Ejek pria dengan nama Neo sambil menatap tajam Logan.
"Baiklah... baiklah. Kita masih punya waktu 5 jam sebelum berangkat nanti. Sini biar aku bantu." Sahut Logan cepat. Logan tidak ingin waktu istirahat yang sudah dia rencanakan gagal begitu saja.
"Tidak punya perasaan. Sahabat macam apa ini," Gumam Logan setelah mengambil separuh dari berkas di meja Neo dan meletakkannya di meja tamu untuk diperiksa.
"Aku mendengarnya, Gan."
"Aku diam."
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1