Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Lampu Merah


__ADS_3

"Kamu sangat menyiksaku, Neo... Astaga! punggungku. Ingat untuk mentraktirku nanti." Keluh Logan sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya sehabis memeriksa banyaknya berkas-berkas milik sang Bos sekaligus sahabat baiknya itu.


"Kamu membantuku karena menginginkan imbalan? Sahabat macam apa itu?" Balas Neo yang saat ini sedang mengetik sesuatu pada laptop di depannya.


"Bukan itu maksudku, Neo. Sudahlah. Aku tidak pernah bisa menang melawanmu." Logan kini berdiri dan mengambil semua berkas di depannya dan membawanya pada Neo.


Bruk!


"Kamu memang tidak ikhlas membantuku. Ckckckck..." Cibir Neo menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang meletakkan dengan keras semua berkas yang sudah diperiksa di atas meja kerjanya.


"Terserah apa yang kamu pikirkan. Ayo bersiap, 2 jam lagi kita berangkat. Ini bukan pesawat pribadi. Kamu sendiri yang menginginkannya, jadi jangan sampai kita ketinggalan pesawat." Logan mengingatkan.


"Aku tahu! Langsung ke bandara saja." Balas Neo lalu berdiri dan membenarkan jass yang dipakainya.


"Kamu akan berangkat dengan pakaian seperti itu? Itu sama saja dengan menarik perhatian, Neo." Logan mencoba menahan diri untuk tidak mengumpat sang sahabat yang setiap hari suka membuatnya jengkel.


"Jadi... apa yang harus aku pakai?"


"Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu. Ini pakailah. Aku juga akan mengganti pakaianku di toilet sekretaris." Logan memberikan 2 paperbag berwarna coklat pada Neo.


"Thank you."


"Hmm."


Dua menit kemudian Neo keluar dengan menggunakan kaos putih polos yang tidak terlalu ketat atau kebesaran, tetapi pas ditubuhnya. Dipadukan dengan celana panjang cargo hitam. Jangan lupakan sneaker senada dengan baju dan celananya, yaitu putih dengan garisan hitam di sisi kiri dan kanannya.


Penampilan kasualnya sungguh sangat memanjakan mata. Bukan saja penampilannya, tetapi juga wajahnya yang terbilang tampan. Entah apa respons orang-orang ketika melihat dirinya dan juga Tuan Muda Rehhand di saat bersamaan nanti.


"Seperti biasa, aku selalu kalah darimu dalam segala hal. Haishhh." Logan baru masuk dengan outflit yang hampir sama dengan Neo, tetapi warna baju dan celananya adalah hitam dan coklat. Logan juga menutup kaos hitam polosnya dengan kemeja kotak-kotak senada dengan baju dan celananya. Sneakers putih polos juga dia kenakan.


"Berusahalah, maka kamu akan menang melawanku." Balas Neo lalu mengambil tas punggungnya yang yang juga ada dalam paperbag satunya dan mulai memasukan laptop yang biasa dia gunakan, handphone, charger, juga beberapa berkas-berkas penting ke dalam tas.


"Kita akan membeli pakaian saja di sana. Aku sedang malas membawa banyak barang." Sambung Neo setelah memakai tas itu ke punggungnya.


"Dasar orang kaya." Cibir Logan menatap malas Neo.


"Memangnya dalam tasmu ada pakaian?" Tanya Neo datar.


"Tidak ada. Hehe..." Logan cengengesan.


"Sebenarnya aku sudah meminta pada pelayan untuk menyiapkan pakaian kita. Tapi, ya... begitulah." Sambung Logan tidak ingin disudutkan.


"Ayo berangkat!" Neo berjalan cepat meninggalkan Logan.

__ADS_1


"Hei... tunggu aku!"


***


Setelah Rihan dan Alex keluar dari toko kue, mereka tidak sadar bahwa foto keduanya, terlebih Rihan sudah tersebar dan kini menjadi tranding topic dengan menduduki peringkat pertama dalam kolom pencarian. Secepat itulah media sosial membagi dua foto melalui akun instagram kasir toko kue itu.


Foto pertama adalah foto Rihan yang berdiri dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celananya sambil melihat serius deretan kue-kue dalam lemari kaca. Sedangkan foto satunya adalah foto kue yang Rihan beli. Dengan caption yang ditulis oleh sang kasir,


...'Kejutan si pria cantik untuk orang special'...


Hanya kalimat sederhana yang diunggah, menghasilkan banyak tanda tanya dari para fans seorang Tuan Muda Rehhand. Sayangnya kasir itu hanya bisa menjawab seadanya pada mereka. Ada beberapa berita TV juga mulai menyiarkan dua foto itu.


...


"Tuan..." Panggil Alex ketika mereka keluar dari toko dan mendapat notifikasi masuk di iPad yang selalu dibawa ke mana-mana.


"Biarkan saja."


"Baik, Tuan."


Sebelum Alex mengatakan sesuatu, Rihan sudah tahu maksud sang asisten, yang tidak lain adalah membahas tentang foto dirinya yang diambil ketika melihat-lihat kue. Rihan dan Alex tahu jika foto Rihan diambil secara diam-diam. Bagi Rihan, selama itu tidak mengancamnya, maka biarkan saja.


Justru Rihan senang dan membiarkan namanya semakin terkenal. Itu semua untuk kelancaran balas dendamnya. Tetapi jika foto sahabatnya yang disebar, maka tidak ada ampun bagi mereka.


"Bagaimana jika mereka mencari tahu tentang Nona Phi, Tuan?" Tanya Alex setelah masuk ke dalam mobil.


"Baik Tuan."


"Bagaimana keadaan Ayu?" Tanya Rihan penasaran dengan kondisi Ayu setelah mereka tinggalkan tadi.


"Seperti biasa Tuan, nona Ayu sedang mengamuk. Dia juga sudah merencanakan sesuatu untuk menggoda anda di lain waktu." Alex menjawab kemudian menyalakan mesin mobil. Mereka lalu pergi dari sana menuju mansion.


"Selalu pantau gerak-geriknya. Jangan lupa cari tahu juga rencana Julian."


"Siap, Tuan."


Mobil yang dikendarai Alex kini melaju dengan kecepatan di atas rata-rata membelah jalanan kota Jakarta. Ketika mobil berhenti di lampu merah, mata Rihan tertuju pada dua anak kecil yang sedang mengamen di pinggir jalan. Tepatnya di atas trotoar.


Rihan hanya bisa menggeleng kepalanya tidak habis pikir dengan dua anak itu yang diterlantarkan oleh kedua orang tuanya. Bisa-bisanya kedua orang tuanya menghadirkan mereka tetapi tidak memiliki tanggung jawab untuk menjaga mereka.


Setelah dipikir-pikir, Rihan tidak bisa menyalahkan siapapun. Dia hanya mencoba untuk berpikir positif. Mungkin saja kedua orang tuanya tidak mampu merawatnya sehingga menitipkan mereka di luar. Akan tetapi itu sama saja dengan lari dari tanggung jawab. Atau mungkin kedua anak itu anak yatim piatu, entahlah.


Rihan hanya bisa menggeleng kepalanya. Apalagi kedua anak itu mengamen di saat malam hari. Setelah menghela nafasnya, Rihan keluar dari mobil dan menghampiri kedua anak itu.

__ADS_1


"Tuan..." Panggil Alex tetapi diabaikan oleh Rihan.


Rihan berjalan cepat hingga tiba di depan keduanya. Rihan lalu berjongkok mensejajarkan tingginya dengan mereka.


"Siapa nama kalian?" Tanya Rihan lembut.


"Sa...saya Vivin dan ini adik saya Vian." Jawab salah satunya lalu menunduk sedikit wajahnya.


"Dimana orang tua kalian?"


"Kami tidak memiliki orang tua, Kak. Kami tumbuh dan besar di jalanan." Jawab Vivin dengan mata berkaca-kaca.


"Lalu makan sehari-hari kalian bagaimana?" Tanya Rihan sambil mengelus bergantian kepala keduanya.


"Kami hanya mengamen, Kak. Kadang juga diberi makan oleh orang-orang yang berjualan didekat tempat tinggal kami."


"Dimana kalian tinggal?"


"Beberapa blok di seberang sana, Kak." Vivin menunjuk tepat di seberang jalan.


"Ini... kakak ada sedikit uang, jangan lupa dipakai dengan baik, ya. Ini juga kartu nama kakak. Kalau kalian butuh sesuatu jangan lupa hubungi kakak." Rihan memberikan beberapa lembar uang dan kartu namanya pada gadis 5 tahun bernama Vivin itu.


"I... ini terlalu banyak Kak. Hiks..." Vivin kini menangis. Ini pertama kalinya gadis kecil itu melihat uang sebanyak ini. Selama 3 tahun mengamen, hasil mengamennya paling tinggi satu lembar berwarna hijau.


"Tidak apa-apa. Ini milik kalian. Terserah mau dipakai untuk apa. Tapi ingat, dipakai untuk kebutuhan kalian. Jangan lupa disimpan dengan baik."


"Baik, Kak. Terima kasih banyak. Kami anggap ini sebagai pinjaman. Setelah dewasa nanti, kami akan menggantinya." Vivin tersenyum kemudian membungkukkan badannya diikuti oleh Vian.


"Pulanglah! Ini sudah malam. Ingat untuk membeli makan malam sebelum pulang." Rihan kembali mengelus sayang kedua bocah itu.


"Baik, Kak. Kami pamit. Terima kasih banyak, Kak."


"Ya."


Kakak beradik itu lalu meninggalkan Rihan untuk menyebrangi jalan, karena tempat tinggal mereka hanya beberapa blok di depan sana seperti yang dikatakan Vivin tadi.


Ketika mereka menyeberang dan sudah sampai di tengah jalan, tiba-tiba terlihat sebuah mobil ugal-ugalan tidak jauh dari mereka.


"AWAS!"


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.


__ADS_2