Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Makan Siang Mewah


__ADS_3

Dian hanya bisa mengikuti kemauan sang nenek. Akhirnya, untuk biaya perawatan neneknya, Dian harus lebih hemat akan biaya pengeluaran mereka sehingga setiap di kampus, dia hanya makan siang dengan sepotong roti dan sebotol air mineral.


***


Masih menikmati makan siang dengan sepotong roti sambil merenungi hidupnya selama ditinggal pergi kedua orang tuanya, Dian lalu dikejutkan dengan kedatangan Alen bersama beberapa pelayan yang menghampirinya. Lebih tepatnya bergerak di depannya.


"Apa yang mereka lakukan di sini?" Tanya Dian dalam hatinya sambil mengerutkan keningnya pertanda bingung.


Karena apa yang dilihatnya, dimana beberapa orang berpakaian seperti Maid atau Pelayan yang sedang menyiapkan meja juga menata makanan yang jika dilihat oleh mata Dian sangat-sangat mewah, membuat anak-anak dalam perutnya menangis meminta diberi makanan yang sedang dilihat di depan matanya.


"Astaga... aku kan sudah makan. Kenapa harus lapar lagi? Siapa yang menggodaku dengan makanan ini? apa ini untukku? Jelas tidak mungkin. Siapa juga yang dengan cuma-cuma memberi orang yang tidak dikenal makanan mewah seperti ini?" Monolog Dian dalam hati sambil mengelus perutnya pelan.


"Sungguh beruntung dia yang menikmati semua makanan itu, tidak sepertiku yang hanya makan siang dengan sepotong roti." Lagi-lagi Dian berbicara dengan miris dalam hati sambil terus melihat makanan lezat di depan matanya. Berulang kali dia harus menelan ludah melihat makanan lezat itu.


"Maaf nona, ini makan siang untuk anda." Alen berbicara dengan sopan sambil membungkukkan sedikit badannya ketika sudah berada di depan Dian.


Dian seketika terkejut terheran-heran. Kenapa tiba-tiba diberi makanan enak ini?


"Maaf. Aku tidak mengenal kalian, kenapa memberiku makan?" Tanya Dian sopan. Tapi dalam hati bahagia diberi kesempatan mencicipi makanan mewah itu.


"Ini semua diberi oleh majikan kami untukmu anda, Nona. Jadi, silahkan dinikmati." Alen menjawab dengan senyum tipis.


"Majikan? Maaf. Mungkin kalian salah orang. Aku tidak mengenal siapa majikan kalian. Apa yang majikan kalian inginkan? Dia pasti menginginkan sesuatu hingga memberiku makanan mewah ini," Dian sambil memicingkan matanya ke arah Alen.


"Maaf, Nona. Kami tidak salah orang, dan majikan kami memang orang yang baik hati. Beliau hanya memberi tanpa meminta balasan. Jadi, nona tidak perlu khawatir. Ini semua diberikan secara gratis." Ujar Alen lalu sedikit menampilkan senyum tipisnya.


"Jika gratis, pasti ada racunnya 'kan.


Jawab aku! Asal kalian tahu, di dunia ini tidak ada yang gratis. Jadi aku tidak percaya diberi makanan secara gratis." Dian masih mempertahankan egonya. Padahal cacing dalam perutnya sudah meronta habis-habisan karena Dian masih mempertahankan egonya.

__ADS_1


Alen yang menerima penolakan Dian, tidak merasa tersinggung. Justru Alen merasa kagum akan prinsip gadis di depannya ini. Alen kemudian menuju meja makan yang berada dua langkah di depannya lalu mengambil sedikit-sedikit makanan di setiap piring menggunakan sumpit dan menaruhnya di dalam piring kosong yang baru saja diambil dari salah satu pelayan kemudian membawanya ke depan Dian lalu dengan menggunakan sumpit tadi, Alen mencicipi makanan dalam piring yang dibawanya.


"Semua makanan ini aman, Nona. Anda tidak perlu khawatir. Silahkan dinikmati hidangan ini, Nona. Jangan sungkan dengan keberadaan kami." Alen berbicara dengan tenang setelah menghabiskan makanan yang ada di tangannya.


"Baiklah. Jika begitu, aku tidak akan sungkan menikmati semua ini. Dan maaf, boleh aku tahu siapa majikan kalian?" Tanya Dian ketika berdiri hendak menuju meja yang sudah disiapkan para pelayan tadi.


"Anda tidak perlu tahu siapa majikan kami, Nona. Anda hanya perlu menikmati semua ini, karena majikan kami tidak ingin diketahui identitasnya." Balas Alen lalu mengikuti langkah Dian dari belakang.


"Ya, sudah. Aku akan makan semua ini." Balas Dian dengan semangat lalu menghampiri meja makan dan duduk di sana kemudian menikmati makan siangnya dengan lahap.


"Terima kasih, Tuhan. Aku bisa menikmati makanan mewah dan lezat ini. Tapi siapa majikan mereka?" Tanya Dian dalam hatinya sambil menikmati makanan di depannya.


Dian begitu bersyukur karena masih ada orang yang peduli dengan memberikan makanan lezat ini padanya.


Sesaat kemudian, Dian menghentikan makannya. Lalu meneteskan air matanya. Dia teringat dengan neneknya yang pasti hanya menikmati bubur untuk makan siangnya, sedangkan dia bisa menikmati makan siangnya yang begitu mewah dan lezat.


"Jika anda tidak sanggup menghabiskan semua ini, anda bisa membawanya pulang, Nona. Ini semua sudah disiapkan khusus untuk anda." Alen berbicara ketika melihat Dian meneteskan air matanya.


"Benarkah? Aku bisa membawa semua ini pulang?" Tanya Dian bersemangat setelah menghapus air matanya.


"Iya, Nona. Ini semua sudah menjadi milik anda. Jadi, terserah anda mau diapakan." Alen menjawab lembut.


Dengan semangat, Dian lalu menyiapkan makanan yang ada di depannya. Senyum senang sama sekali tidak lepas dari bibirnya mungilnya.


"Maaf nona, biar para pelayan yang akan menyiapkannya untuk anda." Alen segera menghentikan Dian ketika melihat gadis itu berdiri dan hendak memindahkan makanan di atas meja.


"Tidak apa-apa. Saya bisa sendiri," Dian dengan senyum tulus merasa tidak enak dilayani.


Tanpa mendengar penuturan Dian, Alen lalu memandang para pelayan yang masih berdiri di sana dengan tatapan tajamnya. Pelayan yang melihat tatapan itu, segera bergerak dengan memindahkan makanan yang ada di atas meja ke dalam kotak-kotak makan yang selalu mereka bawa bersama ketika akan menyiapkan makan siang untuk majikan mereka.

__ADS_1


Jika kalian bertanya kenapa harus membawa kotak makan, maka jawabannya adalah sisa makanan yang tidak disentuh oleh Rihan, akan mereka taruh dalam kotak-kotak makan itu lalu dibawa pulang oleh para pelayan untuk keluarga mereka atau diberikan pada pengemis yang mereka lihat di setiap jalan pulang yang mereka lewati.


Dian hanya diam di tempatnya ketika para pelayan sudah mengevakuasi dirinya dari meja makan dan menyiapkan semua sisa makannya ke dalam kotak makan yang ada.


Ada beberapa kotak makan yang terdiri dari nasi, daging ayam yang digoreng juga dibakar, steak daging, ikan yang sudah diolah sedemikian rupa, juga beberapa jenis sayuran yang menggiurkan. Semua sudah diletakkan dalam kotak makan yang siap dibawa pulang.


Ketika melihat semua itu, Dian menjadi murung, karena siapa yang akan membawa semua makanan ini sedangkan dia akan ada kelas sebentar lagi hingga sore hari. Otomatis makanan ini akan lama sampainya pada neneknya.


"Kami yang akan mengantar semua kotak makan ini ke rumah nona. Anda tidak perlu khawatir dan silahkan ikuti kelas anda," Alen segera menginstruksi setelah melihat ekspresi murung Dian.


"Benarkah? Terima kasih banyak, dan maaf sudah merepotkan kalian. Sekali lagi ucapkan terima kasihku pada majikan kalian untuk semua makanan ini." Dian membungkukkan badannya menghormati mereka yang ada di depannya.


"Tidak apa-apa, Nona. Ini sudah menjadi tugas kami. Kalau begitu kami pamit mengantar makanan ini. Dan untuk terima kasihnya akan saya sampaikan pada majikan kami," Balas Alen lalu beranjak pergi dari sana diikuti oleh para pelayan.


"Memangnya mereka tahu alamat rumahku?" Tanya Dian bingung ketika melihat Alen dan para pelayan sudah menjauh darinya.


Dian hanya menaikkan bahunya dan pergi dari taman itu dengan suasana hati yang begitu senang dan syukur.


***


Tidak semua orang mementingkan dirinya sendiri. Masih ada orang yang peduli pada kita.


Jadi... Jangan pernah menyerah, jangan pernah merasa sendiri. Semua yang kamu alami, semua yang terjadi, sudah ditetapkan. Tinggal bagaimana kita menjalaninya.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu.

__ADS_1


See You.


__ADS_2