Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Keributan


__ADS_3

"Neo tidak akan percaya padaku begitu saja. Belum lagi, dia semakin membenciku saat pertemuan kami di R.A Group waktu itu. Aku yakin kamu pasti memberitahu padanya bahwa aku yang membuat Ira seperti itu."


"Hmm. Maaf untuk itu."


"Tidak masalah," Balas Brand dengan masih dalam mode tersenyum.


"Lalu apa yang kamu rencanakan selanjutnya?" Tanya Rihan menatap datar keluar jendela dimana kendaraan berlalu lalang karena cafe ini tepat di samping jalan raya.


"Aku hanya ingin hubunganku dan Neo kembali seperti dulu." Jawab Brand dan ikut menatap keluar.


"Aku mengerti."


"Jadi, kamu sudah memaafkanku?" Tanya Brand menatap Rihan penuh harap.


"Majukan sedikit wajahmu," Rihan menggerakan tangannya mengisyarat Brand mendekat. Brand dengan patuh memajukan wajahnya.


Bugh


"Ssss... kenapa memukulku?" Tanya Brand sambil meringis memegangi pipinya hasil pukulan Rihan.


"Sudah lama aku ingin melakukannya. Kau membuatku kesal," Jawab Rihan datar dan kembali menatap keluar.


"Ck... Kamu sekecil ini tapi pukulanmu sangat kuat. Tidak heran, 10 preman itu habis di tanganmu." Cibir Brand masih meringis. Rihan tidak membalasnya.


"Mulai sekarang kamu harus memanggilku kakak. Aku 24 tahun. Sedangkan kamu, pasti belasan tahun." Brand lalu menyeringai menatap Rihan.


"Kita tidak sedekat itu." Rihan hanya menatap Brand sekilas.


"Mulai sekarang kita berteman. Ada waktu, aku akan berkunjung ke tempatmu." Suara Brand sangat bersemangat.


"Terserah,"


"Untuk merayakan pertemanan kita, hari ini aku yang traktir. Silahkan pesan apa yang kamu inginkan." Tawar Brand hendak memanggil pelayan.


"Aku tidak bisa makan diluar."


"Kenapa?"


"Bukan urusanmu."


"Ya, sudah. Kalau begitu temani aku menghabiskan minuman dulu."


...


Dua pria tampan baru saja keluar dari bandara. Salah satu di antaranya sejak turun dari pesawat selalu menampilkan senyum manisnya. Sedangkan pria lainnya hanya menatap aneh temannya ini. Tidak biasanya dia akan tebar pesona di sepanjang jalan begini. Kedua pria itu tidak lain adalah Neo dan Logan.


"Aku rasa sebentar lagi bibirmu keriput karena terus tersenyum sedari tadi. Ada apa?" Tanya Logan sambil menatap memicing pada Neo.


"Tidak ada. Entah kenapa aku hanya ingin tersenyum. Kita langsung saja ke mansion Rei." Neo menjawab setelah membuka pintu taxi dan masuk.


"Kamu serius akan tinggal di sana? Aku pikir itu hanya candaan saja," Tanya Logan yang ikut masuk dalam taxi dan duduk di samping Neo.


"Untuk apa aku harus membuang uang membeli tempat tinggal jika ada yang gratis?" Jawab Neo dan menatap keluar.


"Ke alamat ini, Pak." Logan memberikan alamat mansion Rihan pada sopir.


"Siap, Den."


"Heh...! Jangan lupa jika kamu mampu membeli beberapa mansion sekaligus. Aku yakin, semua ini hanya modus." Logan mencibir sebelum mengambil sebotol air mineral dan membuka tutup botolnya kemudian meminumnya.


"Modus? Bahasa planet mana itu?" Tanya Neo menatap Logan sekilas.


"Ck... kamu benar-benar membuatku kesal. Sudahlah. Bangunkan aku jika sudah sampai. Aku lelah karena mengurus seorang bos yang menyebalkan," Kesal Logan lalu bersandar dan memejamkan matanya.


Mobil terus melaju dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan kota Jakarta. Neo yang sedari tadi hanya menikmati pemandangan ibukota Negara Indonesia itu memicing matanya karena seperti melihat sesuatu.


"Berhenti sebentar, Pak." Ucap Neo sambil terus menatap objek yang mengganggu penglihatannya.


"Baik, Den."


"Rei dan... Bajingan itu?" Gumam Neo mengepalkan tangannya. Tanpa membangunkan Logan, Neo turun dan menuju cafe dimana Rihan dan Brand duduk.

__ADS_1


Masuk ke dalam Cafe, Neo tanpa permisi menghampiri tempat duduk Rihan dan Brand kemudian menarik kerah baju bagian belakang Brand dan,


Bugh


Satu pukulan mendarat di pipi Brand.


"Sial... pukulan Rei masih belum hilang, ini sudah bertambah. Hais..." Gumam Brand dalam hati sambil meringis sakit di tempat yang sama Rihan memukulnya tadi.


"Apa yang kamu rencanakan dengan mendekati Rei?" Tanya Neo kesal sambil menatap Brand yang berdiri di depannya memegang pipinya.


"Bukan urusanmu. Mulai sekarang aku dan Rei berteman." Jawab Brand santai lalu membenarkan pakaiannya.


"Apa? Berteman?" Ulang Neo lalu mengalihkan pandangannya pada Rihan yang seperti biasa selalu santai.


"Kamu berteman dengannya, Rei?" Tanya Neo. Rihan tidak menjawab. Dia hanya menatap datar Neo. Rihan ingin melihat apa yang akan Neo lakukan selanjutnya.


"Kamu berteman dengan orang yang sudah memberikan trauma pada Ira? Jawab aku, jangan diam saja!" Sambung Neo kesal.


"Hmm." Deheman Rihan berhasil membuat Neo menarik nafasnya panjang.


Sret


Bugh


Neo lagi-lagi meninju Brand hingga bibir pria itu berdarah. Brand sendiri tidak membalasnya.


"Apa yang sudah kamu lakukan, hingga Rei mau berteman dengan orang sepertimu?"


Ketika Neo akan melayangkan tinju lagi pada Brand, sebuah tangan berhasil menangkap tangannya.


"Kamu membelanya?" Tanya Neo pelan sambil menatap Rihan tepat di sampingnya. Tatapan Neo terlihat sangat kecewa.


"Kenapa semua masalah harus diselesaikan dengan kekerasan jika manusia diciptakan memiliki otak untuk berpikir dan mulut untuk berbicara?" Suara Rihan begitu dingin setelah menurunkan tangan Neo.


Rihan beralih menatap ke sekelilingnya dan mendapati semua mata dalam cafe itu menatap mereka. Bahkan ada beberapa orang terlihat mengarahkan ponsel kepada mereka.


"Jika sampai kejadian ini tersebar ke media, katakan selamat tinggal untuk hidup kalian." Ancam Rihan membuat mereka menurunkan ponsel masing-masing.


Bukan hanya itu, beberapa pria berpakaian hitam terlihat masuk ke dalam cafe dan memeriksa satu persatu orang untuk menghilangkan jejak foto atau video dalam ponsel masing-masing. Mereka adalah para pengawal bayangan.


"Rei... apa yang sudah bajingan ini lakukan padamu?" Tanya Neo ingin memegang bahu Rihan tapi sang empunya menghindar.


"DUDUK!" Suara Rihan terdengar begitu dingin membuat Neo tidak bisa lagi membantah dan segera duduk.


"Kau juga duduk," Ucap Rihan dengan nada yang sama pada Brand. Pria itu dengan patuh duduk di samping Neo meski pria itu sudah menatapnya tajam.


"Dengarkan aku!" Rihan membuka suara ketika sekitar 5 menit terjadi keheningan di tempat mereka.


"Kalian adalah pria dewasa. Kalian juga sahabat."


"Mantan sahabat tepatnya." Sambung Neo malas.


Brak


"Jika aku sedang bicara, tidak ada yang boleh membantahnya!" Rihan memukul meja membuat Brand terpekik kaget.


"Maaf." Cicit Neo lalu menunduk. Brand di samping Neo menahan senyum melihat sikap Neo.


"Akh..." Ringis Brand karena Neo menginjak kakinya.


"Selesaikan masalah kalian sendiri. Aku pergi!" Kesal Rihan lalu berdiri dan meninggalkan kedua pria itu.


"Hei... Rei... Jangan pergi!" Panggil Neo menyusul Rihan. Brand juga tidak ingin kalah dan ikut keluar.


"Anda belum membayar minuman yang anda pesan, Tuan." Cegah seorang pegawai cafe pada Brand.


Brand dengan malu mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada pegawai itu.


"Maaf! Kembaliannya, anggap saja untuk biaya berobat telinga kalian karena keributan tadi." Ucap Brand kemudian berlalu keluar dari cafe.


Sesampainya Brand diluar, hanya ada Neo yang menatap kepergian motor Rihan yang sudah hampir tak terlihat.

__ADS_1


"Cepat sekali anak itu," Gumam Brand pelan.


"Semua gara-gara kamu bajingan," Marah Neo lalu mendorong Brand kemudian menuju taxi.


"Huh? Dia yang datang bikin rusuh, kenapa jadi aku yang kena imbas?" Brand menggeleng tidak habis pikir.


Rihan di atas motornya hanya menatap Neo melalui spion ketika dia belum terlalu jauh. Rihan hanya ingin memberikan waktu untuk kedua pria itu jadi dia melakukan ini.


...


Sampai di mansion dan memarkir motornya, Rihan masuk ke dalam kemudian duduk santai di sofa ruang tamu.


"Anda sudah pulang, Tuan? Cepat sekali." Suara Alen ketika masuk ke ruang tamu dan mendapati Rihan di sana.


"Hmm. Ada sedikit kekacauan di cafe."


"Saya mengerti, Tuan. Anda ingin minum apa, akan saya siapkan." Tawar Alen.


"Apa saja."


"Baik Tuan, saya permisi."


"Hmm."


***


"Kamu pikir aku percaya begitu saja padamu setelah mendengar bukan kamu yang membuat Ira seperti itu? Sama sekali tidak!" Neo membuka suara setelah Brand selesai bercerita tentang kejadian sebenarnya. Brand belum menceritakan tentang Elle karena buktinya belum semuanya terkumpul.


"Percaya atau tidak, itu terserah kak Neo. Kak Neo hanya perlu mencari kebenaran cerita itu bukannya marah-marah tidak jelas." Ucap Rihan setelah meminum segelas jus buatan Alen.


Sekitar satu jam lalu, Neo, Logan dan Brand datang di mansionnya masih dengan adu mulut antara Neo dan Brand. Rihan hanya menatap mereka datar hingga lima menit kemudian, Rihan berdiri dan satu pukulan mendarat di wajah masing-masing dan mengancam akan mengusir mereka jika mereka tidak segera diam. Karena ancaman itu, keduanya akhirnya diam dan Rihan meminta Brand untuk bercerita.


"Kamu selalu saja membelanya. Kamu bahkan memukulku," Cicit Neo pelan sambil mengusap pipinya bekas pukulan Rihan tadi.


"Karena dia temanku. Aku juga memukulnya sama sepertimu. Jangan merengek seperti anak kecil,"


"Temanmu? Lalu aku kamu anggap apa?" Tanya Neo menatap intens Rihan.


"Pria aneh yang selalu seenaknya," Balas rihan datar lalu berdiri dan menuju kamarnya.


"Jangan tertawa!" Kesal Neo pada Logan yang sedang menahan tawanya.


"Aku setuju dengan Rei. Kamu memang bos aneh yang selalu seenaknya, Neo." Logan menyahut dengan semangat.


...


"Ada apa?" Tanya Rihan pada Alex yang baru masuk ke kamarnya.


"Tuan Neo sangat ingin datang ke kamar anda, Nona. Saya sudah menahannya hampir setengah jam di bawah."


"Biarkan saja. Lama-lama dia akan berhenti sendiri,"


"Baik, Nona."


"Di mana Brand?"


"Brand juga masih di ruang tamu, Nona. Dia ingin menginap."


"Mereka pikir ini panti asuhan?"


"Apakah saya harus mengusir mereka, Nona?"


"Biarkan saja."


"Baik, Nona. Anda tidak ingin makan siang? Sudah lewat waktunya,"


"Aku tidak ingin sakit kepala melihat Neo dan Brand."


"Saya mengerti, Nona. Saya akan mengantar makanan anda ke sini."


"Hmm."

__ADS_1


Setelah itu, Alex pamit keluar mengambil makan siang Rihan. 10 menit kemudian panggilan masuk di telepon Rihan dari Neo.


"Izinkan aku ke kamarmu, ya."


__ADS_2