
"Apa yang ingin kak Neo lakukan?" Rihan bertanya sambil menatap lekat manik mata amber milik Neo.
"Temani aku minum, Rei."
"Kamu tahu, ini akan merusak tubuhmu, Kak." Rihan menatap botol di tangannya.
"Aku janji hanya untuk hari ini. Eum?" Neo memohon pada Rihan.
"Baik. Hanya untuk hari ini," Rihan lalu menuangkan isi botol itu ke dalam gelas.
"Kamu tidak minum?" Tawar Neo.
"Aku masih menyayangi tubuhku," Jawab Rihan lalu meneguk botol mineral miliknya tadi.
"Sebotol lagi, Rei." Pintah Neo ketika botol minuman beralkohol itu sudah kosong.
Rihan awalnya ingin menolak, tapi dia tidak tegah melihat wajah menyedihkan di depannya ini. Menghela nafasnya sebentar, Rihan berdiri dan mengambil 3 botol yang sama sekaligus.
"Terima kasih," Neo lalu membuka satu botol dan meminumnya langsung.
Tanpa terasa, Neo sudah menghabiskan 4 botol minuman beralkohol sejenis vodka itu. Dengan kadar alkohol yang cukup tinggi, Neo terlihat mulai mabuk. Rihan yang sedari tadi menemani Neo minum, hanya melipat tangan di dada dan menatap datar Neo.
"Sudah, 'kan, ayo istirahat!" Rihan menatap Neo yang saat ini membenamkan kepalanya ke bawah dengan beralaskan lipatan tangannya di atas meja.
"Sebotol lagi, Rei." Gumam Neo pelan masih dalam posisi yang sama.
"Sudah cukup, Kak. Kamu sudah mabuk. Besok kak Neo masih ada pekerjaan," Rihan berdiri dan menghampiri Neo.
"Ayo! Aku antar ke kamar," Rihan kini sudah berdiri di samping Neo.
"Kak..." Panggil Rihan karena Neo tidak lagi bersuara.
Merasa aneh, Rihan berniat menyentuh bahu Neo untuk membangunkannya. Akan tetapi tangan Rihan terhenti karena bahu Neo bergerak naik turun. Disusul tangisan tertahan dari Neo.
"Saat ini kak Neo bersedih. Tapi aku janji, semua akan baik-baik saja. Bibi Dara aman bersamaku. Untuk Tata, kita akan mencarinya bersama-sama." Monolog Rihan dalam hati sambil menatap Neo yang masih menangis.
Rihan hanya berdiri di samping Neo tanpa berniat menganggu pria itu. Biarkan dia melepaskan semua yang dia rasakan. Rihan terus menatap Neo hingga menyadari ternyata Neo sudah berhenti menangis, Rihan lalu mengguncang pelan bahu Neo.
"Kak, ayo aku antar ke kamar."
Hening.
"Kak?"
"Apa dia tidur?" Batin Rihan lalu menunduk hanya untuk melihat wajah Neo yang ternyata memejamkan matanya.
"Bagaimana cara aku membawa tubuh bongsor ini ke kamar?" Ujar Rihan dalam hati.
"Kak Logan dan Alex pasti sudah tidur. Mereka juga pasti lelah jika aku bangunkan sekarang," Sambung Rihan dalam hati ketika melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul 00.05. Ternyata menemani Neo memakan banyak waktu.
"Kak... kak Neo... bangun. Ayo tidur di kamar," Panggil Rihan.
"Kak..." Sekali lagi Rihan memanggil dan ternyata direspon oleh Neo.
"Hmm."
"Ayo..." Rihan berusaha memapah Neo ke kamar.
Sampai di kamar, Rihan membantu Neo berbaring. Setelah itu, Rihan kemudian menyelimuti Neo. Tidak lupa juga, dia membersihkan wajah Neo dengan tisu dari bekas air matanya tadi.
"Selamat tidur, Kak. Aku akan kembali ke kamar." Rihan berniat berbalik ke kamarnya.
__ADS_1
"Temani aku tidur, Rei." Gumam Neo membuat Rihan menghentikan niatnya.
"Apa aku salah dengar?" Gumam Rihan dalam hati dan mengerutkan kening. Dia pikir Neo sudah tertidur.
"Kamu mengatakan sesuatu, Kak?" Rihan mendekat pada Neo. Telinganya diarahkan ke bagian bibir Neo.
"Temani aku tidur,"
Deg
Deg
Deg
Jantung Rihan tiba-tiba berdebar. Bagaimana bisa dia diminta tidur bersama. Waktu itu karena dia dalam keadaan sakit jadi tidak sadar. Tapi kali ini, apalagi dia seorang perempuan, bagaimana bisa tidur bersama seorang pria yang bukan saudaranya?
"Aku akan duduk di sini menemani kak Neo tidur," Rihan berusaha mencari cara lain dengan duduk di tepi ranjang tepat di samping Neo.
"Tidurlah di sampingku," Gumam Neo lalu membuka matanya yang sedikit memerah karena efek alkohol yang dia minum.
"Aku tidak bisa tidur nyenyak jika ada orang lain di sampingku," Alibi Rihan datar. Tentu saja dia tidak ingin tidur bersama pria ini.
"Waktu itu kamu begitu nyenyak di sampingku,"Gumam Neo dan tersenyum tipis.
"Sepertinya dia tidak mabuk. Apa kak Neo mengerjaiku?" Rihan menatap menyelidik pada Neo.
"Itu karena aku tidak sadar." Balas Rihan datar.
"Kamu seorang pria kenapa begitu malu tidur bersamaku? Jika kamu seorang gadis maka bisa dimengerti. Tapi ini..." Neo menatap wajah Rihan.
"Aku memang seorang gadis. ck..." Rihan mendengus dalam hati kesal.
"Jangan-jangan kamu menyukaiku jadi malu tidur di sampingku?" Sambung Neo membuat Rihan menatapnya malas.
"Kau..." Rihan kaget. Dia menatap wajah Neo yang hanya beberapa senti dengannya.
Sret!
Sekali gerakan, Rihan sudah berbaring di samping Neo. Neo juga mengambil posisi menyamping sehingga hembusan nafas keduanya menerpa wajah masing-masing.
Deg
Deg
Deg
Lagi-lagi jantung Rihan berdebar. Rihan menarik tangan kanannya yang dipegang Neo. Rihan kemudian bangun dan berniat turun.
Sret!
Lagi-lagi Neo menarik tangan Rihan hingga gadis itu kembali berbaring.
"Kita sama-sama pria, kenapa kamu tidak mau tidur bersamaku? Jika menolak lagi, tandanya kamu menyukaiku." Perkataan Neo berhasil membuat niat Rihan terhenti.
"Kamu tahu Rei, selama ini aku tidak bisa tidur karena mencari Ira. Dan untuk pertama kalinya aku tidur nyenyak itu karena tidur bersamamu. Jadi, jangan menolak untuk tidur bersamaku, hum?" Neo memasang wajah menyedihkan berharap Rihan luluh.
"Kamu tidak ingin dicap menjadi seorang gay karena tidur dengan seorang pria?" Tanya Rihan pelan.
"Aku tidak peduli dengan apa kata orang. Asalkan aku nyaman itu bukan masalah. Lagipula kita sekarang di kamar. Siapa yang akan melihatnya? Mulai sekarang tidur bersamaku. Anggap itu biaya sewa tinggal di sini." Neo lalu memejamkan matanya.
"Lebih baik aku menginap saja di hotel," Gumam Rihan kesal dan berbalik membelakangi Neo.
__ADS_1
"Aku pikir kamu berniat menginap di hotel." Gumam Neo yang merasakan pergerakan Rihan membelakanginya.
"Aku tidak ingin dikira menyukaimu," Balas Rihan.
"Aku pikir kamu lupa dengan perkataanku tadi," Neo tersenyum senang dengan mata yang masih terpejam.
"Tunggu... kamu tidak mabuk, Kak?" Tanya Rihan baru menyadarinya. Awalnya Neo terlihat seperti orang yang mabuk.
"4 botol bukan apa-apa untukku." Gumam Neo pelan.
"Kamu mengerjaiku, Kak?" Kesal Rihan lalu berbalik menatap Neo.
"Kamu pintar untuk hal-hal yang besar tetapi hal sekecil ini, kamu sangat polos ternyata..." Neo sudah membuka matanya dan manik mata amber miliknya dan manik mata coklat milik Rihan bertemu.
"Ck... karena mak Neo tidak apa-apa, maka aku akan kembali ke kamarku."
"Sudah aku katakan, untuk tidur bersamaku mulai sekarang!"
"Besok aku akan pulang," Canda Rihan ingin mengerjai Neo.
Mendengar penuturan Rihan, ekspresi Neo tiba-tiba berubah menjadi datar. Pria itu tanpa kata berbalik membelakangi Rihan.
"Kembali saja ke kamarmu kalau begitu," Suara Neo terdengar dingin. Rihan tanpa sadar tersenyum sangat tipis.
"Kelakuannya seperti anak kecil," Batin Rihan menatap punggung Neo.
"Kak..." Panggil Rihan pelan dengan telunjuknya menekan-nekan punggung Neo.
Hening.
"Kamu marah, Kak?"
Hening.
"Kak Neo mengatakan bahwa aku polos. Sedangkan kak Neo seperti anak kecil yang sedang merajuk." Rihan masih menekan punggung Neo.
Tetap saja Neo tidak meresponnya. Rihan hanya bisa menggeleng kepalanya menatap punggung Neo.
"Aku hanya bercanda, Kak. Jangan dimasukan ke hati," Rihan mulai membujuk Neo.
"Bercandamu tidak lucu," Neo masih membelakangi Rihan.
"Baik. Aku minta maaf. Sebaiknya kak Neo tidur. Besok kita harus mencari Tata." Rihan mulai memejamkan matanya.
"Padahal aku masih ingin merajuk." Gumam Neo pelan. Neo berbalik dan menatap wajah tenang Rihan.
"Kamu bukan anak kecil lagi, Kak." Balas Rihan yang ternyata mendengar gumaman Neo.
"Hmm. Selamat tidur,"
Keduanya lalu terlelap. Rihan yang awalnya berpura-pura tidur, ternyata tertidur juga.
...
Pagi hari, Rihan lebih dulu membuka matanya. Menatap ke arah perutnya, Rihan menghela nafasnya. Belum lagi terdengar dengkuran halus disertai hembusan nafas hangat di area leher Rihan. Membuat jantungnya kembali berdebar.
"Apa sakitku kambuh?" Tanya Rihan dalam hati merasakan debaran jantungnya yang tidak normal.
Mengabaikan jantungnya, Rihan dengan pelan ingin melepaskan tangan Neo yang memeluk erat perutnya. Sayangnya tangan kekar itu tidak mau terlepas.
"Kak..." Panggil Rihan pelan.
__ADS_1
Neo di belakang Rihan hanya tersenyum tipis. Pria itu sebenarnya lebih dulu bangun. Entah kenapa dia tidak melepas pelukannya pada Rihan. Padahal waktu bangun, dia kaget karena memeluk Rihan saat tidur. Akan tetapi, tangannya enggan untuk berpindah dari sana.