
Pagi hari pukul 7 kurang 15 menit, ibu Neo akhirnya sadar. Begitu juga dengan ayahnya. Ayah Neo dan Phiranita sebenarnya sudah sadar dari kemarin. Akan tetapi mereka tidak ingin kondisinya semakin buruk jika mengetahui keadaan sang istri.
Oleh karena itu, dokter yang menanganinya sengaja memberikan tambahan obat penenang. Karena istrinya sudah sadar, mereka juga akhirnya membangunkan pemilik rumah sakit itu.
"Bagaimana keadaan orang tua kami, Dok?" Tanya Neo ketika dokter itu sudah selesai memeriksa ayah dan ibunya.
"Tuan besar baik-baik saja. Mungkin besok atau lusa, sudah bisa dilakukan terapi untuk kaki beliau. Sedangkan untuk nyonya, kondisi tubuhnya sudah membaik. Berkat operasi kemarin, beliau sudah dinyatakan melewati masa kritis. Hanya memerlukan pemulihan luka-luka luar saja."
"Baik, Dok. Terima kasih."
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu kami permisi,"
"Ya."
Setelah kepergian itu dokter bersama para suster, Neo segera menghampiri ibunya. Phiranita sendiri menghampiri sang ayah. Rihan dan Logan hanya melihat mereka.
"Apa yang mami rasakan?" Tanya Neo sambil menggenggam tangan maminya. Dia senang melihat mami sudah sembuh.
"Tidak terlalu buruk. Di mana adikmu?" Tanya mami Neo lemah.
"Ira di sini, Mi." Phiranita menghampiri maminya dengan senyum terbaiknya.
"Anak mami, sudah sebesar ini. Maaf karena menitipkanmu bersama paman dan bibimu," Ucap sang mami membelai lembut kepala Phiranita yang ada di atas dadanya.
"Iya, Mi. Ira kangen mami dan papi."
"Kami juga, Sayang."
"Bagaimana keadaan papi?" Tanya sang mami menatap sang suami yang hanya berjarak setengah meter dengannya.
"Papi baik, Mi. Syukurlah mami baik-baik saja. Papi khawatir."
"Boleh aku tahu kejadian yang sebenarnya, Pi?"
"Papi juga tidak terlalu ingat. Yang hanya papi ingat, papi dan mami baru keluar gerbang bersama sopir. Mungkin sekitar 1 km jauhnya dari mansion, sopir memberikan minuman pada kami. Katanya perjalanan kita akan memakan banyak waktu jadi papi dan mami harus tidur dulu."
"Memangnya papi dan mami mau ke mana?" Neo bertanya dengan heran.
"Bukannya kamu yang mengundang papi dan mami untuk menghadiri makan siang nanti di restoran xx?"
"Undang? Restoran xx? Sejak kapan aku meminta papi dan mami untuk makan siang sampai sejauh itu? Belum lagi kita tidak pernah makan di luar. Papi juga tahu, aku biasanya akan menelpon papi atau mami secara langsung meski itu tidak penting."
"Papi melupakan hal itu."
"Tidak perlu dipikirkan. Biar itu menjadi urusan Neo dan Logan. Oh iya, Pi, Mi... perkenalkan ini teman Neo. Dia yang sudah menyelamatkan Ira sekaligus memberikan terapi hingga aku menemukan adikku dan membawanya bersamaku. Dia juga yang sudah mendonorkan darahnya pada mami. Papi mungkin sudah mengenalnya," Neo menatap Rihan yang berdiri dua meter dari brankar.
"Dia sahabatku jika kak Neo lupa. Aku yang mengenalnya lebih dulu." Phiranita tidak ingin kalah dari Neo.
"Iya, kakak tahu."
"Saya Rei paman, bibi..." Rihan mendekat ke arah dua paru baya itu memperkenalkan dirinya.
"Terima kasih sudah menjaga Ira selama ini. Terima kasih juga sudah mendonorkan darahmu untuk bibi. Jika bibi sembuh, mampir ke rumah, ya. Kita makan bersama."
"Iya, Bi. Jika saya ada waktu,"
"Kamu Tuan Muda Rehhand. Kamu anak muda yang sudah menolong saya waktu itu di galery. Saya berhutang banyak padamu, Nak." Ucap Papi Neo yang ternyata adalah Tuan Evanino Walton. Seorang pelukis yang pernah Rihan selamatkan waktu di New York.
Sejak melihat wajah Papi Neo yang terbaring, Rihan langsung mengenalnya. Ternyata dia adalah ayah Neo.
"Jadi dia anak muda yang papi ceritakan waktu itu?" Tanya Mami Neo lalu tersenyum.
"Iya, Mi. Jika bukan karena Rei, papi mungkin sudah terluka. Terima kasih banyak, Nak."
Untuk Neo sendiri, dia sudah mengetahui hal ini karena berita waktu itu. Publik tidak mengenal nama asli sang papi. Mereka hanya mengenal nama Tuan Walton sebagai seorang pelukis terkenal.
"Sama-sama, Paman."
Setelah sedikit bertukar cerita antara Rihan dan kedua orang tua Neo, hingga hampir 2 jam. Jika saja telepon Rihan tidak berbunyi, pembicaraan mereka akan tetap berlanjut hingga waktu minum obat dan istirahat pasien.
__ADS_1
"Saya akan menjawab telepon sebentar paman, bibi..." Izin Rihan setelah melihat nama Alex di layar ponselnya.
"Silahkan, Nak."
Setelah kepergian Rihan untuk menjawab telepon, Papi Neo segera menatap anak pertamanya itu.
"Papi ingin segera sembuh dan bertemu dengan orang tua anak muda itu."
"Untuk apa, Pi?" Tanya Neo dengan alis terangkat sebelah.
"Papi berencana menjodohkan Ira dengan Rei. Bagaimana menurutmu?" Jawab Papi Neo dan tersenyum senang akan rencananya.
"Apa? Aku tidak setuju!" Refleks Neo dengan suara terdengar sedikit meninggi.
"Ada apa denganmu, Nak? Menurut mami, Rei cocok dengan Ira. Iya 'kan, Sayang?" Tanya sang mami menatap Phiranita.
"Aku terserah Ehan, Mi. Aku tidak ingin Ehan terpaksa menerima perjodohan ini. Dan akhirnya berujung sakit kayak di film-film," Tutur Phiranita.
"Anak mami sudah besar ternyata," Balas sang mami dan tersenyum tipis.
"Papi ingin mendengar alasan kamu tidak setuju dengan perjodohan ini, Neo." Tanya sang papi menatap penuh intimidasi pada Neo.
"Eum... Menurutku, Ira dan Rei belum saling mengenal cukup lama. Jadi..." Perkataan Neo terpotong oleh sang papi.
"Itu bukan masalah besar. Mereka bisa bertunangan terlebih dahulu untuk saling mengenal."
"Tapi..."
"Tingkahmu sudah seperti orang yang cemburu. Kamu aneh, Neo." Sang mami menggeleng kepala sambil tersenyum. Neo hanya menggaruk kepala heran sendiri dengan perkataan refleksnya tadi.
"Sudahlah. Kita akan bicarakan ini nanti jika papi dan mami sudah sembuh."
***
"Jadi, keberangkatan anda ditunda besok?" Tanya Alex yang saat ini sedang bersama Rihan di sebuah restaurant depan rumah sakit. Alex tadi menelpon Rihan untuk memberitahu bahwa dia sudah sampai di lobby rumah sakit.
"Saya mengerti, Tuan. Siapa yang menyediakan pakaian untuk anda, Tuan? Maaf karena kami tidak ikut bersama anda."
"Kenapa minta maaf? Justru aku yang tidak ingin kalian ikut. Untuk pakaianku, kak Logan yang membelinya. Aku juga bisa mengganti sendiri pakaianku."
"Baik Tuan, syukurlah. Saya hanya khawatir dengan penyamaran anda."
"Hmm. Semua baik-baik saja."
Setelah pembicaraannya dengan Alex, keduanya lalu kembali ke rumah sakit. Alex yang melihat Papi Neo yang dikenal sebagai Tuan Walton kaget. Tidak disangka mereka kembali bertemu. Keduanya hanya berbicara sebentar karena sudah hampir waktunya minum obat dan istirahat.
...
Malam harinya, mereka semua menginap di rumah sakit. Lebih tepatnya ruang khusus yang disediakan untuk keluarga pemilik rumah sakit. Sekitar tiga ruangan dibuat khusus untuk keluarga pemilik rumah sakit.
Neo dan Phiranita satu ruangan dengan kedua orang tua mereka. Sedangkan Rihan, Alex dan Logan di ruangan sebelahnya. Sebelum tidur, terjadilah perdebatan antara Logan dan Alex.
Keduanya berdebat karena hanya ada dua tempat tidur. Logan ingin tidur bersama Rihan, sehingga Alex menolaknya dengan tegas. Bagaimana bisa dia membiarkan sang majikan yang seorang gadis tidur bersama pria itu? Tentu saja Alex tidak setuju.
"Apa salahnya aku satu tempat tidur dengan Rei? Toh kita sama-sama jantan bukan lawan jenis." Suara Logan kesal pada Alex yang saat ini menarik belakang bajunya agar tidak berbaring di sebelah Rihan yang saat ini sedang menatap mereka santai.
"Tidak bisa! Kamu sangat tidak sopan satu tempat tidur dengan majikan saya. Sekarang tidur bersamaku. Jika kamu memaksa, sebaiknya tidur saja di kamar sebelah."
"Aku tidak mau tidur sendiri."
"Tidur denganku atau pindah di kamar sebelah!" Ancam Alex.
"Baiklah. Kali ini aku mengalah. Tidak untuk lain kali,"
Akhirnya mereka tidur dengan tenang. Meski Logan masih dalam kondisi kesal. Hingga tak teras menjelang tengah malam, Rihan terbangun dari tidurnya karena mencium sesuatu.
Merasa familiar dengan bau ini, Rihan segera bangun dan menghampiri tempat tidur Alex dan Logan untuk membangunkan dua pria itu yang tertidur saling berpelukan.
"Lex," Panggil Rihan pelan sambil menyentuh sedikit lengan Alex.
__ADS_1
Alex tanpa penundaan segera bangun. Dia lalu menghempas kasar tangan Logan yang memeluknya. Logan yang tertidur nyenyak akhirnya tersadar.
"KAU..." Marah Logan.
"Ada apa, Tuan?" Tanya Alex mengabaikan Logan.
"Sepertinya ada penyusup."
"Penyusup?" Logan syok mendengarnya. Dia segera turun dari tempat tidur dan hendak berlari keluar. Sayangnya Rihan lebih dulu menahan belakang bajunya.
"Jangan gegabah. Sepertinya mereka menyebar obat bius di ruangan ini. Jangan menghirupnya. Kita harus segera keluar sebelum pingsan di ruangan ini," Saran Rihan membuat Logan sedikit tenang.
"Bagaimana dengan Neo dan Ira di kamar sebelah? Belum lagi ada nyonya dan tuan besar." Khawatir Logan.
"Ayo bersiap. Kita ke sana!" Ketiganya lalu dengan pelan menuju kamar sebelah.
Ketika pintu terbuka, Rihan segera berlari ke arah brankar orang tua Neo. Dengan panik Rihan memasang kembali peralatan medis pada Papi Neo. Setelah itu, Rihan segera menuju Mami Neo yang sedang kejang-kejang.
"Bertahanlah, Bi. Bibi pasti baik-baik saja." Gumam Rihan dan mulai menekan dada mami Neo.
"Panggil dokter, Lex. Bangunkan kak Neo dan Tata, Kak Logan." Teriak Rihan karena Logan saat ini sedang mematung di tempatnya. Pria itu sepertinya syok dengan kejadian ini. Bisa-bisanya dia lalai melakukan tugasnya.
"Kak Logan. Jangan diam saja!" Teriak Rihan sambil terus memberikan CPR pada Mami Neo.
Melihat belum ada reaksi dari Logan, Rihan melirik ke meja di sampingnya. Mengambil sebuah vas bunga di sana, Rihan lalu melemparkan pada Logan dan berhasil mengenai dada pria itu hingga dia tersadar. Untung saja itu hanya vas bunga plastik.
Bugh
"Bangunkan kak Neo dan Tata." Rihan seperti memberi perintah ketika Logan sudah kembali pada kenyataan.
"Baik."
"Ira tidak ada, Rei. Neo juga sepertinya dibius." Panik Logan yang masih mengguncang tubuh Neo.
"Bangunkan terus. Aku sedang berusaha membantu bibi."
"Baik."
"Ayolah, Bi. Bibi pasti bisa! Tata akan sedih melihat bibi begini. Bangunlah!" Ucap Rihan sambil terus memompa dada Mami Neo.
...
"Huft... syukurlah!" Legah Rihan karena nafas Mami Neo sudah kembali. Bertepatan dengan itu, dokter masuk ke dalam ruangan bersama Alex dari belakang.
"Tolong diperiksa!"
"Baik, Tuan."
Melihat para dokter dan suster yang sibuk dengan dua paru baya yang terbaring itu, Rihan segera membantu Logan membangunkan Neo. Dengan sekali semprot menggunakan cairan entah apa itu, Neo segera bangun.
"Kenapa tidak dari tadi? Suaraku hampir saja hilang." Omel Logan kesal.
"Ada apa ini?" Kaget Neo ketika menyadari keramaian di ruangan ini.
"Kamu tidur atau mati, Kak? Kenapa tidak menyadari orang lain masuk ke ruangan ini?" Tanya Rihan datar pada Neo.
"Apa?"
"Tata juga yang tidur di sampingmu dibawa pergi kamu tidak tahu. Aku tidak habis pikir denganmu, Kak!" Rihan menghela nafasnya pelan.
"Apa maksud semua ini?" Neo masih saja bingung.
"Ira diculik, nyonya dan tuan besar hampir dibunuh."
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku. Jangan lupa untuk meninggalkan jejakmu, ya.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
__ADS_1