
Dua minggu berlalu.
Rihan dan Zant berencana akan bulan madu selama beberapa bulan, tetapi di tempat yang berbeda-beda. Mereka hanya akan tinggal selama satu atau dua minggu di satu negara dan akan melanjutkannya di negara lain. Karena urusan mereka di Korea Selatan juga sudah selesai, maka mereka akan pergi ke negara lain. Tujuan mereka selanjutnya adalah Jepang.
Beberapa hari lalu, Alex dan Alen sudah menyelesaikan misi balas dendam mereka. Paman dan bibi mereka sudah menjadi gelandangan setelah tiga hari penuh mereka diberi siksaan fisik maupun mental.
Awalnya, kakak-beradik kembar itu berkunjung ke rumah mantan paman dan bibi mereka yang juga merupakan rumah warisan orang tua mereka. Sebelum mereka sampai di sana, mereka lebih dulu mengutus pihak bank ke sana untuk menyita rumah itu.
Setelah keduanya sampai, mereka hanya mendapati dua paru baya itu yang sedang diusir keluar oleh pihak bank. Mantan paman dan bibi si kembar sedang berada di luar rumah sambil menangis meratapi kehancuran keluarga mereka. Jangan lupakan dua koper besar di samping masing-masing yang berisi pakaian dan mungkin sedikit uang dan beberapa surat penting.
Ketika melihat kemunculan Alex dan Alen, dua paru baya bermarga Han itu bingung karena mereka tidak mengenal si kembar. Akan tetapi, Alex dengan tenang memperkenalkan diri membuat keduanya kaget dan tentu saja marah, setelah tahu bahwa apa yang terjadi pada mereka semuanya karena ulah Alex dan Alen.
Sayangnya, kakak-beradik itu tidak peduli. Justru mereka senang melihat penderitaan yang tidak seberapa ini. Alex kemudian memutuskan membawa kedua paru baya itu untuk diberi pelajaran selama tiga hari tanpa henti, setelah itu mereka dilepaskan tanpa membawa apapun. Koper milik mereka disimpan oleh Alex. Mereka dibiarkan pergi dengan hanya membawa diri sendiri. Tidak ada sepeserpun uang diberikan untuk mereka.
Tujuan Alex hanya satu. Alex ingin dua paru baya itu merasakan bagaimana menjadi pengemis, sama sepertinya dan Alen dulu. Semua akses orang tua Kim Yura, alias Han Yura sudah diblokir oleh Alex agar mereka tidak diberi bantuan oleh siapapun. Alex dan Alen ingin mereka merasakan hidup menderita di jalanan.
Setiap orang yang melihat dan ingin membantu mereka, tidak pernah berhasil. Tentu saja tidak berhasil, karena ada orang yang selalu mengawasi orang tua Kim Yura itu. Mereka yang ingin membantu, tiba-tiba saja menghentikan niat mereka, entah karena apa.
Jadi, dua paru baya itu hanya bisa hidup dengan mengandalkan makanan yang sudah dibuang di tempat sampah ataupun sisa-sisa makanan dari beberapa restaurant. Alex dan Alen tidak ingin kedua paru baya itu merasakan belas kasihan dari orang-orang.
Kakak-beradik itu hanya mengawasi dari jauh keseharian mantan paman dan bibi mereka. Entah sampai kapan kedua paru baya itu dibiarkan luntang-lantung di jalanan. Belum lagi, Kakak-beradik itu akan segera meninggalkan Korea Selatan. Itu berarti, mantan paman dan bibi mereka akan semakin menderita, entah sampai kapan.
Untuk Kim Yura atau Han Yura sendiri, hidupnya tidak kalah menderita. Di penjara, wanita itu dijadikan budak oleh semua narapidana wanita di sana. Selain karena mereka sudah diberi imbalan untuk memperbudak Kim Yura, mereka secara naluri sudah membenci mantan artis sombong itu.
Kim Yura selalu diberi perintah untuk melakukan semua pekerjaan para narapidana di sana. Semua pekerjaan narapidana di sana diserahkan pada Kim Yura, membuat wanita itu sangat menderita. Jika dia menolak melakukan perintah mereka, maka konsekuensinya adalah siksaan fisik maupun mental.
Bukan Hanya itu. Jonathan, si ketua Black Dragon, setiap malam akan selalu memanggil Kim Yura untuk melayani kebutuhan biologisnya dengan kasar. Dulu, sebelum semua ini terjadi, Kim Yura selalu diperlakuan layaknya ratu. Tapi kini, jangankan ratu. Pelayan Jonathan saja, hidupnya masih lebih baik dari pada Kim Yura.
Jonathan yang awalnya cinta, kini berubah menjadi benci. Apalagi Jonathan tipikal orang yang tempramen, sehingga kesalahan yang diperbuat Kim Yura membuatnya selalu ingin menyiksa kekasihnya itu. Entah sebutan apa yang cocok untuk hubungan Jonathan dan Kim Yura sekarang.
Meski di penjara, Jonathan masih ditakuti, sehingga dia masih mendapat tempat yang layak dan sangat dihormati oleh para tahanan di sana. Rihan tidak memblokir kekuasaan Jonathan di penjara, karena membiarkan pria itu menyiksa Kim Yura.
Berbeda dengan Kim Yura, kehidupannya berubah drastis. Dia selalu berharap, orang tuanya akan datang menjemputnya pulang, dengan membayar tebusan.
Kim Yura sampai sekarang belum tahu kondisi kedua orang tuanya yang lebih parah darinya. Kim Yura masih bisa makan, meski sedikit, sedangkan orang tuanya, mereka bahkan menahan lapar dua sampai tiga hari. Sungguh miris!
Kembali pada Alex dan Alen, keduanya sudah mengambil kembali warisan yang ditinggalkan kedua orang tua mereka. Mulai dari rumah, hotel, restaurant, dan beberapa bisnis kecil sudah berubah atas nama keduanya. Keduanya membagi dengan rata semua warisan itu.
Karena mereka tidak akan tinggal di Korea Selatan, maka semua bisnis mereka untuk sementara diurus oleh orang kepercayaan orang tua mereka sejak dulu.
***
"Aku lihat, kak Alex dan Alen sangat sibuk selama beberapa hari ini! Apa semua sudah selesai?" Rihan bertanya di saat mereka sedang bersantai di halaman belakang Villa.
Ada hutan lebat dengan sungai yang cukup luas di sana. Dengan halaman yang ditumbuhi rumput yang dirawat dengan baik, sehingga mereka hanya perlu menggelar tikar, menata meja kursi, dan perlengkapan lain untuk bersantai di sana.
Ada Rihan, Zant, Avhin, Alex dan Alen di sana. Mereka berlima sedang bersantai sambil barbeque. Ketiga jomblo itu hanya bisa menatap datar pasangan romantis yang tidak kenal tempat itu. Avhin sudah datang sejak seminggu yang lalu. Jadi, mereka berlima tinggal di Villa besar itu.
Ketiga jomblo itu sudah biasa dengan pemandangan romantis Rihan dan Zant selama seminggu ini. Memang sedikit iri, tetapi lebih kepada senang karena kesayangan mereka sudah bahagia.
"Sudah, Nona. Semua juga sudah kembali seperti semula. Terima kasih, Nona." Alex menjawab dengan senyum tipis sambil tangannya sibuk membalik potongan daging yang sedang dipanggang.
"Baguslah. Jadi kita bisa berangkat besok."
"Siap, Nona."
"Kak Avhin, Alex dan Alen, kalian pulang saja dulu. Aku dan Rihan akan melanjutkan bulan madu kami selama beberapa bulan lagi. Setelah itu baru kami pulang." Zant berbicara setelah menyuap sepotong daging yang sudah dia iris kecil ke dalam mulut istrinya.
"Huh? Kita tidak pulang bersama? Baiklah. Terserah kalian. Tidak ada yang bisa melarang kalian berdua." Avhin menghela nafas setelah berbicara.
"Tidak bisakah kami ikut, Nona?" Tanya Alen pelan. Alen sedikit tidak rela membiarkan majikannya pergi tanpanya dan saudara kembarnya. Dia tidak ingin kejadian dua tahun lalu terulang lagi.
__ADS_1
"Aku tahu kekhawatiranmu, Kak. Tapi percayalah. Semua akan baik-baik saja. Sudah ada pria posesif ini yang akan menjagaku." Rihan jelas tahu seperti apa rasa khawatir Alex dan Alen.
"Ya. Istriku aman bersamaku. Tidak akan kubiarkan satu orangpun menyakitinya. Aku juga tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai dia terluka dalam pengawasanku. Jadi, kalian tenang saja. Lagipula, istriku ini bukan orang biasa. Dia adalah wanita hebat yang tidak bisa ditaklukkan begitu saja." Zant berbicara dengan tegas kemudian semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Rihan.
"Baiklah. Aku percaya kamu bisa menjaganya dengan baik. Kami semua menaruh harapan besar padamu untuk menjaganya. Dan juga, kami ingin setelah kalian kembali, ada kabar baik yang kami dengar." Zant tentu sangat senang mendengar kalimat terakhir Alex. Suami posesif Rihan itu akan terus mengisi dayanya sampai istrinya benar-benar terisi.
"Kalau begitu, jam berapa kalian berangkat?" Tanya Avhin yang sejak tadi menyimak.
"Jam 10 pagi, Kak."
"Berarti kita sama-sama keluar dari Villa besok. Kita akan berpisah di bandara." Rihan dan Zant hanya mengangguk setuju.
Setelah itu, tidak ada lagi perbincangan. Semua orang melakukan aktivitasnya. Alex yang memanggang daging, Avhin dan Alen menyiapkan daging mentah, beserta beberapa buah dan minuman, sedangkan pasangan suami istri itu, hanya menikmati semua yang dihidangkan. Enak sekali mereka berdua!
Drrrrt
Drrrrt
Drrrrt
Ponsel Rihan bergetar tanda panggilan masuk. Zant seketika mendengus tidak senang setelah membaca nama kontak si penelpon.
"Diangkat atau ditolak?" Tanya Rihan meminta izin.
"Angkatlah. Aku ingin tahu, apa yang dia inginkan dengan menelpon istri orang malam-malam begini." Rihan hanya tersenyum tipis kemudian menjawab panggilan itu. Mode speaker segera diaktifkan.
"Hai..."
"Hm."
"Bagaimana kabarmu?"
"Maafkan aku! Aku hanya rindu padanya." To the point si penelpon membuat Zant kesal.
"Ck... kamu sudah gila? Beraninya mengatakan rindu pada istriku di depanku? Cari mati!" Kesal Zant membuat ketiga jomblo di sana menahan tawa.
"Aku baik, Kak. Ada perlu apa menelponku?"
"Seperti yang aku katakan tadi, aku hanya merindukanmu. Maaf, karena sudah mengganggu waktu kalian." Zant hanya bisa mendengus mendengar suara dibalik telepon itu.
"Hm."
"Kamu sedang apa?"
"Ck... berhenti mengatakan hal-hal yang tidak penting. Aku akan menutup teleponnya. Kamu sangat mengganggu kami."
"Tenang, Kak." Rihan terkekeh melihat wajah kesal Zant.
"Kami sedang bersantai di halaman belakang Villa."
"Oh. Sampai kapan kalian bulan madu?"
"Sampai beberapa bulan ke depan."
"Wah. Lama sekali. Aku minta oleh-oleh kalau begitu."
"Jangan harap!" Zant kembali menyahut tidak suka.
Lagi-lagi Rihan terkekeh. Rihan juga tidak ingin mengakhiri panggilan ini, karena dia sangat senang melihat wajah kesal suami posesifnya ini.
"Kak Neo ingin oleh-oleh apa?"
__ADS_1
Meski masih ada sedikit rasa kecewa pada Neo, tetapi Rihan berusaha memaafkan pria itu. Lagipula, pria itu sudah cukup menderita selama 2 tahun ini. Jadi, Rihan merasa sudah cukup pria itu menderita. Walaupun mereka tidak akan sama seperti dulu lagi, setidaknya sakit pria itu sedikit berkurang.
Akhir-akhir ini Neo sedang menjalani terapi untuk kesembuhannya, meski tingkat kesembuhannya lebih kecil, dibandingkan jika Rihan berada di sisinya. Akan tetapi, Neo sedikit membaik karena Rihan yang sudah memaafkannya.
Pria itu sudah mulai menata dirinya seperti dulu, juga kembali mengurus perusahaan. Dia akan mewujudkan keinginan orang yang dia cintai, yaitu memperlihatkan padanya bahwa dia bahagia, meski sebenarnya dia tidak terlalu bahagia.
"Kamu pasti tahu apa yang aku inginkan."
"Apa?"
"Anak baptis untukku."
"Aku belum setuju dengan permintaanmu. Jangan mengharapkan lebih." Suara Zant begitu sarkas.
"Aku tahu, kamu bukan orang seperti itu. Apapun yang terjadi, aku tetap ingin punya anak baptis dari kalian." Suara Neo terdengar percaya diri.
"Mimpi saja!" Zant membalas dengan cepat.
"Semua tergantung dari suamiku, Kak. Jika dia memberi izin, aku tidak masalah. Jika tidak, aku harap kak Neo tidak kecewa." Rihan tetap tenang memberikan jawabannya.
"Aku mengerti. Aku akan tutup teleponnya. Terima kasih sudah meluangkan waktumu untukku. Aku hanya ingin kamu tahu! Aku merindukanmu dan aku mencintaimu."
Tut
Neo segera memutuskan sambungan telepon karena tidak ingin mendengar amukan suami posesif orang yang dia cintai.
"Aku ingin memukul orang sekarang." Zant membuka suara dengan kesal. Zant tidak habis pikir, bagaimana bisa ada orang yang tanpa tahu malu menyatakan perasaannya di depan suami orang yang dia cintai?
CUP
Rihan dengan santai mengecup bibir suami posesifnya dengan tujuan agar pria itu tenang. Dan benar saja, suami Rihan itu seketika tenang lalu tersenyum tipis sambil memeluknya erat.
Ketiga jomblo akut yang menyaksikan itu hanya bisa geleng kepala karena sifat Zant. Mereka juga merasa lucu karena Zant cepat sekali dibujuk.
.
.
.
Aku ingin pendapat kalian tentang pasangan Alen.
* Alen & Avhin
* Alen & Dokter Galant
* Alen & Brand
* Alen & Orang baru
Aku juga ingin pendapat kalian tentang pasangan Alex.
Komen kalian ditunggu!
HARUS Komen.
Vote pasangan terbanyak akan dipilih.
Kalo nggak ada yang komen, aku pilih sendiri.
Sampai ketemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1