
"Aku akan terus berdiri di sini sampai kamu mengatakannya."
"Dan aku tidak peduli!"
"Rei, please..." Bujuk David dengan wajah memelas, sayangnya Rihan tidak peduli sama sekali. Rihan sibuk membaca buku di depannya. Lebih tepatnya berpura-pura membaca buku.
"Semua yang terjadi padanya adalah salahku. Biarkan aku bertemu dengannya dan meminta maaf. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padanya." David lagi-lagi berusaha membujuk Rihan.
"Apa yang terjadi diantara mereka?" Batin Albert menatap heran pada David yang dia kenal hanya akan berbicara seperlunya saja, dan terlihat seperti tidak memiliki masalah apapun. Akan tetapi sekarang, David terlihat merasa bersalah dan sedang berusaha bertemu dengan seseorang.
"Siapa 'dia' yang David maksud?" Tanya Dian dalam hatinya penasaran.
Rihan hanya diam sambil membolak-balik buku di depannya membiarkan David yang berdiri dengan wajah memelasnya.
"Aku akan melakukan apapun asalkan bisa bertemu dengannya. Bantu aku, Rei." David terus memohon dengan wajah menyedihkan.
BUK
David menjatuhkan dirinya ke depan dengan kedua lutut menopang tubuhnya. Pria itu bertekad akan terus memohon sampai Rihan membantunya bertemu dengan orang yang dia cari selama ini.
"Bisakah kamu membantunya Rei, kamu tidak kasihan melihatnya?" Albert mulai merasa kasihan dengan David, meski dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku memiliki saudara kembar." Balas Rihan datar lalu menatap David yang berlutut di depan mejanya.
"Mak...maksudmu?" Bingung David. Rihan hanya menatapnya datar.
"Kamu berpikir Rei memiliki saudara kembar? Sepertinya kamu tidak pernah membaca berita, Dev. Albert mulai sedikit mengerti dengan apa yang Rihan bicarakan.
David yang mendengarnya mulai memutar otak mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Lebih tepatnya apa yang Rihan katakan.
"Apa kamu memiliki kembaran seorang gadis?"
"Jika ya dan tidak, ada hubungan apa denganmu?"
David akhirnya sadar jika dia sendiri yang berasumsi bahwa Rihan memiliki saudara kembar, padahal Rihan belum menjawab apapun. Setelah mendengar apa yang Albert katakan barusan, David merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya kemudian membuka berita luar negeri yang menayangkan kemunculan Rihan pertama kali sebagai anak kedua pengusaha Prancis beberapa bulan lalu.
Setelah mengetahui Rihan tidak ada hubungan sama sekali dengan pujaan hatinya, David kemudian berdiri dan pergi meninggalkan kelas tanpa mengatakan apapun. Dalam hati dia mengumpat kebodohannya. Bisa-bisanya dia terlihat menyedihkan di hadapan orang yang tidak ada hubungan apapun dengan orang yang dia cari.
"Belum waktunya kamu tahu keberadaanku," Gumam Rihan dalam hati lalu menutup buku yang tidak dia baca sama sekali.
"Eum, Rei..." Panggil Albert canggung.
"Tanyakan sendiri padanya." Balas Rihan datar, seakan tahu apa yang ingin Albert tanyakan.
"Ya, sudah." Albert dengan wajah cemberut kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
Setelah itu, kelas kembali hening. Tidak lama kemudian seorang dosen masuk dan mengajar dengan David yang tidak kembali hingga jam pelajaran berakhir.
***
"Rei tidak memiliki saudara kembar tetapi kenapa wajah mereka begitu mirip? Di berita, mereka hanya ada dua bersaudara. Aku bisa gila astaga..." Gumam David mengacak rambutnya frustasi.
"Sebenarnya siapa yang kamu cari, Dev?" Tanya Albert yang tiba-tiba muncul di belakang David.
David hanya bisa menggeleng kepalanya karena kemunculan sahabatnya ini. Untuk mencari keberadaan David, Albert memang jagonya. Dimanapun David bersembunyi, Albert tetap akan tahu. Maklum saja karena Albert tahu jelas tempat-tempat yang biasa David datangi jika ada yang dipikirkan.
"Kamu pasti tahu,"
"Orang yang kamu cintai?" Tebak Albert dan David mengangguk pelan.
"Biar kutebak! Wajahnya pasti mirip dengan Rei, sehingga kamu menanyakan apa Rei memiliki saudara kembar atau tidak." David hanya mengangguk.
"Setahuku, Rei adalah anak kedua yang disembunyikan dari publik dan baru saja muncul beberapa bulan lalu. Entah alasan apa yang membuatnya tidak diekspos media. Boleh aku tahu siapa nama orang yang kamu cintai?"
"Rihhane Senora."
"Namanya terdengar asing. Dia berasal dari mana?" Tanya Albert yang kini sudah berdiri didekat David yang sedang bersandar pada pembatas rooftop dengan kedua tangan memegang pagar pembatas.
"Aku tidak tahu dimana asalnya. Yang aku tahu dia adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama kakek dan neneknya. Dia mungkin keturunan luar negeri dilihat dari bola matanya yang biru. Dia adalah gadis cantik yang baik hati. Aku mengagumi sikap ramahnya pada siapa saja yang dia temui." David berbicara sambil menatap ke depan sana berusaha mengingat senyum manis Rihan di masa lalu.
"Ariana adalah dalang dibalik semua ini."
"Tunanganmu?" Perkataan Albert membuat David menatapnya datar.
"Maksudku mantan tunanganmu. Memangnya apa yang Ariana lakukan?"
"Karena kecemburuannya pada Rihan, dia berusaha melakukan segala cara untuk menyingkirkan Rihan dariku. Untungnya aku tahu semua itu. Akan tetapi, karena kebodohanku di hari itu... Rihan akhirnya masuk rumah sakit. Saat itulah aku tidak bisa bertemu dengannya lagi." David hanya bisa menghela nafas sedih ketika mengingat kejadian dulu.
"Jika aku di posisi Ariana, aku juga akan melakukan hal yang sama. Tapi tidak sampai membuat orang masuk rumah sakit juga. Ariana itu tunanganmu, wajar jika dia cemburu kamu dekat dengan gadis lain selain dia. Jadi, itu semua bukan hanya kesalahan Ariana tetapi semuanya berawal darimu. Kalau saja kamu tidak dekat dengan Rihan, dia pasti akan baik-baik saja. Kalian bisa berteman baik hingga sekarang, mungkin?" Albert berhenti sejenak kemudian melanjutkan.
"Ariana juga cantik menurutku, hanya sifatnya saja yang sudah dibentuk sedari kecil. Itu seharusnya tugasmu sebagai tunangan untuk mengubahnya."
"Aku tahu aku salah, dan semua itu berawal dariku. Aku memang mencintai Ariana pada awalnya. Akan tetapi dia tiba-tiba berubah entah kenapa. Aku sudah berusaha membuatnya kembali seperti dulu. Sayangnya tidak ada yang berubah, Ariana semakin menjadi-jadi. Di saat aku frustasi memikirkan Ariana, di saat itulah aku melihat dia. Awalnya hanya biasa saja, lama kelamaan aku mengaguminya hingga berusaha lebih dekat dengannya."
"Itu artinya kamu tidak mencintai dia, Dev. Kamu hanya mengagumi. Di saat kamu dalam keadaan frustasi karena sikap Ariana, di saat itulah kemunculan Rihan. Melihat bagaimana sikap Rihan yang berbanding terbalik dengan Ariana, pikiranmu mulai membandingkan keduanya.
Setiap orang pasti ingin yang terbaik untuk masa depan mereka kelak, sehingga kamu juga menginginkan masa depanmu sama seperti Rihan. Kamu harus tahu Dev, jika bertemu dengan seseorang yang memiliki sifat yang baik menurutmu, maka secara tidak sadar kamu akan membandingkannya dengan pasanganmu. Naluri membandingkan itulah yang membuat rasamu pada pasanganmu berubah.
Padahal seharusnya itu tugasmu untuk merubah sikap pasanganmu menjadi seperti dulu. Ariana awalnya baik katamu dan tiba-tiba berubah. Menurutku kamu harus lebih berusah keras lagi untuk itu, bukannya membandingkannya dengan orang lain." Nasihat Albert panjang lebar.
"Aku tahu maksudmu, Al. Tapi aku juga memiliki batas kesabaran. Aku sudah memikirkan apa yang kamu katakan. Aku berusaha untuk tidak membandingkan keduanya, tetapi hasilnya tetap sama. Rasaku padanya telah berubah.
__ADS_1
Aku mencintai Rihan bukan tanpa alasan. Setiap melihatnya, berada didekatnya, jantungku selalu berdebar kencang. Dia akan selalu ada dalam pikiranku. Aku tidak akan bisa tenang sebelum melihatnya baik-baik saja. Apa yang aku rasakan pada Rihan berbeda dengan apa yang aku rasakan pada Ariana. Dan aku yakin, perasaanku pada Ariana telah berubah digantikan dengan perasaan nyaman yang lebih besar pada Rihan."
"Jika kamu yakin dengan perasaanmu maka aku hanya bisa mendukungmu."
"Kamu memang sahabatku, Al."
"Itulah gunanya sahabat. Tapi kamu sudah mendatangi rumah Rihan?" Tanya Albert lalu menatap sekilas wajah David.
"Setelah kejadian Rihan dikeroyok oleh Ariana dan teman-temannya, dia dirawat selama 3 hari di rumah sakit. Aku tidak bisa menjenguknya karena Ariana menjagaku ketat. Setelah aku bisa lolos dari Ariana dan berkunjung ke rumah sakit, Rihan sudah tidak ada di sana. Kata perawat, keluarga Rihan sudah membawanya pulang. Akupun menuju rumahnya. Sayangnya rumahnya kosong. Aku bingung dimana aku harus mencarinya. Kamu tahu betapa susahnya aku mencarinya?
Setiap hari aku selalu berdiri di depan rumahnya, dengan harapan bertemu dengannya. Sayangnya, rumah itu tetap kosong hingga dua minggu kemudian aku melihat kedatangan kakek dan neneknya. Ketika aku ingin menyapa, mereka mengabaikanku.
Melihat kedatangan kakek dan neneknya tanpa kehadirannya, pikiranku tidak tenang, Al. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya. Ingin sekali aku bertanya pada mereka, tapi aku selalu diabaikan. Aku yakin dia baik-baik saja. Tapi aku tidak akan tenang sebelum bertemu dan melihatnya secara langsung."
"Mungkin dia dirawat oleh kedua orang tuanya. Tapi katamu dia yatim piatu. Dari mana kamu tahu dia yatim piatu?"
"Menurut data base sekolah, Rihan anak yatim piatu yang masuk ke sekolah itu dengan jalur beasiswa."
"Jika begitu, dia mungkin dirawat oleh keluarganya yang lain."
"Aku juga berharap begitu, Al."
"Kamu sudah memantau gerak-gerik kakek dan neneknya?" Tanya Albert.
"Ya. Sayangnya mereka tidak keluar kemana-mana. Setelah beberapa bulan tidak membuahkan hasil, aku memutuskan untuk melanjutkan study di luar negeri sekedar menenangkan pikiranku darinya. Tiga tahun kemudian, ibuku menelpon dan memintaku pulang dan bersekolah di sini sekaligus mempercepat pernikahan kami.
Tapi syukurlah, setelah menjelaskan perasaanku, ibuku setuju untuk berpihak padaku. Dan juga karena kehadiran Rei, Ariana tidak lagi peduli padaku dan sibuk menarik perhatian Rei. Yah, kamu tahulah. Akhirnya pertunanganku dan Ariana dibatalkan."
"Jadi begitu. Aku mengerti! Untung saja orang tuaku setuju dengan saranku untuk tidak menjodohkan aku. Mereka membiarkan aku sendiri yang mencari menantu untuk mereka."
"Kamu punya foto Rihan?" Sambung Albert.
"Hanya ini yang aku punya," David lalu memberikan foto Rihan yang berukuran 4×6 yang dia ambil di dompetnya.
"Gila! cantik sekali, Dev. Kalau modelnya seperti ini, aku tidak bisa lari kemana-mana. Wajar saja jika kamu menyukainya pada pandangan pertama. Akupun akan begitu. Hahaha..." Albert berdecak kagum sekaligus tertawa dan David hanya tersenyum tipis.
"Wajahnya benar-benar mirip dengan Rei, hanya model rambut dan warna matanya yang berbeda. Tapi tunggu..."
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1