
Setelah mengantar Brand ke rumah sakit, Rihan kemudian mengemudikan mobil pulang ke mansion. Rihan hanya mengantar sampai di depan RS Setia dan sisanya adalah tugas tim medis. Memang sejak awal Rihan sudah mengirim pesan pada Dokter Lio bahwa ada pasien dalam perjalanan.
Dalam perjalanan pulang, Rihan terus memikirkan perkataan Brand tadi. Rihan yakin pria itu tidak berbohong padanya dilihat dari tatapan mata dan senyum tulus itu.
Tidak ingin memikirkan itu, Rihan kemudian fokus menyetir hingga dia sampai di mansion sudah pukul 9 malam.
Karena sudah lewat jam makan malam, Rihan tidak lagi memiliki nafsu makan. Dia dengan tenang menuju kamarnya bersama Alen yang mengekor di belakang. Alex sendiri sudah menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Alen hampir saja memukul Alex karena melihat noda darah di kemeja Rihan. Untungnya Rihan menyadari kemarahan Alen dan memberitahu yang sebenarnya sehingga gadis itu tenang. Alex juga tidak marah. Dia hanya mengacak rambut adiknya dan tersenyum kemudian menenangkan saudari kembarnya itu dengan memeluknya.
Rihan yang melihat pemandangan itu teringat pada seseorang. Setelah tersadar, dia menggeleng kepalanya dan segera menuju kamarnya.
...
"Kamu pasti mendengar apa yang Brand katakan. Bagaimana menurutmu?" Tanya Rihan pada Alex. Mereka saat ini ada di kamar Rihan dengan duduk di sofa kamarnya.
"Pria itu cukup licik sehingga saya tidak terlalu percaya dengan perkataannya, Nona."
"Hmm. Mulai sekarang terus awasi Brand. Cari tahu lebih lanjut masalah ini,"
"Baik Nona."
"Oh, iya Nona, salah satu supir kita menemukan ini dalam mobil yang anda pakai tadi." Alen meletakkan sesuatu di atas meja depan Rihan.
"Dompet?" Gumam Rihan pelan lalu mengambil dan membukanya tanpa permisi.
Yang Rihan lihat pertama adalah kartu identitas milik Brand. Membuka lagi, ada beberapa black card dan uang tunai di dalamnya. Ketika akan menutup dompet itu, sesuatu terlihat mencurigakan yang terselip di antara kartu identitas Brand.
Karena penasaran, Rihan mengambilnya. Ternyata sebuah foto. Tanpa sadar, Rihan menyeringai membuat kedua asistennya saling pandang tanda penasaran.
"Bagaimana menurut kalian?" Tanya Rihan meletakkan foto berukuran 4×6 itu di atas meja.
"Ini..."
"Melihat foto ini, saya yakin bahwa ucapan Brand itu benar." Ucap Alex.
"Hmm. Ada lagi yang ingin dilaporkan?" Tanya Rihan setelah melirik jam digital di atas nakas.
"Tidak ada lagi, Nona."
"Kalau begitu selamat beristirahat."
"Anda juga, Nona."
"Hmm."
Setelah kepergian Alex dan Alen, Rihan kembali menatap foto itu.
"Benar-benar tidak terduga," Gumam Rihan menggeleng kepalanya.
***
Satu minggu berlalu.
Pagi ini karena tidak ada jadwal kuliah, Rihan hanya duduk di ruang kerjanya sambil membaca beberapa dokumen kerja sama dari perusahaan lain dengan perusahaan cabangnya di sini. Ada juga beberapa laporan pemasukan maupun pengeluaran dari RS Setia.
Rihan memang menerapkan hal yang sama pada RS Setia, dimana setiap minggunya harus ada laporan pemasukan dan pengeluaran rumah sakit, juga kinerja setiap orang. Rihan tidak ingin memperkerjakan orang-orang yang tidak berkompeten, karena masih banyak orang diluar sana yang membutuhkan pekerjaan ini.
Asik membaca dokumen itu, hingga perhatian Rihan teralihkan dengan kedatangan Alex dan Alen yang membawa sebuah gelas berisi entah minuman apa yang akhir-akhir ini selalu Alen siapkan untuknya. Katanya racikan baru untuk kesehatan Rihan. Bukan hanya minuman, ada juga camilan yang Alen bawa.
"Silahkan, Nona."
"Terima kasih, Len. Di mana Max?" Tanya Rihan melirik sekilas Alen yang meletakkan minuman dan camilan itu di sampingnya.
"Max ada kelas pagi sehingga dia sudah berangkat, Nona."
"Hmm."
__ADS_1
"Besok ada pertemuan untuk pembangunan resort, Nona. Mungkin Tuan Neo akan datang hari ini atau besok." Laporan Alex membuat Rihan menghentikan bacaannya kemudian melepas kaca matanya dan menatap Alex. Rihan hampir melupakan kedatangan Neo.
"Siapkan kamar untuknya dan Logan di lantai satu."
"Baik, Nona."
"Bagaimana dengan Beatrix?"
"Kemarin ada beberapa orang berniat masuk ke apartemen Beatrix tetapi dia bisa menghadapi mereka, juga bantuan dari dua pengawal bayangan yang berjaga di sana. Setelah mereka diperiksa, ternyata suruhan rubah itu, Nona." Jawab Alex.
"Rubah itu benar-benar,"
"Apa saya harus memberinya sedikit peringatan padanya?" Tanya Alex.
"Boleh juga. Aku tunggu kabar baiknya."
"Siap, Nona."
Setelah itu, tidak ada lagi yang berbicara hingga ponsel Rihan bergetar. Rihan menatap layar ponselnya tanpa berniat menjawab karena tertera nomor tanpa nama di sana. Rihan mengabaikannya. Akan tetapi, karena itu terus bergetar, dia akhirnya menjawabnya.
"Akhirnya kamu mengangkatnya juga,"
Dari suara, Rihan mengenalnya. Ternyata itu suara Brand.
"Ada apa?"
"Sepertinya aku meninggalkan sesuatu di mobilmu,"
Mendengarnya, Rihan teringat dengan dompet milik Brand waktu itu.
"Sesuatu?"
"Ya."
"Apa?"
"Dompet. Aku yakin jatuh di sana saat kamu mengatur kursi menjadi berbaring."
"Aku hanya membutuhkan sesuatu di dalamnya."
"Apa foto itu penting bagimu?" Tebak Rihan tepat sasaran.
"Kamu... Kamu sudah melihatnya?"
"Bisa dibilang begitu. Aku akan mengembalikannya jika kamu memberitahuku siapa yang ada dalam foto itu,"
Terdengar helaan nafas panjang di seberang sana sebelum Brand kembali berbicara.
"Baik. Sebaiknya kita bertemu di cafe xx. Aku tidak ingin berbicara lewat telepon."
"Hmm. Pukul 10 di sana."
"Oke."
Panggilan berakhir.
"Anda ingin ke sana, Nona?" Tanya Alen menatap Rihan yang baru saja meletakkan ponsel di atas meja.
"Ya. Aku penasaran hubungan mereka. Bantu aku bersiap, Len"
"Baik, Nona."
"Saya akan menyiapkan kendaraan anda." Ucap Alex.
"Siapkan saja motorku."
"Baik, Nona."
__ADS_1
...
Sesuai waktu yang dijanjikan, Rihan kini memarkir motor sportnya di depan cafe yang dimaksud. Menatap jam tangan pemberian Neo yang sudah dimodifikasi beberapa hari lalu, ternyata sudah pukul 09.55.
Rihan dengan tenang masuk ke dalam kafe dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Brand, hingga seorang pria mengangkat tangan membuat Rihan menatapnya. Ternyata Brand. Rihan lalu menghampiri pria itu dan duduk di depannya.
"Beritahu hubungan mereka dalam foto itu," Ucap Rihan setelah meletakkan foto itu di atas meja.
"Tidak bisakah kita minum dulu?"
"Aku tidak punya banyak waktu,"
"Aku hanya ingin berterima kasih padamu karena sudah menolongku."
"Cukup ceritakan mereka yang ada dalam foto itu."
"Baik. Seperti yang terlihat, dalam foto ini ada tiga orang. Salah satunya aku. Di tengah, namanya Elleanor Choi Thelessya. Dan yang terakhir, kamu sudah mengenalnya. Neondra Jacon Chixeon."
"Kami bertiga bersahabat. Bukan bertiga. Tepatnya kami berempat, di tambah Loganic Felix Sharon, asisten Neo sekarang. Aku hanya memiliki foto ini tanpa Logan. Ada satu foto lagi, tapi hilang secara tiba-tiba. Bagiku foto ini sangat berharga karena hanya tersisa ini yang aku punya. Semua foto yang aku miliki sudah Neo hancurkan."
"Baik. Aku mengerti. Katakan padaku alasan retaknya persahabatan kalian," Rihan menatap tajam Brand ingin tahu semuanya.
"Karena gadis itu, Elle. Aku dan Neo menyukainya. Tapi Elle lebih memilih Neo. Bukan karena Elle memilih Neo jadi persahabatan kita retak. Bukan itu. Tapi gadis itu. Dia hanya memanfaatkan Neo. Aku mengetahuinya setelah kelulusan kami. Aku sudah memberitahu Neo, tapi dia sama sekali tidak percaya padaku. Dia lebih percaya pada gadis itu.
Mulai saat itu, hubunganku dan Neo mulai merenggang. Hingga sampai pada puncaknya, gadis itu menjebakku. Dia membuat seolah-olah aku dan dia tidur bersama. Dan pada saat bersamaan, Neo datang di apartemen Elle dan menemukan kami di tempat tidur yang sama. Aku tahu persis dan aku yakin tidak terjadi sesuatu di antara kami karena tidak ada jejak tertinggal di kasur.
Sayangnya Neo tidak percaya padaku karena gadis itu justru membuat drama dengan mengatakan bahwa aku yang memperkosanya. Aku berusaha menjelaskan pada Neo yang sebenarnya, tetapi dia tidak percaya padaku dan memutuskan hubunganku dengannya saat itu juga.
Setelah itu, kita tidak lagi bertemu karena aku memutuskan untuk meninggalkan Swiss. Aku tidak tahu lagi keadaan Neo dan Elle. Aku hanya ingin menenangkan diri sekaligus menyiapkan bukti di masa depan untuk membalas gadis itu. Untuk Logan sendiri, dia lebih percaya pada Neo.
Aku tahu kamu pasti tidak percaya padaku. Tapi semua yang aku katakan benar. Ada beberapa bukti yang sudah aku kumpulkan. Aku akan mengirimkannya padamu."
"Aku percaya padamu. Tapi... jika ini hanya salah paham, kenapa Tata bisa seperti itu. Jelaskan kenapa kamu melakukannya?" Suara Rihan terdengar sangat dingin dari biasanya. Rihan berusaha untuk tidak meninju Brand sekarang.
"Tata? Siapa Tata?" Tanya Brand tidak mengenal nama itu.
"Adik kak Neo."
"Itu juga salah paham. Aku juga dijebak saat itu."
"Maksudmu?"
"Aku menerima telepon dari seseorang bahwa Ira diculik. Aku ingin menghubungi Neo tapi aku tidak memiliki nomornya. Belum lagi, semua akses untuk menghubungi Neo ditutup. Neo sama sekali tidak ingin bertemu denganku.
Aku juga tidak percaya bahwa Ira diculik karena aku tahu Neo sangat menjaganya. Akan tetapi, sebuah video dan beberapa foto penyekapan Ira dikirim padaku, serta alamatnya. Akhirnya, tanpa pikir panjang, aku kesana.
Sampai di sana, hanya ada Ira yang matanya ditutup dengan kain hitam, dan tubuh tanpa busana dengan banyaknya lebam juga beberapa cairan menjijikan di sekitar tubuhnya. Siapapun akan tahu jika dia diperkosa. Akupun tanpa pikir panjang membawanya bersamaku.
Di saat aku menggendongnya, Ira bangun dan menangis histeris. Aku yakin, Ira berpikir aku yang melakukannya karena orang pertama yang dia lihat saat bangun adalah aku.
Aku sudah berusaha menjelaskannya tapi dia tidak percaya. Akhirnya aku hanya membawanya secara paksa ke tempatku dan meminta dokter mengobatinya. Aku juga tidak menunjukan wajahku padanya karena dia sangat takut padaku. Aku hanya meninggalkan beberapa suster untuk menjaganya.
Selang beberapa minggu, aku kembali menerima telepon dari perawat yang menjaga Ira, bahwa mereka baru saja diperkosa oleh sekitar 10 pria secara bergantian. Dan pada saat itu, Ira hilang entah kemana.
Padahal niatku menjadikan Ira sebagai pion untuk mengembalikan persahabatanku dan Neo. Aku bahkan sudah mengumpulkan bukti rencana Elle untuk ditunjukan pada Neo, sayangnya Ira menghilang.
Sekali lagi, jika kamu tidak percaya, aku akan mengirim semua bukti yang sudah aku kumpulkan selama beberapa tahun ini untukmu. Kamu bisa mengkonfirmasi semua yang aku ceritakan tadi. Aku Akan mengirim alamat dua perawat itu padamu. Mereka di luar negeri.
Dan juga, untuk perlakuanku padamu dan asistenmu waktu itu, aku minta maaf. Aku saat itu marah karena kamu membawa Ira bersamamu. Aku hanya takut Ira semakin menderita bersamamu. Untuk semua tindakanku yang kamu lihat waktu itu, dimana aku yang suka dengan gadis penghibur itu, memang benar.
Setelah Elle menolakku, dan aku tahu sifat asli gadis itu, aku sangat membenci perempuan. Akupun berpikir, untuk mempermainkan perempuan mulai saat itu, kecuali orang yang aku kenal."
Penjelasan panjang lebar Brand hanya ditanggapi datar oleh Rihan. Tapi percayalah, Rihan sedang berpikir apakah semua itu benar dengan hanya memperhatikan setiap ekspresi Brand. Terlebih mata pria itu. Dari pandangan Rihan semua itu terlihat tulus.
"Dari ekspresimu, aku yakin kamu tidak percaya. Tunggu sebentar, aku akan menelpon Dom untuk mengirim semua bukti itu padamu." Ucap Brand dan tersenyum tipis kemudian mengambil ponsel hendak menelpon Dom.
"Lalu kenapa kamu menyembunyikan semua ini dari kak Neo?" Pertanyaan Rihan menghentikan gerakan Brand.
__ADS_1
Brand lagi-lagi tersenyum dan meletakkan ponselnya dan menatap Rihan.
"Neo tidak akan percaya padaku begitu saja. Belum lagi dia semakin membenciku di saat pertemuan kami di R.A Group waktu itu. Aku yakin kamu pasti memberitahu padanya bahwa aku yang membuat Ira seperti itu."