Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Syarat


__ADS_3

Rihan baru sampai di mansion. Melewati ruang tamu, ada kedua orang tuanya di sana. Menyapa mereka sebentar, Rihan lalu berniat masuk ke kamar.


"Sayang..." Panggil Mommy Rosse sambil mengerutkan kening.


"Ada apa, Mom?" Tanya Rihan setelah berbalik menatap sang mommy.


"Ada apa dengan bibirmu? Kenapa terluka? Kamu baik-baik saja, Sayang?" Tanya Mommy Rosse khawatir setelah tidak sengaja melihat luka di bibir Rihan.


Jantung Rihan berdegup kencang mengingat kembali kecelakaan tidak disengaja beberapa saat lalu.


"Tidak apa-apa, Mom. Hanya tidak sengaja terbentur sesuatu tadi. Aku masuk ke kamar, ya."


"Anak itu, Apa dia baik-baik saja?" Tanya Mommy Rosse pada Daddy Jhack setelah Rihan berlalu pergi.


"Dia bukan gadis biasa, Sayang. Dia princces kita yang kuat. Dia akan baik-baik saja. Dia tidak seperti gadis kebanyakan di luar sana. Tenanglah!" Daddy Jhack menenangkan sang istri.


Kembali pada Zant, pria itu setelah tertawa tertahan hingga hampir sekarat, dia segera berdiri dan berniat menyusul gadis kecilnya. Zant tidak lagi berniat ke rumah sakit.


Zant hanya meminta bawahannya tadi untuk menjaga Hanami, juga mengirim pesan pada Tuan Naboru bahwa dia ada urusan mendesak.


Sampai di depan restaurant, Zant disambut oleh Vian yang sudah menunggunya di depan mobilnya yang terparkir.


"Nona muda sudah pulang lebih dulu, Tuan."


"Aku tahu. Kembali ke mansion!"


"Baik, Tuan."


Vian mengemudikan mobil Zant menuju mansion Jhack Lesfingtone.


Sepanjang jalan, Zant tidak berhenti menyentuh bibirnya dan tersenyum tipis. Meski itu hanya kecelakaan, pria itu sangat senang.


"Ah... aku ingin merasakan bibir itu lagi." Gumam Zant dalam hati dan tersenyum tipis sambil menatap keluar jendela mobil.


"Ada yang perlu saya katakan pada anda, Tuan." Vian membuka suara setelah mobil sampai di jalan tol.


"Hm. Kita bahas setelah sampai,"


"Baik, Tuan."


...


"Selamat malam Mom, Dad." Sapa Zant yang melihat kedua calon mertuanya di ruang tamu.


"Loh, bibirmu..." Komentar Mommy Rosse melihat luka yang sama dengan Rihan di bibir calon menantunya.


"Apa itu juga benturan, Zant?" Daddy Jhack menyahut dan tersenyum menggoda.


Pria empat puluhan itu berpikir sudah terjadi sesuatu dengan anak dan menantunya ketika melihat luka yang sama dengan Rihan.


"Anak muda zaman sekarang benar-benar ganas," Monolog Daddy Jhack dalam hati dan masih tersenyum menatap Zant.


"Huh? Iya, Dad. Rihan sudah pulang?" Tanya Zant sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Tentu saja dia gugup.


"Iya. Sudah beristirahat mungkin,"


"Aku ke atas Mom, Dad."


"Zant..." Panggil Mommy Rosse masih ingin mendengar alasan calon menantunya.


"Ada apa, Mom?"


"Tidak ada, Zant. Naiklah ke atas!" Daddy Jhack mencegah pertanyaan sang istri.


"Baik, Dad."


"Padahal mommy masih penasaran apa yang terjadi pada calon menantu kita. Kenapa daddy mencegah mommy?"


"Masa mommy tidak tahu? Melihat luka yang sama pada mereka berdua, seharusnya mommy tahu. Masa muda itu memang menyenangkan, ya."


"Anak kita sudah dewasa ternyata, Dad. Benturan memang alasan yang bagus, Dad."


"Hahaha... akhirnya mommy mengerti juga. Ayo istirahat! Daddy juga ingin berolahraga sampai pagi. Daddy harap, mommy masih kuat."


"Astaga, Dad. Besok bukannya daddy harus ke kantor?"


"Tidak apa-apa, Mom. Terlambat tidak ada yang akan marah."


***


"Sesuai dugaan anda, semua properti milik Cognizant Technology yang ada di Jepang sudah diakuisisi oleh mereka. Selanjutnya apa yang akan anda lakukan, Tuan? Apa sesuai rencana atau anda memiliki rencana lain?" Vian menjelaskan sekaligus bertanya, setelah mereka sampai di kamar tamu yang biasanya Zant pakai untuk bekerja bersama Vian.


Jika Zant sendiri, biasanya dia akan memakai ruang kerja Rihan. Akan tetapi dia tidak mau ada orang lain masuk ke kamarnya dan calon istrinya.

__ADS_1


"Sesuai rencana. Mungkin besok mereka akan mulai bergerak."


"Baik, Tuan."


"Istirahatlah di sini! Ini sudah larut. Aku akan kembali ke kamar."


"Baik, Tuan. Selamat malam."


"Hm."


Zant sampai di kamarnya bersama Rihan. Senyumnya mengembang melihat calon istrinya sudah terlelap.


"My Queen," Panggil Zant setelah duduk di tepi kiri ranjang sambil melihat Rihan yang terlelap dengan dengkuran halusnya.


"Sepertinya dia lelah karena memanjat pohon," Gumam Zant dan terkekeh.


"Dia bahkan tidak mengobati bibirnya,"


Zant lalu menuju nakas dan mengambil kotak P3K di dalam laci kemudian kembali ke ranjang dan mengobati bibir Rihan yang terluka dengan salep.


Pria itu melakukannya dengan sangat hati-hati agar calon istrinya tidak terbangun. Sesekali dia akan meniup bibir ranum menggoda itu ketika sang pemilik sedikit meringis dalam tidurnya.


"Good night, My Queen." Gumam Zant dan mengecup dahi Rihan, kemudian beranjak dari tempat tidur dan mengembalikan kotak P3K ke tempat semula, setelah itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidur, Zant naik ke ranjang dan membawa Rihan ke dalam pelukannya, kemudian menarik selimut untuk menutupi setengah tubuh mereka.


***


Pagi hari, Zant orang pertama yang bangun. Tidak ingin membangunkan kesayangannya, pria itu hanya menopang kepalanya dengan tangan kanan sambil menatap wajah cantik Rihan yang terlelap.


"Kita harus menikah secepatnya. Aku tidak bisa lagi menahan diri! Dia terlalu menggoda iman," Batin Zant sambil mengusap lembut pipi mulus Rihan.


"Apa aku mengganggu tidurmu?" Tanya Zant pelan ketika Rihan membuka matanya karena terganggu dengan usapan lembut di pipinya.


"Selamat pagi, My King."


"Pagi juga, My Queen, ayo bangun!"


"Hm."


Rihan berusaha menutup rasa malunya karena kejadian semalam. Gadis itu hanya tidak ingin harinya kacau karena dia akan melakukan sesuatu hari ini.


"Aku akan ke kantor lagi hari ini. Para hama itu sepertinya akan bergerak. Mau ikut? Akan ada pertunjukan bagus, loh." Ucap Zant setelah bangun dan duduk di tepi ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah sambil melihat Rihan yang sedang menuangkan segelas air dan meminumnya.


"Apa aku melewatkan sesuatu?" Tanya Zant setelah meneguk habis air di gelas dan memberikan gelas kosong pada Rihan.


"Mungkin."


"Sepertinya akan ada pertunjukan. Boleh aku ikut serta?"


"Boleh saja."


"Kapan waktunya?"


"Kak Zant akan tahu nanti."


"Baiklah."


***


Pukul 10 pagi, Hanami berkunjung ke Cognizant Technology. Dengan beralasan bahwa dia adalah perwakilan dari perusahaan Jepang milik sang papa, Hanami kemudian diizinkan masuk dan bahkan diantar ke ruangan CEO.


Zant saat ini sedang rapat dengan para pemegang saham untuk membahas penanggulangan masalah perusahaaan yang kehilangan setengah saham. Semua pemegang saham khawatir Cognizant Technology akan bangkrut hanya dalam beberapa hari.


Zant tetap tenang di tempatnya dan hanya menatap datar para pria dan wanita paru baya yang menjadi pemegang saham perusahaannya.


"Saran saya, sebaiknya anda menerima syarat dari Tuan Naboru agar perusahaannya bisa membantu kita." Seorang pemegang saham mengutarakan pendapatnya setelah Vian memberi kesempatan untuk mereka bicara.


"Sebaiknya kita menjual beberapa property milik Cognizant Technology untuk membantu perusahaan." Wanita paru baya yang merupakan pemegang saham juga berkomentar.


"Semua property kita di Jepang sudah diakuisisi. Jika kita menjual property di negara lain, saya rasa itu bukan jalan keluar. Saya juga tidak tahu syarat apa yang diajukan Tuan Naboru, tetapi jika menurut anda bukan itu satu-satunya jalan keluar, maka jangan menerimanya." Pemegang saham lain menyahut.


"Terima saja syarat dari Tuan Naboru. Apapun syaratnya, bukankah sebagai CEO, anda harus berkorban untuk perusahaan?" Pemegang saham yang berbicara pertama kali tetap mempertahankan argumennya.


"Anda tidak bisa memaksa CEO kita begitu saja, Tuan Dai. Bagaimana jika syarat itu tidak menguntungkan?" Wanita paru baya pemegang saham yang berbicara kedua, sekaligus satu-satunya wanita paru baya yang menjadi pemegang saham di sana. Namanya Nyonya Laura.


"Boleh saya tahu syarat apa yang diajukan Tuan Naboru?" Tanya pemegang saham keempat. Namanya Tuan Sandro.


"CEO kita hanya perlu menikah dengan anak gadis Tuan Naboru, maka beliau berjanji akan membantu perusahan kita, sekaligus membantu mengembalikan property kita yang sudah diakuisisi di Jepang." Tuan Dai menjawab dengan semangat.


"Tuan Dai... anda seharusnya tahu, jika CEO kita sudah bertunangan. Tidak lama lagi mereka akan menikah. Bagaimana mungkin anda memaksanya menerima syarat itu?" Nyonya Laura berbicara dengan marah.


Wanita paru baya itu pernah berada di posisi dimana dia menikah karena syarat. Dan akhirnya bercerai dengan suaminya setelah 2 tahun menikah. Untungnya mantan tunangannya masih mencintainya sehingga menerimanya kembali. Nyonya Laura tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama dengannya.

__ADS_1


"Saya setuju dengan Nyonya Laura. Semua itu keputusan CEO kita. Saya sebagai pemegang saham akan menerimanya," Tuan Sandro berbicara dengan sopan.


"Dia menghilang selama ini, dan tiba-tiba kembali. Dia harusnya berkorban untuk perusahaan. Lagipula anak Tuan Naboru sangat cantik. Jika aku masih muda, aku akan menerimanya dengan senang hati." Batin Tuan Dai dan menatap tajam Zant.


"Sebelum memberikan pendapat, saya ingin mengajukan satu pertanyaan. Pertanyaan ini ditujukan untuk Tuan Dai yang terhormat." Suara Zant terdengar begitu dingin lalu menatap tajam Tuan Dai.


"Saya baru bertemu dengan Tuan Naboru semalam. Kami hanya berbicara masalah keluarga bukan masalah perusahaan. Saya kaget, ternyata Tuan Naboru ingin membantu perusahaan kita dengan mengajukan syarat. Kenapa Saya baru mendengarnya? Dari mana anda tahu Tuan Naboru akan membantu kita tapi dengan syarat?" Tanya Zant dengan datar diakhir kalimatnya.


"Itu... Tuan Naboru yang mengatakan pada saya tadi pagi." Elak Tuan Dai gugup.


"Begitu, ya. Baiklah. Rapat kita tunda dulu. Kalian akan mendengar pendapatku beberapa jam kemudian, karena syarat yang Tuan Dai katakan itu sepertinya sudah datang." Ucap Zant setelah Vian membisikan sesuatu padanya.


Tanpa mengatakan apapun, Zant segera keluar dari ruang rapat meninggalkan keributan para pemegang saham di dalam sana.


"Hai, Kak Lyan." Sambut Hanami ketika melihat Zant baru masuk ke ruang kerjanya.


"Ada apa datang kemari? Bukankah kakimu sakit?" Tanya Zant setelah duduk di sofa yang berhadapan dengan Hanami.


"Obat yang dokter berikan sangat ampuh sehingga ketika bangun, kakiku sudah sembuh." Jawab Hanami dan tersenyum manis.


Zant hanya mengangguk, Meski dia tahu jika kaki Hanami tidak keseleo sama sekali.


"Lalu, kedatanganmu?" Tanya Zant sambil bersidekap dada.


"Papa memberi kepercayaan padaku untuk mengantar proposal kerja sama dari perusahaan kami dengan Cognizant Technology."


"Biarkan aku melihat proposalnya."


"Ini, Kak."


Zant membaca isi proposal itu. Sesekali dia akan mengangguk membuat Hanami sangat senang. Tatapan gadis itu begitu dalam pada pria tampan di depannya ini.


"Aku rasa kedatanganmu bukan hanya karena proposal ini." Zant menatap datar Hanami setelah meletakkan proposal di atas meja.


"Kak Lyan sangat cerdas. Memang kedatanganku bukan hanya itu. Aku dengar Cognizant Technology sedang dalam masalah. Aku memaksa papa untuk bekerja sama dengan perusahaan kakak. Tapi dengan syarat..." Hanami kini berdiri dan menghampiri Zant kemudian membelai lembut rahang Zant dari samping.


Zant hanya membiarkannya saja. Meski emosi, pria itu berusaha tenang karena ingin melihat sejauh mana wanita penggoda ini berulah.


"Menikahlah denganku, maka perusahaanmu selamat. Bagaimana?" Bisik Hanami dengan sensual di telinga Zant, berharap pria itu tergoda.


Zant mengepalkan tangannya berusaha untuk tidak memukul wanita penggoda di sampingnya ini. Hanami sendiri, melihat kepalan tangan Zant berpikir pria itu sedang mempertimbangkan ucapannya demi perusahaan. Senyum senang terukir di bibir merahnya.


Tok


Tok


Tok


Ketukan pintu mengalihkan perhatian Zant dan Hanami.


"CEO Chi Corporation ingin bertemu dengan anda, Tuan." Lapor Vian setelah masuk dan menatap jijik Hanami.


"Biarkan dia masuk!"


"Baik, Tuan."


Hanya beberapa menit, Neo diantar masuk oleh Vian. Pria itu menatap tajam Zant dan Hanami. Tangannya terkepal ketika melihat tangan Hanami yang berada di bahu Zant. Neo kesal karena berpikir Zant mempermainkan Rihan.


"Silahkan duduk, Tuan Neo. Kembali juga ke tempat dudukmu, Hanami." Ujar Zant datar.


Saat ini suasana ruang kerja Zant sangat tegang, karena tatapan penuh permusuhan antara Zant dan Neo. Hanami sendiri mulai takut dan tidak mengerti apa yang terjadi dengan dua pria ini.


"Ada apa anda datang kemari, Tuan Neo?" Zant membuka suara setelah melihat jam tangannya.


Zant tidak ingin membuang waktu karena hampir jam sebelas siang. Tidak lama lagi makan siang. Itu berarti Queennya akan datang untuk membawa makan siang. Dia tidak ingin ada penganggu diantara keduanya.


"Aku datang dengan tujuan yang sama dengannya. Chi Corporation akan membantu Cognizant Technology. Dengan syaratnya, tinggalkan Rihan!"


"Rupanya ada orang yang tidak suka dengan hubungan kak Lyan dengan calon istrinya. Ini kesempatan bagus untukku." Batin Hanami dan diam-diam tersenyum licik.


.


.


.


Kira-kira apa yang akan Zant lakukan?


Keputusan apa yang akan dia ambil?


Tinggalkan komentar kalian.


Sampai ketemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2