Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Suami Posesif


__ADS_3

"Ceritanya panjang. Jadi kamu benar-benar Rihanku? Kesayanganku dulu?" Ucap Lenox begitu antusias dan bahkan melupakan aura dingin yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


Rihan sedikit mengangguk, membuat Lenox dengan cepat menghampirinya dan menggenggam kedua tangannya dan tersenyum senang menatap Rihan. Saking senangnya, Lenox sudah lupa dengan tugasnya sebagai nakhoda kapal pesiar ini.


"Sejak pertama melihatmu di TV, aku sudah berpikir bahwa kamu adalah Rihanku. Yang aku tahu, sahabatku dulu memiliki nama Rihhane Senora. Tanpa ada nama Lesfingtone di belakangnya. Tidak kusangka, ternyata kamu benar-benar kesayanganku.


Kamu tahu, aku benar-benar merindukanmu. Sejak kelulusan kita, aku terus mencarimu tetapi aku baru sadar ternyata aku tidak tahu di mana tempat tinggalmu di Prancis. Kamu tidak pernah memberitahu tempat tinggalmu padaku dan teman-teman lain.


Pihak sekolah juga tidak ingin memberitahu alamatmu pada kami. Nomor ponselmu juga tidak bisa dihubungi. Aku dan teman-teman frustasi karena tidak bisa menghubungimu. Padahal aku sangat ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku..."


"Apa yang ingin kamu katakan padanya?" Potong Zant dingin. Suami posesif Rihan itu sudah mulai menebak apa yang ingin dikatakan pria yang seumuran dengan istrinya.


"Sepertinya aku terlambat. Ternyata kamu sudah menikah." Suara Lenox terdengar kecewa setelah tersadar bahwa Rihan sudah bersuami. Rihan hanya mengangkat alisnya tidak mengerti kemana pembicaraan Lenox.


"Padahal selama tiga tahun persahabatan kita, aku pernah berjanji padamu, aku akan menjadi seorang nakhoda kapal, agar bisa membawamu kemanapun dengan melintasi lautan yang luas ini. Sayangnya, semua sudah terlambat." Sambung Lenox lagi. Tatapan mata pria itu yang awalnya berbinar, kini sedikit redup. Tapi tangan pria itu belum melepaskan kedua tangan Rihan yang digenggam erat.


Rihan sedikit mengerutkan kening karena merasakan remasan tangan Zant di pinggangnya begitu kuat. Rihan menoleh menatap bingung Zant yang masih saja menatap tajam Lenox, bergantian dengan kedua tangan Rihan yang digenggam.


SRET!


"Karena kamu tahu dia sudah bersuami, maka jangan menyentuhnya." Zant berbicara dengan datar setelah menarik tangan Rihan agar lepas dari genggaman Lenox.


"Saya tahu, Tuan! saya hanya ingin melepas rindu dengannya. Bisakah anda memberi kami sedikit waktu? Saya ingin..."


"Tidak!" Potong Zant cepat.


"Tapi, Tuan."


"Lakukan tugasmu sebagai pemandu perjalanan ini. Jangan pernah berdekatan dengan istriku. Ingat! Dia sudah bersuami." Tekan Zant pada kata bersuami.


"Baik, Tuan." Lenox menjawab dengan pasrah setelah menghembuskan nafas pelan. Pria itu sadar bahwa dia harus melakukan tugasnya di sini. Lagipula dia dan awak kapal pesiar lain dibayar mahal untuk perjalanan ini.


"Apa sebaiknya kita pulang saja?" Tanya Zant pada Rihan, setelah pria itu menarik lembut sang istri agar sedikit menjauh dari Lenox.


"Memangnya kenapa?" Tanya Rihan bingung.


"Kamu sangat tidak peka, My Queen," Gumam Zant kesal.


"Jika aku salah, aku minta maaf, My King. Jangan memasang wajah seperti ini lagi." Rihan tersenyum lembut menatap wajah cemberut Zant. Tidak lupa juga, Rihan sedikit mengelus wajah sang suami yang cemberut.


"Kamu tidak salah, hanya saja... sudahlah. Jika kamu menikmati perjalanan ini, ayo..." Zant berusaha menahan rasa cemburunya dan kembali membawa Rihan ke depan Lenox agar memandu mereka. Rihan hanya mengangguk dan mengikuti Zant.


"Pandu perjalanan ini." Ucap Zant datar. Jangan lupakan tatapan tajamnya pada Lenox.


"Baik, Tuan. Silahkan ikuti saya."

__ADS_1


Lenox kemudian memandu pengantin baru itu mengelilingi kapal setelah kapal pesiar itu bertolak dari dermaga.


...


"Ini adalah kamar utama kapal pesiar ini. Seperti namanya, semua fasilitas sudah tersedia di dalamnya dan sangat lengkap tidak seperti kamar lainnya. Tuan dan Nyonya bisa melihat ke dalam. Silahkan!" Lenox memperkenalkan kamar utama yang merupakan kamar paling mewah dan terbesar di kapal pesiar ini. Kamar ini khusus pemilik kapal.


"Aku ingin ke toilet, Kak." Izin Rihan pada Zant.


"Biarkan saya yang mengantar anda, Nyonya." Suara Lenox lebih dulu memotong Zant yang ingin mengatakan hal yang sama.


"Aku bisa sendiri." Rihan beranjak ke kamar mandi setelah Zant melepas pelan pelukan di pinggangnya.


"Aku tahu kamu menyukai istriku. Tapi kamu harus sadar, dia sudah bersuami. Dan aku suaminya. Berhenti mendekatinya." Zant membuka suara setelah Rihan meninggalkannya dan Lenox.


"Aku tahu, hanya saja... tolong beri aku kesempatan untuk..."


"Untuk apa? Untuk mendekatinya? Kamu gila? Dia sudah menjadi milikku, siapapun tidak diizinkan mendekatinya. Aku ingin memberimu peringatan! Ingat batasanmu, sebelum kamu menyesal." Zant berbicara penuh penekanan memotong perkataan Lenox.


"Aku tidak bermaksud ingin merebutnya darimu. Aku hanya ingin menjadi sahabatnya seperti dulu. Tidak lebih."


"Hanya ingin menjadi sahabatnya? Heh... Kamu tidak sedang bicara dengan anak di bawah umur." Emosi Zant lalu menyusul sang istri di toilet.


Lenox hanya mengepalkan kedua tangannya. Pria itu sedang berperang dengan pikiran dan hati nuraninya. Pikirannya ingin Rihan terus berada di sisinya meski dia sudah menjadi milik orang lain. Akan tetapi, hati nuraninya berusaha merelakan meski dia sendiri merasa sakit.


"Di sebelah sana, ruangan untuk kolam renang beserta taman buatan. Yang itu, ruangan khusus perangkat komputer yang baru saja dibuat dua hari lalu. Di sebelah ruangan itu, ruang musik. Di sebelahnya, ruang olahraga. Di sebelahnya lagi, kebun binatang mini dan akuarium untuk semua jenis ikan hias. Masih ada lagi beberapa ruangan kosong yang mungkin ingin di pakai oleh Tuan dan Nyonya." Jelas Lenox dan tersenyum tipis.


"Dia benar-benar menghabiskan banyak uang untuk kapal pesiar ini." Gumam Rihan dalam hati lalu menggeleng tidak percaya dengan Neo karena menghabiskan banyak uang hanya untuk semua kemewahan ini.


"Aku ingin melihat ruangan lain." Ucap Rihan membuat Lenox mengangguk dan segera menuntun mereka keluar kamar utama.


Cukup lama Lenox memperkenalkan fasilitas dalam kapal pesiar ini. Kira-kira hampir 3 jam. Itupun baru setengah lebih dari kapal pesiar ini. Karena Rihan sudah bosan, dia akhirnya meminta untuk pulang, membuat Lenox menghela nafas kecewa. Sedangkan Zant, pria itu begitu senang.


...


"Pria bodoh itu sepertinya ingin membalasku. Beraninya dia mempekerjakan nahkoda itu. Ck... aku harus segera menggantinya." Gumam Zant dalam perjalanan pulang. Rihan hanya geleng kepala sambil mengeratkan pelukannya pada Zant.


Rihan dan Zant sampai di mansion, hampir jam 6 sore. Zant memarkir motor kemudian melepas helmnya. Tidak lupa juga, pria itu melepas helm yang Rihan pakaii. Setelah itu, keduanya masuk ke dalam mansion.


Sampai di kamar, Rihan merasa ada yang aneh dengan suami posesifnya, karena pria itu sejak di jalan tol hingga sampai di kamar, suaminya itu diam saja. Tidak biasanya pria itu diam begini.


"My King," Panggil Rihan lembut sambil melihat Zant yang bersandar pada sofa dengan mata tertutup.


Karena tidak ada respon, Rihan menghampiri Zant dan duduk di samping suaminya itu. Rihan juga sengaja bersandar pada bahu Zant.


"Ada yang salah? Jangan dipendam sendiri. Ingat jika sudah ada aku. Jika kamu marah, kecewa, cemburu dan sebagainya, katakan saja padaku. Jika rasa itu tertuju padaku, aku akan memperbaikinya. Jika itu karena orang lain, maafkan saja mereka, hum?" Ujar Rihan dan dengan sengaja mengusap-ngusap lengan Zant.

__ADS_1


"Memaafkan mereka? Jangan harap! Aku bukan orang yang baik." Balas Zant dan menahan tangan Rihan agar tidak bergerak di lengannya, karena akan memancing hal buruk.


"Jika kamu bukan orang yang baik, berarti aku salah menikahi orang. Aku juga salah karena menjadikanmu King di hatiku."


"Kebaikanku hanya dikhususkan untukmu. Tidak untuk orang lain. Tidak akan pernah."


"Aku merasa spesial." Rihan terkekeh lucu.


"Kamu memang spesial. Jangan lupakan itu! Tapi tolong, tanganmu dikondisikan. Aku sedang tidak ingin mandi air dingin, My Queen." Zant melarang Rihan mengusap lengannya karena itu sama saja memancingnya. Ingatlah, jika Zant sedang menahan diri. Dia juga tidak ingin mandi air dingin.


"Aku hanya mengusap lengan, bukan area dada, atau area berbahaya lainnya." Balas Rihan tenang.


"Sudah, ya My Queen. Tapi jika kamu tidak ingin berhenti, maka..."


SRET!


Zant menarik Rihan hingga terduduk di pangkuannya. Pria itu mencium bibir Rihan lama. Rihan tidak bisa menolak dan ikut membalas ciuman itu. Keduanya saling m*****t hingga hampir kehabisan nafas.


"Mau aku temani mandi air dingin?" Tawar Rihan dan tersenyum tipis ketika merasakan sesuatu bergerak di bawah milik suaminya itu.


"Dengan senang hati." Sambut Zant senang. Tanpa menunggu lama, pria itu segera berdiri dan memposisikan istri kecilnya dalam gendongan dan menuju kamar mandi.


***


"Itu namanya menyiksa, bukan menemani. Kamu menyakiti hatiku, My Queen." Zant menggerutu sedih setelah keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang basah.


Setengah jam lalu, keduanya masuk ke kamar mandi. Zant sangat senang karena berpikir akan terjadi sesuatu yang menyenangkan di sana. Zant berpikir Rihan benar-benar akan menemaninya mandi air dingin. Sayangnya, pikiran itu salah.


Setelah masuk ke sana, Rihan meminta Zant untuk membasahi tubuhnya lebih dulu dengan air dingin, sambil menunggunya mempersiapkan diri. Ketika Rihan melihat Zant sudah basah kuyup, Rihan segera berlari keluar kemudian mengunci pintu dari luar.


Rihan tertawa senang karena rencananya berhasil. Zant terdiam cukup lama karena masih syok dengan tingkah istri kecilnya. Setelah itu Zant tersadar dan berteriak memanggil nama sang istri tetapi hanya ada tawa senang yang dudapat. Lagipula Rihan sedang datang bulan, tidak mungkin dia mandi bersama dengan Zant, kan?


"Hahaha... aku minta maaf, sini aku bantu keringkan rambutmu." Rihan lalu mengambil handuk kecil di tangan Zant dan membantu mengeringkan rambut suaminya itu.


"Besok-besok aku tidak akan tertipu lagi." Gumam Zant sambil memejamkan mata karena pijatan lembut sang istri di kepalanya.


"Semoga begitu, hehehe..."


.


.


.


Chapter ini sedikit aneh...

__ADS_1


__ADS_2