Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Keluarga Alexander


__ADS_3

"Aku pulang!" Sapa David ketika memasuki pintu rumahnya yang hampir seperti mansion itu.


"Tumben, anak ibu pulang terlambat," Tanya Ibu David heran, karena tidak biasanya David pulang di waktu sore.


"Dev ada proyek akhir semester, Bu. Kelompok Dev harus bekerja di rumah teman jadi pulang terlambat." Jawab David setelah menaiki anak tangga pertama menuju lantai dua.


"Dev!" Panggil sang ibu.


"Ada apa, Bu?" Tanya David lalu berhenti setelah menaiki beberapa anak tangga. Dia lalu menoleh pada sang ibu.


"Bersiaplah! Jam 7 kita akan makan malam bersama keluarga Samantha." Jawab sang 8bu sambil menatap David lembut.


"Baik, Bu. Dev mau istirahat sebentar!" Balas David kemudian terus menaiki tangga menuju kamarnya.


...


"Aku harap ada kabar baik di pertemuan ini." Gumam David sambil menatap langit-langit kamarnya.


Drttttt


Ddrrrrt


Mendengar getaran pada ponselnya, David lalu mengambil dengan malas ponselnya di saku celananya yang belum sempat dikeluarkan.


"Bagaimana?" Tanya David to the point setelah melihat siapa yang menelponnya.


"Kami tidak bisa mendapat identitas lengkapnya, Tuan. Yang kami dapatkan hanya identitas umumnya saja. Maafkan kami, Tuan." Jawab orang di seberang telepon pada David.


"Ya, sudah. Bayarannya akan saya transfer!" David lalu memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban orang di seberang telepon.


"Kenapa dia begitu misterius?" Guman David pelan lalu memejamkan matanya.


***


"Kak, di mana Ehan?" Tanya Phiranita pada Alen sambil melirik kesana kemari mencari Rihan.


"Tuan ada di ruang kerjanya. Mari saya antar ke sana, Nona." Jawab Alen kemudian berjalan terlebih dahulu diikuti oleh Phiranita dari belakang.


"Panggil namaku saja, Kak. Aku ingin merasakan punya kakak perempuan." Balas Phiranita sambil terus mengikuti Alen.


"Akan saya coba, Nona." Balas Alen datar.


"Baiklah, Kak. Aku tunggu!" Phiranita lalu mempercepat langkahnya agar sejajar dengan Alen. Dan dengan tidak tahu malunya, Phiranita memeluk posesif lengan Alen, membuat Alen menatapnya heran.


"Ada apa, Nona?" Alen menatap datar Phiranita yang hanya memasang senyum pepsodentnya.


"Tidak ada. Aku hanya ingin seperti gadis lain." Jawab Phiranita santai.


"What ever." Batin Alen.


Tit...tit..tit...


"Nona Phi ingin bertemu anda, Tuan." Alen membuka suara setelah mendengar bunyi alat kedap suara yang dinonaktifkan oleh Rihan dari dalam. Sepertinya sang majikan mengetahui kedatangan mereka.

__ADS_1


"Phi? Aku suka nama itu. Kalau tidak salah, seperti lambang matematika ya... Hahaha..." Phiranita berkomentar lalu tertawa renyah ketika mendengar panggilan Alen padanya.


"Silahkan masuk, Nona." Alen mempersilahkan Phiranita ketika pintu ruang kerja Rihan terbuka.


"Phi saja, Kak. Jangan nona lagi," Phiranita mengeluh dengan wajah cemberut tetapi tetap masuk ke dalam ruang kerja Rihan.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Han?" Tanya Phiranita ketika melihat Rihan sedang sibuk membuka dan membaca berkas di atas meja, ditemani oleh Alex yang sedang berdiri di depan Rihan.


"Sesuatu yang tidak penting." Jawab Rihan datar, tetapi matanya fokus membaca berkas di depannya.


"Katanya tidak penting, kenapa kelihatan fokus sekali?" Phiranita sudah berdiri di depan meja Rihan.


"Ada apa mencariku?" Tanya balik Rihan setelah membaca lembar terakhir dan menutup map berisi berkas-berkas itu. Rihan lalu menatap sang sahabat yang sedang menatapnya lekat.


"Tidak ada. Aku hanya merasa bosan." Keluh Phiranita menatap memelas pada Rihan.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Rihan membalas tatapan Phiranita sambil menopang dagunya dengan satu tangan.


"Entahlah. Jalan-jalan keluar?" Jawab Phiranita yang kini terlihat antusias.


"Dengan keadaanmu seperti ini? Belum lagi, keberadaanmu pasti sedang dicari-cari. Aku harap kamu mengerti." Rihan tidak bisa membawa Phiranita kelaur sekarang. Selalu ada orang yang mencarinya.


"Benar juga. Tapi aku bosan, Han." Keluh Phiranita dengan wajah lesuh.


"Ingin nonton bersamaku?" Tawar Rihan karena tidak tegah melihat wajah lesuh sahabatnya ini.


Rihan tidak mungkin membawa sang sahabat keluar jalan-jalan, karena dia sendiri belum bisa menemukan dalang dari penculikan Phiranita.


Selama perjalanan membawa Phiranita ke mansionnya saja, Rihan harus menyuruh pengawal terlatihnya untuk menjaga perjalanan mereka. Itupun dilakukan dengan tersembunyi karena takut ketahuan.


"Saya akan menyiapkan ruangannya, Tuan." Ucap Alex tanpa diminta.


"Hmm."


"Saya akan menyiapkan snacknya." Sambung Alen.


"Wah... itu bagus. Siapakan snack yang banyak, Kak. Aku ingin kak Alex dan kak Alen juga ikut nonton agar semakin seru. Please, jangan menolak," Phiranita begitu antusias.


"Baik, Nona. Saya pamit, Tuan." Balas Alen lalu berlalu dari sana.


"Saya juga Tuan," Alex mengikuti sang adik ketika mendengar balasan dari sang majikan.


***


"Film apa yang ingin anda nonton, Nona?" Tanya Alex pada Phiranita ketika mereka sudah mengambil posisi duduk di kursi bioskop mini milik Rihan.


"Film apa, Han?" Tanya Phiranita pada Rihan di sebelahnya.


"Terserah kamu saja." Jawab Rihan tanpa menatap Phiranita.


"Film horor kayaknya seru, Kak." Phiranita menjawab pelan.


"Baik, Nona." Alex lalu menyetel layar lebar di depan mereka dengan film horor.

__ADS_1


Film pun dimulai.


"Tidak takut?" Tanya Rihan ketika melihat wajah fokus Phiranita di saat layar lebar menampilkan sosok yang cukup seram menurut Rihan.


"Wajahnya tidak begitu seram dengan apa yang sudah aku alami." Jawab Phiranita santai sambil terus menonton layar lebar di depannya.


"Ya. Untuk apa takut pada mereka. Sedangkan hidup ini penuh dengan wajah sok polos yang terlihat, padahal wajah asli mereka tidak." Batin Rihan membenarkan ucapan sahabatnya ini.


***


Tok


Tok


Tok


"Sudah siap, Dev?" Tanya Sania, ibu David setelah mengetuk pintu kamar sang anak.


"Sudah, Bu. Bagaimana dengan ayah dan kak Davin?" Tanya David setelah membuka pintu kamarnya.


"Wah... Anak ibu benar-benar tampan. Ayah dan kakakmu sudah menunggu di bawah." Jawab Sania sambil membenarkan sedikit kerah jass yang dikenakan David.


"Ayo, Bu. Aku sudah tidak sabar mendengar kabar baik di pertemuan ini." Balas David sambil menggandeng tangan sang ibu menuju lantai satu melewati tangga.


"Sepertinya anak ibu sudah tidak sabar ingin cepat menikah." Ibu David menatap sekilas sang anak lalu tersenyum lembut.


"Hahaha... Ibu bisa saja," David tertawa renyah menatap ibunya.


"Sayangnya Dev tidak sabar mendengar pembatalan perjodohan ini, Bu." Lanjut David dalam hatinya.


"Ayo berangkat, Yah." Ucap Sasania ketika dia dan sang anak sudah berada di ruang tamu.


"Kita naik mobil keluarga atau naik mobil masing-masing?" Tanya Pither, Ayah David setelah berdiri dan membenarkan sedikit jassnya yang kusut.


"Naik mobil keluarga saja, Yah. Biar sampainya sama-sama." Sania memberi usul pada sang suami.


"Bagaimana dengan kalian berdua?" Tanya Pither menatap kedua anaknya.


"Terserah ayah dan ibu saja. Avin tidak akan lama di sana, soalnya masih ada berkas yang harus di tanda tangani." Balas Davin sambil menatap jam di tangannya.


"Sok sibuk!" David menyindir sang kakak.


"Siapa suruh tidak mau membantuku?" Balas Davin menatap malas sang adik.


"Sudahlah, Dev. Tolong panggil Pak Adi, supaya menjadi sopir untuk kita." Sania melerai kedua anaknya.


"Baik, Bu." Balas David pergi ke dapur mencari Pak Adi, supir keluarga mereka.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.

__ADS_1


See You.


__ADS_2