
Selamat Membaca!
.
.
.
Di ruangan Rihan, tepatnya ruang presdir. Pertemuan dengan Dewan direksi dan para dokter lainnya telah selesai beberapa menit lalu. Rihan kini menatap jam tangan yang menunjukan masih banyak waktu sebelum dia kembali ke mansion.
Rihan kemudian menekan jam tangannya untuk menghubungkan Gledy dengan komputer di depannya, agar dia bisa memantau perkembangan sahabatnya di mansion.
Setelah terhubung, Rihan membuka cctv yang menampilkan aktivitas Phiranita yang sedang berada di kamarnya, dan Max yang sedang duduk bersantai di taman belakang mansion.
Melihat keduanya baik-baik saja, Rihan kemudian mengambil minuman yang beberapa menit lalu disediakan oleh Alex untuknya dan mulai meminumnya.
"Kenapa rasanya aneh?" Tanya Rihan mengerutkan kening menatap Alex yang juga menatapnya.
"Itu adalah jamu, Tuan."
"Jamu? Sejak kapan aku meminum jamu?" Ujar Rihan datar lalu meletakkan kembali gelas berisi jamu yang Alex maksud.
"Saya memang sengaja menyiapkannya, Tuan. Kata Bi Sarah, jamu sangat cocok untuk anda yang kurang tidur dan juga agar anda tidak cepat lelah."
"Siapa Bi Sarah? Dan, sejak kapan kamu mempercayai orang lain untuk minumanku?" Tanya Rihan heran.
"Maafkan saya, Tuan. Bi Sarah adalah pelayan di mansion. Untuk jamu itu sendiri, saya sudah memastikan khasiatnya sebelum memberikannya pada anda. Maksudnya, saya sudah mencobanya selama 3 hari dan khasiatnya memang benar, Tuan."
"Baiklah. Berikan bonus untuk Bi Sarah, jika jamu ini memang berhasil untukku."
"Baik, Tuan."
Setelah itu hening yang terjadi dalam ruangan itu, karena dua orang yang berada di sana adalah orang yang tidak banyak bicara sehingga tidak perlu adanya basa-basi.
Tidak lama kemudian dering ponsel Alex mengalihkan fokus Rihan pada layar komputer di depannya.
"Dokter Damar baru saja menelpon, Tuan." Lapor Alex setelah panggilan berakhir.
"Hmm."
"Dokter Damar sudah sampai di mansion. Beliau hanya menunggu perintah selanjutnya dari anda, Tuan."
"Katakan pada yang lain untuk bersiap. Ingat untuk tidak mengacaukannya." Rihan kembali menatap layar komputer dengan datar.
"Baik, Tuan."
...
Di mansion Rihan, seorang pria dengan santainya berjalan dari arah dapur menuju lift. Pria itu menekan lantai dua sehingga membawanya ke atas. Pria itu keluar setelah lift berhenti dan menatap kiri dan kanannya kemudian berjalan menuju sebuah pintu yang dia yakini adalah sebuah kamar yang harus dimasuki.
__ADS_1
Tanpa mengetuk pintu, pria itu dengan tenang merabah saku bajunya dan mengambil sebuah kartu dan menempelkan pada pegangan pintu. Seketika terdengar bunyi pertanda pintu telah terbuka. Tersenyum tipis, pria itu masuk kedalam kamar dan kembali menutupnya.
Menatap seorang gadis yang tertidur lelap, pria itu tersenyum miring dan mendekati tempat tidur gadis itu. Pria itu kemudian berjongkok didekat kepala sang gadis, tepat di depan wajah gadis itu yang kebetulan tertidur miring dengan kepala menghadap ke arah pria itu.
"Anak Dajjal, bangunlah..." Panggil pria itu yang tidak lain adalah Max.
Gadis yang tertidur yang tidak lain adalah Phiranita, sedikit terusik sehingga mengalihkan kepalanya ke arah satunya lagi dan kembali terlelap. Max yang melihatnya tersenyum tipis dan menggeleng kepalanya merasa lucu dengan wajah imut gadis yang selalu dia ganggu itu ketikad ia tidur, tetapi mengesalkan ketika bangun.
"Mari gunakan cara lain," Gumam Max lalu berdiri dan naik ke tempat tidur Phiranita dan berbaring di sisi satunya dengan menopang kepalanya sambil menatap wajah imut Phiranita. Masih tidak ada pergerakan, Max lalu menoel-noel pipi Phiranita.
Merasa ada yang menyentuh pipinya, Phiranita mengerutkan kening sebelum akhirnya membuka mata dan terkejut dengan senyum lebar Max padanya.
"AKKKHHHHHH... APA YANG KAMU LAKUKAN DI KAMARKU?" Teriak Phiranita dan terbangun kemudian menatap syok pada Max. Max hanya memasang senyum miring.
Hanya butuh 5 detik hingga akhirnya keringat dingin bermunculan di seluruh tubuh Phiranita. Phiranita kemudian menarik selimut yang tadinya hanya sebatas pinggang, kini menutupi tubuhnya hingga sebatas leher.
"Tolong jangan sentuh aku!... hiks... aku mohon..." Nafas Phiranita mulai naik turun.
Sepertinya traumanya kali ini sangat parah. Phiranita kini bersander pada kepala ranjang dengan kain yang membungkus tubuhnya yang ditekuk. Tubuhnya tidak lagi bisa bergerak entah kenapa.
"To...tolong jang...jangan sentuh aku aku... huh...huh.. aku mohon..."
"Melihat keadaanmu seperti ini membuatku sangat ingin melahapmu."
Mendengar perkataan Max, tiba-tiba ingatan tentang dia yang diperkosa oleh beberapa pria terngiang-ngiang di kepalanya. Phiranita kemudian semakin panik dan menutup kedua telinganya agar tidak lagi mendengar suara pria itu yang terus bermunculan di kepalanya.
Melihat Phiranita yang sepertinya tidak lagi bisa dikendalikan, Max kemudian semakin dekat dengan gadis itu membuat Phiranita hanya menggeleng kepala agar dia tidak mendekatinya.
Phiranita semakin ketakutan karena Max sudah berada hanya beberapa senti di depannya dan memegang selimut yang dipakainya. Phiranita hanya bisa menggeleng takut dan terus bergumam untuk jangan menyentuhnya.
"Jangan sentuh aku... tolong... lep..." Phiranita akhirnya pingsan karena sepertinya dia terlalu takut.
"Waduh!" Hanya itu yang keluar dari mulut Max lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Max kemudian menatap cctv di kamar Phiranita dan memasang senyum pasrah.
Di lain tempat, di ruangan Rihan yang sedang fokus pada cctv ruangan sahabatnya, mengepal kedua tangannya erat karena tidak tega melihat wajah kesakitan dan ketakutan Phiranita. Mau bagaimana lagi, inilah yang harus mereka lakukan. Melihat sahabatnya yang telah pingsan, pandangannya semakin dingin dan kini menatap Alex.
"Sambungkan dengan Dokter Damar."
"Ini Tuan," Alex kemudian memberikan telepon pada Rihan setelah panggilan tersambung.
"Maafkan saya, Presdir. Saya akan memeriksa Nona Phi sekarang." Tanpa menunggu apa yang akan Rihan katakan, Dokter Damar angkat suara lebih dulu.
"Jika terjadi sesuatu padanya, maka nyawamu taruhannya." Rihan berbicara dengan datar kemudian menutup sambungan telepon.
Rihan menatap kembali layar komputer dimana Dokter Damar bersama dua perawat berjalan dengan tergesah-gesah dan masuk ke kamar Phiranita.
***
Di mansion Rihan, Dokter Damar seketika menegang karena takut. Tanpa menundah lagi, Dokter Damar segera berjalan tergesah-gesah menuju kamar orang yang menjadi taruhan nyawanya ini.
__ADS_1
Setelah sampai, Dokter Damar sedikit menunduk hormat pada Max yang masih kebingungan di tempat tidur sambil menatap Phiranita yang tertidur dengan tidak elitnya. Bagaimana tidak elit jika Phiranita tadinya meringkuk seperti bayi yang terbungkus selimut dan tiba-tiba pingsan sehingga terlihat lucu.
"Permisi, Tuan. Saya akan memeriksa kondisi pasien."
"Mari, Dok. Silahkan!" Balas Max lalu turun dari tempat dan memberi ruang untuk Dokter Damar.
Sebelum memeriksa Phiranita, terlebih dahulu Dokter Damar memperbaiki tidur gadis itu. Setelah itu dia mulai memindai tubuh Phiranita. Melihat hasilnya pada iPad di tangannya, tiba-tiba keringat di dahi Dokter Damar muncul. Dengan takut pria paru baya itu menatap cctv yang terpasang dipojok ruangan.
"Katakan hasilnya padaku. Ingat! nyawamu taruhannya." Suara Rihan terdengar di kamar itu membuat Dokter Damar harus mengelap keringatnya karena takut.
Setelah menarik nafas guna mengumpulkan niat untuk berbicara, Dokter Damar kembali menatap cctv yang terpasang di pojok ruangan itu.
"Terapinya tidak berhasil, Presdir. Saya minta maaf. Biasanya pasien yang saya tangani hanya sekali percobaan dan berhasil." Dokter Damar menjelaskan dengan gugup dan takut sambil meremas jass dokternya kuat.
"Katakan dengan jelas kondisi Tata." Suara Rihan semakin dingin membuat Max yang biasanya sangat santai dengan Rihan, kini mulai merasa takut.
"Tekanan yang dikeluarkan pasien sangat kuat, Presdir. Maksudnya tra...trauma Nona Phi se..semakin meningkat."
"Alex, siapkan ruang eksekusi untuknya."
Mendengarnya Dokter Damar menjadi syok dan tanpa kata, pria paru baya langsung berlutut dan menangkup kedua tangannya sambil menatap pada cctv di atas sana.
"Maafkan saya, Presdir. Tolong beri saya kesempatan lagi. Kali ini saya yakin pasti berhasil."
"Atas dasar apa keyakinanmu?"
"Atas..." Dokter Damar tidak tahu harus berkata apa.
"Tidak ada keyakinan apapun, Presdir. Hanya saja saya percaya dengan diri saya sendiri bahwa saya bisa menyembuhkan Nona Phi." Sambung Dokter Damar penuh tekad.
"Satu kesempatan untukmu." Kesempatan yang Rihan berikan membuat Dokter Damar tersenyum legah.
"Baik, Presdir. Terima kasih."
Dokter Damar kembali memeriksa Phiranita dan keluar dari sana setelah menyuntikkan obat penenang agar Phiranita tidak histeris ketika bangun nanti. Sedangkan Rihan, dia dengan tenang mematikan komputernya dan menatap Alex.
"Ayo pulang!"
"Baik, Tuan. Silahkan!"
Keduanya kemudian keluar dari ruangan itu dan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai satu.
***
Terima kasih sudah membaca cerita Ku.
Jangan lupa untuk tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1