Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Dua Bocah Sampel


__ADS_3

"Aku sebenarnya ingin menyelesaikan ini sendiri. Akan tetapi, kalian juga berhak tahu yang sebenarnya terjadi." Zant membuka suara setelah mereka semua sudah meninggalkan laboratorium dan sedang bersantai di ruang keluarga, rumah kecil di atas laboratorium pribadi Rihan.


"Apa maksud anda?" Tanya Alex datar.


"Ini." Balas Zant memberikan sebuah flashdisk pada Alex.


Alex mengambilnya, kemudian memasangkan di ponselnya untuk melihat isi flashdisk tersebut karena mereka tidak ada yang membawa laptop di sana.


Brakk


"Brengsek!" Umpat Alex marah, setelah memukul meja di depannya dengan kuat.


Alex bergitu marah karena isi flashdisk itu adalah rekaman pertarungan Rihan dan para manusia buatan hingga melawan Neo dan akhirnya tidak sadarkan diri. Alex lebih marah lagi karena Neo adalah orang yang dengan teganya menusuk tepat pada jantung majikannya.


"Bajingan itu benar-benar sudah dicuci otaknya. Dia yang akan menelan ludahnya sendiri. Benar-benar bodoh!" Komentar Alen dengan tangan terkepal kuat.


"Bagaimana anda bisa mendapatkannya?" Tanya Mentra pelan. Pria itu selalu pintar mengatur emosinya.


"Lihat baik-baik, dari sudut mana rekaman itu diambil." Ujar Zant dan bersandar pada sofa sambil memejamkan matanya.


"Ini... dari sudut pandang nona. Anda memasang kamera ini di baju nona? Nona menyadarinya?" Tanya Beatrix tidak percaya.


Setahu Beatrix, Rihan bukan tipe orang yang teledor. Majikannya itu adalah orang yang teliti. Beatrix sangat tahu seperti apa majikannya itu. Jadi, jika majikannya tidak sadar, berarti anak presiden ini benar-benar hebat.


"Jika dia menyadarinya, sudah pasti kalian tidak akan bisa menonton rekaman itu." Jawab Zant santai. Mentra dan Beatrix mengangguk setuju. Sedangkan Alex, asisten pribadi Rihan itu menatap memicing pada Zant.


"Pria ini bukan orang sembarangan. Siapa dia sebenarnya?" Ujar Alex dalam hati.


Zant memang sengaja memasang kamera di kerah baju Rihan, saat dia memeluk gadis kecilnya itu sebelum pergi. Zant melakukan ini, karena rekaman itu akan berguna nantinya. Dan tepat seperti tebakannya, rekaman itu berguna.


"Tugas kalian mengurus mereka. Nona kalian biar aku yang menjaganya. Kalian bisa datang kapan saja untuk melihat kondisinya." Zant berbicara setelah membuka mata dan menatap orang-orang kepercayaan Rihan satu persatu.


"Aku senang kamu memiliki orang-orang seperti mereka yang bisa dipercaya, gadis kecil." Gumam Zant dalam hati.


"Saya akan ikut menjaga nona." Ucap Alex tegas.


"Tidak. Aku akan bersama Dokter Galant. Kamu memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengurus segala sesuatu yang gadis kecilku tinggalkan. Meski ada adikmu, tapi jangan lupa jika banyak hal yang tidak bisa dilakukan seorang diri." Balas Zant membuat Alex terdiam dan sedikit menunduk memikirkan ucapan Zant yang ada benarnya.


"Baik. Kami percayakan nona pada anda. Saya percaya anda mungkin orang yang tepat untuk nona." Alex menatap serius Zant. Zant hanya mengangguk setuju.


"Brengsek itu, aku akan membuatmu menyesal melakukan ini pada nona." Gumam Alex dalam hati mengingat Neo penyebab majikan mereka seperti ini.


***


Di sebuah gedung yang bisa dibilang adalah laboratorium, karena banyak sekali peralatan medis, maupun teknologi canggih lainnya di dalam sana. Di tengah laboratorium itu terdapat 5 tabung kaca berisi air berwarna hijau. 3 tabung lainnya masih kosong, sedangkan 2 tabung sudah diisi oleh dua anak kecil berbeda usia dan jenis kelamin.


Di dalam Laboratorium itu, ada sekitar 4 orang dewasa berpakaian putih sedang sibuk melakukan eksperimen dengan bermacam cairan, membuat sebuah program dengan perangkat komputer, juga meneliti beberapa binatang kecil yang terkenal berbahaya.


Mereka tidak mempedulikan dua orang dewasa lainnya yang berbeda jenis kelamin baru saja masuk dengan salah seorang berjenis kelamin laki-laki berjalan di bagian depan, sedangkan yang perempuan di bagian belakang. Mereka sudah biasa dengan dua orang itu yang merupakan bos dan asistennya yang juga seorang ilmuwan, dan pemilik laboratorium ini.

__ADS_1


"Tuan! Hanya dua sampel ini yang tersisa. Mereka ternyata sampel yang sangat kuat dan jenius. Ini merupakan awal keuntungan untuk kita. Akhirnya penelitian anda berhasil, Tuan." Ucap seorang wanita yang merupakan asisten pria yang dipanggil Tuan itu.


"Hmm. Pantau terus kondisi mereka. Besok adalah waktunya untuk melakukan penelitian inti. Ingat agar ini tidak bocor keluar." Balas sang Tuan yang sedang menatap dua tabung kaca berisi air di depannya, dan dua bocah kecil terlihat mengapung di dalam tabung itu.


"Baik, Tuan."


"Kalian berdua akan menjadi aset berhargaku," Gumam sang Tuan dengan menempelkan telapak tangan kanannya pada salah satu tabung kaca di depannya.


...


Tengah malam merupakan waktu istirahat semua ilmuwan di dalam sana. Hanya akan ada satu atau dua ilmuwan yang berjaga sekaligus bekerja lembur untuk menyelesaikan penelitian mereka.


"Pulanglah. Aku yang akan berjaga. Lagipula penelitianku belum selesai. Aku akan menyelesaikan ini sambil menunggu tugas jaga yang lainnya." Ujar seorang ilmuwan muda dengan kaca mata minus yang bertengger di atas hidungnya.


"Tidak apa-apa? Padahal hari ini ada jadwal kita berdua. Bagaimana bisa aku pulang dan meninggalkanmu sendiri?" Balas seorang pria muda lagi. Keduanya mungkin seumuran.


"Tidak ada yang akan masuk ke sini. Jadi, pulanglah. Jangan lupa jika ini malam minggu. Kamu harus mengajak pacarmu kencan. Aku lebih suka meneliti penemuan di sini." Ucap ilmuwan muda pertama.


"Baiklah. Terima kasih, Sam. Apa aku harus mencari seorang gadis untukmu juga? Supaya kita bisa doble date. Bagaimana?" Tawar ilmuwan kedua.


"Tidak. Penemuanku lebih penting sekarang. Pergilah. Sudah hampir waktunya kencan." Ucap ilmuwan bernama Sam itu, dan mendorong pelan teman ilmuwannya.


"Oke. Sampai jumpa besok, Sam."


"Ya. Sampai jumpa besok."


Setelah kepergian teman ilmuwannya, Sam menuju kontrol utama laboratorium ini, kemudian mematikan semua cctv dan menghampiri dua tabung yang ditempatkan secara vertikal di tengah ruangan itu.


Kali ini, kalian berdua harus diselamatkan. Orang tua kalian pasti khawatir. Maaf karena kakak tidak bisa menyelamatkan teman-teman kalian yang lain." Gumam Sam lalu menekan tombol di setiap pintu tabung agar terbuka dan dua bocah di dalam sana bisa keluar*.


Tabung pertama yang Sam buka, berisi seorang bocah laki-laki. Setelah mengeluarkan bocah laki-laki itu, Sam kemudian menyuntikkan sesuatu ke lengannya agar bocah itu segera sadar.


"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Sam setelah bocah laki-laki itu sadar.


"Kamu siapa?" Tanya bocah lali-laki itu pelan.


"Aku, Sam. Panggil saja kak Sam. Aku yang akan menyelamatkanmu dan temanmu. Setelah itu, kita akan keluar dari sini." Jawab Sam dan tersenyum tipis. Bocah laki-laki itu hanya membalas dengan anggukkan.


"Gadis kecil, Syukurlah kamu baik-baik saja." Ucap bocah laki-laki setelah menarik gadis kecil itu ke dalam pelukannya.


"Kakak laki-laki..." Balas gadis kecil itu dan membalas pelukan bocah laki-laki itu.


"Kita akan keluar dari sini. Ayo..." Sam tersenyum kemudian menggandeng masing-masing tangan dua bocah itu.


...


"Gadis kecil..." Gumam Zant setelah bangun dari tidurnya.


Peristiwa di laboratorium itu merupakan ingatan masa kecilnya bersama gadis kecilnya yang baru dia tahu hari kemarin adalah Rihan. Si gadis kecil yang akan dijadikan sampel penelitian oleh seorang ilmuwan tua bersama dirinya.

__ADS_1


Zant segera turun dari brankar dan menuju tabung es tempat Rihan berada.


"Aku akan menunggu hingga kamu bangun, gadis kecil. Apapun akan aku lakukan agar kamu segera kembali. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi." Gumam Zant lirih. Padangan mata pria itu sayu ke arah tabung es. Lebih tepatnya wajah teduh Rihan di dalam sana.


"Aku akan naik sebentar untuk membersihkan diri. Tunggu aku, gadis kecil." Pamit Zant lalu beranjak pergi untuk membersihkan diri di atas.


...


"Kamu bisa masak?" Tanya Zant basa-basi pada Dokter Galant yang sedang sibuk memasak di dapur mini dalam dalam rumah kecil di atas laboratorium pribadi milik Rihan itu. Zant baru selesai membersihkan dirinya.


Zant dan Dokter Galant akan tinggal di rumah kecil itu sambil mengawasi Rihan di bawah. Rumah kecil itu memiliki perabotan lengkap yang dilengkapi dengan dua kamar tidur dengan kamar mandi di kamar masing-masing, sehingga mereka tidak perlu memikirkan dimana mereka akan beristirahat.


"Ini pertama kalinya saya memasak. Biasanya para bawahan Tuan majikan akan mengantarkan makanan pada kami. Semoga masakan saya sesuai dengan lidah anda, Tuan." Dokter Galant menjawab setelah menata beberapa menu yang sudah dia masak, dan kembali mengiris beberapa sayuran.


"Terima kasih, dan jangan terlalu formal. Panggil aku kakak. Aku lebih tua satu tahun darimu. Kita akan tinggal lebih lama di sini, jadi biasakan dirimu denganku." Balas Zant dan duduk di meja makan.


"Baiklah, Kak. Selamat makan!" Ucap Dokter Galant setelah duduk di depan Zant.


"Lain kali aku yang akan memasak." Zant mulai menyuapi makanan ke mulutnya. Dokter Galant hanya membalas dengan anggukan.


"Masakan pertamamu tidak buruk. Ini sesuai lidahku." Komentar Zant.


"Terima kasih."


***


Neo saat ini sedang menyuapi Elle dengan semangkuk bubur. Pria itu selalu tersenyum senang melihat kekasihnya dengan lahap menikmati sarapan paginya sebelum minum obat dan beristirahat.


Elle sudah menjalankan operasi untuk menutup luka sayatan yang Rihan berikan untuknya dan sedang dirawat di rumah sakit yang berbeda dengan rumah sakit tempat kedua ibu Rihan dirawat.


"Terima kasih sudah memberitahu sifat asli Rei padaku. Jika kamu tidak memberitahuku, aku mungkin akan menyesal seumur hidup. Lain kali, jangan melakukan semua hal sendiri. Katakan padaku, dan aku akan membantumu." Ucap Neo setelah bubur di mangkuk habis.


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya tidak ingin kamu khawatir. Lagipula luka ini bukan apa-apa. Tapi, bagaimana dengan proyek pembangunan resort itu?" Tanya Elle setelah meneguk segelas air dan memberikan gelas kosong pada Neo.


"Tidak perlu memikirkannya. Proyek itu tidak terlalu menguntungkan. Lagipula, aku sudah memutuskan semua kerja sama yang berhubungan dengan Rei. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi." Balas Neo pelan.


"Kenapa dengan hatiku? dia tidak sejalan dengan perkataanku." Ujar Neo dalam hati karena ketika mengatakan tidak ingin bertemu dengan Rihan lagi, dadanya tiba-tiba terasa sesak.


"Tapi, sayang..." Ucap Elle tidak senang.


"Tidak apa-apa! Bagiku itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah kesembuhanmu," Balas Neo dan membantu Elle berbaring.


"Sialan...! padahal proyek itu sangat penting untukku." Kesal Elle dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


Yo...bagiamana part ini?


__ADS_2