
"Tuan muda begitu menjaganya, apa itu kekasihnya?" Tanya Ariana pada dirinya sendiri.
Ariana sedang duduk sambil menopang dagu dengan tangannya sambil memikirkan gadis yang dia lihat sangat dijaga oleh Rihan. Ingatan lalu kembali pada hari kemarin, dimana dia mengikuti Rihan dan teman kelompoknya untuk pergi ke rumah sakit Setia.
Flashback.
Mobil Rihan kini berhenti tepat 5 meter di depan pintu rumah sakit Setia, diikuti oleh mobil lainnya. Rihan kemudian turun dari mobil ketika Alex membuka pintu untuknya.
Rihan menunggu pengemudi mobil yang mengikutinya dari belakang, agar mereka sama-sama masuk ke dalam. Rihan kemudian mengerutkan keningnya ketika melihat mobil lain yang baru saja berhenti di samping mobilnya. Pemiliknya lalu keluar dan Rihan mengenalinya. Itu adalah Ariana.
"Haruskah saya mengusirnya, Tuan?" Tanya Alex ketika melihat tatapan sang majikan pada Ariana yang baru saja turun dan memasang senyum terbaiknya pada Rihan.
"Biarkan saja." Jawab Rihan, lalu berjalan memasuki pintu rumah sakit diikuti oleh Alex, David, Dian, Albert dan terakhir Ariana.
"Interior rumah sakit ini semakin memanjakan mata, tidak seperti terakhir aku kesini." Suara Albert yang mengomentari bagaimana berubahnya warna dinding maupun tambahan benda-benda hiasan yang terlihat mahal di sana. Semua dekorasinya hampir menyamai hotel berbintang.
"Selain membelinya, ternyata semuanya diganti. Seberapa kaya kira-kira keluarga Lesfingtone itu?" Tanya Albert penasaran, pada David yang berjalan sejajar di sebelahnya.
"Tanyakan sendiri padanya jika kamu berani." Jawab David tanpa menoleh pada Albert.
David juga kagum dengan interior rumah sakit ini. Sayangnya dia tidak memperlihatkannya.
Sedangkan kedua gadis yang yang tidak lain adalah Dian dan Ariana entah apa yang mereka pikirkan selama mereka mengikuti Rihan dari belakang.
***
"Selamat datang, Presdir." Sambut Dokter Damar ketika melihat Rihan memasuki ruang rawat Phiranita. Rihan hanya menganggukkan kepalanya tanda membalas sapaan itu.
"Siapa yang bertugas menjaganya?" Tanya Rihan datar pada Dokter Damar yang kini terlihat gugup.
Bagaimana tidak gugup, Rihan sudah menyerahkan semua tanggung jawab untuk menjaga Phiranita padanya. Bisa dibilang, Dokter Damar sudah seperti dokter pribadi Phiranita.
Dengan tanggung jawab itu, Dokter Damar sudah membagi beberapa suster untuk bertugas bergantian setiap hari menjaga Phiranita jika Rihan sedang tidak ada di sampingnya.
Akan tetapi, tiba-tiba Dokter Damar menerima laporan dari seorang suster yang bertugas menjaga Phiranita saat itu. Katanya, ketika dia pergi sebentar ke toilet dan kembali, dia sudah mendapati Phiranita yang mengamuk sambil menyakiti dirinya lagi.
Mendengar laporan itu, Dokter Damar seketika teringat akan pesan Rihan setelah memberikan tanggung jawab ini padanya.
__ADS_1
"Ingatlah untuk melakukan tugasmu dengan baik. Sekali traumanya kambuh, maka terima resikonya."
Mengingat pesan itu, jantung Dokter Damar berdebar kencang sangking takutnya dengan resiko apa yang akan dia terima. Sebelum menghubungi Rihan, Dokter Damar sudah berusaha mencari saksi mata kejadian itu, tetapi tidak menemukan apapun.
CCTV yang terpasang di sana, tidak mengarah ke tempat kejadian sehingga mereka tidak tahu apa saja yang sudah terjadi pada Phiranita.
...
"Saya, Presdir." Jawab Suster yang bertugas menjaga Phiranita hari ini.
"Ceritakan!" Singkat Rihan datar, lalu menatap tajam suster itu.
"Setelah makan siang, pasien meminta untuk jalan-jalan di taman rumah sakit. Saya lalu membawanya ke taman. Setelah sampai di sana, saya ingin ke toilet sehingga meninggalkan pasien sendirian di sana. Ketika saya kembali, pasien sudah mengamuk sendiri. Pasien bahkan membenturkan kepalanya berulang kali di kursi yang dia duduki, Presdir." Jelas Suster itu gugup.
Mendengar sang sahabat yang membenturkan kepalanya, Rihan dengan cepat mendekat ke arah Piranita dan mendapati dahi sahabatnya yang sudah ditutupi dengan perban.
"Tidak ada saksi di sana?" Tanya Rihan sambil menatap tajam suster itu.
Rihan berusaha tenang, padahal dia merasa marah melihat dahi sahabatnya yang terluka. Rihan tahu pasti, trauma Phiranita tidak akan kambuh jika tidak ada pemicunya.
"Tidak ada sama sekali, Presdir." Jawab suster itu menundukkan wajahnya takut.
"Baik, Presdir."
"Ikuti dia, Lex." Perintah Rihan saat suster itu sudah berlalu dari sana.
"Baik, Tuan." Balas Alex kemudian ikut keluar dari sana menjalankan perintah majikannya.
"Maafkan saya, Presdir. Ini semua salah saya. Saya siap menerima resikonya karena tidak menjalankan tugas dengan baik." Dokter Damar sangat merasa bersalah.
"Bagianmu tetap ada," Rihan membalas datar.
Dokter Damar menelan ludahnya susah paya, mencerna maksud sang presdir tentang bagiannya. Dia mengatakan hal itu karena berharap sang presdir bermurah hati. Sayangnya tidak. Dokter Damar hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dia terima nanti.
"Kejam sekali. Tetapi tetap tampan. Bagaimana aku bisa melupakannya?" Komentar Dian dalam hatinya sambil menatap Rihan yang sedang mengelus sayang pucuk kepala Phiranita.
"Gadis itu Kekasihnya?" Tanya David dalam hati.
__ADS_1
"Ternyata ini sisi lain dari seorang yang dingin, sepertinya." Gumam Albert dalam hatinya.
"Dia pasien yang aku maksud." Suara Rihan menyadarkan semua orang yang sedang larut dalam pikirannya masing-masing.
"Ah... ya. Jadi bagaimana kondisinya?" Tanya Albert yang baru sadar dari lamunannya.
"Pasien dengan nama Phiranita merupakan korban tindak kekerasan, sekaligus pelecehan seksual. Karena kecelakaan yang dialami, pasien mengalami trauma yang berkepanjangan. Saat ini keadaannya baik-baik saja. Hanya saja, traumanya akan kambuh jika bersentuhan dengan pria." Jelas Dokter Damar ketika mendapat isyarat dari Rihan untuk menjelaskan kondisi Phiranita.
"Jika traumanya berkepanjangan, bagaimana kita bisa tahu kapan dia sembuh?" Tanya Albert bingung, dan mendapat anggukan setuju dari Dian.
"Pasien memang bisa dibilang akan lama sembuhnya. Tetapi saya kembali mendapat fakta baru, jika pasien tidak menolak sentuhan dari presdir. Jadi saya pastikan, pasien akan segera sembuh jika selalu di dampingi oleh presdir." Dokter Damar menjawab dengan tenang.
"Baiklah. Jadi kapan kita akan mulai proyeknya?" Tanya Albert, lalu menatap David dan Dian.
Semua pandangan lalu tertuju pada Rihan menunggu jawaban. Rihan yang merasa diperhatikan, segera menjawab tanpa melihat lawan bicaranya karena dia sendiri sibuk menatap wajah teduh sang sahabat.
"Atur saja waktunya."
"Bagaimana kalau lusa?" Usul Albert.
"Oke. Lusa." David segera menyahut setuju, sedangkan Dian lagi-lagi hanya mengangguk.
"Jika boleh tahu, proyek apa yang sedang kalian kerjakan?" Tanya Dokter Damar penasaran.
"Kami mendapat tugas dari kampus untuk nilai akhir semester nanti. Tugas ini berupa proyek untuk meneliti bagaimana perkembangan pasien yang sedang sakit." Jawab Albert.
"Jadi, pasien yang akan kalian lihat perkembangannya adalah nona Phiranita?" Ujar Dokter Damar sambil menganggukkan kepalanya.
"Iya, Dok."
"Jika begitu, saya akan mengambil data kesehatan pasien, agar kalian bisa memulainya dengan itu." Dokter Damar kemudian pamit untuk mengambil berkas yang dimaksud.
"Maaf Tuan, saya sudah menemukan orangnya." Alex yang baru saja datang dengan seseorang di belakangnya.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.