Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Belanja 2


__ADS_3

Rihan saat ini sedang berdiri di luar toko menunggu Neo membayar belanjaan mereka. Rihan hanya menatap datar kendaraan yang berlalu lalang di jalanan Bahnhofstrasse, kota Zurich. Di samping kiri kanan jalan banyak toko-toko berderet rapi yang menjual barang-barang ekslusif dan bermerek yang terkenal.


Tidak lama kemudian Neo muncul sambil tersenyum dan menghampiri Rihan.


"Dimana belanjaannya?" Tanya Rihan mengerutkan kening karena Neo keluar dengan tangan kosong.


"Mereka akan mengantarnya ke mansion karena kita harus jalan-jalan lagi. Masih ada banyak waktu sebelum malam. Ayo..." Jawab Neo dan tanpa permisi merangkul Rihan dengan meletakkan tangan kanannya di bahu pria cantik di depannya.


"Seperti ini terlihat lebih baik," Sambung Neo ketika Rihan akan menolaknya.


"Terserah." Balas Rihan datar.


"Tapi tidak baik untuk jantungku," Sambung Rihan dalam hati.


Neo dengan senyum senang mengeratkan rangkulannya sehingga Rihan semakin merapat padanya. Keduanya kemudian jalan-jalan lagi, menyusuri jalanan Bahnhofstrasse khusus pejalan kaki. Rihan sendiri hanya bisa pasrah. Sesekali dia akan menengok ke atas untuk menatap pria tampan yang merangkulnya ini.


Sudah lima belas menit mereka berjalan, Rihan kembali menatap wajah Neo lalu mengerutkan kening.


"Sedari tadi kak Neo terus tersenyum setelah keluar dari toko. Ada apa?" Tanya Rihan penasaran.


"Kamu ingin tahu?" Rihan hanya membalas dengan anggukan.


Neo tersenyum dan kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu di toko pakaian.


"Apa dia kekasih anda?"


Mendengar pertanyaan itu, Neo berkedip beberapa kali tidak tahu harus berkata apa.


"Eum... kenapa anda berpikir seperti itu?" Tanya balik Neo lalu menggaruk pelipisnya. Dia kaget mendengar pertanyan ini.


"Perlakuan anda pada kekasih anda membuat saya berpikir seperti itu. Menurut saya, anda dan pria cantik itu cocok satu sama lain. Kalian sangat serasi bersama. Ini pertama kalinya saya sangat senang melihat pemandangan seperti ini. Karena itu juga, belanjaan anda kami beri diskon 20%. Kami juga menyediakan jasa pengiriman gratis ke tempat pembeli jika mereka mau. Anda bisa menulis alamat anda di sini," Ucap sang kasir masih dengan senyum ramahnya.


Neo hanya tersenyum pada kasir wanita itu tanpa ada niat menjawab. Dia lalu mengambil pena dan menulis alamat mansion keluarga Chi pada secarik kertas yang diberikan sang kasir.


"Hanya itu, lalu kenapa kak Neo tersenyum?" Tanya Rihan heran setelah mendengar cerita Neo.


"Entahlah. Aku juga heran kenapa bisa seperti ini. Tapi setelah dipikir-pikir, perkataan kasir itu benar. Kita memang cocok. Apalagi kamu..." Ucap Neo lalu melepas rangkulannya dan menarik Rihan menghadap padanya.


"Lihatlah, betapa cantik dan tampannya dirimu. Aku tidak masalah berubah haluan jika pasangannya sepertimu." Sambung Neo kemudian mencubit pipi Rihan gemas.


"Sepertinya kak Neo kehabisan obat. Lepaskan!" Pintah Rihan menatap kesal pada Neo yang belum melepas cubitannya.


"Boleh aku menggigit pipimu?" Tanya Neo tanpa menghiraukan Rihan. Neo masih saja menggoyang-goyang tangannya yang mencubit pipi Rihan.


"Jangan gila, Kak. Ayo lepas!"


"Satu gigitan, maka aku akan melepaskannya. Deal?"


"Oke."

__ADS_1


Neo dengan senang melepas cubitannya dan bersiap menggigit pipi Rihan.


"Hei... kamu curang, Rei. Jangan lari!!" Teriak Neo lalu mengejar Rihan yang sudah berlari meninggalkannya.


Terjadilah aksi kejar-kejaran dua manusia itu tanpa mempedulikan tatapan aneh dan penasaran perjalan kaki di sekitar mereka.


Rihan terus berlari tanpa menatap Neo di belakangnya hingga Rihan tiba-tiba berhenti karena matanya melihat sesuatu. Neo yang melihat Rihan berhenti ikut berhenti. Neo mengikuti arah pandang Rihan. Ternyata Rihan sedang menatap sebuah kalung bermerek Chopard yang tergantung indah pada leher manekin setengah badan tanpa lengan yang dipajang dalam toko.


Rihan yang tadinya asik berlari, mengalihkan pandangan ke samping kirinya dan mata tajamnya berhasil menangkap sebuah kalung yang terpajang dalam toko. Rihan tertarik pada kalung itu karena mata kalung itu didesain berbentuk kepala kucing yang terlihat lucu.


Menatap kalung itu cukup lama, Rihan mengalihkan pandangan pada pergelangan tangannya yang terdapat gelang pemberian sang sahabat yang juga terdapat gantungan kepala kucing di bagian tengahnya. Rihan berniat membeli kalung itu sebagai hadiah ulang tahun Phiranita bulan depan.


"Kamu ingin kalung itu?" Tanya Neo sambil menunjuk pada objek yang dimaksud.


"Hmm." Deheman Rihan kemudian berniat masuk dan membelinya.


"Biar aku saja. Tunggu di sini." Neo menahan tangan Rihan.


"Aku ikut."


"Oke. Tapi aku yang bayar. Hari ini, apapun yang kamu mau, aku yang traktir."


"Terserah."


Keduanya kemudian masuk ke dalam toko itu.


"Baik. Tunggu sebentar, Tuan. Akan saya siapkan."


Tidak menunggu waktu lama, pegawai tokoh itu kembali sambil membawa kalung itu bersamanya.


"Anda sangat beruntung membeli kalung ini, karena dibuat hanya ada satu buah. Kalung ini dibuat secara khusus oleh desainernya, dengan berbahan dasar perak murni dengan memakai motif kepala kucing sebagai salah satu keunggulannya.


Desainernya sengaja membuat motif kepala kucing karena anaknya yang sudah meninggal sangat menyukai kucing," Jelas pegawai yang mengambil kalung itu. Neo hanya membalas dengan anggukan. Rihan sendiri hanya diam.


"Sini, aku bantu pasangkan di lehermu." Ujar Neo yang berpikir Rihan membeli untuknya.


"Itu bukan untukku," Jawabab Rihan membuat Neo berhasil mengubah ekspresi wajahnya.


"Lalu, untuk siapa?"


"Tata."


"Lihatlah, betapa kamu sangat perhatian pada Ira. Aku tidak yakin kamu hanya menganggapnya sahabat." Gumam Neo dalam hati.


"Tolong dibungkus." Ujar Rihan datar pada pegawai toko.


"Baik, Tuan."


Neo menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan lalu mengambil kartu hitam miliknya dan memberikannya pada pegawai toko itu.

__ADS_1


"Jika kak Neo keberatan, aku bisa membayarnya sendiri." Rihan menyadari perubahan ekspresi Neo.


"Aku sudah janji mentraktirmu seharian ini. Kamu ingin membeli untuk semua teman sekelasmu juga tidak masalah."


"Hmm."


Hening beberapa saat karena mereka menunggu pegawai toko membungkus kalung itu.


"Bisakah aku melihat jam tangan ini?" Pintah Neo ketika matanya melirik pada jam tangan bermerek Patek Phillipe berwarna emas putih yang menarik perhatiannya.


"Ini, Tuan. Ada juga dua pilihan lain, yaitu emas berwarna rose dan platinum. saya akan mengambilnya sebentar, Tuan."


"Tidak perlu. Aku ingin yang ini. Adakah ukuran yang agak kecil? Untuknya," Tanya Neo lalu menunjuk pergelangan tangan Rihan yang kecil.


"Sepertinya ada. Akan saya ambilkan, Tuan."


"Ini, Tuan."


"Berikan tanganmu," Pintah Neo pada Rihan.


Rihan dengan patuh memberikan tangannya pada Neo. Pria itu lalu melepas jam tangan pintar milik Rihan kemudian memasang jam tangan yang baru saja dia beli. Rihan hendak protes karena jam tangan miliknya bukan jam tangan sembarangan. Sayangnya Neo menatapnya tajam, membuatnya menghentikan niatnya.


"Mulai sekarang, pakai jam tangan ini. Aku akan marah jika kamu melepasnya." Nada suara Neo penuh penekanan.


Rihan hanya membalas dengan anggukan. Rihan berencana memasang lagi otak pintar pada jam tangannya ini untuk membantunya di masa depan.


"Bantu pasangkan milikku juga," Neo mengulurkan tangannya pada Rihan. Rihan menatap Neo sebentar kemudian mengambil jam tangan itu dan memasangkan pada Neo.


"Tambahkan dua jam tangan ini lagi dalam tagihan." Ucap Neo sambil menatap jam tangan barunya dan tersenyum.


"Baik, Tuan. Terima kasih sudah membeli barang di toko kami."


Neo hanya membalas dengan anggukan. Pria itu berbalik kemudian merangkul Rihan dan keluar dari sana. Rihan hanya diam dan mengikuti Neo sambil menenteng paper bag kecil berisi kalung milik Phiranita.


"Ayo makan siang. Di depan sana ada restaurant bagus." Ajak Neo setelah keduanya keluar dari toko.


"Sebaiknya kita pulang saja dan makan di mansion." Tolak Rihan. Neo yang mendengarnya sadar dengan kondisi Rihan.


"Besok atau lusa kamu pulang, jadi sebaiknya manfaatkan hari ini dengan baik. Aku ingin kita pulang malam hari. Biarkan aku menelpon Alex dan menyiapkan makanan dan mengirimnya ke sini. Jangan membantah."


"Ck..."


"Kamu bisa mencibir l, heh? Itu sangat jelek. Sebaiknya tersenyum padaku itu pasti cantik," Ucap Neo lalu menatap Rihan penuh harap.


"Jangan harap." Rihan menolak lalu menatap ke arah lain.


"Ini pesanku. Jika kamu ingin tersenyum, sebaiknya orang pertama yang melihatnya adalah aku." Ucap Neo penuh penekanan. Rihan kembali menatap Neo dengan pandangan tidak percaya.


"Ini perintah. Jangan melihatku seperti itu. Aku akan menelpon Alex sebentar," Sambung Neo lalu mengambil ponselnya dan menelpon Alex tanpa melepas rangkulannya.

__ADS_1


__ADS_2