
"Terima kasih sudah hadir di mimpiku. Ini mimpi terbaik sepanjang hidupku. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku mencintaimu. Rhi. Maafkan aku. Aku bisa beristirahat sekarang. Sekali lagi terima kasih, Rei."
Pletak!
Dengan tanpa perasaan, Rihan menyentil dahi Neo cukup kuat, membuat pria berwajah pucat itu kaget dan menatap syok Rihan.
"Kamu... kenapa menyentil dahiku?" Tanya Neo sambil meringis menyentuh pelan dahinya.
"Agar kamu sadar, ini bukan mimpi!" Jawab Rihan datar.
"Ja... jadi..." Neo seketika tersadar dan berusaha bangun.
Jantung Neo berdebar kencang. Pria itu sangat senang ketika Rihan mengatakan ini bukan mimpi. Bibir pucatnya tertarik ke atas membentuk senyum senang.
"Bolehkah aku memelukmu sebentar saja?" Pintah Neo penuh harap.
Neo sudah bangun dengan sendirinya tanpa bantuan Rihan. Padahal beberapa saat lalu, kondisi pria itu sangat lemah dan bahkan tidak bisa bangun sendiri. Akan tetapi, kedatangan Rihan membuat kondisi tubuhnya tiba-tiba membaik.
"Sekali saja kamu memeluknya, maka hanya hitungan detik sebelum namamu tercatat di batu nisan!" Suara Zant tiba-tiba muncul sebelum Rihan menjawab Neo.
Rihan hanya geleng kepala tidak habis pikir dengan kemunculan Zant. Bukannya pria itu mengatakan akan menunggu diluar? Kenapa dia sudah masuk ke dalam?
"Bukankah kak Zant tidak ingin masuk?" Sindir Rihan sambil menahan senyumnya.
"Kamu terlalu lama, jadi aku menyusul ke sini." Balas Zant pelan, berusaha menutupi rasa malunya.
"Aku baru 10 menit di sini, Kak." Rihan melirik jam tangannya.
"Bagiku itu sangat lama," Sahut Zant lalu menghampiri Rihan. Tatapan Zant begitu tajam pada Neo.
"Sepertinya kondisi tubuhmu sudah membaik, jadi aku bisa membawa pergi calon istriku." Sambung Zant lalu mengecup pucuk kepala Rihan yang duduk, sedangkan dia berdiri di sampingnya. Zant ingin menunjukan pada Neo bahwa Rihan miliknya.
"Ca...calon istri?" Ulang Neo tidak percaya.
"Ya. Kami akan menikah besok. Jika kondisimu sudah membaik, datanglah ke acara pernikahan kami." Balas Zant datar.
"Besok?"
"Hm."
"Bisakah aku bicara berdua saja dengan Rei? Maksudku, Rihan."
"Tidak." Zant menolak dengan cepat.
"10 menit sudah cukup. Jika ingin bicara dengannya, katakan saja di hadapanku." Lanjut Zant datar.
"Entah aku bisa datang atau tidak. Tapi selamat untuk pernikahan kalian. Aku berdoa semoga kalian selalu bahagia. Aku juga akan melepaskanmu untuk Zant. Aku harap dia bisa menjagamu seumur hidupnya dan tidak melakukan kesalahan sepertiku. Tapi satu hal yang ingin aku katakan padamu, Ri.
Jika Zant tidak mencintaimu lagi... jika dia menyakitimu, jika dia membuatmu menangis, ingatlah jika masih ada aku yang akan selalu menunggumu. Aku akan terus menunggumu sampai kapanpun."
Perkataan Neo berhasil membuat Zant kesal. Tangan Zant terkepal kuat ingin sekali memberi bogem manis pada Neo. Untungnya Rihan yang menyadarinya segera menggenggam erat tangan Zant yang berada di bahunya, menenangkan pria itu.
"Ck... dia pikir aku siapa, dia siapa? Beraninya mengatakan itu di depanku," Ujar Zant dalam hati. Kekesalannya sedikit berkurang karena Rihan menenangkannya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskannya. Jadi, berhentilah berharap. Ayo kita pulang, My Queen..." Ajak Zant pada Rihan.
Rihan tetap diam dan mengikuti langkah Zant. Dalam hati dia terkekeh, karena kelakuan pria yang saat ini memeluk posesif pinggangnya.
__ADS_1
"Aku punya satu permintaan. Aku sangat berharap, jika kalian memiliki anak perempuan kelak, aku ingin dia menjadi anak baptisku. Maaf karena meminta ini pada kalian, tapi aku mohon... biarkan aku menjadi ayah baptis anak kalian nanti," Suara Neo berhasil menghentikan niat Zant yang ingin membuka pintu.
"Berikan aku alasan yang jelas, kenapa aku harus menjadikanmu ayah baptis anakku." Zant berbalik bersama Rihan dan menatap Neo tajam.
"Meski Rihan sudah menikah, tapi aku ingin tetap menjadi bagian dari hidupnya. Menjadi ayah baptis putrinya adalah keinginanku. Aku ingin merawat anak dari orang yang aku cintai. Meski tidak memilikinya, tapi menjadi ayah baptis anaknya, bagiku sudah cukup."
Zant hanya mendengus kesal karena perkataan Neo. Tanpa menjawab Neo, Zant segera menarik Rihan dengan lembut untuk keluar dari sana.
"Aku merelakanmu dengan Zant, tetapi aku akan tetap mencintaimu seumur hidupku. Aku akan menyerahkan seluruh hidupku untuk menjagamu dan keluargamu dari jauh. Aku akan melindungimu dari orang-orang yang berniat jahat padamu. Melihatmu dari jauh, melihatmu bahagia, bagiku sudah cukup. Itu adalah penebusan kesalahan yang aku buat padamu. Kamu akan selalu tersimpan di hatiku sampai kapanpun." Batin Neo dan tersenyum tipis kemudian berbaring dan memejamkan matanya.
...
"Apa yang kamu pikirkan?" Suara Logan disertai tepukan pelan di bahu Neo berhasil menyadarkan Neo dari lamunannya tentang pertemuannya kemarin dengan Rihan dan Zant.
"Tidak ada."
"Aku tahu kamu sedih melihat orang yang kamu cintai menikah dengan orang lain. Apa boleh buat, Rihan bukan takdirmu. Dia bukan tulang rusukmu. Biarkan dia bahagia."
"Aku tahu."
"Baguslah. Ayo! Sudah waktunya giliran kita untuk memberi selamat pada pengantin baru."
"Hm."
Neo dan Logan kemudian menuju tempat duduk pengantin baru, yaitu Rihan dan Zant.
"Selamat untuk pernikahan kalian. Aku turut bahagia. Ini kado pernikahan dariku untuk kalian. Dan juga... boleh aku minta sesuatu?" Neo tidak lupa menatap penuh permohonan pada Zant, berharap pria itu tidak menolaknya lagi.
"Karena ini hari bahagia, aku akan mengabulkan permintaanmu."
"Janji jangan menolak nanti," Ujar Neo memastikan lagi.
"Hm."
"Biarkan aku memeluk Rihan sekali saja. Aku janji tidak lama. Aku hanya ingin memeluknya untuk terakhir kalinya."
"Aku ingin menarikku kata-kata tadi." Kesal Zant dalam hati. Akan tetapi pria itu menahan diri untuk tidak cemburu melihat tatapan memuja Neo pada istrinya.
Neo yang melihat tidak ada respon dari Zant, beranggapan bahwa pria itu setuju dan tidak menolak. Dengan senyum tipis, Neo menatap Rihan.
"Boleh aku memelukmu?" Tanya Neo dengan lembut pada Rihan.
Sebelum menjawab, Rihan lebih dulu menoleh pada suaminya yang terlihat memasang wajah datar. Tapi tidak lama, Zant membalas tatapan Rihan kemudian mengangguk, terpaksa setuju.
Neo lalu menarik Rihan dengan lembut ke dalam pelukannya. Pria itu bahkan meneteskan air mata karena setelah sekian lama, dia akhirnya bisa memeluk tubuh mungil ini lagi.
Neo semakin yakin Rihan dan Rei adalah orang yang sama, karena postur tubuh, juga wajah keduanya benar-benar mirip. Bahkan aroma tubuh mereka juga sama.
"Aku benar-benar merindukanmu. Maafkan kebodohanku di masa lalu. Aku sungguh menyesal. Selamat sudah menemukan kebahagiaanmu sendiri. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Sekali lagi maafkan aku."
"Aku akan memaafkan kak Neo, asalkan kak Neo juga mencari kebahagiaan sendiri. Lupakan aku dan cari kebahagiaanmu, Kak."
"Aku bahagia jika kamu bahagia. Tapi maaf, aku tidak akan bisa melupakanmu. Namamu sudah terukir jelas dalam hatiku. Nama itu tidak akan bisa dihapus sampai kapanpun." Jawab Neo tegas. Keduanya masih saja berpelukan. Zant sendiri sudah menatap ke arah lain.
Rihan hanya bisa menghela nafas tidak tahu bagaimana cara mengubah pola pikir seorang Neo. Rihan melepas pelukannya dan sedikit menarik sudut bibirnya menatap Neo.
"Aku pamit. Selamat menempuh hidup baru." Neo beralih menjabat tangan Zant.
__ADS_1
Sebelum Neo benar-benar pamit, pria itu dengan cepat mengecup pipi Rihan kemudian berlari menjauh dari sana, tidak ingin mendengar kemarahan Zant.
"Pria bodoh itu..." Kesal Zant sambil menatap tajam punggung Neo yang menjauh.
"Sudahlah, Kak. Tenangkan dirimu." Rihan lalu menggenggam erat tangan Zant.
"Jangan harap aku mengizinkanmu menjadi ayah baptis anakku," Zant masih saja kesal. Rihan hanya bisa menggeleng kepala dan tersenyum tipis.
***
Saat ini Rihan dan Zant ada di kamar. Resepsi pernikahan sudah berakhir. Rihan terlihat gugup menatap pantulan wajahnya di cermin. Zant sendiri ada kamar mandi.
"Jangan gugup, My Queen. Aku tidak akan memaksamu jika kamu belum siap," Bisikan sensual Zant di telinga, mengagetkan Rihan sekaligus membuatnya merinding.
"Kak..."
"Biarkan aku membantumu melepasnya," Zant membantu Rihan melepas perhiasan yang melekat di tubuh istrinya.
"Aku sudah menyiapkan air mandi untukmu. Pergilah. Aku akan menunggumu." Saking gugupnya, Rihan hanya mengangguk dan dengan cepat berlari ke kamar mandi.
Zant hanya terkekeh senang melihat wajah menggemaskan sang istri. Pria itu lalu beralih ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya.
Cukup lama Rihan di kamar mandi, membuat Zant mengerutkan kening sedikit khawatir karena tidak biasanya istrinya ini berlama-lama di kamar mandi.
Zant yang tadinya bersandar di kepala tempat tidur, bersiap turun menyusul ke kamar mandi. Baru saja Zant akan menurunkan kakinya menyentuh lantai, kemunculan Rihan dengan piyama tidur menghentikan niatnya.
"Kamu baik-baik saja, My Queen?"
"Aku baik-baik saja, Kak. Maaf membuatmu khawatir."
"Tidak apa. Ayo sini..." Ajak Zant sambil menepuk sisi kirinya agar Rihan duduk di sebelahnya.
Rihan hanya mengangguk dan dengan gugup naik ke tempat tidur dan langsung berbaring. Zant hanya geleng kepala, tetapi pria itu masih dalam posisi semula.
"Sudah tidur?" Tanya Zant pelan. Sedari tadi pandangan pria itu tidak lepas dari wajah istrinya.
"Aku tahu kamu belum tidur. Ayo, lihat aku!" Lanjut Zant sambil mengelus lembut pucuk kepala Rihan. Tidak lupa juga kecupan singkat diberikan di dahi istrinya.
Dengan pelan Rihan membuka matanya dan menatap tepat bola mata Zant yang hanya beberapa senti dengannya.
"Jangan gugup, hum? Aku akan menunggumu hingga kamu siap." Zant berbicara dengan lembut dan berakhir dengan mengecup semua bagian wajah Rihan.
Mulai dari kening, mata, hidung, pipi, dagu, dan terakhir bibir Rihan. Di bagian bibir, Zant bukan hanya mengecup, tetapi sedikit memberi l*****n pada bibir menggoda itu.
Jika saja Zant tidak memikirkan kegugupan sang istri, pria itu pasti sudah menerkamnya sekarang. Dengan pelan Zant melepas penyatuan mereka dan tersenyum tipis pada Rihan yang wajahnya sudah memerah.
"Aku mencintaimu, My Queen. Sangat-sangat mencintaimu." Zant lalu merebahkan dirinya kemudian menarik Rihan ke dalam pelukannya.
"Aku juga mencintaimu, My King. Sangat."
"Aku tahu. Ayo tidur."
"Hm."
Keduanya lalu memejamkan mata. Di sela tidur mereka, Rihan tiba-tiba menegang karena merasakan sesuatu menempel di pahanya ketika sang suami sedikit bergerak semakin mendekat padanya.
"Maafkan aku, Kak. Tapi beri aku sedikit waktu untuk menyiapkan diri. Aku hanya gugup," Gumam Rihan dalam hati kemudian merapatkan tubuhnya ke dalam dekapan suami tercintanya.
__ADS_1