Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Kesakitan Rubah Betina


__ADS_3

"Ak...aku... bisakah aku bicara denganmu sebentar?" Suara Neo terdengar lirih.


"Saya rasa ini pertama kalinya kita bertemu. Jika anda ingin berbicara tentang bisnis, carilah ayah saya. Jika itu masalah pribadi, saya rasa kita tidak sedekat itu. Kami Permisi."


Setelah mengatakan itu, Rihan segera berbalik dan masuk ke dalam mobil. Zant hanya diam dan ikut masuk dan duduk bersama Rihan di belakang. Sopir kemudian menjalankan mobil pergi dari sana meninggalkan Neo yang terlihat sangat menyedihkan.


Neo juga baru tiba dari Swiss dengan penerbangan biasa. Dia mendapat kabar bahwa Rihan akan datang di New York. Pria itu begitu senang karena akan bertemu dengan orang yang dia sayangi, dan bahkan melupakan apa yang sudah dia lakukan 2 tahun lalu.


Setelah melihat Rihan di bandara, Neo dengan cepat mengejar mereka. Untungnya dia bisa bertemu mereka diluar. Sayangnya, penolakan Rihan membuatnya semakin sakit hati. Neo juga tidak bisa membantahnya karena semua itu kesalahannya sendiri.


"Penolakanmu tidak akan membuatku menyerah. Aku akan tetap berusaha membuatmu menerimaku, apapun caranya. Aku akan menebus semua kesalahanku di masa lalu." Gumam Neo dalam hati dan segera masuk ke mobilnya yang baru saja datang menjemputnya.


"Anda baik-baik saja, Tuan?" Tanya Sopir yang melihat Neo memukul-mukul dadanya.


"Ya." Jawab Neo singkat lalu merogoh saku celananya dan mengambil sebuah kotak kecil berisi obat. Dia mengambil sebutir pil dan meminumnya.


Merasa sesak di dadanya berkurang, Neo menghela nafas legah lalu memejamkan matanya.


...


"Jangan pernah lagi bertemu dengannya di masa depan." Suara Zant memecah keheningan dalam mobil.


"Hm." Deheman Rihan yang memejamkan matanya sambil melipat tangan di dada.


"Aku serius. Aku tidak mengizinkanmu bertemu dengannya, apalagi berbicara dengannya."


"Hm."


"Jika kamu ingin memaafkannya, aku tidak masalah. Semua itu keputusanmu. Selama dua tahun ini, aku lihat dia cukup menderita. Depresinya cukup parah. Dia akan sembuh jika..."


"Aku tahu. Sayangnya, aku hanya mengikuti alur yang dia buat sendiri." Potong Rihan lalu membuka matanya dan menatap keluar jendela.


"Jika aku di posisimu, aku pasti akan melakukan hal yang sama. Jadi, semua itu terserah padamu. Aku sebagai calon suami yang baik, akan mendukung semua keputusanmu."


Rihan dengan pelan menoleh pada Zant dan tersenyum tipis. Zant juga membalas senyum itu dengan senyum terbaiknya yang membuat Rihan kembali berdebar. Jika Rihan tidak cepat memutuskan kontak mata mereka, maka Zant pasti akan melihat wajah tersipunya.


"Oh, iya. Apa yang akan kamu lakukan pada wanita itu?" Tanya Zant setelah mereka terdiam cukup lama.


"Melepas rindu dan sedikit berolahraga dengannya." Jawab Rihan santai.


"Jangan lupa untuk mengajakku juga."


"Hm."


***


Rihan dan Zant baru saja tiba di markas utama Cruel Devil, organisasi milik Rihan di New York. Sampai di sana, sudah ada Alex, Alen, Beatrix dan orang kepercayaan Rihan lainnya yang menunggu mereka.


Hanya melewati beberapa bawahan yang menyambut kedatangan mereka, Rihan dan yang lainnya segera masuk ke ruang eksekusi. Masuk ke dalam, mereka disugukan dengan bermacam benda tajam yang tersimpan rapi dalam lemari maupun menempel di dinding layaknya pajangan.


"Silahkan duduk Nona, Tuan..." Alex mempersilahkan Rihan dan Zant untuk duduk di dua kursi yang disediakan di sana.


"Bangunkan dia!" Perintah Alex dengan suara datar pada seorang pria yang berdiri tidak jauh dengannya.


BYUR!


Satu ember air es berhasil disiramkan pada seorang wanita yang saat ini terlihat sangat menyedihkan dengan sekujur tubuh penuh luka. Kedua tangan wanita itu diborgol dan menggantung begitu saja, dengan kedua sisinya terdapat tiang besi yang menyanggah tubuhnya.


Kedua kaki wanita itu dibiarkan tanpa alas begitu saja. Tubuhnya juga hanya dilapisi dengan celana pendek sebatas paha dan baju yang juga hanya sebatas pusarnya saja. Jelas sekali pakaian itu sengaja dipakaikan padanya.


"Uhuk...uhuk..."


"Maaf, sudah menganggu tidur nyenyakmu." Suara Rihan terdengar sangat dingin, sambil menatap tajam wanita yang baru saja terbangun karena air yang masuk ke dalam hidungnya.


"Kau... DASAR J*****G... LEPASKAN AKU! BIARKAN AKU MEMBUNUHMU!"


CTARR


CTARR


CTARR

__ADS_1


CTARR


Empat cambukan berhasil mengenai punggungnya. Wanita itu hanya bisa berteriak kesakitan dan bahkan menangis.


"Akhhh..."


"Akibat berteriak pada, Bos." Ucap bawahan Rihan yang mencambuk wanita yang tidak lain adalah Ariana itu.


"Bagaimana rasanya? Bukankah sangat menyenangkan?" Tanya Rihan santai. Satu tangannya dibiarkan menopang kepalanya.


"K...kau... aku bersumpah, akan membunuhmu!" Marah Ariana sambil meringis sakit.


"Jika kamu punya waktu, maka aku akan menunggunya." Balas Rihan sambil menatap jijik Ariana.


CTARR


CTARR


CTARR


CTARR


"Kamu tidak memiliki kualifikasi untuk berbicara kasar pada Bos." Ucap pria yang mencambuk Ariana itu.


"Kamu sangat kasar padanya, Tom! Kasihan dia." Rihan berbicarq dengan nada suara dibuat-buat marah.


"Maafkan saya, Bos. Setelah ini saya akan sedikit lembut." Balas Tom dengan wajah bersalah.


"Kenapa kalian begitu kasar padanya? Lihatlah, tubuhnya yang mulus dulu, kini cacat. Kalian benar-benar kejam padanya." Rihan menoleh menatap orang-orang kepercayaannya seakan memarahi mereka.


"Benar juga. Kakinya yang cacat baru saja disembuhkan, kini seluruh tubuhnya juga cacat. Sungguh menyedihkan. Tapi ada yang kurang, gadis kecil." Komentar Zant sambil menatap menyelidik tubuh Ariana yang terlihat menahan marah.


"Ada yang kurang?" Tanya Rihan memasang wajah polos.


"Wajahnya masih terlalu mulus. Bagaimana jika aku membantumu membuat karya seni di wajahnya?" Jawab Zant dan menyeringai.


"Aku setuju. Aku melupakan hal penting itu. Aku serahkan padamu, Kak. Jangan berhenti sebelum karya senimu itu benar-benar memenuhi wajahnya." Rihan lalu menatap seorang bawahannya yang setia berdiri didekat lemari.


"Koleksi yang sangat cantik. Tidak masalah aku orang pertama yang memakainya?" Tanya Zant setelah menyeringai menatap isi kotak itu.


"Ya. Untuk orang sepertinya, pisau itu benar-benar sangat cocok." Jawab Rihan santai.


Zant dengan senang hati mengambil pisau kecil di dalam kotak itu dan mulai mengukir wajah Ariana dengan karya seni terbaiknya. Ariana, si rubah betina itu hanya bisa berteriak kesakitan karena wajahnya yang digores oleh Zant.


"Akh... tolong berhenti. Ini menyakitkan..."


"Sangat disayangkan, ilmuwan tua itu sudah mati. Pasti sangat menyenangkan melihat pria tua dan wanita muda memaduh kasih, setelah itu membiarkan mereka menjadi kelinci percobaanku." Gumam Rihan pelan.


Setelah hampir satu jam, Zant akhirnya berhenti karena sudah tidak ada lagi tempat untuk mengukir karya seninya.


"Di mana lagi aku harus membuat karya seni?" Gumam Zant sambil memasang wajah berpikir.


Wajah Ariana dipenuhi tulisan penghinaan yang Zant ukiran dengan sangat indah di wajahnya.


"Selanjutnya bagianku, Kak." Tangan Rihan sudah gatal ingin menyentuh Ariana.


"Tidak usah. Kamu tetap di tempatmu. Aku tidak ingin tanganmu terkena darah kotor rubah betina ini. Sudah cukup tanganmu berlumuran darah pak tua itu. Aku tidak ingin tangan mulusmu terkena sedikitpun darah menjijikan ini. Asal kamu tahu, darahnya sangat busuk. Sebusuk kelakuannya." Balas Zant dan menggeleng tidak setuju. Rihan hanya bisa menaikkan sebelah alisnya merespon perkataan Zant.


"Saya setuju dengan Tuan Zant, Nona. Anda tidak perlu mengotori tangan anda hanya untuknya. Dia tidak layak disentuh oleh nona." Ujar Alex. Yang lain di dalam ruangan itu mengangguk setuju.


"Kalian ini... ck..." Rihan tidak tahu harus merespon apalagi.


CEKLEK


"Maaf, Nona. Yang anda minta kemarin sudah saya lakukan. Anda bisa melihat hasilnya hari ini." Suara Mentra yang baru saja datang.


"Bagus. Nyalakan TVnya."


Seseorang kemudian menyalakan TV yang terdapat di dinding dengan remote.


"Hadiah pertemuan kita setelah sekian lama Nona Samantha." Sambung Rihan dan menyeringai menatap wajah benci Ariana.

__ADS_1


Di layar TV berita utama di Indonesia saat ini adalah semua kejahatan anak perempuan Samuel Samantha yang suka membully dan bahkan melakukan tindakan kekerasan hingga korbannya koma. Bukan itu saja, berita juga menyiarkan bagaimana Ariana menculik dan ingin membunuh Beatrix waktu itu.


Semua kejahatan Ariana satu persatu disiarkan melalui siaran TV, yang menuai banyak komentar cemooh padanya di media sosial. Yang lebih mengagetkan publik adalah korban bullyan Ariana yang terluka parah ternyata anak perempuan seorang Jhack Lesfingtone.


Akhirnya rumah utama keluarga Samantha dikepung oleh media, juga para penggemar Rihan yang ingin memberi pelajaran pada si ratu bully.


Tidak sampai di situ. Samuel Samantha juga ditahan karena kasus penggelepan dana perusahaan. Rihan awalnya ingin membuat perusahaan dan semua aset bisnis Samantha bangkrut, tetapi dia mengurungkan niatnya karena melihat wajah tidak bersalah ibu dan kakak laki-laki Ariana.


Rihan hanya sedikit memberi pelajaran pada kakak Ariana karena menyembunyikan kelakuan Ariana selama ini dari ibu mereka.


Meski semua aset keluarga Samantha tetap aman, tetapi banyak pihak yang bekerja sama dengan mereka sedikit demi sedikit mulai memutuskan kontrak kerja, membuat saham perusahaan anjlok. Semua bisnis keluarga Samantha mulai kekurangan investor satu persatu.


"J****G... Kembalikan semua aset keluargaku!" Teriak Ariana marah meski tubuhnya saat ini lemah.


"Aku tidak melakukan apapun, itu semua inisiatif mereka sendiri dan juga perbuatanmu dan ayahmu. So... yang terjadi pada kalian saat ini masih terbilang mudah.


Itu hanya sebagian, Nona Samantha. Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh mereka yang saat ini berdiri di belakangku." Suara Rihan kembali terdengar setelah TV dimatikan.


"Kalian bukannya orang kepercayaan Tuan Muda Rehhand? Kenapa kalian mau bekerja dengan j****g ini?" Tanya Ariana dengan emosi.


CTARR


CTARR


CTARR


CTARR


Cambukan kembali mendarat di punggung Ariana. Cambukan kali ini dua kali lipat lebih sakit dari sebelumnya. Peringatan Rihan sebelumnya membuat Tom menambah sedikit tenaga untuk mencambuk Ariana.


"Kami bukan orang yang mudah untuk berpindah Tuan sesuka hati!" Ujar Alex santai.


"Kal... kalau begitu, kenapa?" Tanya Ariana lagi. Suaranya semakin melemah.


"Kamu tidak mengenaliku? Coba tebak!" Rihan berdiri kemudian menghampiri Ariana. Rihan sedikit mengambil jarak agar tidak terlalu dekat.


"K...kau..." Suara Ariana tertahan.


"Sudah tahu?" Tanya Rihan dan menyeringai.


"Bagaimana bisa?"


"Tidak ada yang tidak bisa untukku. Aku tidak menyangkah pesona Tuan Muda Rehhand benar-benar membuatmu hilang akal.


Mengingat tindakanmu dulu yang menggodaku, membuatku semakin jijik. J****g teriak j****g. Lucu sekali, bukan?" Ucap Rihan santai. Kedua tangannya terlipat di dada sambil menatap jijik wanita di depannya ini.


"Bawakan aku seember air asin." Perintah Rihan datar.


Hanya beberapa menit, seorang bawahan Rihan datang dengan pesanan Rihan.


"Berikan padanya." Pintah Rihan lagi.


BYUR!


"Arggggg... hiks... sakit... hentikan."


Satu ember larutan garam dan air itu berhasil disiramkan ke seluruh tubuh Ariana. Bayangkan saja, betapa sakitnya luka cambuk dua hari lalu, ditambah hari ini, luka cambuk dan luka sayatan di wajahnya, kini terkena air asin. Rihan dengan seringai khasnya melihat kesakitan Ariana.


"Dia pingsan, Bos." Lapor Tom setelah Ariana tidak lagi bereaksi.


"Dia tidak diizinkan tidur. Bangunkan dia!"


.


.


.


Yo...


Maaf karena baru up, teman-teman. Aku lagi sibuk pengurusan di kampus selama dua hari. Belum lagi wifi di tempatku lagi bermasalah. Jadi, ya... aku baru up.

__ADS_1


Tenang saja. cerita ini akan sampai tamat, jadi kalian jangan khawatir. Aku akan tetap up sampai tamat.


__ADS_2