Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Pertarungan Terakhir


__ADS_3

Rihan saat ini sedang mengatur nafasnya yang tersengal karena baru saja menjatuhkan satu manusia buatan terakhir dari lima manusia buatan. Hampir satu jam Rihan habiskan untuk membunuh lima manusia buatan itu. Kini hanya tersisa Elle dan satu manusia buatan yang berdiri di depan Mommy Rosse dan Mama Shintia.


"Ternyata berbicara dengan lembut pada orang seperti itu tidak mempan. Itu akan mempan hanya dengan kekerasan." Ujar Rihan dalam hati sambil sedikit berlutut dengan samurai di tangan kanannya sebagai tumpuan.


"Sialan... sekuat apa bajingan itu?" Kesal Elle dalam hati ketika para kesayangannya hanya tersisa satu.


"Sudah cukup waktu bermainnya, Elle. Lepaskan mereka!" Suara Rihan sangat dingin.


Rihan kini sudah berdiri dan menatap tajam Elle yang terlihat menelan ludahnya takut.


"Jangan senang dulu! Masih ada satu anak kesayanganku. Bunuh dia, maka kedua wanita itu bebas!" Elle berusaha tenang meski dalam ketakutan setengah mati.


"Bagaimana jika membunuhmu dan dia sekaligus?" Balas Rihan datar.


Rihan dengan langkah pelan sambil menyeret samurai itu sehingga suara gesekan samurai dan lantai terdengar di ruang bawah tanah itu. Tujuan Rihan saat ini adalah kedua ibunya.


Sret!


Jlebb


Brukk


Hanya sekali gerakan menghindari serangan manusia buatan itu, kemudian membalas dengan tusukan tepat di inti tubuh manusia buatan itu sehingga jatuh dan mati.


"Sialan... aku harus mencari cara agar kabur dari sini." Gumam Elle mulai ketakutan.


Dapat wanita itu lihat, Rihan terlihat semakin menyeramkan. Melihat Rihan yang tidak memperhatikannya dan sibuk melepas tali yang mengikat kedua ibunya, Elle ingin mengambil kesempatan ini untuk kabur.


Sret!


"Akh..." Elle meringis sakit.


Sebelum Elle melangkah lebih jauh, Rihan dengan santai melempar shuriken ke arah kakinya sehingga wanita itu jatuh dan meringis sakit. Darah segar mengalir deras melalui betis kanannya.


"Bajingan kamu Rei! Aku bersumpah akan membunuhmu!" Teriak Elle dengan marah.


Posisi Elle saat ini terduduk sambil meringis sakit karena betis kirinya mengeluarkan banyak darah, berkat dua shuriken yang tertancap di betis mulusnya.


"Urus kakimu lebih dulu sebelum membunuhku." Rihan menjawab dengan datar. Rihan dengan tenang melepas tali yang mengikat kedua ibunya, juga kain yang tersumpal di mulut masing-masing.


"Tahan sebentar Mom, Ma. Bantuan akan segera datang."


Rihan kini membaringkan Mama Shintia dengan posisi telungkup mengingat luka di punggungnya. Sedangkan Mommy Rosse yang duduk di sebelah Rihan mengangguk dengan tangan menutup lengannya yang masih mengeluarkan darah.


"Kamu belum menang bajingan! Hari ini aku akan membunuh kalian bertiga sekaligus." Elle masih belum menyerah. Wanita itu masih terduduk sekitar 5 meter di belakang Rihan.


"Coba saja!" Balas Rihan datar dan hanya menoleh ke samping untuk melihat Elle tanpa membalikkan badannya.


Clik


Suara pistol terdengar di telinga Rihan. Jelas sekali asal suara itu dari Elle.


Sret!


"Akh..."


Sebelum Elle menekan pelatuk pistol, Rihan lebih dulu melepaskan kembali shuriken ke arah Elle menargetkan tangan wanita itu, sehingga pistol terlepas dari tangannya.


"Aku akan mengurus wanita itu dulu. Tunggu di sini Mom, Ma." Rihan kemudian berdiri dan menghampiri Elle.


Sebelum itu, Rihan menarik kembali samurai yang masih tertancap di dada manusia buatan di depannya.


Sret!


"Akh... Sialan..."


Satu sayatan Rihan berikan di lengan Elle tanpa belas kasihan.


"Itu yang mommyku rasakan." Ujar Rihan datar.


Sret!


"Brengsek!"


"Dan ini yang mamaku rasakan." Ujar Rihan lagi setelah menebas punggung Elle.


Belum sampai di situ. Rihan kembali meletakkan samurai di sebelahnya, kemudian memposisikan dirinya berjongkok setinggi Elle.

__ADS_1


Plak


Plak


Plak


Plak


Masing-masing pipi Elle menerima dua tamparan kuat dari Rihan membuat wanita itu linglung dan hampir kehilangan kesadarannya.


"Itu juga yang mereka rasakan," Gumam Rihan lagi.


"Aku memberimu dua pilihan! Mati secara perlahan-lahan, atau hidup dengan kedua kaki dan tanganmu buntung." Sambung Rihan yang kini mencapit dagu Elle. Jarak keduanya hanya beberapa senti.


"Ak...aku..."


"Berhenti, Rei!" Suara Neo yang baru datang mengalihkan pandangan Rihan ke arah pria itu.


"Bantuanmu datang ternyata," Rihan memindahkan tangannya dari dagu Elle ke lehernya, mencekik wanita itu.


"Aku bilang berhenti!" Teriak Neo lalu menghampiri Rihan dan Elle kemudian menarik tangan Rihan yang mencekik Elle.


Bughh


Satu bogem manis Neo arahkan ke pipi Rihan.


"Bagaimana bisa kamu menyiksa seorang gadis seperti itu? Kamu sungguh tidak punya hati, Rei." Neo menatap kecewa pada Rihan.


Rihan hanya menyeringai ke arah Neo. Posisi Rihan saat ini terduduk sekitar satu meter lebih dari Neo dan Elle di belakang.


"Tidak punya hati?" Ulang Rihan dan menatap tajam Neo yang berdiri di depannya.


"Ya. Kamu memang tidak punya hati. Bagaimana bisa kamu melakukan semua ini padaku dan keluargaku lalu melimpahkan semua kesalahan pada Elle?" Neo berbicara masih dengan nada marah.


"Heh? mari kita lihat sejauh mana wanita itu merencanakan semua ini," Rihan bergumam dalam hati tanpa mengalihkan pandangannya dari Neo.


"Kalau begitu, katakan padaku apa saja yang sudah aku lakukan padamu dan keluargamu." Pancing Rihan datar. Rihan ingin tahu, sejauh mana Elle memanfaatkan pria bodoh ini.


"Kamu ingin mendengar semua itu? Baik! Aku akan mengatakannya satu persatu. Sebelum itu, angkat senjatamu dan kita bertarung!" Balas Neo sebelum mengambil samurai di bawah kakinya.


"Aku hanya perlu menahan diri untuk tidak melukainya. Biarkan dia mengeluarkan semua kekesalannya," Gumam Rihan dalam hati setelah mengambil sebuah samurai yang tidak jauh darinya.


Rihan dan Neo kini berdiri saling berhadapan dengan jarak satu meter.


Sret


Trang


Prang


Tring


Dua samurai beradu menyebabkan suara bising di ruang bawah tanah itu. Rihan dan Neo dalam posisi bertahan. Neo dengan kedua tangan memegang samurai secara vertikal dan menekannya kuat, sedangkan Rihan hanya dengan satu tangan yang memegang samurai secara horizontal menahan samurai milik Neo. Satu tangan Rihan menahan lengan Neo.


"Aku menyesal mengenalmu, Rei. Bagaimana bisa kamu melakukan semua ini padaku dan keluargaku? Aku begitu percaya padamu, tetapi kenapa kamu ingin merebut semua yang aku miliki?" Ucap Neo kecewa.


"Merebut semua yang kamu miliki?" Ulang Rihan dan mengerutkan kening.


"Jangan berpura-pura tidak tahu. Kamu ingin merebut Chi Corporation agar bisa menduduki posisi pertama, 'kan? Elle sudah memberitahu semuanya padaku. Ternyata kamu yang merencanakan penculikan pada Elle dan Ira. Kamu ingin membuatku sibuk, sehingga dengan mudah mencuri akta kepemilikan Chi Corporation dan menukarnya dengan yang palsu." Neo kemudian menendang perut Rihan sehingga jarak mereka terkikis.


Bugh


"Pintar sekali wanita itu memutarbalikan fakta." Batin Rihan dan menggeleng. Rihan menatap Neo dengan pandangan remeh.


"Jadi ini sifat aslimu, Rei?" Neo semakin kecewa dan maju menyerang Rihan lagi.


Srekk


Samurai Neo berhasil menyayat perut Rihan. Untungnya Rihan sempat mundur sedikit, sehingga sayatan itu tidak terlalu parah.


Trang


Keduanya kembali ke posisi bertahan. Akan tetapi posisi samurai milik Neo ada di bagian perut Rihan. Neo ingin memberi sayatan lagi pada Rihan, tetapi Rihan dengan cepat menahan serangan itu, sehingga keduanya dalam posisi bertahan.


"Tidak heran kamu bisa menyelamatkan mami. Ternyata kamu yang memberi racun itu pada mami dan kembali berakting sebagai penolong dengan membawa mami ke sisimu. Kami begitu bodoh dan percaya begitu saja bahwa kamulah yang menolong mami. Kamu bahkan menuduh Elle yang melakukan percobaan pembunuhan itu pada mami dan papi. Aku benar-benar kecewa padamu, Rei." Neo menatap Rihan dengan wajah merah padam karena emosi.


Rihan hanya menatap Neo dengan sebelah alis terangkat.

__ADS_1


"Tidak salah kamu menyandang julukan pria bodoh." Rihan menggeleng. Rihan kemudian mendorong kuat samurai milik Neo kemudian mundur beberapa langkah.


"Ya. Aku begitu bodoh sehingga tidak menyadari semua itu. Betapa bodohnya aku karena menyukai orang munafik sepertimu. Aku sungguh menyesal!"


Sret


Bughh


Rihan kembali mendapat sayatan di lengan kirinya, juga tendangan Neo di perutnya. Gadis itu sedikit meringis sakit. Neo ternyata tidak main-main menyerangnya. Yang lebih sakit adalah hati Rihan. Bagaimana bisa pria itu mengatakan bahwa dia orang munafik dan menyesal mengenalnya?


Rihan kembali menghembuskan nafas pelan menenangkan dirinya. Pegangannya pada samurai sedikit melemah. Jika diperhatikan dengan baik, tangan Rihan sedikit gemetar memegang samurai itu.


"Kenapa kamu melakukan semua ini padaku, Rei? Aku begitu tulus padamu. Tapi kamu... KENAPA? JAWAB AKU!" Teriak Neo marah.


Rihan dengan pelan mengangkat kepalanya dan menatap Neo dengan tatapan terluka.


Deg


Tatapan Rihan membuat Neo merasa sesak di dadanya. Pertama kalinya dia melihat tatapan itu.


"Tidak! Itu pasti hanya tatapan butuh belas kasihan. Aku tidak boleh luluh." Batin Neo dan menggeleng tidak percaya.


"Jika saja... jika saja kamu memberiku sedikit pembelaan, aku mungkin..."


"Aku tidak butuh pembelaan! Yang aku butuhkan adalah kepercayaan!" Potong Rihan datar. Tatapan matanya berubah menjadi tajam pada Neo.


"Heh? Jadi kamu membenarkan semua yang aku katakan? Benar-benar munafik! Aku hampir saja luluh karenamu. Tiba-tiba saja aku memikirkan sesuatu. Apa jangan-jangan insiden di kediaman Tuan Jhack waktu itu adalah rencanamu untuk menarik perhatianku? Sengaja menjadi tameng untuk menahan peluru beracun agar aku merasa bersalah?" Neo kini menatap Rihan dengan jijik.


"Kenapa diam saja? Semua yang aku katakan itu benar, 'kan? Untung saja aku belum memutuskan hubunganku dengan Elle. Jika itu terjadi, aku mungkin akan menyesal seumur hidup.


Mulai sekarang! qku... Neondra Jacon Chixeon memutuskan semua hubungan denganmu. Chi Corporation juga akan menarik seluruh saham di R.A Group. Ingat satu hal, Rei! Jika kita bertemu lagi, anggap saja kita tidak saling mengenal." Neo dengan tegas berbicara tanpa ada penyesalan sedikitpun.


Mendengar penuturan Neo, Rihan memejamkan kedua matanya. Hatinya semakin sakit. Meski Rihan tahu, ini hanya hasutan dari Elle, tapi Rihan akan mengabulkannya.


Rihan tipikal orang yang tidak akan percaya dengan mudah pada orang lain sebelum mencari tahu lebih jauh. Melihat betapa bodohnya pria di depannya ini, Rihan tidak ingin membuang tenaga untuk menjelaskan segala sesuatu. Biarkan saja orang itu tahu dengan sendirinya.


"Kita tidak perlu bertemu dikemudian hari. Salah satu dari kita harus mati hari ini." Nada suara Rihan begitu dingin dan datar lalu berdiri kemudian menggenggam erat samurai bersiap menyerang Neo.


"Baik. Aku akan mengabulkannya!" Balas Neo datar lalu bersiap maju ke arah Rihan.


Jlebb


"Kamu... bagaimana bisa..." Suara Neo tercekat.


"Sejak awal kak Neo memang tidak percaya padaku. Jika saja ada sedikit kepercayaan, kak Neo pasti akan mencari tahu segala sesuatu lebih dulu. Uhuk... uhuk..." Rihan berbicara lalu terbatuk mengeluarkan darah dari mulutnya.


Rihan beralih menatap dadanya, tepatnya ke arah samurai milik Neo yang menusuk tepat di jantungnya hingga menembus punggungnya. Rihan menjatuhkan samurai miliknya yang tidak melukai Neo sama sekali.


Rihan memang tidak ingin melukai Neo. Rihan tadi hanya memancing pria itu, agar mengakhiri pertarungan ini. Sejak awal Neo berpikir samurai Rihan akan melukainya juga, karena pria itu bisa melihat arah samurai itu akan menuju jantungnya. Sayangnya, sebelum mengenai jantung pria itu, Rihan sudah membalikkan arah samurai sehingga hanya tersisip diantara rusuk dan lengan Neo.


Brukk


"Kenapa tidak melukaiku? KENAPA?" Tanya Neo meneteskan air matanya.


Pria itu kini berlutut dengan Rihan yang masih berdiri di depannya dengan samurai yang menembus jantungnya.


"Aku hanya ingin mengakhiri pertarungan ini. Dan juga... luka ini akan menjadi penanda agar jantungku benar-benar berhenti berdebar untukmu," Rihan menjawab dengan lirih. Setelah itu, dia ambruk dengan berlutut di depan Neo.


"Apa maksudmu?" Tanya Neo pelan. Pria itu kini menatap Rihan dengan air mata berurai.


"Pergilah! Antar kekasihmu ke rumah sakit. Sebentar lagi kak Zant akan datang." Suara Rihan pelan.


"Tidak! Katakan padaku apa maksudmu sebelumnya." Desak Neo yang kini menghampiri Rihan berniat menyentuh gadis itu.


"Jangan lupa jika kita sudah menjadi orang asing," Balas Rihan datar dan jatuh kesamping.


Bertepatan dengan itu, suara helikopter terdengar ke telinga mereka. Neo yang mendengarnya, segera berdiri dan menghampiri Elle yang sudah pingsan sedari tadi. Neo lalu menggendong Elle dan pergi dari sana.


"Maafkan aku, Rei."


.


.


.


Beri komentar kalian untuk Neo.

__ADS_1


__ADS_2