
Salon yang dulunya tidak terlalu terkenal, kini semakin terkenal di kalangan konglomerat karena saham miliknya semakin naik setelah seorang Neo terjun kedalamnya menjadi pemilik saham terbesar di sana.
Adanya Neo yang merupakan pengusaha muda yang sangat terkenal itu, berhasil menyita perhatian semua pihak untuk datang ke salon dengan nama 'Elleana Salon'.
Setelah menjadi pemilik saham terbesar di sana, Neo merubah tatanan salon, juga mengubah namanya dari 'Mulia Salon' menjadi 'Elleana Salon'. Salon yang dulunya hanya salon biasa, kini berubah menjadi salon paling terkenal dan selalu menjadi tempat nomor satu untuk kaum elit merubah penampilan mereka.
Selain rambut yang ditata, mereka juga menyediakan outflit dan make up artis sehingga siapapun bisa datang ke sana untuk merubah penampilan mereka. Meski 'Elleana Salon' mengharuskan untuk pelanggan membayar dengan harga mahal, tetapi bagi kaum elit itu sebanding dengan hasil yang mereka dapatkan.
Wajar saja, karena Neo yang merupakan pemegang saham terbesar yang bisa dikatakan sebagai pemilik salon itu mendatangkan beberapa ahli dari luar negeri untuk bekerja di sana, sehingga hasilnya sangat memuaskan bagi para pelanggan.
Selain itu, ada juga beberapa pebisnis yang penasaran dengan alasan seorang Neo tiba-tiba menjadi pemilik saham terbesar di salon itu. Entah apa alasan Neo membelinya. Hanya dia sendiri yang tahu. Logan yang diperintahkan untuk membelinya tidak tahu menahu alasan jelasnya. Justru Logan bingung dengan jalan pikiran sahabat merangkap bosnya itu.
...
"Kenapa kamu tidak menerima kerja sama yang kami tawarkan?" Tanya Neo masih berusaha berbicara dengan Rihan yang memejamkan matanya.
Hening.
"Kamu tahu jelas, jika Chi Corporation baru pertama kalinya mengajak kerja sama dengan perusahaan lain." Neo melirik sekilas reaksi Rihan.
Hening.
Rihan tetap dengan posisinya, hingga dia membuka mata ketika merasa pemuda yang memotong rambutnya berhenti. Sepertinya proses pemotongan rambut sudah selesai.
Rihan kemudian menatap pantulan dirinya pada cermin. Neo yang melihatnya tersenyum tipis karena berpikir Rihan akan meresponnya. Sayangnya, Rihan tiba-tiba berdiri dan meninggalkannya karena merasa potongan rambutnya sudah pas.
Rihan tidak melirik Neo sedikitpun dan terus berjalan menuju tempat untuk mencuci rambut yang dibantu oleh pemuda yang memotong rambutnya.
"Kamu pikir aku akan menyerah dengan tindakanmu? Itu bukan gaya seorang Neo. Lihat saja nanti!" Tekad Neo dalam hatinya sambil menatap pantulan dirinya di cermin dan memasang senyum misterius.
Rihan kini berbaring di tempat khusus untuk mencuci rambut. Bagi Rihan, tindakan Neo terlihat aneh di matanya. Rihan juga penasaran sejauh apa kesabaran seorang Neo dalam membujuknya.
Banyak rumor yang beredar bahwa Neofrance tidak mudah diluluhkan, sehingga Rihan ingin Neo merasakan bagaimana rasanya ada di posisi orang lain. Tanpa sadar senyum aneh muncul di bibir Rihan membuat pemuda yang mencuci rambutnya mengerutkan dahi bingung dengan tingkah sang pelanggan.
Beralih kepada Neo yang diabaikan, Logan kini menatap Alex menyelidik. Logan sebenarnya sangat ingin bertanya apa hubungan Alex dengan Brand yang dia temui di restauran jepang waktu itu.
"Ekhem... Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Logan canggung.
"Saya tidak mengenal anda." Balas Alex datar tanpa melihat Logan yang berdiri hanya beberapa meter darinya.
"Justru itu, aku ingin tahu siapa namamu." Ucap Logan tersenyum tipis.
"Saya tidak tertarik."
"Sabar, Gan. Mari kita coba lagi." Batin Logan mengusap dadanya berusaha sabar.
"Aku hanya ingin meminta maaf atas nama majikan saya yang sudah mengusir majikan anda saat kuliah umum waktu itu." Logan tiba-tiba memiliki topik pembicaraan. Dia yakin Alex akan meresponnya.
__ADS_1
"Tidak perlu!"
"Eh?" Hanya itu yang dapat Logan keluarkan dari mulutnya saking tidak tahu respons apa yang harus dia berikan.
"Ternyata rumor atasan-bawahan es benar." Batin Logan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah itu, tidak ada respon dari lawan bicaranya. Logan akhirnya hanya diam menatap proses pemotongan rambut Rihan dan Neo yang hanya berjarak 10 meter dari tempatnya dan si kembar berdiri.
Sesi pemotongan rambut hingga perawatan rambut sudah Rihan lakukan dan hasilnya cukup memuaskan baginya. Rihan kemudian menatap model rambutnya dan terlihat jejak kepuasan di matanya. Rihan beralih menatap Alex dan Alen yang ikut melihat rambut barunya di cermin yang sama.
"Anda selalu tampan, Tuan." Puji Alen tersenyum senang dan diangguki oleh Alex.
"Saya akan mengurus biayanya, Tuan." Alex kemudian berlalu menuju kasir. Rihan hanya mengangguk dan bersiap menuju pintu keluar diikuti oleh Alen.
Alex yang sudah menuju di bagian kasir memberikan black card pada kasir di sana. Sebelum black card diberikan, tiba-tiba ada black card lain yang lebih cepat dari Alex, terulur untuk diambil oleh sang kasir.
"Masukan tagihan Tuan Muda Rehhand juga di sana." Suara Logan yang merupakan orang yang memberikan blcak card itu.
"Untuk apa sampai sejauh ini?" Datar Alex mulai jengah dengan bos dan bawahan yang terlihat ingin dekat dengan mereka.
"Sekedar permintaan maaf untuk waktu itu." Alibi Logan lalu tertawa canggung.
Bagi Logan ini tindakan memalukan untuknya. Sayangnya dia tidak bisa membantah perintah sang sahabat merangkap bosnya itu.
"Sudah saya katakan jika itu tidak perlu." Alex menarik kembali black card milik Logan yang berada di tangan si kasir. Setelah itu, Alex meletakkannya di tangan Logan dengan kuat. Alex kemudian memberikan black card miliknya pada kasir.
"Mati aku," Gumam Logan pelan setelah kepergian Alex, bertepatan dengan tatapan tajam mengintimidasi dari seorang Neo padanya.
***
Setelah keluar dari Elleana Salon, waktu sudah menunjukan pukul 09.45. Alex kemudian membuka pintu mobil untuk Rihan. Mobil lalu dikendarai oleh Alex dengan kecepatan rata-rata hingga mereka tiba di mansion pukul 10.15. Tanpa menunda waktu, Rihan segera bersiap dibantu oleh Alen karena dia akan ada kelas siang pukul 11 nanti.
"Sampai pukul berapa kelas private Tata berakhir?" Tanya Rihan pada Alen yang sedang membantu menggulung lengan kemeja yang dipakainya.
"Sebentar lagi, Tuan."
"Katakan pada Tata untuk beristirahat karena aku akan mengajaknya jalan-jalan di sekitar mansion sore nanti."
"Baik, Tuan."
Setelah semua siap, Rihan menatap sekilas penampilannya kemudian berjalan keluar diikuti oleh Alen dari belakang.
"Tuan Jhon baru saja menelpon anda, Tuan." Lapor Alex ketika Rihan keluar dari kamar bersama Alen.
"Paman?"
"Iya, Tuan."
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Ada yang ingin beliau sampaikan pada anda."
"Hmm. Aku akan menelpon paman saat kita di mobil. Ayo berangkat."
"Silahkan, Tuan."
Seperti biasa, Alex membuka pintu mobil untuk Rihan. Kali ini Rihan memakai mobil sendiri karena Max tidak ada. Setelah memasang sealbat, Rihan mengalihkan pandangannya pada Alen yang masih setia berdiri menunggu kepergian mereka.
"Hati-hati di jalan Tuan, Kak Alex." Ujar Alen setelah Rihan dan Alex membunyikan klakson mobil satu kali pertanda mereka akan berangkat.
Setelah dua mobil ferarri itu keluar gerbang, Alen kemudian masuk dan mendapati orang yang mengajar Phiranita sudah berada di ruang tamu hendak menuju pintu keluar. Alen hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan kepergian orang itu. Asisten Rihan itu lalu menuju kamar Phiranita untuk menemaninya beristirahat.
...
Beralih pada Rihan yang mengendarai mobilnya.
Setelah pertengahan jalan, Rihan mengaktifkan mode kemudi otomatis karena dia akan menelpon paman, Jhon Lesfingtone di prancis.
"Ada apa paman menelponku?" Tanya Rihan to the point setelah panggilan dijawab oleh Jhon sang paman.
"Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik. Bagaimana dengan paman dan keluarga?"
"Kami juga baik sayang, Kami sangat merindukanmu,"
"Aku tahu. Jika ada waktu, aku akan berkunjung ke Prancis. Di mana kak Avhin?"
Avhin adalah anak semata wayang atau sepupu Rihan satu-satunya yang kini menjadi CEO muda berbakat di Prancis.
"Dia di kantornya. Paman menelponmu karena berkat alat pintar yang kamu pasang di sini, kami tahu jika ada yang sedang mengintai mansion ini. Paman curiga mereka ingin mengetahui seperti apa kehidupan pribadi kita, terlebih kamu."
"Terima kasih paman sudah memberitahuku. Biarkan masalah itu menjadi urusanku. Aku tahu siapa yang berani sampai ke sana. Aku tutup teleponnya. Salam sayang untuk bibi dan kak Avhin."
"Iya sayang, jaga kesehatanmu. Ada apa-apa jangan lupa hubungi kami." Rihan sudah seperti anak kandung mereka sendiri. Entah kenapa Jhon hanya memiliki satu anak, sehingga melihat Rihan mereka begitu menyayanginya.
"Baik, Paman." Rihan kemudian menutup sambungan telepon.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1