Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Peringatan Untuk Dian


__ADS_3

Selamat Membaca!


.


.


.


Setelah kepergian Rihan dan Alex, kini tersisa Alen, Max dan Phiranita di ruang tamu karena kali ini Rihan tidak ingin diantar seperti biasanya. Memfokuskan telinganya dan tidak lagi mendengar suara mobil Rihan dan Alex, Max kembali menatap Phiranita yang duduk di depannya.


"Antar aku ke kamar, Kak." Ujar Phiranita karena mulai merasa takut dengan tatapan aneh Max padanya.


"Mari, Nona."


Keduanya kemudian menuju lift yang akan membawa mereka ke kamar Phiranita. Max hanya mengangkat bahunya acuh dan menatap jam di pergelangan tangannya.


"Mari kita tunggu setengah jam lagi," Gumam Max kemudian berdiri dan berjalan keluar mansion sambil bersiul senang.


...


Mobil yang dikendarai Rihan berhenti tepat di lampu merah diikuti oleh mobil lainnya. Sambil menatap pejalan kaki yang menyeberang, perhatian Rihan teralihkan karena dering panggilan masuk di ponsel yang juga terhubung dengan mobilnya. Melihat nama si pemanggil yang adalah Albert, Rihan lalu menekan ikon jawab.


"Hmm."


"Hari ini terapi Ira, 'kan?"


"Ya."


"Jam berapa kami harus datang ke sana?"


"Alex akan menelpon jika sudah waktunya."


"Baiklah."


Tanpa membalas, Rihan memutuskan sambungan telepon bertepatan dengan lampu hijau menyala sehingga dia menginjak pedal gas mobilnya menuju RS Setia.


Tibanya Rihan di RS Setia, sudah disambut oleh semua para dewan direksi dan dokter-dokter penting lainnya yang diwajibkan untuk mengikuti pertemuan hari ini.


Turun dari mobil setelah dibukakan pintu oleh Alex, Rihan berjalan dengan aura seorang pemimpin yang disegani, membuat siapapun yang melihatnya akan tunduk padanya. Rihan hanya menganggukkan kepala ketika disapa oleh orang-orang penting yang berjejer rapi menunggu kedatangannya.


Setelah sang presdir melewati mereka, para dewan dan dokter mengambil bagian mengikuti Rihan dari belakang hingga masuk ke ruang pertemuan.


***

__ADS_1


Waktu menunjukan pukul 16.00, kelas Dian pun berakhir sehingga dosen yang mengajar keluar dari kelas. Melihat itu, mahasiswa di kelas juga ikut keluar. Hal yang paling disukai mahasiswa adalah di saat jam kuliah telah berakhir dan di saat jam kosong. Kepergian mereka menyisahkan seorang Dian yang masih sibuk dengan tugasnya yang akan dikumpulkan besok hari.


Dian harus mengerjakannya di sini karena masih ada waktu sebelum kerja paruh waktunya. Bisa saja Dian mengerjakannya di rumah, tapi waktu kerjanya di restaurant hingga jam 7 malam. Butuh hampir setengah jam untuk sampai di rumah. Belum lagi dia harus membantu sang nenek mandi, menemani neneknya hingga terlelap, setelah itu dia akan membersihkan rumah, juga mencuci dan pekerjaan lainnya yang memakan waktu hingga larut malam sehingga Dian harus memanfaatkan waktu dengan baik.


Melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukan bahwa dia mengerjakan tugas hampir setengah jam, Dian tersenyum dan mematikan laptopnya kemudian memasukan dalam tas diikuti oleh perlengkapan lainnya.


Merasa semuanya sudah dimasukan dalam tas, Dian lalu memakai tasnya hanya di bahu sebelahnya dan beranjak pergi dari sana.


Dalam perjalanan menuju parkiran, Dian merasa ada yang aneh karena di sekitarnya terasa sunyi. Mengabaikannya, Dian terus berjalan hingga sampai di tempat parkir. 5 meter sebelum sampai di tempat sepedanya berada, Dian mengerutkan dahi karena melihat bentuk sepedanya yang sudah berubah.


Dengan langkah cepat, Dian menghampiri sepedanya dan ternyata benar sepedanya telah dirusaki, dilihat dari bannya yang kempes, tempat duduknya patah, rantainya yang putus, juga ada jejak-jejak cairan di seluruh badan sepeda yang Dian tahu adalah cairan telur karena kulit-kulit telur yang berserahkan di sana.


Ingin sekali Dian menangis karena kali ini sudah sangat keterlaluan. Akan tetapi, dia tidak ingin jadi gadis yang lemah sehingga Dian hanya menatap langit-langit tempat parkir guna menghentikan air matanya yang menggenang di pelupuk matanya.


Sekali lagi, Dian menatap jam tangannya dan ternyata masih ada waktu untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya.


"Kamu akan aku perbaiki setelah tabunganku cukup, jadi bersabarlah." Gumam Dian pelan sambil mengusap-usap sepedanya sayang. Sepedanya ini adalah sepeda yang dia beli dengan hasil keringatnya sendiri dan sudah menemaninya selama 5 tahun ini.


Menatap sebentar sepedanya, Dian menghela nafas sekedar menenangkan hatinya. Gadis itu lalu berjalan pelan menuju pintu keluar parkiran.


Hanya tersisa dua langkah sebelum mencapai pintu, rambut Dian ditarik dengan kuat dari belakang membuatnya kaget dan tas di bahunya terjatuh. Dian hanya bisa menatap sedih tasnya karena laptopnya yang berharga pasti rusak akibat jatuh. Dian akhirnya mundur mengikuti tarikan itu.


"Aw..." Meringis sakit dan berusaha melepas tangan yang menarik rambutnya. Sayangnya semakin dia berusaha, tarikan pada rambutnya bertambah kuat.


"Pertanyaan yang bagus!"


Dian seketika berhenti bergerak karena merasa familiar dengan suara itu. Dian berusaha menoleh ke belakang untuk sekedar melihat pelakunya dan ternyata itu adalah Ayu.


"Apa aku pernah berbuat salah padamu?" Tanya Dian sambil meringis sakit.


"JELAS, IYA! BERANI-BERANINYA KAMU MENGGODA REHHAND. REHHAND ITU MILIKKU!" Teriak Ayu kemudian dilanjutkan dengan tarikan kuat pada rambut Dian tanpa memikirkan keadaan gadis itu yang merasakan rambutnya seakan tercabut semua dari kepalanya.


"Ak...aku ti...dak menggodanya. Rei, itu temanku." Balas Dian terbata-bata.


"Tidak menggodanya, heh? lalu untuk apa dia mengantarmu? Biasanya juga kamu pulang bersama Albert. Jangan coba-coba berbohong denganku j****g!"


"Albert sedang sibuk jadi Rei yang mengantarku pulang. Please... tolong lepaskan, kepalaku sakit."


"Kamu pikir aku akan percaya? Mari aku tunjukan sakit yang sesungguhnya." Balas Ayu kemudian menendang kedua kaki Dian dari belakang sehingga tumpuan Dian melemah dan akhirnya jatuh.


Ayu kemudian menyeret Dian dengan tetap menarik rambutnya. Tindakan Ayu sudah mirip seperti psikopat yang menyeret mangsanya yang sudah mati. Sayangnya, yang Ayu seret adalah orang yang masih hidup.


"Tolong... tolong..." Dian berusaha untuk berteriak. Sayangnya suaranya tidak bisa sampai keluar mengingat tempat parkir lumayan besar dan sudah hampir tidak ada orang lagi yang ada di kampus.

__ADS_1


"Berteriaklah sesuka hatimu, sayang... tidak akan ada yang mendengarnya karena semua orang sudah aku perintahkan untuk pulang. Jangan lupa jika aku adalah anak pemilik kampus. Hahaha..." Santai Ayu dan terus menyeret Dian hingga tiba di sebuah pintu yang tidak terlalu jauh dengan tempat parkir. Bisa dibilang pintu itu dan tempat parkir hanya satu blok.


Membuka pintu, Ayu terus menyeret Dian yang tiba-tiba berganti status dari manusia menjadi kain pel karena sepanjang jalan tubuhnya membersihkan debu-debu di jalan.


Krieeet...


Setelah pintu dibuka, indra penciuman Dian langsung mencium bau debu yang menyengat, ditambah bau cairan pembersih, dan bau khas kayu yang sangat mengganggu.


BRUK


"Akhhh..."


Ayu dengan kasar melepas tarikannya pada rambut Dian sehingga kepala Dian harus terbentur dengan lantai yang sepertinya tidak pernah dibersihkan sama sekali dilihat dari debunya yang setebal tugas makalah yang biasanya Dian buat.


Dengan tidak berperasaan, Ayu mengambil sebuah botol yang berisi cairan pembersih dan menyiramkannya pada tubuh Dian yang tergeletak tak berdaya akibat seluruh tubuhnya sakit.


Dian hanya bisa pasrah diperlakukan semau Ayu. Untungnya, ruangan itu memiliki pencahayaan yang bagus sehingga keduanya bisa melihat wajah masing-masing.


Tidak puas dengan apa yang baru saja dia lakukan, Ayu kemudian mengambil satu botol lagi yang sama dan kemudian berjongkok di depan Dian. Ayu mencengkeram kuat rahang Dian sehingga mulut Dian terbuka sedikit.


Dengan tangan kiri mencengkeram dagu Dian untuk membuka mulut gadis itu dan tangan kanan memegang botol yang sudah terbuka. Ketika akan menuangkan isi botol ke dalam mulut Dian, Ayu tiba-tiba berhenti.


"Ini sekedar peringatan untukmu! Jika sekali lagi aku melihatmu dekat dengan Rehhand, maka makanan terakhirmu sebelum menuju alam baka adalah cairan ini."


BRUKK


Setelah mengatakan itu, Ayu melepas cengkramannya sehingga kepala Dian terbentur untuk kedua kalinya.


"Akh..."


Ayu kemudian berdiri dan melempar botol di tangannya ke badan Dian. Anak Julian Antarik itu lalu beranjak pergi dari sana dengan membanting keras pintu gudang itu. Setelah kepergian Ayu, Dian lalu menangis keras dengan lengannya diletakkan di atas dahinya.


"Hiks... hiks... hiks... Ya, Tuhan! cobaan apa ini. Kuatkanlah aku." Gumam Dian lalu menatap jam tangannya yang ternyata sudah lewat waktunya untuk kerja part time.


"Sepertinya aku harus mencari pekerjaan baru." Gumam Dian sedih. Dian tidak akan diberi toleransi lagi karena sudah beberapa kali terlambat sehingga kali ini dia yakin akan dikeluarkan.


Dian berusaha bangun tetapi badannya tidak bisa bergerak sama sekali. Sudah tiga kali percobaan tetapi hasilnya tetap sama. Dian akhirnya pasrah dan kembali berbaring kemudian menutup matanya.


***


Terima kasih sudah membaca cerita ku.


Jika ada saran yang membangun untuk cerita ini dari pembaca sekalian, silahkan tulis di kolom komentar.

__ADS_1


See You.


__ADS_2