
Selang 3 menit kepergian Beatrix, ponsel Alen berdering tanda ada pesan masuk. Asisten Rihan itu berhenti makan dan membuka ponsel membaca pesan itu. Alen terlihat mengangguk dan berbisik di telinga Rihan.
"Ayu terlihat masuk ke toilet yang sama dengan Beatrix, Tuan."
Rihan yang mendengar bisikan Alen, menatap Alen sekilas setelah menghentikan makannya. Rihan mengambil ponselnya dan membuka kamera pengawas untuk melihat apa yang akan Ayu lakukan pada Beatrix.
...
Di tempat Beatrix, gadis itu masuk ke dalam toilet beberapa menit kemudian keluar dan mencuci tangannya di wasstafel tanpa mempedulikan gadis di sampingnya yang sedari tadi menatapnya dengan tangan terlipat di dada. Beatrix jelas tahu maksud kedatangan gadis itu, tetapi hanya menganggapnya angin lalu.
"Jauhi Tuan Muda Rehhand!" Suara gadis itu terdengar di telinga Beatrix.
Sayangnya Beatrix tidak melirik gadis di sampingnya yang tidak lain adalah Ayu, si anak pemilik Antarik Universitas. Beatrix sibuk mengeringkan tangannya setelah dicuci dan berjalan keluar tanpa mempedulikan wajah merah padam Ayu karena diabaikan.
Sret
"Aku sedang bicara padamu!" Marah Ayu sambil menatap tangannya yang digenggam kuat oleh Beatrix.
Sebelumnya, ketika Beatrix akan mencapai pintu keluar, Ayu berniat menarik rambut Beatrix. Akan tetapi insting seorang bawahan terlatih Rihan begitu baik sehingga dengan muda menyadarinya. Beatrix berbalik dengan cepat dan menangkap tangan Ayu sebelum gadis itu menarik rambutnya.
"Kamu... Akhh... lepaskan tanganku!" Ringis Ayu karena cengkeraman Beatrix di pergelangan tangannya begitu kuat.
Bruk
"Kamu pikir bisa melakukan hal yang sama dengan Dian padaku?" Beatrix berujar datar setelah menekan kuat Ayu di dinding toilet.
"Kamu..." Ayu syok karena ada yang tahu masalah itu.
"Ck... kamu pikir aku tidak tahu? Itu bukan hal yang sulit bagiku! Jika menyukai Tuan Muda Rei, gunakan cara yang lebih pantas." Cibir Beatrix dengan posisi tangan kiri menempel di dinding, sedangkan tangan kanan menekan leher Ayu seperti mencekik gadis itu.
"Apa katamu? Kamu seharusnya berkaca! Jelas-jelas sudah punya kekasih, masih saja menggoda Tuan Muda Rei." Marah Ayu dengan suara tertahan karena lehernya yang ditekan Beatrix.
"Heh... biar kuberitahu padamu! Apa sebutan untuk gadis yang dengan sengaja menyerahkan tubuhnya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan? Dia dengan tidak tahu malu memakai pakaian terbuka, kemudian duduk di pangkuan seorang Tuan Muda. Katakan padaku sebutan apa yang cocok untuk gadis seperti itu?" Beatrix mengejek Ayu dengan pandangan sinis.
Ayu yang mendengar penuturan Beatrix, memerah malu bercampur marah karena dia jelas tahu siapa gadis yang Beatrix maksud. Itu adalah dirinya sendiri yang menggoda Tuan Muda Rehhand waktu itu.
"Lepaskan!" Marah Ayu sambil kedua tangannya berusaha melepas tekanan di lehernya.
"Aku bahkan tidak menggoda Rei sama sekali. Dia justru perhatian padaku tanpa aku menggodanya sepertimu." Provokasi Beatrix dan menyeringai pada Ayu.
"Kamu... berani-beraninya memanggil namanya? Benar-benar j****g tidak tahu malu!" Ayu begitu marah mendengar Beatrix memanggil Rei tanpa embel tuan muda.
"Rei bahkan tidak marah jika aku memanggil namanya. Dia justru senang mendengarnya. Setelah dipikir-pikir, bagus juga jika memiliki dua kekasih sekaligus." Beatrix senang sekali memprovokasi Ayu.
"Aktingku sudah cukup baik. Semoga nona senang," Monolog Beatrix dalam hati lalu melirik sekilas ke arah dinding tempat kamera pengawas yang Rihan pasang.
"J****g terkutuk! Setelah keluar dari sini, aku akan mengatakan semua kebusukanmu pada Tuan Muda dan kekasihmu. Mari kita lihat bagaimana respon mereka terhadapmu." Ayu semakin marah.
"Silahkan saja! Asal kamu tahu, Rei sudah tahu jika aku memiliki kekasih. Kekasihku bahkan berteman baik dengan Rei. Dan juga... kekasihku begitu menyayangiku. Bagaimana mungkin dia percaya pada orang asing sepertimu?" Beatrix menatap remeh pada Ayu.
__ADS_1
Bugh
"Akh..."
"Maaf... aku rasa tendanganku cukup kuat. Kakimu pasti baik-baik saja." Beatrix berbicara dengan nada bersalah yang dibuat-buat setelah dia menendang kaki Ayu.
Ayu tadinya ingin menendang Beatrix, justru dia sendiri yang kena tendangan tepat di tulang keringnya. Gadis itu hampir jatuh karena kesakitan, jika saja Beatrix tidak menahan bahunya.
"Akh... tunggu pembalasanku. Lepaskan aku!" Ringis Ayu dan memohon untuk dilepaskan.
"Lepas? Waktu Dian memohon padamu untuk dilepaskan... apa jawabanmu? Heh... kamu bahkan dengan kejam menyeretnya seperti menyeret mayat. Benar juga, bagaimana jika kita mencoba metode itu?"
"Ap... apa mak... maksudmu?" Tanya Ayu dengan takut.
"Aku penasaran bagaimana rasanya menyeret seorang manusia disepanjang lorong toilet ini." Beatrix dengan santai melepas tangannya di leher Ayu sehingga gadis itu merosot jatuh dan menangis.
"Hiks... jangan coba-coba!" Ayu memohon dan menatap takut pada Beatrix.
"Belum apa-apa kamu sudah menangis. Benar-benar lemah. Kamu tidak ingin merasakannya, sedangkan kamu sudah mencobanya pada Dian. Ckckck..." Beatrix kini menyamakan tingginya dengan Ayu kemudian mencengkeram dagu gadis itu kuat.
"Lepaskan aku! Aku anak pemilik kampus. Aku bisa mengeluarkanmu dari sini,"
"Jangan lupa jika kamu sudah mematikan cctv di sini. Tidak ada yang akan percaya padamu tanpa bukti. Belum lagi, kekasihku seorang wakil CEO R.A. Group. Ayahmu sanggup melawannya? Aku juga bisa meminta bantuan pada Rei. So... jangan coba-coba mengancamku!" Beatrix kemudian melepas cengkeraman dagu Ayu dan berdiri hendak keluar.
"Satu lagi... jangan lupa jika aku punya rekaman pembullyanmu pada Dian waktu itu." Beatrix berbicara lagi sebelum benar-benar pergi dari sana.
***
"Tidak buruk," Rihan berkomentar menonton aksi Beatrix di ponselnya.
"Apa yang sedari tadi kamu lihat?" Tanya Albert penasaran.
Sedari tadi mereka hanya menatap Rihan yang serius dengan ponselnya. Biasanya ketika habis makan, Alen akan merapikan kembali semua peralatan makan dan pulang. Akan tetapi, di saat semua sudah selesai makan, Alen justru memperhatikan Rihan.
Albert dan Max yang memiliki rasa penasaran tinggi hendak menghampiri Rihan. Sayangnya, sebelum mereka bergerak, Alen sudah menatap mereka dengan tatapan tajam, sehingga nyali dua pria itu menciut dan tidak berani bergerak lagi.
Rihan yang mendengar pertanyaan Albert hanya menatap pria di depannya itu sekilas kemudian menyimpan kembali ponselnya. Rihan tidak berniat menjawab Albert.
Setelah Rihan menyimpan ponselnya, Beatrix terlihat berjalan ke arah mereka dengan senyum khasnya yang menawan.
"Sudah selesai? Maaf membuat kalian menunggu. Aku sedikit sakit perut tadi." Alibi Beatrix dan kembali duduk.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya David khawatir.
"Aku baik-baik saja." Jawab Beatrix dan tersenyum tipis.
***
"Kamu tahu Rei, Player yang aku ceritakan itu, ternyata seorang gadis. Hanya mendengar caranya berbicara, aku yakin dia memiliki karakter yang sama denganmu." Cerita Brand dengan semangat.
__ADS_1
Brand baru saja pulang kerja dan duduk di samping Rihan di sofa ruang tamu. Pria itu baru bisa bercerita hari ini karena kesibukannya sejak kemarin.
"Hm." Deheman Rihan yang sibuk membaca buku kedokteran.
"Ck... Tidak bisakah kamu memberi selamat padaku?" Brand mendengus tidak senang.
"Selamat untuk kekalahan?" Ejek Rihan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dibaca.
"Dari mana kamu tahu aku kalah? Dan juga, beri aku selamat karena berhasil mengajak dia bermain," Brand kesal sekaligus malu.
"Ucapan selamat yang tidak penting," Balas Rihan datar.
"Hei bocah... kamu tidak tahu betapa susahnya aku melawan The Devil? Kamu harus mencoba game itu agar kamu tahu betapa susahnya level yang kami mainkan. Berikan ponselmu dan aku akan mendownload game itu!" Kesal Brand dan melirik kesana kemari mencari ponsel Rihan.
"Di mana ponselmu?" Tanya Brand sambil terus mencari. Rihan sendiri tidak mempedulikan pria itu.
"Pasti di sakumu! Biarkan aku mengambilnya sendiri," Sambung Brand melirik celana Rihan.
"Jangan membuatku menendangmu, Kak." Ucap Rihan dengan datar lalu melirik sekilas pada Brand.
"Coba saja! sini, biar aku periksa sakumu." Balas Brand dan bersiap meraba saku celana Rihan.
"Jangan pernah menyentuhnya, Bajingan. Enyalah dari sini!" Suara Neo terdengar kesal setelah menarik kuat jas bagian belakang Brand agar menjauh dari Rihan.
Neo begitu lelah sehabis memeriksa berkas bersama Logan. Sebelum itu, dia sejak pagi pergi meninjau tempat pembangunan resort, juga meninjau contoh bahan bangunan yang akan dipakai untuk membangun.
Neo pergi bersama Logan, Brand dan Dom. Ada juga beberapa penanggung jawab konstruksi bangunan yang ikut. Setelah itu, mereka kembali ke tempat kerja masing-masing.
Brand pulang lebih dulu karena pekerjaannya sudah selesai. Sedangkan Neo, pria itu masih memiliki banyak pekerjaan. Dia bahkan membawa sisanya pulang. Itu memang disengaja agar bisa bekerja satu ruangan nanti dengan Rihan yang selalu menghindarinya setiap hari.
Neo berharap bisa melihat Rihan ketika pulang lebih awal karena dia tahu jadwal Rihan hari ini. Sayangnya pemandangan akrab antara Brand dan Rihan membuatnya kesal.
"Kamu siapa?" Tanya Brand mengerutkan kening.
"Aku hanya menjauhkanmu dari Rei, bukan membuat otakmu geger sehingga melupakan aku." Kesal Neo.
"Maksudku, kamu siapanya Rei sehingga melarangku dekat dengannya? Jika kamu bertindak sebagai kakaknya itu sangat aneh karena dia seorang pria jadi tidak masalah dekat denganku.
Jika kamu menyukainya, itu mustahil karena aku tahu kamu masih normal. Kamu juga sudah memiliki seseorang dalam hatimu. Jangan melupakan penyihir yang sangat kamu cintai itu." Ujar Brand dengan tenang.
Deg
Jantung Neo berdetak kencang. Perkataan Brand tepat menusuknya. Neo tidak tahu bagaimana membalas Brand karena dia juga bingung dengan tingkahnya sendiri. Neo hanya bisa menatap Rihan yang tidak meliriknya sama sekali. Rihan sibuk membaca buku di tangannya tanpa mempedulikan dua pria di sampingnya.
"Aku..."
"Kekesalanmu tanpa alasan! Jika aku kesal Rei dekat denganmu itu wajar karena aku menyukainya. Sebaliknya, kamu yang harus menjauh darinya. Silahkan sebut aku tidak normal, aku tidak peduli. Yang jelas aku menyukai Rei." Brand berbicara dengan serius. Pria itu bahkan menatap Rihan dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.
"Jangan harap itu terjadi!" Neo membalas dengan datar. Kedua tangannya terkepal kuat menahan emosi.
__ADS_1