Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Sahabat?


__ADS_3

"Rihan..."


Hening.


Semua pandangan tertuju pada Rihan yang saat ini menatap datar orang yang memanggilnya. Orang itu perlahan-lahan berjalan mendekatinya.


Semua yang ada di sana tidak mengatakan sepatah katapun, karena menunggu reaksi sang presdir yang dipanggil dengan nama yang mereka ketahui bukan nama sang presdir. Sedangkan orang yang memanggil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah Rihan.


"Dia mengenal nona hanya sekali pandang?" Alex bergumam dalam hatinya sekaligus takjub akan mata orang itu.


***


"Kamu Rihan, 'kan? Rihan sahabat baikku," Ucap orang itu yang saat ini sudah berdiri tepat di depan Rihan.


"Anda salah orang, Nona." Rihan menjawab datar, Tapi percayalah, dia sedang berusaha keras memaksakan ingatannya akan orang di depannya ini, yang mengaku sebagai sahabat baiknya. Kenapa dia lupa, kalau dia punya sahabat?


"Tidak. Kamu Rihan sahabat baikku yang aku cari selama ini," Orang itu masih tetap dengan pendiriannya.


"Maaf Nona, anda salah orang. Beliau adalah Tuan Muda Rehhand Lesfingtone." Alex saat ini sudah berdiri di samping kiri Rihan dan berbicara dengan gadis itu.


"Benar, Nona! Beliau adalah Tuan Muda Rehhand. Anda pasti salah orang." Jelas Dokter Damar di sebelah kanan Rihan, membenarkan ucapan Alex. Dan tanpa sadar Dokter Damar menyentuh bahu gadis itu.


"Jangan sentuh aku! Lepaskan aku. Tolong... jangan sentuh aku." Teriak gadis itu histeris setelah menghempas kasar tangan Dokter Damar pada bahunya.


Gadis itu sudah berjongkok dan menangis histeris sambil memeluk erat kedua lututnya karena ketakutan sambil terus bergumam 'jangan sentuh aku' dan menangis.


Gadis itu adalah gadis yang hampir ditabrak, yang dibawa ke rumah sakit ini oleh Rihan dan kedua asisten pribadinya. Gadis itu awalnya begitu histeris dan akan menyakiti dirinya sendiri, akan tetapi ketika tanpa sengaja melihat Rihan, dia seketika melepas pisau di tangannya dan berjalan mendekati Rihan karena dia merasa mengenal Rihan sebagai sahabat baiknya yang dia cari selama ini.


"Nona, Kamu baik-baik saja?" Tanya Rihan dengan datar.


Rihan kini berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan gadis itu karena dia merasa jika trauma gadis ini sangat menyiksanya, sehingga Rihan merasa iba melihatnya.


Mendengar suara datar itu, gadis itu menghentikan gumaman ketakutannya dan mengangkat kepala dan menatap manik mata coklat tajam milik Rihan. Gadis itu lalu mengulurkan tangannya dan menyentuh pelan pipi Rihan kemudian berkata, "Rihan, sahabatku. Akhirnya aku menemukanmu. Ak..." Perkataan gadis itu terpotong karena dia tiba-tiba pingsan.


Rihan lalu mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya masuk ke dalam ruang rawat gadis itu sebelumnya. Setelah membaringkan gadis itu, Rihan lalu menyelimutinya dan memberikan ruang untuk Dokter Damar agar memeriksa gadis itu.


Semua orang yang ada di sana hanya menatap dalam diam semua yang dilakukan Rihan. Meski banyak pertanyaan di kepala mereka, akan tetapi mereka tidak berani untuk bertanya.

__ADS_1


***


Rihan saat ini masih berada dalam ruang rawat gadis itu dan memperhatikan dengan saksama Dokter Damar yang memeriksa keadaan gadis itu.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Rihan datar pada Dokter Damar yang sudah selesai memeriksa keadaan gadis itu.


"Seperti yang sudah saya perkirakan, pasien mengalami trauma berkepanjangan, Presdir. Keadaannya sangat lemah saat ini. Tetapi saya rasa trauma pasien bisa lebih cepat disembuhkan." Jelas Dokter Damar dan mengangguk pelan.


"Lebih cepat?" Tanya Rihan mengerutkan keningnya. Setahunya, jika trauma berkepanjangan, itu berarti kesembuhannya juga akan lama. Tetapi Dokter Damar kini mengatakan jika trauma gadis itu bisa lebih cepat disembuhkan.


"Iya, Presdir! Gadis itu trauma dengan sentuhan pria padanya. Akan tetapi yang saya lihat, gadis itu tidak merasakan apapun jika berdekatan dengan anda. Malahan dia menyentuh anda dengan tangannya sendiri. Jadi saya sarankan, Presdir harus selalu bersamanya untuk proses kesembuhan gadis itu." Jawab Dokter Damar sopan pada Rihan.


"Hm."


Deheman Rihan mengiyakan jawaban Dokter Damar, lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan itu. Rihan hanya menggeleng. Tentu saja gadis itu tidak takut padanya karena dia adalah seorang perempuan.


"Pantau terus kondisinya dan kabari saya perkembangannya, Dok. Kami Pamit," Ucap Alex pada Dokter Damar lalu dengan cepat mengikuti sang majikan yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan itu.


Dokter Damar hanya menganggukan kepalanya mengiyakan perkataan Alex dan kembali melakukan aktivitasnya. Sedangkan di luar, Rihan berjalan dengan memasang wajah datar melewati orang-orang yang sejak tadi belum pergi dari sana, padahal gadis pembuat onar tadi sudah tidak ada lagi di sana.


"Hey bocah, kamu belum menjawab pertanyaanku. Sedang apa kalian di sini?" Tanya Dokter Lio yang sedari tadi masih penasaran dengan kehadiran mahasiswa kedokteran itu di sini. Dia sedikit kesal karena diabaikan.


Rihan terus berjalan menuju pintu keluar dan mendapati Alen sudah membuka pintu mobil untuknya. Rihan tanpa kata, langsung memasuki mobil dan bersandar pada kursi mobil dan memejamkan matanya sambil terus berpikir tentang gadis itu.


Dokter Lio hanya memandang heran tingkah Rihan yang tidak menghiraukan perkataannya sedikitpun. Padahal seingatnya, Rihan pernah mengatakan bahwa mereka akan makan bersama jika bertemu lagi.


Tetapi lihatlah, Dokter Lio seakan dianggap angin lalu oleh Rihan. Dokter Lio kembali bertanya pada Alex yang baru saja keluar dari ruang rawat gadis itu.


"Hey... bocah tengik! Sebenarnya apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Dokter Lio pada Alex.


"Bukan urusanmu," Alex menjawab cuek, lalu mempercepat langkahnya karena majikannya sudah tidak terlihat di depan matanya.


Dokter Lio hanya bisa menahan rasa kesalnya akan sikap dua bocah yang tidak menghiraukan pertanyaannya itu. dia kemudian teringat dengan Dokter Damar yang belum sempat menyelesaikan perkataannya karena sudah dipotong oleh gadis itu. Dokter Lio lalu memaksa masuk ke dalam ruangan gadis itu untuk bertemu dengan Dokter Damar.


"Maaf mengganggu waktumu, Profesor. Anda belum menjawab pertanyaan saya. Anda mengenal tuan muda tadi?" Tanya Dokter Lio yang sudah ada dalam ruang rawat gadis itu.


Dokter Lio berdiri di samping Dokter Damar yang saat ini sedang membaca dokumen berisi kondisi gadis itu sambil duduk di sofa yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


"Dokter Lio, Silahkan duduk!" Dokter Damar mempersilahkan Dokter Lio duduk di sebelahnya.


"Saya mengenal Tuan Muda Rehhand sebelum beliau menjabat sebagai presdir di rumah sakit ini." Jawab Dokter Damar setelah Dokter Lio duduk di sampingnya.


Dokter paru baya itu lalu meletakan dokumen yang ada di tangannya di atas meja di depannya dan menatap Dokter Lio.


"Tunggu... Presdir? MAKSUD ANDA PRESDIR BARU KITA, SEKALIGUS PEMILIK RUMAH SAKIT INI?" Dokter Lio heboh sendiri.


Jangan lupa dengan nada suaranya yang begitu tinggi ketika mengetahui siapa yang dia panggil bocah itu.


"Mati aku." Umpat Dokter Lio dalam hatinya.


"Pelankan suaramu, Dok. Pasien sedang beristirahat. Anda tidak mengenal presdir baru kita, Dok?" Tanya Dokter Damar heran dengan dokter muda di sampingnya ini.


"Saya tidak mengenal beliau sama sekali. Hufffttt... Dan saya memanggilnya bocah. Apa saya akan dipecat karena tidak sopan, Prof?" Tanya Dokter Lio yang kini mulai panik dengan apa yang sudah dilakukannya.


"Beliau pasti marah. Terbukti, dia mengabaikanku tadi ketika aku bertanya. Bagaimana ini?" Gumam Dokter Lio dalam hatinya lalu memukul kepalanya pelan.


Dokter Lio sangat takut dipecat karena pekerjaan ini merupakan cita-citanya sedari dulu, sekaligus tempat dia mencari nafkah dan membiayai kehidupan saudara-saudarinya di panti asuhan.


Jika dia dipecat, maka tidak mungkin diterima di tempat lain, karena menurut mereka, Dokter yang dipecat pasti melakukan kesalahan fatal. Semakin memikirkannya, Dokter Lio hanya bisa merutuki kebodohannya.


"Anda kenapa, Dok?" Dokter Damar betanya karena mulai pusing dengan tingkah dokter muda di sampingnya ini yang terlihat gelisah ketika mengetahui siapa presdir baru mereka.


"Sepertinya saya akan dipecat, Prof. Bagaimana nasib saya?" Dokter Lio berbicara dengan wajah sendunya.


"Sebenarnya ada apa Dokter Lio?" Tanya Dokter Damar yang masih penasaran dengan sikap Dokter Lio.


Dokter Lio lalu menceritakan sikap dan perkataannya di pertemuan pertama mereka yang belum diketahui oleh Dokter Damar sekaligus sikapnya tadi yang diacuhkan oleh Rihan.


Dokter Damar menganggukan kepala tanda mengerti dengan apa yang diceritakan oleh Dokter Lio padanya.


"Dilihat dari sikap presdir yang begitu dingin tak tersentuh, saya ragu beliau memaafkan anda, Dok. Apalagi ketika presdir mengabaikan anda tadi. Entahlah, saya juga tidak tahu." Dokter Damar lalu menepuk pelan bahu Dokter Lio guna menguatkannya.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.


__ADS_2