Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Aksi


__ADS_3

Mobil Rihan kini berhenti 5 meter di depan sedan hitam itu. Tidak langsung turun, Rihan menatap ke arah spion depan bagian kanan dan melihat dua sedan hitam terlihat di belakangnya yang juga berhenti 5 meter dari mobilnya. Masing-masing dari sedan itu keluar lima orang dengan jas hitam. Jangan lupa juga alat-alat tajam yang mereka bawa.


...*Mereka berasal dari geng wolf, Tuan.*...


"Lalu?"


...*Berikut bukti transaksi tangan kanan Brand bersama ketua geng wolf.*...


Gledy menampilkan foto-foto pertemuan hingga transaksi antara Dom dan seorang pria yang diketahui adalah ketua geng wolf.


"Sepertinya dia tidak ingin aku curiga padanya, sehingga sengaja membayar orang lain untuk ini. Sayangnya kamu tidak sepintar itu, Brand." Rihan beralih menatap sekitar mobilnya yang kini mulai didekati secara perlahan-lahan oleh anggota geng Wolf.


"Untuk sementara bermain dengan mereka akan menyenangkan, Gledy."


...*Baik, Tuan.*...


Ketika tiga langkah lagi anggota geng wolf sekitar lima orang akan sampai di mobil Rihan, mereka tiba-tiba kejang-kejang karena Gledy mengaktifkan sistem sengatan listrik membuat lima orang tadi hampir saja pingsan jika Rihan tidak segera meminta Gledy mematikannya.


Anggota lain yang melihat teman mereka, mundur dengan refleks ketika kelima anggota mereka mulai kejang-kejang. Mereka kini mulai takut untuk mendekat.


Seorang dari mereka yang kebetulan memegang pistol mulai emosi dan tanpa pikir panjang menembak tepat di jendela kursi pengemudi. Rihan yang melihatnya hanya duduk dengan tenang tanpa takut sedikitpun. Sedangkan si penembak mulia menembak.


Dor


Dor


Dor


Bukan satu peluru tetapi tiga sekaligus. Peluru kembali memantul dengan cepat. Satu mengenai perut seorang anggota yang berdiri paling depan,  satu peluru hilang entah kemana dan satu peluru lagi menggores sedikit telinga seorang anggota lagi.


Namanya juga mobil modifikasi anti badai, sehingga orang di dalam mobil akan tetap aman jika tidak keluar dari sana.


"Aku ingin tahu kegunaan kartu emas itu. Tunjukan cara kerjanya, Gledy." Pintah Rihan yang kini melipat kedua tangannya di dada sambil bersantai di dalam mobil. Belum waktunya dia keluar.


Cling

__ADS_1


Sebuah kartu emas keluar secara tiba-tiba dan melayang di atas mobil Rihan. Sedangkan di dalam mobil muncul layar kontrol kartu itu. Rihan yang melihatnya menaikkan sebelah alisnya.


"Ini menarik!"


Rihan lalu melihat ke layar hologram di depannya. Di sana ada sekitar 4 pilihan, berserta tombol kegunaan masing-masing. Membaca pilihan-pilihan itu yang terdiri dari:


1. One shoot


2. Lachrymator


3. Shuriken


4. All.


Rihan menekan pilihan pertama. Hanya dalam 5 detik, kartu emas yang tadinya melayang di atas mobil, kini bertransformasi dari ukuran yang tipis menjadi sedikit tebal dengan bentuk yang berbeda yaitu bulat dan berputar-putar di tempatnya kemudian mengeluarkan tembakan di sisi sampingnya.


Mereka yang melihatnya akan berpikir itu adalah senjata mainan karena terlihat kecil sehingga peluru yang keluar juga dalam bentuk mini. Sayangnya meskipun kecil, tetapi ketika peluru itu mengenai tubuh seseorang, bukannya berdarah, tetapi dia akan menyatu dengan tubuh dan dalam hitungan detik timbul ruam-ruam dan tubuh terasa gatal-gatal tak tertahankan.


Lima anggota yang awalnya tersengat listrik kini masih terduduk lemah di depan teman anggotanya. Ketika kartu emas mengeluarkan peluru, kelimanya yang tadinya masih lemas, kini harus memaksakan diri untuk menggaruk seluruh tubuh mereka.


"Bagus juga kegunaannya. Mari kita coba lainnya,"


Rihan kemudian mematikan pilihan pertama sehingga kartu emas kembali ke bentuknya yang semula. Rihan lalu menekan pilihan kedua. Dalam waktu yang sama dengan pilihan pertama, kartu emas dengan cepat berpindah tempat ke depan anggota yang masih terduduk dan mengeluarkan asap. Dari namanya saja itu jelas adalah gas air mata.


Dalam keadaan tersiksa sekitar 11 anggota geng wolf harus menggerakan tangan mereka dengan baik untuk sekedar menggaruk dan menggosok mata mereka karena perih. Rihan yang melihat anggota yang bersembunyi di belakang mobil segera menjalankan kartu emas untuk menghampiri 9 anggota yang bersembunyi itu. Kartu emas lalu mengeluarkan gas yang sama membuat mereka juga merasakan hal yang sama.


Seorang dari mereka kini memaksakan matanya untuk menembak ke arah kartu itu. Sayangnya, Rihan yang mengetahuinya lewat kamera yang juga terpasang di kartu itu menyeringai tipis dan tanpa penundaan menekan pilihan ketiga yaitu Shuriken.


Keluarlah pisau ninja dan dengan cepat mengenai pria itu tepat di bagian lehernya hingga dia mati seketika. Untungnya Rihan hanya menekan fungsi satu tembakan sehingga hanya pria itu sendiri yang kena.


Anggota lainnya meneguk ludah mereka susah payah. Selain itu, mereka juga bersyukur karena pisau ninja itu tidak mengenai mereka.


Melihat pilihan terakhir yang artinya semua pilihan berfungsi, Rihan akhirnya mengembalikan kartu emas ke tempatnya semula dan mematikannya. Sudah cukup acara bermainnya.


Dengan tenang Rihan keluar dari mobil dan bersandar di depan mobilnya dan menatap datar kesebelasan anggota geng wolf yang paling terlihat menyedihkan. Rasa gatal di tubuh mereka akan berhenti ketika waktu sudah menunjukan 24 jam.

__ADS_1


"Masih kuat untuk permainan selanjutnya?" Tanya Rihan datar sambil melipat tangannya di dada.


Di antara kesembilan anggota yang masih baik-baik saja karena gas air mata tidak terlalu parah, dua orang saling pandang dan mengangguk seperti merencanakan sesuatu. Seorang mengambil pistol dibalik jasnya sedangkan seorang lagi mengambil pistol milik temannya yang sudah mati tadi.


Keduanya kemudian berdiri dan menembak dengan membabi buta ke arah Rihan. Akan tetapi keduanya dibuat syok karena peluru tidak mengenai Rihan sedikitpun. Mereka kini heran kemana peluru itu pergi.


Kenyataannnya, sebelum peluru mengenai Rihan, sebuah kaca transparan tiba-tiba muncul sehingga peluru hanya mengenai kaca dan terserap begitu saja.


"3... 2... 1... done." Rihan menghitung mundur stok peluru yang diperkirakan akan habis dihitungan kesatu.


"Bagaimana jika kita bermain secara adil? Kebetulan aku ingin berolahraga. Setidaknya kita bermain tanpa adanya benda tajam, bagaimana?" Tawar Rihan masih santai.


"Serang dia..."


"Kalian sepertinya sangat tidak sabar."


Terjadilah pergulatan sengit antara Rihan dan kedua anggota tadi. Yang lain hanya menonton. Entah kenapa mereka tidak menyerang secara bersamaan. Mungkin mereka masih takut dengan gerakan tiba-tiba dari Rihan.


Rihan dengan gerakan tenang menendang tepat di bagian dada pria di sebelah kanannya hingga pria itu mundur beberapa langkah dan jatuh terduduk sambil meringis memegangi dadanya yang sakit. Pria kedua maju dan berniat memukul wajah Rihan dari samping ketika Rihan baru saja menendang mundur pria pertama.


HAP


Rihan dengan cepat menangkap tangan yang hampir saja menyentuh pipi mulusnya. Menggenggam erat tangan itu, Rihan lalu memutarnya sehingga pria itu ikut berputar karena takut tangannya patah. Pria itu kemudian membelakangi Rihan, dengan tangannya masih dipegang erat oleh Rihan.


Rihan kemudian memutar lagi tangan itu hingga terdengar suara pertanda tulang tangan pria itu berpindah tempat. Setelah itu Rihan menendang bokong pria itu hingga terjungkal dan jatuh menimpa kesebelasan anggotanya yang masih duduk lemah di sana.


Rihan mengerutkan kening ketika menyadari tidak ada yang ingin maju menyerangnya selain dua orang tadi. Dia merasa aneh. Dan benar saja.


"Serahkan dirimu atau orang tua ini mati!"


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.

__ADS_1


See You.


__ADS_2