Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Jangan-jangan...


__ADS_3

Neo yang sedang bercerita, tiba-tiba didatangi oleh Logan dan berbisik di telinganya.


"Sistem kita hampir saja dibobol. Lokasinya ada di gedung ini,"


Mendengar bisikan Logan, Neo mengerutkan keningnya karena ini pertama kalinya ada yang berhasil membobol sistem mereka. Neo kemudian mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari siapa kira-kira yang patut dicurigai.


Sayangnya, tidak ada yang mencurigakan sehingga Neo melanjutkan ceritanya. Akan tetapi, Neo selalu menajamkan penglihatannya ke setiap deretan tempat duduk hingga tatapannya terhenti di deretan tempat duduk Rihan. Lebih tepatnya, dia sedang memperhatikan Rihan yang baru saja memberikan iPad pada Alex.


"Mahasiswa di sini ?" Gumam Neo dalam hatinya. Neo masih mengingat wajah Rihan karena aksi di lampu merah waktu itu.


"Yang di deretan belakang, sedang apa kalian?" Tanya Neo datar membuat semua yang ada di sana mengalihkan pandangannya pada deretan tempat duduk Rihan dan teman-temannya.


Rihan yang mendengar teguran itu hanya bersikap tenang seolah-olah tidak melakukan apapun. Dia justru bersitatap dengan Neo.


"Sedari tadi saya bercerita, kamu tidak mendengar saya sama sekali. Kamu justru asik dengan iPad di tanganmu. Saya minta kamu untuk keluar dari ruangan ini." Suara Neo penuh penekanan. Neo sangat membenci orang yang tidak memperhatikannya saat berbicara.


Tanpa berkata apapun, Rihan berdiri dan pergi dari sana diikuti oleh Alex dan Max. Ketika tiba di pintu keluar, Rihan berbalik dan menatap Neo di depan sana kemudian berkata.


"Seseorang yang menatapmu belum tentu mendengar jelas setiap perkataanmu, dan seseorang yang sibuk dengan dunianya sendiri belum tentu tidak mendengarmu."


Hening.


"Akhirnya ada yang bisa melawannya dalam berbicara." Batin Logan lalu tersenyum tipis. Bagi Logan, ini pertama kalinya dia bertemu dengan orang yang bisa melawan perkataan Neo, sang sahabat. Logan merasa senang.


Setelah mengatakan kalimat sederhana itu, Rihan keluar setelah Alex membuka pintu. Meski Rihan tahu jelas bahwa dia salah, karena tidak memperhatikan orang lain berbicara, tetapi percayalah, telinganya masih berfungsi dengan sangat baik mendengar setiap kata yang keluar dari mulut orang di depan sana. Lebih salah lagi, karena dia sedang berusaha membobol sistem mereka sehingga Rihan harus berpura-pura tidak bersalah.


Kepergian Rihan dari sana membuat ruangan terdengar seperti sarang nyamuk karena bisikan para mahasiswa di sana.


"Mahasiswa dimohon tenang! Silahkan dilanjutkan, Pak." Moderator menenangkan keributan.


Entah kenapa mendengar kalimat itu dari mulut Rihan, Neo tiba-tiba kehilangan kata-katanya. Tanpa pamit, Neo segera berdiri dan pergi dari sana meninggalkan tanda tanya besar di kepala mereka yang ada di sana.


"Mohon maaf Pak Julian dan Pak Rektor, saya lupa memberitahu, jika Tuan Neo ada jadwal dadakan sehingga beliau keluar tiba-tiba. Kami akan datang lagi dijadwal berikutnya. Sekali lagi kami minta maaf!" Logan segera membuat alasan kemudian ikut pergi dari sana.


...


"Kenapa aku merasa tertampar dengan kalimat itu?" Batin Neo dalam perjalanan menuju tempat parkir.


"Aku setuju dengan perkataan bocah tadi. Karena apa? karena kamu juga begitu. Hahahah..." Logan tiba-tiba datang dan merangkul pundak Neo. Senang sekali dia mengejek Neo.


"Ini masih jam kerja." Neo menyingkirkan tangan Logan di bahunya.


"Aku tidak peduli! Lagipula, tidak ada yang melihat."


"Tapi, Neo..."


"Ada apa?"


"Aku merasa familiar dengan wajah bocah tadi." Logan menatap Neo serius.

__ADS_1


"Katamu namanya Rehhand Lesfingtone." Balas Neo.


"Maksudku, bukan itu. Wajahnya tadi terlihat jelas di depan kamera, dan itu mengingatkanku pada seseorang. Bagaimana menurutmu?" Jelas Logan berhenti karena mereka sudah tiba di depan mobil.


"Aku juga merasa begitu. Tapi siapa?" Tanya Neo heran lalu membuka pintu mobil dan masuk.


"Itulah masalahnya." Balas Logan ikut masuk dan memasang sealbat kemudian menyalakan mesin mobil dan pergi dari sana.


Tepat setelah mobil Neo dan Logan keluar dari gerbang, mobil Rihan juga keluar, sehingga kedua mobil bermerek itu beriringan keluar dari sana.


"Lewati!" Perkataan singkat seorang Rihan, adalah apa yang harus dilakukan oleh Alex.


Max yang mendengarnya bingung, karena tidak mengerti maksud perkataan Rihan. Akan tetapi ketika Alex menambah kecepatan mobil sehingga mereka melewati mobil Neo, Max akhirnya mengerti maksud Rihan.


Sedangkan di mobil Neo.


"Ikuti mereka!" Ucap Neo.


"Kenapa?" Tanya Logan heran.


"Ikuti saja!"


"Baiklah."


Dengan tenang Logan mengikuti mobil Rihan. Tetapi Logan bisa bermain trik dengan sangat baik sehingga mobil di depannya tidak tahu jika sedang diikuti.


Rihan memang tidak akan heran dengan hal itu, karena baginya di atas langit masih ada langit. Itu berarti sehebat apapun, sepintar apapun atau secerdas apapun dia, pasti ada yang lebih hebat darinya juga.


Rasa tertantang untuk menakhlukkan mereka sangat besar, sehingga dia akan berusaha untuk membobol sistem itu lagi dan lagi.


*Drerrrt


Derrrrt


Drrrttt*.


Panggilan masuk di ponsel Rihan menyadarkan pikirannya tentang kejadian tadi. Rihan kemudian mengambil ponsel di saku celananya dan tertera nama Tata di sana. Rihan lalu menggeser ikon hijau untuk menjawab panggilan itu.


"Kenapa?"


"Kapan pulang, Han?"


"Aku sedang di jalan. Sebentar lagi sampai."


"Benarkah? Baguslah. Aku ingin kamu membeli sesuatu untukku. Aku sedang ingin makan makanan Jepang. Bisakah kamu membelinya untukku?"


"Kenapa tidak meminta koki untuk memasak?"


"Memang bisa?"

__ADS_1


"Hm."


"Lain kali saja. Belikan untukku, ya. Aku tunggu, Han. Dadah..."


"Hmm."


Panggilan pun berakhir.


"Ira ingin makan apa?" Tanya Max penasaran.


"Singgah ke restaurant Jepang, Lex." Ujar Rihan tanpa peduli dengan Max.


"Baik Tuan."


"Selalu saja gadis itu diperhatikan. Ck..." Cibir Max dalam hatinya tidak suka.


***


"Restaurant Jepang?" Gumam Logan ketika melihat mobil Rihan berhenti di depan sebuah restaurant bergaya Jepang.


"Tidak mungkin mereka makan di saat seperti ini." Sambung Logan melirik sekilas Neo di sampingnya yang juga menatap Alex yang baru keluar dari mobil. Logan bisa berpikir seperti itu karena jam makan siang sudah lewat.


"Hanya memesan makanan." Ucap Neo.


"Untuk apa?" Tanya Logan menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Untuk dibuang! Pertanyaan macam apa itu?" Neo menatap malas Logan yang cengengesan di sampingnya.


"I... itu... setelah sekian lama akhirnya aku bisa melihatnya. Ternyata dia ada di sini. Apa aku salah lihat?" Logan terkejut dengan kehadiran dua manusia yang dia lihat sedang duduk dengan tenang di dalam restaurant tersebut.


"Itu benar dia!" Balas Neo datar.


Setelah beberapa menit menunggu.


"Tunggu! dia mengenal asisten Tuan Muda Rehhand?" Ucap Logan ketika melihat orang yang mereka maksud sedang menyapa Alex yang akan keluar dari sana.


"Kenapa dia ada di sini?" Tanya Logan terus melihat Alex yang baru masuk ke dalam mobil hingga mobil pergi dari sana.


"Jangan-jangan..."


"Diamlah!"


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.

__ADS_1


__ADS_2