
Setelah makan siang berakhir, Alen segera merapikan meja dan alat-alat makan dan pamit pulang bersama para pelayan.
"Apa yang harus aku lakukan hari ini?" Tanya Gibran setelah beberapa menit kepergian Alen.
"Tidak ada." Jawab Max singkat.
"Hah?" Heran Gibran.
"Wajahmu tidak mendukung untuk disuruh saat ini." Balas Albert membuat Gibran secara refleks memegang wajahnya.
"Ada apa dengan wajahku?"
"Entahlah! Kamu bisa berkaca ketika pulang nanti," Albert mengangkat bahunya acuh.
Albert dan Max sebenarnya ingin mengerjai Gibran. Sayangnya, ketika melihat wajah lesuhnya, niat mereka hilang entah ke mana. Hanya dengan kode yang diberikan Albert, Max paham jika niat mereka harus diurungkan untuk saat ini.
"Apa lagi jadwalku setelah ini, Lex?" Tanya Rihan yang sedari tadi diam dan memperhatikan teman-temannya.
"Baru saja kepala rumah sakit menelpon, Tuan. Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan dengan anda."
"Kapan dia ingin bertemu?" Tanya Rihan lalu menatap jam di pergelangan tangannya.
"Dokter Lio tidak mengatakan waktunya, hanya mengatakan jika tuan selesai dari kampus, Dokter Lio akan menemui anda."
"Ayo berangkat!" Rihan lalu berdiri dan pergi dari sana.
"Baik, Tuan."
"Waktunya pulang..." Albert berteriak dengan semangat, seakan-akan sedari tadi dia hanya menunggu waktu pulang.
"Bagaimana denganku?" Pertanyaan konyol Gibran lontarkan berhasil menghentikan langkah mereka kecuali Rihan dan Alex yang masih terus berjalan.
"Pulanglah!" Max menjawab sambil melambaikan tangan seakan mengusir.
"Bukankah kamu menelponku untuk melakukan sesuatu?"
"Sudah aku katakan, wajahmu tidak mendukung untuk disuruh, jadi pulang dan tenangkan pikiranmu kemudian kita bertemu besok. Jangan lupa untuk siapkan fisikmu juga. Dadah..." Albert lalu merangkul David dan pergi dari sana diikuti oleh Max dan Dian.
"Ternyata mereka tidak seperti yang aku pikirkan," Gumam Gibran dalam hatinya lalu tersenyum tulus. Gibran akhirnya ikut pulang karena tidak ada kelas lagi hari ini.
...
Setibanya mereka di parkiran, masing-masing memisahkan diri untuk pulang ke rumah. Dian seperti biasa diantar pulang oleh Albert. Meski Dian sudah menolak karena tidak enak hati, tetapi karena drama buatan Albert, akhirnya Dian ikut dengannya.
David sendiri tidak terlalu memikirkannya. Dia tidak ada niat untuk mengantar pulang Dian, entah karena apa. Bagi David itu bukan urusannya. Dia hanya akan mengantar pulang jika memang tidak ada tumpangan lagi. Dalam pikiran David saat ini hanya ada pujaan hatinya yang entah sampai kapan mereka akan dipertemukan.
__ADS_1
Memikirkannya saja, David hanya bisa menghela nafas gusar karena hampir menyerah dengan pencariannya. David kini tertunduk lesuh di setir mobilnya memikirkan cara mencari keberadaan sang pujaan hati.
Tiba-tiba David mengangkat kepalanya dan mengerutkan keningnya ketika menatap ke samping jendela mobilnya yang belum tertutup. Dapat David lihat mobil berisi Rihan dan Max yang dikendarai Alex melewati mobilnya. Jantungnya berdebar kencang ketika menyadari sesuatu.
"Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?" Gumam David lalu memukul pelan setir mobilnya.
David kemudian menyalakan mesin mobil dan pergi dari sana. Jika diperhatikan dengan teliti, ada senyum kecil di bibirnya.
***
BMW yang Alex kendarai kini berhenti tepat di depan rumah sakit Setia. Para penjaga yang ditempatkan Rihan di sana segera membungkuk hormat ketika melihat mobil sang presdir berhenti di depan mereka.
"Selamat datang, Presdir!" Sapa kedua penjaga ketika Rihan melewati mereka.
Sepanjang perjalanan Rihan di sapa oleh para staf rumah sakit juga para pasien di sana. Rihan hanya sesekali mengangguk dan terus berjalan diikuti oleh Alex dan Max.
"Silahkan, Tuan." Ujar Alex setelah membuka pintu ruangan presdir dengan Id Card miliknya.
"Saya akan memanggil kepala rumah sakit." Sambung Alex setelah Rihan duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Max duduk di sofa yang berada di sana.
"Hmm."
"Jadi begini, ruangan seorang presdir rumah sakit. Hmm..." Komentar Max basa-basi setelah menuangkan secangkir air di gelas yang disediakan di sana.
Rihan hanya mendengar dalam diam, tidak ada niat untuk membalas. Rihan tahu itu hanya sekedar basa-basi. Rihan sendiri mencari kesibukan lain dengan membuka laptop dan membaca kontrak kerja sama yang baru saja dikirim oleh Mentra dari perusahaan pusat.
"Silahkan duduk, Dok."
"Terima kasih."
Setelah melihat Dokter Lio duduk dengan tenang, Rihan kemudian berdiri dari tempatnya dan ikut duduk bersama Max dan Dokter Lio di sofa khusus tamu. Posisi mereka yaitu Rihan di sofa singel, Max di sofa bagian kiri, Dokter Lio sofa bagian kanan, sedangkan Alex setia berdiri di belakang Rihan.
"Ekhem... jadi begini, Presdir." Dokter Lio membuka percakapan dengan gugup. Dokter Lio masih sangat canggung terhadap Rihan. Dia tidak akan bisa melupakan bagaimana sikapnya dulu pada Rihan. Benar-benar memalukan.
Rihan hanya menatap datar Dokter Lio yang semakin gugup, sedangkan Max hanya mengerutkan keningnya heran melihat tingkah Dokter Lio.
"Pihak Chi Corporation mengajukan kerja sama pada kita, Presdir."
"Lalu?" Tanya Rihan acuh.
"Mereka ingin beberapa dokter kita yang direkrut dari luar negeri untuk menjadi dokter pribadi keluarga Chi jika mereka berkunjung kemari. Mereka juga ingin agar kita menyiapkan salah satu ruangan VVIP khusus untuk mereka. Ruangan itu juga harus direnovasi sesuai keinginan mereka. Biayanya nanti akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak keluarga Chi." Dokter Lio menjelaskan sambil menatap reaksi Rihan yang hanya biasa saja.
"Wow...! biasanya Chi Corporation tidak akan pernah mengajukan kerja sama dengan perusahaan manapun. Ini merupakan kerja sama pertama kali yang mereka ajukan Rei, aku rasa ini sangat menguntungkan nantinya." Ucap Max takjub.
Memang benar jika ini pertama kalinya Chi Corporation atau perusahaan milik seorang Neo mengajukan kerja sama dengan perusahaan lain. Selama ini mereka hanya menerima kerja sama dari perusahaan lain yang menurut mereka layak dan memberikan keuntungan bagi pihak Chi Corporation.
__ADS_1
"Keuntungan apa yang mereka janjikan?" Tanya Rihan sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya.
"Mereka menjanjikan investasi yang besar, keamanan rumah sakit yang terjamin, dan nama rumah sakit yang akan semakin terkenal."
"Hanya itu? Katakan jika aku tidak tertarik karena semua itu mudah aku dapatkan." Balas Rihan malas.
"Aku juga setuju dengan Rei. Akan tetapi, aku penasaran akan satu hal..." Ucap Max membuat Dokter Lio menatapnya penasaran.
"Di Jakarta, yang terkenal adalah Antarik Hospital. Kenapa mereka mengajukan kerja sama dengan rumah sakit Setia? Masih banyak juga dokter ahli dari luar negeri. Kenapa harus dokter di sini? Walaupun mereka juga direkrut dari luar negeri sih..." Sambung Max sambil menatap bergantian ketiga orang di depannya.
"Bukan satu tapi dua yang anda penasaran." Komen Dokter Lio membuat ekspresi Max seketika berubah.
"Terserah aku."
"Padahal saya sudah berjanji untuk membujuk anda menerima kerja sama ini," Gumam Dokter Lio menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Keputusanku tetap sama. Tidak tertarik!" Rihan kemudian berdiri dan kembali ke kursi kebesarannya.
Rihan masih sangat-sangat mampu memasok apa saja yang dibutuhkan. Untuk urusan keamanan, Rihan alihnya. Untuk nama rumah sakit yang akan terkenal, Rihan tidak membutuhkan itu. Menjadi seperti sekarang saja baginya sangat cukup. Tujuan dia membeli rumah sakit ini bukan untuk membuatnya semakin terkenal, tetapi menjadikan rumah sakit ini tempat berobat bagi siapa saja yang ingin datang.
Rihan sangat berharap rumah sakit ini selalu menjalankan prinsip mereka yaitu siapapun berhak datang dan berobat di sini tanpa memandang seperti apa status sosialnya. Baginya, rumah sakit ini adalah tempat yang sudah menolongnya di masa lalu.
"Baik, Presdir. Akan saya sampaikan pada mereka."
"Hmm."
"Kalau begitu saya pamit, Presdir."
Setelah kepergian Dokter Lio, Alex lalu menghadap sang majikan yang terlihat bersandar pada sofa sambil memejamkan matanya.
"Saya rasa mereka hanya penasaran dengan anda, Tuan. Apa saya harus memberi mereka peringatan?" Ucap Alex membuat Rihan membuka mata dan menatapnya datar.
"Biarkan saja! Mereka tidak akan menyerah secepat itu. Kamu hanya perlu memantau aktivitas mereka tanpa diketahui."
"Baik, Tuan."
"Aku lelah, Lex. Ayo pulang!" Rihan lalu berdiri dan merapikan sedikit baju kaos dan kemeja yang dia pakai kemudian pergi dari sana diikuti oleh Alex dan Max.
***
"Tuan Muda itu menolak kerja sama yang kita ajukan. Sudah aku katakan, mereka akan menolak kerja sama yang kita ajukan jika hanya keuntungan itu yang mereka dapatkan. Dia tidak akan semudah itu menerima kerja sama ini tanpa berpikir. Cara berpikirnya hampir sama denganmu jadi jangan heran."
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu di sini, ya.
See You.