Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Gangguan


__ADS_3

"Nyalakan lampunya, Kak." Pintah Alen sambil merabah-rabah sekitar berniat mencari saklar lampu.


"Ya."


"Ini dia." Ucap Alen ketika berhasil menyentuh saklar lampu. Alen kemudian menekannya.


"SUPRISE!!!"


"SELAMAT ULANG TAHUN KEMBAR!"


Mendengar teriakan itu, keduanya mematung di tempat. Mereka tidak menyangka bahwa hari ini akan mendapat suprise di hari ulang tahun mereka yang ternyata tidak diingat sama sekali.


"Selamat ulang tahun...Selamat ulang tahun...


Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun Kembar."


Nyanyian bersama dari anggota inti setiap divisi dan beberapa pelayan membuat Alex dan Alen yang biasanya berwajah datar dan dingin, kini menampilkan senyum bahagia mereka. Beberapa tahun yang lalu keduanya biasa merayakan ulang tahun ditemani oleh sang majikan, kini dirayakan oleh beberapa anggota tim.


Hanya beberapa orang yang ada di ruangan ini, karena ruangan ini tidak akan cukup untuk menampung banyaknya anggota setiap divisi. Sedangkan hampir semua anggota saat ini sedang menunggu di bagian belakang mansion.


"Ini..." Alen tidak tahu harus berkata apa.


"Ini semua disiapkan oleh tuan muda. Kami hanya mengikuti perintah." PB 010 berbicara mewakili mereka yang ada di sana.


"Tuan Muda?" Ulang Alen bingung.


"Kak, Bukannya..." Sambung Alen yang terpotong sambil menatap sang kakak.


"Maafkan aku, Kak. Gara-gara aku, kak Alen menangis. Ini semua adalah rencana Ehan. Jadi, kalau kak Alen mau marah, langsung sama Ehan." Ujar Phiranita yang baru muncul bersama Rihan sambil tersenyum.


Alen menatap sang majikan dengan mata berkaca-kaca. Bukan karena sedih tetapi karena merasa terharu, majikan mereka ini selalu saja mengingat hari bahagianya dan sang kakak.


"Tuan... Terima kasih karena selalu mengingat kami. Kami... Hiks... " Ucap Alen dengan air mata yang semakin mengalir.


Sedingin apapun Alen, gadis itu tetap saja terharu jika seperti ini. Dia sangat ingin memeluk sang majikan. Sayangnya, ada banyak pasang mata yang melihatnya sehingga gadis itu mengurungkan niatnya. Apa kata mereka nanti jika dia memeluk sang majikan yang di ketahui adalah seorang Tuan Muda. Itu sangat tidak sopan.


"Saya sangat berterima kasih untuk semua ini, sekaligus memohon maaf atas semua kesalahan yang kami perbuat. Maaf karena belum bisa membuat anda puas dengan kinerja kami. Sekali lagi kami minta maaf, Tuan!" Suara Alex tegas sambil menunduk hormat.


"Hm. Selain kejutan untuk kalian, ini juga merupakan pelajaran untuk kalian berdua." Balas Rihan datar.


"Kami paham, Tuan." Balas Alex dan Alen kompak.


"Tiup lilinnya kak Alex, kak Alen." Phiranita membuka suara memecah keheningan.


"Ti..."


"Ada apa ini?" Tanya Max yang baru masuk seketika menghentikan Phiranita yang ingin menyanyikan lagu tiup lilin.


Max yang berniat kembali ke kamarnya, terhenti karena mendengar keramaian di salah satu ruangan yang menjadi ruangan pertama yang sangat ingin dia lihat isinya karena ketika ingin masuk ke dalam, dia selalu dilarang.


"Ck... Kenapa anak setan ini ada di sini?" Cibir Phiranita sambil menatap malas Max yang sedang memasang senyum 100 wattnya.


"Aku anak setan, dan kamu anak dajjal." Balas Max sambil menaik turunkan alisnya menatap Phiranita.


"Kenapa dia tidak pulang, Han?" Tanya Phiranita menatap Rihan mengeluh. Rihan hanya menatap datar Phiranita tanpa berniat menjawab.


"Aku juga tinggal di sini bukan kamu saja." Max memasang senyum kemenangan pada Phiranita.


"Wah... Aku tidak akan bisa hidup tenang satu atap dengan anak setan ini." Phiranita memberi tatapan permusuhan pada Max.

__ADS_1


"Dan aku senang mengganggu hidupmu. Hahaha..." Balas Max tertawa terbahak-bahak.


"Sekaligus merebut perhatian Rehhand darimu," Sambung Max dalam hatinya.


"Sudahlah. Aku malas berbicara dengan anak setan ini. Ayo kak Alex, kak Alen, tiup lilinnya!" Phiranita mengalihkan pandangannya ke arah si kembar.


Keduanya lalu meniup lilin yang berada di atas kue yang dipegang oleh PB 010.


Prok


Prok


Prok.


Tepukan tangan bahagia diberikan oleh mereka yang ada di sana kecuali Rihan yang hanya menampilkan senyum tipis tak terlihat miliknya.


"Potong kuenya, Kak!" Komando Phiranita dengan mengarahkan pandangannya ke arah kue.


Alex lalu memberi kode pada sang adik untuk memotong kue di depannya. Alen hanya menganggukkan kepalanya kemudian segera memotong kue menjadi beberapa bagian. Bagian pertama, Alen membawanya pada sang majikan.


"Tuan, biarkan saya menyuapi anda!" Alen tersenyum manis kemudian mengarahkan sendok berisi kue ke mulut Rihan. Rihan membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Setelah itu Alen membagi beberapa bagian lainnya pada mereka yang berada di sana.


"Selamat ulang tahun, Kak! Semoga selalu diberikan umur panjang, kesehatan, dan yang penting adalah jodoh untuk kak Alex dan kak Alen," Phiranita memberi selamat lalu tersenyum kemudian memeluk Alen. Untuk Alex, Phiranita hanya memasang senyum manisnya dari jarak jauh.


"Maaf kak Alex, kak Alen, aku tidak tahu kalau hari ini ulang tahun kalian. Jadi, aku tidak menyiapkan apapun. Maaf, Kak." Max tidak enak hati.


"Tidap apa-apa, Tuan Max." Balas Alex.


"Bisakah namaku saja yang dipanggil? Aku tidak nyaman dengan panggilan tuan, Kak." Max menggaruk belakang kepalanya.


"Saya tidak berani, Tuan." Balas Alex datar.


"Ada yang kalian inginkan?" Tanya Rihan datar pada kedua asistennya yang menatapnya ingin mendengar ucapan selamat dari sang majikan.


"Kami hanya ingin tuan sehat dan selalu bahagia." Jawab Alex tersenyum tipis.


"Kami juga ingin tuan kembali tersenyum." Sambung Alen lalu memasang senyum manisnya membuat kaum pria di sana hampir mimisan.


"Hm." Deheman Rihan sambil menganggukkan kepalnya.


"Aku tidak bisa berjanji untuk tersenyum lagi." Batin Rihan menatap kedua asisten pribadinya yang senantiasa memasang senyum terbaik mereka.


...


Waktu sudah menunjukan pukul 2 pagi, tetapi bagian belakang mansion Rihan masih sangat ramai karena hampir semua anak buahnya merayakan ulang tahun kembar dengan mengadakan pesta kecil-kecilan.


Mereka menggelar tikar di atas rumput dan mulai duduk bersama, membuat lingkaran besar dengan Rihan, Alex, Alen, Phiranita dan Max ada di bagian tengah sedangkan yang lainnya mengelilingi mereka.


Jangan lupakan Phiranita yang selalu menempel seperti lem pada Rihan karena melihat banyaknya wajah-wajah datar berbadan kekar, dia hampir berteriak histeris jika Rihan tidak menenangkannya.


Akhirnya, Phiranita selalu memegang erat lengan Rihan takut terlepas. Max yang melihatnya hanya mengejek. Sayangnya, Phiranita tidak peduli.


Satu jam yang lalu mereka baru saja makan bersama, dengan Rihan yang memesan bahan-bahan untuk barbeque. Setiap devisi sudah disediakan tempat untuk barbeque. Mereka berlomba-lomba untuk membuat barbeque yang akan disediakan untuk sang majikan.


Awalnya Alen juga ingin ikut lomba, tetapi dilarang oleh pemimpin setiap devisi, sehingga asisten pribadi Rihan itu hanya duduk dan menemani sang majikan bersama Alex, Phiranita dan Max.


Setelah hasil barbeque mereka selesai, mereka lalu membawanya pada Rihan untuk dinilai. Rihan sendiri meminta bantuan mereka yang sedang duduk bersamanya untuk ikut memberi komentar dan ternyata yang memenangkannya adalah devisi bagian IT.


Rihan menjanjikan untuk memberikan mereka hadiah, akan tetapi mereka menolaknya dan mengatakan bahwa mereka tidak menginginkan hadiah apapun karena berada dalam anggota organisasi seorang Tuan Muda Rehhand saja mereka sudah sangat bahagia.

__ADS_1


Meskipun mereka banyak mengalami pelatihan neraka hingga hampir mati, tetapi hasil dari latihan itu memang sangat memuaskan sehingga mereka tidak menyesal berada dalam organisasi yang diberi nama Cruel Devil yang artinya Iblis Kejam, dengan Motto:


...'Ketenanganku Jangan Kamu Usik'...


Motto yang begitu sederhana tetapi memiliki makna yang berbeda-beda jika dilihat dari beberapa segi. Entah apa maksud Rihan membuat motto seperti itu.


Mendengar bagaimana mereka sangat senang berada dalam organisasinya, Rihan hanya tersenyum tipis. Tentu saja mereka senang, karena semua fasilitas lengkap Rihan berikan untuk mereka dan keluarga mereka.


Bukan hanya gaji yang besar, tetapi fasilitas berupa rumah dan kendaraan juga pendidikan yang layak untuk anak-anak mereka yang bersekolah hingga perguruan tinggi.


Rihan memang membangun perumahan untuk tinggal dan juga sekolah untuk anak-anak bawahannya di Amerika agar mereka selalu ada dalam pengawasan orang-orang kepercayaannya di kantor pusat.


Sedangkan untuk mereka yang belum menikah, Rihan memberi mereka pilihan untuk menikmati fasilitas di luar mansion. Akan tetapi hanya ada beberapa orang yang menerimanya karena itu juga bentuk tugas mereka yang berada di luar mansion. Sisanya hanya ingin menikmati fasilitas di dalam mansion.


***


Ditengah asiknya duduk bercanda bersama anggotanya, dengan Rihan yang hanya memasang wajah datar, bunyi sirene membuat mereka semua memasang sikap waspada. Sirene itu merupakan tanda adanya gangguan dari luar mansion. Rihan yang tahu siapa pengganggu itu, hanya duduk dengan tenang di tempatnya.


Pemimpin di bagian IT dengan cepat meminta anak buahnya untuk kembali ke ruangan untuk melihat kondisi di luar mansion. Akan tetapi Rihan menahan mereka.


"Duduk di tempat kalian masing-masing!" Perintah datar dari Rihan membuat mereka kembali tenang dan duduk di tempat mereka.


"Berikan ponselku, Lex."


"Ini, Tuan."


Rihan kemudian mengambil ponselnya dan mulai mendekatkan pada telinganya.


"Keluarkan si capung, Prof. Jangan lupakan cairan itu juga." Perintah Rihan pada seseorang dibalik telepon yang merupakan ilmuwan wanita yang membuat kamera pengawas berbentuk capung itu.


Setelah mengatakan itu, Rihan lalu memutuskan sambungan telepon kemudian menekan bagian tengah jam digital di tangannya dan muncul sistem hologram yang juga bisa dilihat oleh semua orang yang ada di sana.


...*Sepulu kamera pengawas diluncurkan. Akses diberikan!*...


"Daebak... Sangat keren!" Teriak Phiranita sambil menatap kagum sistem hologram di depannya.


"Dasar kampungan," Cibir Max. Sayangnya, dalam hati dia ikut kagum dengan apa yang baru dia lihat ini. Max berpikir hanya ada dalam film, ternyata di dunia nyata juga ada.


"Anak setan ini selalu saja menggangguku." Balas Phiranita galak.


"Jangan beri banyak waktu untuk mereka Gledy!" Ucap Rihan pada sistem di depannya.


...*Baik, Tuan.*...


Sistem hologram lalu menampilkan keadaan di luar mansion dimana terdapat dua mobil hitam yang terparkir tersembunyi dibalik semak-semak belakang mansion Rihan.


"Apa mereka lagi, Tuan?" Tanya Alex penasaran.


"Hm."


"Bukannya anda sudah memberi mereka peringatan?" Alex terus menatap layar di depannya.


"Biarkan saja!" Balas Rihan datar dan mulai menekan beberapa bagian pada sistem hologram untuk mengendalikan dua capung untuk membobol masing-masing mobil agar mereka bisa masuk ke dalamnya.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.

__ADS_1


See You.


__ADS_2