Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Kondisi Rihan 2


__ADS_3

Selamat Hari minggu!


Mari kita lanjut kisah Rihan.


.


.


.


"Maaf, Tuan. Anda yakin ingin mendaftarkan nona Phi di universitas?" Tanya Alex pada sang majikan.


"Dia sudah mengorbankan studinya untuk datang mencariku, bagaimana aku bisa mengabaikan itu?" Rihan menjawab sambil memijit pelipisnya pusing.


Rihan baru ingat jika sahabatnya itu sedang diincar dan juga memiliki trauma sehingga tidak bisa terekspos begitu saja.


"Saya mengerti, Tuan. Akan tetapi, bagaimana dengan traumanya dan penculik itu?" Tanya Alex terus menatap sang majikan.


"Apa dia setuju dengan home schooling?" Tanya Rihan ketika mengingat jalur home schooling yang pernah dia tempuh 3 tahun lalu.


"Saya setuju jika dengan jalur home schooling, Tuan. Kita hanya menunggu keputusan nona Phi." Alex menganggukkan kepalanya setuju.


"Hmm."


"Keluarga Samantha dan Alexander kemarin mengadakan pertemuan, Tuan. Dan yang dibahas adalah pembatalan perjodohan David dan Ariana." Lapor Alex setelah beberapa menit keadaan di ruangan itu hening.


"Ikuti terus rubah itu. Lalu Bagaimana dengan jadwalku hari ini?" Tanya Rihan menatap lelah Alex.


"Anda ada kuliah siang, dan juga ada beberapa berkas yang harus anda periksa karena kami tidak bisa memutuskan begitu saja proposal kerja sama itu sebab proposal itu sangat menjanjikan, Tuan." Jawab Alex sambil menatap ekspresi sang majikan.


"Aku tidak pernah menerima kerja sama karena proposal itu menjanjikan, Lex. Kamu harusnya tahu itu." Pandangan Rihan terlihat sayu. Rihan terlihat tidak nyaman.


"Anda kenapa ,Tuan? Saya akan panggilkan Dokter Galant." Alex seketika tersadar akan ekspresi sang majikan yang terlihat menahan sakit.


"Nanti saja. Jelaskan dulu proposal yang membuatmu ingin aku membacanya." Balas Rihan sambil mengernyit menatap Alex.


"Sedari awal saya sudah mengatakan prinsip anda pada Bimo sehingga ketika proposal itu diajuhkan, Bimo langsung menolaknya. Dia menolaknya karena proposal itu hanya menjanjikan keuntungan sedangkan isinya hanya biasa saja.


Tetapi setelah ditolak, hampir setiap hari proposal itu selalu ada di meja kerja Bimo. Padahal menurut sekretarisnya, semua berkas yang akan dia berikan pada Bimo, sudah diperiksa dan tidak ada proposal itu di sana. Sedangkan Bimo selalu menemukan proposal itu di dalam tumpukan berkas yang diperiksa.


Karena merasa janggal, Bimo memberikannya pada saya kemarin. Setelah saya memeriksanya, memang benar isinya biasa saja tetapi keuntungannya sangat besar bagi perusahaan kita. Saya juga sudah menyelidiki perusahaan itu, Tuan. Ternyata hanya perusahaan kecil yang sudah berdiri hampir 10 tahun dan tidak pernah berkembang sampai sekarang tetapi tetap stabil tanpa adanya penurunan saham.


Yang menjadi kejanggalannya adalah jika perusahaan itu kecil, kenapa mengajukan proposal yang keuntungannya hampir menyamai omset perusahaan mereka pada perusahaan kita, Tuan.


Saya juga sudah menyelidiki latar belakang CEO perusahaan itu tetapi menurut orang yang bekerja di sana, CEO mereka tidak pernah bisa ditemui sama sekali. Jika ada keperluan, mereka hanya akan meletakkan berkas yang harus ditanda tangani di atas meja di depan ruangan sang CEO. Nanti CEOnya sendiri yang akan mengambilnya. Sepertinya dia tidak ingin diketahui seperti apa rupanya.


Menurut mereka juga, karena penasaran dengan sosok CEO itu, mereka hampir datang lebih awal untuk melihat bagaimana rupa pemimpin mereka. Sayangnya hingga jam kerja tiba, mereka tidak menemukan CEO itu melewati pintu masuk perusahaan. Sepertinya ada ruangan khusus yang selalu dipakai untuk keluar masuk tanpa diketahui." Jelas Alex panjang lebar hingga lidahnya yang biasanya hanya sedikit bicara kini terasa lelah.


"Berikan proposal itu padaku." Rihan meminta dengan lelah pada Alex.


"Ini ,Tuan." Alex lalu memberikan proposal yang dimaksud yang kebetulan dibawanya.


"Bagaimana dengan CCTV di depan ruangan Bimo?" Tanya Rihan setelah meletakkan proposal itu di depannya.

__ADS_1


"Sudah diperiksa juga, Tuan. Sayangnya tidak ada kejanggalan apapun." Jawab Alex tenang.


"Bagaimana dengan sekretaris Bimo?" Tanya Rihan mengerutkan kening sedang berpikir.


"Dia orang kita, Tuan. Jadi tidak mungkin dia berhianat." Jawab Alex.


"Tidak ada yang tidak mungkin jika berhubungan dengan uang, Lex." Rihan membalas datar.


"Saya akan mencari tahu, Tuan." Ucap Alex.


"Hmm. Kamu boleh kembali, Lex. Biarkan aku sendiri." Rihan lalu membuka lembar pertama proposal itu.


"Tapi Tuan..."


"Aku ingin sendiri, Lex."


"Baik Tuan. Jika ada apa-apa jangan lupa hubungi saya atau Alen. Saya pamit Tuan." Alex pamit dengan wajah cemas.


"Hmm. Jangan memasang ekspresi seperti itu," Rihan berbicara tanpa menatap Alex yang cemas.


"Kenapa anda selalu menahan semuanya sendiri, Nona? Maafkan saya dan Alen yang belum bisa membuat anda terbuka pada kami. Kami akan terus menunggu dan terus berusaha membuat anda lebih percaya lagi dan terbuka pada kami." Batin Alex lalu menatap sekilas Rihan yang sibuk membaca berkas di depannya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.


***


"Apa yang orang ini inginkan?" Gumam Rihan sambil terus membaca lembar demi lembar proposal di depannya, hingga Rihan mengerutkan kening melihat sesuatu.


"Tempat ini..." Gumam Rihan ketika melihat sebuah gambar pada proposal yang sepertinya dia kenali.


"Apa pria itu adalah CEO? Apa dia mengetahui identitasku sebagai pemilik R.A.Grup?"


Banyak hal yang dipikirkan oleh Rihan membuat kepalanya semakin pusing. Rihan hanya bisa meringis pelan dan menutup proposal yang dibacanya. Rihan berdiri dan menuju kamarnya, kemudian memasuki ruang rahasia tempat para ilmuwan miliknya berada.


"Anda datang, Nona. Silahkan duduk!" Kepala ilmuwan menyambut Rihan dengan hormat, kemudian mempersilahkan sang majikan duduk.


"Efek serum yang kalian buat sepertinya sudah habis." Seperti biasa, nada suara Rihan selalu datar. Dia lalu bersandar pada kursi dan memejamkan matanya.


"Biar saya periksa, Nona." Asisten kepala ilmuwan segera menghampiri Rihan.


"Hmm." Deheman Rihan lalu memberikan lengannya untuk diperiksa.


"Maaf nona, izin menyentuh lengan anda." Asisten kepala ilmuwan yang merupakan seorang pria muda itu meminta izin dengan sopan.


"Hmm."


Asisten itu lalu memasukan alat yang ujungnya seperti jarum itu, pada lengan Rihan.


"Perlihatkan hasilnya juga padaku." Ujar Rihan setelah alat itu berhasil masuk ke lengannya.


"Serum itu memang menyatuh dengan tubuh anda, Nona. Tetapi seperti yang anda lihat, titik merah ini merupakan implikasi atau benalu yang mempengaruhi serum itu untuk bekerja. Apa anda memakan sesuatu yang mengandung bahan kimia yang berbahaya?" Tanya kepala ilmuwan setelah menjelaskan titik masalah dari sakit yang Rihan rasakan.


"Bahan kimia?" Tanya Rihan berusaha mengingat apa yang sudah dia konsumsi kemarin.


"Iya, Nona. Karena serum yang kita buat merupakan bahan kimia yang cukup banyak, sehingga ketika ada bahan kimia lain yang tidak bisa menyatuh dengan serum itu, akan terjadi implikasi." Kepala ilmuwan menjelaskan.

__ADS_1


"Sepertinya jajan Tata kemarin mengandung bahan kimia." Batin Rihan ketika mengingat bagaimana Phiranita memaksanya menelan satu sendok makanan yang Phiranita beli secara online kemarin.


"Sepertinya begitu," Ucap Rihan menganggukkan kepalanya.


"Jadi anda memang mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan kimia?" Tanya kepala ilmuwan tidak percaya. Setahunya, sang majikan sangat sensitif jika mengkonsumsi sembarang makanan karena akan berpengaruh pada tubuhnya.


"Hmm."


"Kenap..." Tanya asisten kepala ilmuwan penasaran tetapi sudah dipotong oleh kepala ilmuwan.


"Baiklah, Nona. Anda hanya perlu menunggu beberapa menit, karena saya akan mencampur sebuah serum untuk implikasi anda." Kepala ilmuwan lalu menuju tempat pembuatan serum. Kepala ilmuwan yang merupakan pria paru baya itu cukup tahu batasan antara atasan dan bawahan, sehingga dia tidak ingin asistennya bertanya tentang hal pribadi majikan mereka.


"Maaf, Nona. Bisa anda melihat ini?" Seorang ilmuwan wanita yang baru saja datang sambil membawah iPad dan memberikannya pada Rihan.


"Kamu merancang kamera pengawas?" Tanya Rihan setelah melihat isi iPad yang diberikan ilmuwan itu.


"Iya, Nona. Saya hanya iseng membuatnya ketika senggang. Bagaimana menurut anda?" Tanya ilmuwan itu senang ketika mendapat respon dari sang majikan.


"Akan lebih bagus lagi jika ukuran alat ini lebih kecil agar mudah disembunyikan." Saran Rihan sambil menatap datar ilmuwan wanita itu.


"Baik, Nona. Terima kasih untuk saran anda." Ilmuwan wanita itu memgangguk setuju. Dengan saran dari Rihan, dia sudah tidak sabar memperbaiki hasil rancangannya.


"Hmm."


"Maaf nona, anda ingin menyuntikan serum ini sekarang?" Tanya kepala ilmuwan yang baru saja datang dengan membawa botol kecil berisi serum berwarna kuning di tangannya.


"Ya. Banyak yang harus aku lakukan," Jawab Rihan datar.


"Baik,Nona. Saya akan menyuntikannya sekarang." Kepala ilmuwan lalu mengambil serum itu menggunakan jarum suntik dan mulai menyuntikannya pada lengan Rihan.


"Hmm." Deheman Rihan kemudian mengerutkan keningnya ketika merasakan sedikit kontraksi pada tubuhnya akibat serum yang baru saja disuntikan masuk ke dalam tubuhnya.


"Apa yang ada rasakan, Nona?" Tanya kepala Ilmuwan ketika melihat kerutan pada dahi Rihan.


"Entahlah."


"Anda masih merasa pusing, Nona?" Tanya kepala ilmuwan lagi.


"Tidak." Jawab Rihan datar.


"Sepertinya serumnya sudah bereaksi pada anda." Jelas kepala Ilmuwan sambil menganggukkan kepalanya senang.


"Lanjutkan tugas kalian. Aku pergi!" Rihan lalu berdiri dan pergi dari sana.


"Baik, Nona."


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.

__ADS_1


__ADS_2