Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Arena Game


__ADS_3

Hari ini, semua Player yang online dalam game menjadi bersemangat. Mereka sangat antusias menonton sang raja game dan Player baru dengan username The Devil berduel. Tidak ada yang bermain hari ini. Mereka semua sedang menanti duel dua Player hebat hari ini.


Di dua tempat, Rihan sudah siap dengan headset gaming yang terpasang rapi di kepalanya, begitu juga dengan Brand. Keduanya bersiap untuk bermain 5 menit lagi.


Alen tetap setia berdiri di samping Rihan yang sedang meminum jus sambil membaca komentar-komentar pujian dari pendukung Rihan maupun pendukung Brand. Ada beberapa Player yang bertaruh untuk kemenangan Rihan dan Brand.


"Di mana kak Neo?" Tanya Rihan mengalihkan pandangannya pada Alen.


"Tuan Neo sudah keluar bersama asistennya dua jam lalu. Saya tidak tahu kemana mereka akan pergi."


"Hmm. Di mana Alex?"


"Kak Alex sedang mengurus sesuatu. Sebentar lagi kakak akan datang."


"Hmm."


"Waktu tersisa 1 menit lagi, Tuan." Alen memberitahu setelah melihat waktu bermain.


"Aku tahu,"


Rihan merenggangkan sedikit otot tangannya dan mulai memperbaiki headset yang dia pakai dan menatap laptop dengan seringai khasnya. Alen di sebelahnya hanya bisa menggeleng melihat seringai Rihan.


Permainan dimulai.


Karakter Rihan sibuk menghindar dari serangan Brand. Rihan belum memulai serangan. Rihan lebih suka melihat lawan kesal dan bahkan berpikir jika dia takut maju untuk menyerang.


"Apa kamu takut menyerangku?" Suara Brand tepat seperti apa yang Rihan pikirkan tadi, terdengar di telinganya. Sudah lebih 5 menit dan Rihan belum membalas serangan Brand. Rihan juga tidak berniat menjawab Brand.


"Sepertinya kamu tidak ingin aku tahu identitasmu." Komentar Brand ketika Rihan tidak menjawabnya.


Rihan hanya bisa tersenyum tipis mendengar perkataan Brand. Rihan beralih melirik jam digital di atas nakas. Rihan lalu menghitung mundur dalam hati dari angka 3 hingga 1, kemudian mulai menyerang Brand dengan tenang.


Permainan berlangsung tegang karena tidak ada tanda-tanda kekalahan di antara dua karakter itu. Rihan dengan satu tangan menekan keyboard laptop mengoperasikan serangan maupun pertahanan diri, sedangkan satu tangannya sibuk menyedot jus buatan Alen.


"Tuan Brand pasti kesal jika melihat tingkah anda sekarang, Tuan." Komentar Alen dan tersenyum tipis.


Rihan hanya menatap Alen sekilas setelah meletakkan jus di sampingnya.


Rihan melihat waktu bermain mereka dan ternyata sudah satu jam lebih. Sedikit menguap, Rihan lalu meletakkan tangan satunya ke atas laptop. Dua tangannya siap bermain.


"Sudah cukup waktu bersantainya, King!" Suara datar Rihan membuat karakter Brand hampir saja mendapat serangan dari karakter Rihan karena sedikit linglung.


Ketika mendengar suara Rihan yang meski datar, tapi terdengar sangat manis. Jelas semua orang yang menonton terpesona dengan suara itu. Akhirnya rasa penasaran mereka terjawab sudah, siapa sebenarnya The Devil ini.


...[Dari tadi mereka hanya bermain?]...


...[Astaga! Jadi, pertempuran yang menegangkan satu jam lalu itu apa?]...


...[Gila. Ini benar-benar gila!]...


...[Kapan lagi aku bisa bermain seperti mereka?]...


...[Benar sekali! Permainan mereka satu jam lalu hanya dianggap bermain santai. Lalu, bagaimana dengan bermain yang sebenarnya?]...


...[Aku menanti permainan yang sesungguhnya.]...


...[Aku juga!]...


Beberapa komentar dalam ruang obrolan Alen baca untuk Rihan sambil menggeleng.


"Oke. Mari bermain yang serius," Suara Brand kembali terdengar.


"Hmm."


Permainan yang sesungguhnya akhirnya dimulai.

__ADS_1


Kedua karakter kini menyerang dan menghindar dengan sangat epic.


"Aku penasaran berapa umurmu," Tanya Brand di sela permainan mereka.


"Sebelum bertanya, bukankah lebih baik kamu memberitahu umurmu lebih dulu?" Jawab Rihan.


"Baik! Aku 24 tahun."


"Aku pikir kamu masih muda." Balas Rihan santai.


"24 tahun bagimu sudah tua, lalu berapa umurmu?" Suara Brand terdengar kesal.


"Yang jelas lebih muda darimu," Balas Rihan dan memberikan serangan kuat pada Brand sehingga karakter Brand kehilangan hampir setengah nyawanya.


"Dan kamu sedari tadi berbicara informal padaku?" Kesal Brand sambil berusaha memberi pukulan pada karakter Rihan.


"Kamu yang memulainya lebih dulu," Balas Rihan santai.


"Katakan berapa umurmu?" Tanya Brand lagi.


"Aku seorang mahasiswi di Antarik Universitas."


"Tidak bisakah kamu mengatakan umurmu dengan jelas? Aku sudah memberitahu umurmu. Sekarang kamu." Kesal Brand dan memberikan serangan mematikan pada Rihan.


"Setidaknya aku sudah memberikan bocoran." Santai Rihan dan menghindari serangan Brand.


"Dasar bocah." Cibir Brand lalu melompat kemudian memberikan serangan lagi pada Rihan.


"Wow... Santai, Kak." Balas Rihan dan tersenyum tipis.


"Kamu memanggilku apa?" Tanya Brand dan menghindari serangan Rihan.


"Entahlah."


"Aku suka panggilan itu,"


"Oke! Tapi jangan harap targetmu tepat sasaran." Ucap Brand dan terkekeh karena berhasil mengelak sehingga dua senjata di tangan kiri dan kanan Rihan hanya mengenai angin.


"Kamu sangat cepat, Kak." Balas Rihan dan menggeleng.


"Terimalah seranganku ini The Devil!" Teriak Brand dan menerjang Rihan dengan serangan penuh.


BAM!


Serangan Brand tepat mengenai sasaran hingga Rihan kehilangan semua nyawanya. Pendukung Rihan mendesah kecewa karena kekalahan Rihan. Rihan juga dapat mendengar tawa puas Brand di telinganya. Rihan hanya tersenyum tipis dan menekan salah satu keyboard.


"Apa-apaan ini!" Teriak Brand tidak terima karena karakter Rihan kembali hidup.


"Kamu melupakan kekuatan karakterku, Kak." Ucap Rihan santai dan menekan beberapa keyboard laptop untuk melakukan serangan pada Brand.


BAM!


Rihan melepas tangannya pada keyboard laptop dan melipat kedua tangannya kemudian menatap layar monitor dengan seringai.


"Sial...! Aku lupa jika karakternya bisa menggandakan diri." Kesal Brand karena karakternya telah mati.


Pendukung The Devil yang tadinya mendesah kecewa kini berteriak senang dan mulai menulis komentar kemenangan dan selamat dalam ruang obrolan.


"Aku akui, kamu memang hebat bocah. Tapi lain kali, aku tidak akan kalah darimu." Ucap Brand di seberang sana.


"Hmm. Aku menunggu saat itu." Balas Rihan lalu melirik notifikasi dalam game karena Brand mengaktifkan mode suara private untuk mereka berdua.


"Boleh aku mendapat nomor ponselmu?" Tanya Brand dan Rihan hanya menggeleng.


"Tidak!"

__ADS_1


"Bocah yang pelit. Kalau begitu, katakan saja namamu."


"Tidak."


"Ck... apa susahnya hanya memberikan nomor ponsel atau namamu?" Dengus Brand di seberang sana.


"Tidak penting!" Balas Rihan datar.


"Kamu benar-benar."


"Jika kamu menang, aku akan memberitahu namaku dan juga nomor ponselku," Ujar Rihan santai.


"Ingat untuk menepati janjimu." Ucap Brand sedikit tenang.


"Hmm."


"Tapi, ngomong-ngomong, suaramu sedikit mirip dengan orang yang aku kenal." Ucap Brand serius.


"Hmm."


"Kamu tidak penasaran dia siapa?" Tanya Brand.


"Tidak."


"Ck... cara bicaramu juga sama dengannya. Karena aku tidak bisa mendapat nomor ponsel dan namamu, maka katakan saja umurmu. Jangan pelit bocah!"


"Kenapa harus?"


"Aku bisa cepat tua jika bicara lebih lama denganmu."


"Jadi, mari akhiri pembicaraan ini."


"Tidak, sebelum aku tahu umurmu."


"Mahasiswi semester 4. Cukup bocorannya, dan aku akan mengakhiri pembicaraan ini." Rihan kemudian melepas headset kemudian keluar dari game. Sejauh ini, Alen hanya bisa geleng kepala karena tingkah sang majikan.


***


Keesokan harinya di Antarik Universitas, semua berjalan seperti biasa. Beatrix juga sudah masuk dan mengikuti kelas. Yang bedanya, Ariana mengambil cuti satu sementer karena sakit.


Rihan dan teman-temannya ada di kantin untuk makan siang. Sudah ada tambahan Beatrix dan Gibran di meja kantin.


Max sengaja mengajak Gibran karena pria itu beberapa minggu ini selalu terlihat sendiri. Gibran mulai menghindari teman-temannya yang hanya memanfaatkannya.


Akhirnya, pria itu selalu berjalan sendiri, makan sendiri, dan pulang sendiri tanpa teman-temannya. Karena itu, Max mengajaknya ikut makan bersama mereka, dengan alasan taruhan mereka waktu itu belum berakhir.


Menunggu Alen yang belum datang, Max selalu saja berceloteh tentang permainan Rihan dan Brand kemarin. Albert dan Gibran juga ikut. Keduanya sudah menjadi Player dua tahun lebih dulu dari pada Max yang baru setengah tahun. Albert pendukung Brand, sedangkan Gibran Pendukung Rihan.


Ketiga manusia itu terlihat berdebat. Yang paling dominan adalah Max yang selalu menyudutkan Albert karena kekalahan sang King. Albert sendiri hanya bisa menahan malu karena jagoannya memang kalah.


"Kamu tidak penasaran seperti apa wajah King dan The Devil ?" Tanya Albert mengalihkan omelan Max.


"Aku hanya penasaran dengan King." Jawab Max santai.


"Memangnya kamu tahu siapa The Devil?" Tanya Gibran mengerutkan kening.


"Jelas tahu dong! Karena aku yang mempromosikan game itu padanya," Jawab Max dengan bangga.


"Huh? Katakan padaku siapa dia!" Desak Albert. Gibran juga mengangguk setuju.


Rihan hanya menatap datar ketiga manusia yang berceloteh ini. Sedang Beatrix, David dan Dian hanya menatap ketiga manusia itu dengan bermacam ekspresi.


"Oh... tentu tidak! Jika aku memberitahukan identitasnya, mungkin aku akan dimarahi. Jadi... biarkan saja seperti ini. Akan menyenangkan melihat wajah penasaran kalian." Max menjawab dan terkekeh. Sesekali dia akan melirik ekspresi Rihan.


Albert dan Gibran hanya bisa pasrah dan tidak lagi bertanya karena Alen sudah datang membawa makan siang mereka. Di saat makan siang mereka hampir selesai, Beatrix pamit ke toilet.

__ADS_1


Selang 3 menit kepergian Beatrix, ponsel Alen berdering tanda ada pesan masuk. Asisten Rihan itu berhenti makan dan membuka ponsel membaca pesan itu. Alen terlihat mengangguk dan berbisik di telinga Rihan.


"Ayu terlihat masuk ke toilet yang sama dengan Beatrix, Tuan."


__ADS_2