Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Kembali ke Indonesia


__ADS_3

Tepat pukul 7 malam, jet pribadi yang membawa Rihan dan yang lainnya kini mendarat dengan selamat di lapangan pesawat milik Rihan. Rihan sengaja meminta pilot untuk mengulur waktu tiba mereka di Indonesia menjadi malam hari agar tidak mengundang perhatian orang lain.


Rihan kemudian turun didampingi oleh kedua asistennya. Memasuki mansion, belasan pelayan sudah berdiri berjejer menyambut kedatangan pemilik mansion mulai dari pintu masuk hingga ruang tamu.


"Selamat datang kembali, Tuan Muda." Sapa semua pelayan sambil menunduk hormat.


"Bagaimana keadaan mansion selama saya tidak ada?" Tanya Rihan datar pada kepala pelayan yang saat ini sedang membungkuk hormat pada Rihan. Rihan berdiri tepat tiga langkah di depan kepala pelayan.


"Semua baik-baik saja, Tuan Muda." Jawab kepala pelayan tenang. Tetapi percayalah, jantungnya sedang berdebar karena takut ditanya hal-hal yang tidak dia ketahui.


"Bagaimana dengan Max?"


"Selama anda tidak ada, Tuan Max tinggal bersama keluarganya, Tuan."


"Hmm. Lanjutkan tugas kalian." Jawab Rihan berlalu menuju lift untuk membawanya ke kamar. Alex dan Alen dengan setia mengikuti dari belakang.


"Baik, Tuan Muda."


Sampai di kamar, Rihan segera mendudukkan dirinya di sofa kamarnya. Alen yang masih berdiri segera menuju lemari pendingin yang ada di bagian pojok kamar dekat walk in closet milik Rihan.


Alen mengambil satu botol air mineral dan dua kaleng soda kemudian menutupnya kembali. Dia lalu mengambil gelas kaca di atas meja samping lemari pendingin untuk dibawa bersama. Setelah itu, Alen menghampiri Rihan.


Meletakkan gelas di atas meja, Alen kemudian menuangkan air mineral ke dalam gelas.


"Silahkan diminum, Tuan." Alen mempersilahkan Rihan setelah memberikan sekaleng minuman pada Alex.


"Duduklah, Lex."


"Baik, Tuan."


"Setelah ini istirahatlah. Kalian pasti lelah." Ucap Rihan setelah meletakkan kembali gelas kosong yang sudah diteguk habis airnya.


"Baik, Tuan. Tapi, apa anda tidak makan malam?" Tanya Alen mengerutkan kening.


"Tidak."


"Baiklah. Saya tidak bisa memaksa anda. Tetapi sebaiknya minumlah suplemen agar anda tidak sakit." Alen tanpa penundaan berdiri dan menuju meja nakas samping tempat tidur Rihan kemudian mengambil botol kecil suplemen yang dimaksud di dalam laci.


"Kamu sangat menyebalkan, Len." Kesal Rihan ketika Alen menyodorkan telapak tangannya yang di atasnya ada satu pil suplemen.


"Ini demi kebaikan anda, Tuan." Alen tersenyum tipis merasa lucu dengan ekspresi Rihan.


"Ya, aku akan meminumnya." Rihan lalu mengambil pil itu dan menelannya. Rihan kemudian mengambil air mineral dan menegukknya hingga tandas.


"Anda sangat menggemaskan, Nona." Puji Alex dalam hati lalu tersenyum melihat Rihan yang tidak terlalu suka meminum obat berbentuk kapsul.


"Jangan menertawakan aku." Rihan yang menyadari senyuman Alex.


"Maaf, Tuan. Tapi anda sangat menggemaskan."


"Terserah. Bantu aku bersiap, Len." Rihan berdiri ingin menuju kamar mandi. Dia akan membersihkan diri sebelum tidur.


"Baik, Tuan."


"Kalau begitu saya pamit keluar, Tuan." Alex bergegas keluar ke kamarnya.


"Hmm."


...

__ADS_1


"Selamat tidur, Nona." Ucap Alen ketika Rihan kini sudah berbaring di tempat tidur. Tidak lupa juga Alen memakaikan selimut untuk sang majikan.


"Selamat tidur, Nona." Alex yang juga berdiri di sebelah tempat tidur Rihan.


"Hmm. Kalian juga istirahatlah. Jangan lagi melakukan apapun."


"Baik, Nona. Kami pamit."


"Hmm."


Setelah kedua asistennya pergi, Rihan memejamkan matanya. Baru 2 menit, dering ponsel di atas nakas membuatnya harus membuka kembali matanya.


"Aku lupa mengaturnya dalam mode silent." Gumam Rihan dalam hati lalu menghela nafas sebentar kemudian membuka mata dan mengambil ponselnya di atas nakas.


Melihat siapa yang menelpon, Rihan menekan ikon hijau lalu mendekatkan ke telinganya. Rihan tetap dalam posisi berbaring.


"Kamu mengganggu waktu istirahatku, Kak. Ada apa?" Tanya Rihan datar.


"Maaf. Aku lupa jika perbedaan waktu Amerika dan Jakarta cukup jauh. Di sini pukul 9 pagi berarti di sana 8 malam." Suara Neo terdengar lirih.


"Hmm. Jadi ada apa?"


"Aku dan Ira baru saja pulang dari rumah sakit. Hasil terapinya semakin bagus. Kata dokter, minggu depan adalah terapi terakhirnya. Itu artinya dia hampir sembuh."


"Baguslah. Lalu, dimana Tata?"


"Dia sedang menguping pembicaraan kita." Suara Neo terdengar tertawa.


"Han..." Suara cempreng Phiranita membuat Rihan sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Ada apa?"


"Aku tahu. Segera sembuh karena aku menunggumu."


"Kamu juga punya janji denganku," Neo juga tidak ingin kalah dari adiknya.


"Janji apa?" Tanya Rihan heran. Pasalnya dia tidak mengingat pernah berjanji pada Neo.


"Mentraktirku makan. Belum lagi kita harus berduel."


"Kakak ingin membuat Ehan terluka? Aku tidak setuju. Kakak boleh makan bersama Ehan tetapi tidak untuk berduel." Omel Phiranita kesal.


"Dia tidak selemah yang kamu pikirkan, Sayang." Balas Neo tidak ingin disalahkan.


"Aku tidak masalah, Tata. Lagipula aku juga penasaran seperti apa kemampuan kak Neo. Aku tidak ingin sahabatku dijaga oleh orang yang lemah."


"Kamu meremehkan aku rupanya. Tunggu saja waktunya, bocah."


"Kalian menyebalkan!" Rengek Phiranita karena keinginannya ditolak.


"Aku akan beristirahat. Kita akan mengobrol lagi besok. Sampai jumpa,"


"Sampai jumpa, Han."


"Hmm."


Panggilan berakhir.


***

__ADS_1


Pagi hari seperti biasa, Rihan sudah rapi dengan pakaian santainya. Masih ada waktu sebelum sarapan pagi sehingga Rihan hanya duduk di meja kerjanya dengan Alex dan Alen yang berdiri setia di depannya.


"Nona ada kelas pukul 1 siang hingga 3 sore. Setelah itu memeriksa laporan mingguan cabang perusahaan R.A Group." Lapor Alex sambil melihat iPad di tangannya.


"Hmm. Bagaimana dengan Beatrix?"


"Beatrix akan sampai dengan helikopter pukul 10 pagi, Nona. Dia mungkin bersama Mentra ke sini." Jawab Alen yang melihat Rihan mengetuk-ngetuk pelan meja dengan jari telunjuknya.


"Saya juga sudah mendaftar Beatrix di Antarik Universitas dan mengambil jurusan yang sama dengan Ariana, Nona." Lapor Alex lagi.


"Bagus. Aku penasaran seperti apa reaksi rubah itu ketika melihat Beatrix." Rihan mengangguk puas.


"Pastinya dia akan sangat kesal, Nona." Sahut Alen dan dibalas anggukan oleh Alex.


"Anda ingin Beatrix masuk ke kampusnya kapan, Nona?" Tanya Alex.


"Besok saja. Hari ini dia pasti lelah karena penerbangan."


"Siap, Nona."


"Bagaimana dengan tempat tinggal Beatrix?" Tanya Rihan lalu menatap bergantian Alex dan Alen.


"Saya sudah membeli satu apartemen yang tidak jauh dari Antarik Universitas. Beberapa fasilitas pendukung lainnya juga sudah saya siapkan, Nona." Jawab Alex tenang.


"Kerja bagus. Bagaimana dengan David?"


"David sedang berusaha melupakan anda, Nona. Tapi saya yakin itu akan sedikit sulit karena melihat wajahnya saja, saya yakin dia tidak akan melupakan anda secepat itu." Jawab Alen.


"Ikuti saja alurnya. Pantau terus David. Rubah itu juga yang paling penting."


"Baik, Nona."


"Bagaimana dengan Ayu, Nona?" Tanya Alen penasaran.


"Biarkan saja. Jika dia berulah, beri saja pelajaran tata krama." Balas Rihan datar.


"Saya mengerti, Nona."


"Satu lagi, Nona." Alex teringat sesuatu.


"Hmm?"


"Saya sudah memberitahu keluarga di New york dan Prancis jika kita sudah sampai. Mereka juga hanya memberi salam pada anda dan mengatakan untuk menjaga kesehatan."


"Aku tahu. Sudah kalian perketat penjagaan di kedua mansion?"


"Sudah, Nona. Untuk saat ini kedua mansion aman."


"Bagus."


"Sudah waktunya sarapan, Nona." Alen menyadari jam sudah menunjukkan kurang beberapa menit lagi pukul 7 pagi.


"Ayo sarapan." Ajak Rihan berdiri bersiap turun ke lantai satu.


"Baik, Nona."


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku. Jangan lupa untuk meninggalkan jejakmu, ya.

__ADS_1


Sampai ketemu di chapter selanjutnya.


__ADS_2