Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Pemikiran Neo


__ADS_3

Selamat membaca!


.


.


.


Waktu masih menunjukan pukul tiga pagi, tapi Rihan sudah terbangun dari tidurnya dengan keringat membasahi dahinya. Padahal suhu di ruangan itu cukup dingin.


Seperti biasa ketika terbangun dalam keadaan berkeringat di suhu kamar yang dingin, maka hanya ada satu alasan. Mimpi masa lalunya.


Setelah mengatur nafasnya dan menatap jam digital di atas nakas di sampingnya, Rihan lalu menekan salah satu tombol khusus untuk memanggil kedua asistennya.


Tin


Tin


Tin


Tiga kali ditekan, kedua asisten pribadi Rihan muncul setelah diijinkan masuk.


"Anda butuh sesuatu, Nona?" Tanya Alex.


"Anda bermimpi lagi, Nona?" Tanya Alen sambil mengelap keringat di dahi Rihan.


"Hmm. Aku hanya ingin berolahraga. Temani aku!" Ucap Rihan disela-sela Alen yang mengelap keringatnya.


"Baik, Nona. Mari saya bantu anda bersiap." Ucap Alen setelah selesai dengan pekerjaannya.


"Saya akan menyiapkan ruangannya, Nona." Alex kemudian pamit dari sana.


***


BUGH


BUGH


BUGH


Suara Rihan memukul samsak di ruang GYMnya ditemani Alex dan Alen yang berdiri sejauh tiga meter darinya.


"Sudah cukup, Nona! Anda tidak bisa terlalu memaksakan diri untuk berlatih. Saya takut dengan kondisi anda." Alen mengingatkan Rihan, agar tidak terlalu memaksakan diri.


Bagaimana tidak khawatir jika yang Alen lihat adalah pukulan Rihan seperti mengeluarkan semua kekesalannya pada samsak tinju itu. Kegiatan itu bahkan sudah berlangsung selama satu jam lebih.


BUGHHH...


Pukulan kuat sekaligus terakhir Rihan layangkan untuk mengakhiri latihannya saat ini. Rihan tidak berniat untuk melakukan olahraga lain selain memukul samsak karena hanya ingin melampiaskan kekesalannya pada ingatan masa lalunya yang sampai sekarang selalu terbawa dalam mimpi.

__ADS_1


"Silahkan, Nona." Alen memberikan sebotol air mineral bersama handuk kering pada Rihan.


"Terima kasih, Len."


"Sama-sama, Nona."


Rihan kemudian menerimanya dan duduk melantai di sana kemudian meneguk hingga tandas air mineral itu.


"Apa jadwalku hari ini, Lex?" Tanya Rihan setelah memberikan botol kosong air mineral itu pada Alen.


"Anda memiliki kelas pagi pukul 9 hingga pukul 11 siang, Nona."


"Baik. Jam berapa sekarang?" Rihan bertanya sambil mengelap keringatnya yang menetes.


"Pukul 4 lewat 25 menit Nona. Waktunya membersihkan diri sebelum Nona Phi dan Tuan Max bangun."


"Ayo Len, bantu aku!" Rihan lalu berdiri dan bersiap keluar.


"Baik, Nona. Silahkan."


Setelah sarapan pagi tepat pukul 7, Rihan tidak kembali ke ruang kerjanya seperti biasa, tetapi dia menuju ruang tamu dan duduk di sana diikuti yang lainnya. Setelah beberapa menit duduk di sana dalam keadaan hening,


"Kenapa dia sangat kuat?" Gumam Max sambil menatap dengan wajah cemberut ponsel di tangannya.


Rihan yang melihat tingkah Max mengerutkan keningnya dan menatap Alex yang berdiri di belakangnya seakan bertanya ada apa dengannya.


"Anda kenapa, Tuan?" Tanya Alex yang berdiri di belakang Max.


"Jadi, anda berbicara sendiri karena sedang bermain?" Tebak Alex dan diangguki oleh Max.


"Kamu harus mencobanya, Rei. Game ini sangat menyenangkan. tetapi, aku kesulitan karena semakin levelnya tinggi, lawannya juga sangat hebat." Max menatap berbinar pada Rihan yang sedang menatapnya.


Rihan yang mendengarnya tiba-tiba merasa tertarik dengan game itu. Jika boleh jujur, sejak dulu Rihan sangat suka bermain game bersama sepupunya, atau anak paman dan bibinya. Sayangnya, ketika beranjak dewasa, keduanya sudah mempunyai tugas masing-masing sehingga melupakan hobby mereka.


Rihan menatap jarum jam di pergelangan tangannya, dan ternyata masih ada waktu sebelum dia bersiap untuk ke kampus pukul 9 nanti.


"Berikan iPadmu." Minta Rihan pada Alex. Sedangkan Max tersenyum lebar karena berhasil membujuk Rihan.


Setelah menerima iPad dari Alex yang baru saja mendownload game, Rihan lalu membuka game itu. Yang pertama Rihan lakukan adalah membaca aturan permainan dan juga cara bermain. Sambil menganggukkan kepalanya Rihan mulai memilih jagoannya yang berkarakter seorang perempuan, kemudian Rihan juga menuliskan usernamenya di sana.


"The Devil?" Gumam Max setelah membaca username yang Rihan tulis untuk karakternya.


"Wow! Nama yang menarik." Sambung Max menatap serius Rihan yang mulai menekan tombol play untuk memulai permainan.


***


Di ruangan bernuansa putih dan hitam, dua pria sedang dalam keadaan hening dan saling menatap satu sama lain dengan satu pria yang duduk dengan meja kerja di depannya, sedangkan pria satu lagi duduk di sofa di ruangan itu yang hanya berjarak tiga meter dari tempat duduk pria pertama. Keduanya tidak lain adalah Neo dan Logan.


"Kamu sudah mendapatkan identitas tuan muda itu?" Tanya Neo pada Logan.

__ADS_1


"Ini aneh, kau tahu!" Ujar Logan mengerutkan dahinya.


"Aneh bagaimana?"


"Kehidupan pribadinya tidak bisa kita dapatkan. Hanya identitas umumnya saja yang sudah diketahui semua orang. Aku jadi curiga, jangan-jangan CEO R.A Group, orang yang membobol sistem kita, dan Tuan Muda Rehhand adalah orang yang sama. Bagaimana menurutmu?" Jelas Logan lalu menatap serius pada Neo.


"Dia sangat misterius!" Balas Neo lalu menopang dagunya dengan kedua tangannya yang bertaut.


"Satu lagi yang menggangguku, dan merupakan rumor bahwa wajah tuan muda itu lebih mirip dengan paman dan bibinya, Jhack Roland Lesfingtone dan Rosemary Amanda Lesfingtone, dari pada kedua orang tuanya, Jhon Roland Lesfingtone dan Shintia James Lesfingtone. Dan menurutku itu benar!


Akan tetapi, anak semata wayang pengusaha nomor dua itu adalah seorang gadis dan tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang. Keluarga Lesfingtone benar-benar misterius. Terlebih si Tuan Muda Rehhand itu." Jelas Logan panjang lebar.


"Sejak kapan tuan muda itu muncul di publik?" Tanya Neo menatap Logan serius.


"Sebelum tuan muda itu datang ke Indonesia. Itu berarti, sudah beberapa bulan ini. Kemunculannya waktu itu mengagetkan publik karena wajahnya yang tidak terlalu mirip dengan kedua orang tuanya kecuali kakaknya. Banyak yang bertanya-tanya alasan kenapa dia baru muncul di publik, tetapi hanya dijawab oleh orang tuanya bahwa dia tidak suka diekspose publik."


"Kirim anak buah kita yang ahli untuk menyelidiki kedua keluarga itu. Aku ingin tahu alasan anak kedua Jhon baru muncul di publik, sedangkan anak Jhack belum muncul sama sekali." Neo sudah berganti posisi dengan memainkan pena di atas meja dengan tangan kanannya.


"Oke."


"Jika rumor itu benar, maka hanya ada dua kemungkinan." Neo tersenyum misterius.


"Dua kemungkinan? Apa itu?" Tanya Logan penasaran.


"Tuan muda itu adalah anak paman dan bibinya yang disembunyikan..."


"Bukankah anak semata wayang Tuan Jhack adalah seorang gadis?" Potong Logan membuat Neo menatapnya tajam.


"Jhack membohongi publik, atau anak gadisnya itu menyamar menjadi seorang pria." Sambung Neo sambil mengetuk-ngetuk pelan pena yang dia pegang di atas meja.


"Jika yang kamu katakan benar, maka..." Ucap Logan sambil bertingkah alay dengan menutup mulutnya dengan satu tangan dan menatap melotot pada Neo.


"Maka tugasmu adalah mencari kebenarannya bukan bermalas-malasan di kantor." Neo membuat Logan menatapnya malas.


"Kamu pikir selama ini siapa yang mengatur jadwalmu, membantu memeriksa berkas-berkasmu dan lain-lain? Aku rasa, aku adalah sekretaris paling berbakat karena memiliki banyak tugas melebihi sekretaris pada umumnya." Sindir Logan kesal.


"Kamu adalah sekretaris khusus yang aku pilih, jadi jangan heran jika tugasmu juga banyak." Neo menjawab dengan tenang, lalu meminum kopi di atas meja kerjanya yang sudah terasa dingin.


"Aku terhura mendengar kata khusus darimu." Logan mencibir semakin kesal.


"Terserah! Aku lelah, biarkan aku istirahat. Selamat malam." Neo berdiri dan berlalu pergi dari sana karena sudah waktunya istirahat.


"Ya. Aku juga. Hoaaam..."


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan sungkan untuk memberi komentar yang membangun untuk cerita ini. Jangan lupa juga untuk meninggalkan jejakmu di sini.

__ADS_1


See You.


__ADS_2