
"Berhenti berpikir yang tidak-tidak. Saya sama sekali tidak tertarik dengan gadis kecil sepertimu," Pria itu lalu menggunting sisa perban di tangan Rihan. Pria itu mengangkat kepalanya dan menatap wajah Rihan.
"Benarkah?" Rihan memajukan wajahnya tepat beberapa senti dengan wajah pria itu. Sepertinya Rihan punya hobby baru. Selain membuat orang lain kesal, dia akan menggoda mereka juga.
Pletak!
"Tindakanmu tidak cocok dengan wajah datarmu." Ucap pria itu setelah menyentil dahi Rihan membuatnya meringis.
"Pria ini ternyata tidak bodoh," Gumam Rihan dalam hati sambil menggosok pelan dahinya dengan punggung tangannya yang diperban.
"Luka di perut dan lenganmu cukup dalam, jadi jangan terlalu banyak bergerak. Meski sudah tiga hari berlalu, tapi lukamu belum sepenuhnya sembuh. Istirahatlah! Jika butuh sesuatu, aku siap kapanpun." Pria itu kemudian berdiri dan membantu Rihan berbaring.
"Hm. Terima kasih Tuan..." Rihan menggantung perkataannya, karena tidak tahu harus memanggil pria itu apa. Memang Rihan tahu siapa nama pria itu, tetapi Rihan akan berpura-pura tidak tahu.
"Seharusnya gadis kecil dengan kecerdasan sepertimu sudah tahu namaku." Ucap pria itu setelah menyelimuti Rihan dan berdiri sambil bersidekap dada menatap Rihan.
"Kalau begitu, aku akan memanggil anda Tuan Zant." Balas Rihan membalas tatapan pria dengan nama Zant itu.
"Zant? Panggilan yang bagus. Akan lebih bagus lagi jika tuan diganti dengan yang lebih akrab. Ingat jika saya lebih tua beberapa tahun darimu, gadis kecil." Zant berbicara dengan santai.
"Anda ingin panggilan akrab? Sedangkan anda sedari tadi berbicara formal denganku." Balas Rihan tenang.
"Baiklah, gadis kecil. Aku ingin kamu memanggilku kakak. Itu Terdengar akrab," Zant mengangguk membenarkan perkataannya sendiri.
"Kak Zant? Tidak buruk." Rihan ikut mengangguk setuju.
"Tapi, jika kamu ingin memanggilku sayang, juga boleh." Zant berniat menggoda Rihan.
"Bisa dipertimbangkan," Balas Rihan tenang dan memejamkan matanya.
"Gadis kecil ini ternyata tidak mempan dengan godaan seperti itu," Gumam Zant dalam hati masih menatap wajah Rihan.
"Lupakan saja. Aku pergi sebentar. Ingat untuk memanggilku jika butuh sesuatu. Gunakan tombol di samping tempat tidur." Zant kemudian beranjak pergi dari sana.
"Hm."
Setelah kepergian Zant, Rihan membuka matanya dan menatap langit-langit kamar yang dia tempati sekarang.
"Apa yang sedang Alex dan Alen lakukan? Wanita itu juga. Aku penasaran, apa yang dia rencanakan selama aku tidak ada. Hm... Aku akan memulihkan diri lebih dulu. Kembali ke sana untuk kejutan cukup bagus," Monolog Rihan dalam hati.
"Tapi, kenapa aku merasa familiar dengan pria itu? Apa yang sudah aku lupakan?" Lanjut Rihan dalam hati lalu memejamkan matanya dan terlelap.
***
"Bagaimana hasilnya, Kak?" Tanya Alen pada Alex. Keduanya ada di laboratorium rahasia milik Rihan.
"Ada jejak darah nona di jalan itu. Untungnya hujan tidak membersihkan jalan itu, sehingga genangan airnya bisa diperiksa. Itu seratus persen tercampur dengan darah nona.
Jalan itu merupakan jejak terakhir nona. Jadi, bisa dipastikan nona pingsan dan dibawa pergi. Kita hanya bisa berdoa, semoga orang baik yang membantu nona saat itu." Jawab Alex setelah membaca hasil Lab di kertas yang dia pegang.
"Iya, Kak."
"Hanya jejak darah yang bisa kita temukan di jalan itu. Tidak ada jejak apapun. Semuanya sudah terhapus bersih oleh air hujan," Alex lalu meletakkan kertas di tangannya ke atas meja.
__ADS_1
"Kalau begitu, kita harus melakukan pencarian secara menyeluruh. Apapun yang terjadi, nona harus ditemukan. Biarkan wanita itu menjadi urusanku, Kak." Alen berbicara dengan tangan terkepal kuat.
"Hm. Kakak sudah mengirim beberapa ahli sejak hari dimana Nona hilang. Hari ini kita akan menambah jumlah orang untuk memperluas pencarian lagi."
"Baik, Kak. Aku mengerti. Aku yakin nona baik-baik saja. Nona adalah wanita paling kuat yang aku kenal." Perkataan Alen dibalas anggukan oleh Alex.
"Kakak sependapat denganmu. Kakak akan tinggal di sini lebih lama untuk memeriksa ulang semua cctv setiap bandara di Jakarta, stasiun kereta api maupun jalan pintas lain yang keluar Jakarta. Meski Tuan Neo dan Tuan Brand katanya sudah memeriksa semua jalur keluar Jakarta, tapi kakak akan memeriksanya ulang. Kamu hanya perlu mengawasi gerak-gerik wanita itu. Kakak yakin, dia pasti akan memanfaatkan situasi ini dengan baik."
"Baik, Kak. Kalau begitu, aku pergi."
"Ya."
...
"Ternyata bukan hanya aku yang menyadarinya. Tapi, di mana tepatnya kita pernah bertemu? Kenapa aku merasa melupakan sesuatu? Gadis kecil itu memang mengingatkanku pada seseorang. Tapi tidak mungkin dia!" Gumam Zant dalam hati. Pria itu terus memikirkan Rihan yang mengingatkannya pada seseorang di masa lalu.
"Aku akan menyelidiki ulang kasus itu. Pasti ada yang terlewatkan," Sambung Zant lalu menatap keluar balkon kamarnya.
Sibuk dengan pikirannya, hingga ponsel di atas meja berbunyi mengalihkan perhatian Zant. Pria itu mengangkatnya karena itu telepon dari sang ibu.
"Ada apa, Mom?"
"Bisa-bisanya kamu melewatkan pertemuan penting keluarga presiden. Ini sudah tiga hari berlalu, Lyan! Padahal Mommy ingin mengenalkanmu pada anak gadis mereka. Mereka cantik-cantik, Lyan."
"Mom! Berhenti mencari gadis untukku. Aku bisa mencari sendiri. Atau mungkin aku tidak akan menikah. Aku akan melajang hingga tua."
"Lyan... maafkan Mommy dan Daddy. Ini salah kami!"
"Sudah berapa kali aku katakan, Mom. Itu bukan salah kalian. Semua sudah berlalu. Tapi mom, berhenti menjodohkan aku dengan gadis di luar sana."
"Kalau dia seorang pria bagaimana, Mom?"
"Lyan, kamu sudah tidak waras?" Suara sang Mommy terdengar kesal.
"Mom..." Panggil Zant dan tersenyum tipis.
"Kamu serius, Nak? Baiklah. Apapun pilihanmu, kami akan setuju. Tapi, bagaimana dengan cucu?"
"Mom..."
"Oke-oke. Mommy tidak akan memaksa lagi. Kalian masih bisa mengadopsi anak. Jangan lupa bawa dia ke rumah. Mommy dan Daddy menunggu kalian,"
"Hm."
Panggilan berakhir.
Pria dengan nama lengkap Zhicalyan Zant Veenick, biasa dipanggil Lyan oleh orang tuanya, sedangkan Rihan memanggilnya Zant dari nama tengahnya. Pria itu hanya tersenyum tipis memikirkan percakapan tadi.
"Mommy memang selalu pengertian,"Gumam Zant lalu meneguk segelas minuman di atas meja.
"Tapi tunggu! Kenapa tiba-tiba gadis kecil itu yang terlintas di pikiranku saat Mommy menanyakan pendamping hidup? Apa yang sudah aku pikirkan?" Sambung Zant lalu menggeleng.
***
__ADS_1
"Sampai kapan luka ini akan sembuh?" Tanya Rihan pada Zant yang baru masuk ke kamar setelah menguap malas.
"Itu tergantung seberapa besar niatmu untuk sembuh," Balas Zant lalu melepas bajunya di depan Rihan. Rihan jelas tahu tujuan pria itu.
"Bukan karena kak Zant tidak mampu menyembuhkanku?" Tanya Rihan menatap sebentar tubuh bagian atas Zant seakan tidak tertarik. Padahal tubuh pria itu sangatlah meresahkan.
"Sangat sulit menggoda gadis kecil ini. Dia sangat berbeda dengan gadis-gadis lain. Tapi tunggu..." Gumam Zant dalam hati lalu menatap wajah Rihan lewat pantulan cermin.
"Dari mana kamu tahu aku seorang dokter?" Tanya Zant setelah berbalik menatap Rihan yang berusaha bangun.
"Cara kak Zant mengobati tanganku," Rihan menjawab dengan menunjukan tangan kirinya yang diperban.
"Dia benar-benar gadis kecil yang cerdas. Dia mengetahui sesuatu hanya sekali lihat. Mereka benar-benar mirip," Seru Zant dan hati lalu menatap Rihan sekilas sebelum menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
...
"Lukamu bisa sembuh hanya dalam satu hari. Aku jamin lukanya tidak akan meninggalkan bekas dan tidak akan terasa nyeri lagi. Tapi ada syaratnya!" Zant berbicara setelah keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.
"Sebagai ucapan terima kasih, syarat apapun tidak masalah." Balas Rihan dan mengangguk.
"Tidak ingin bernegosiasi dulu?" Tanya Zant dengan kening berkerut. Pria itu sedang menatap dirinya di depan cermin.
"Aku tidak suka basa-basi," Rihan menggeleng.
"Aku ingin kamu menemaniku bertemu kedua orang tuaku." Zant menjawab sambil mengoles sedikit krim di wajahnya.
" Di Schloss Bellevue?" Tanya Rihan dan dibalas anggukan oleh Zant.
Note :
Schloss Bellevue adalah tempat tinggal untuk Presiden Jerman.
"Oke." Sambung Rihan.
"Kamu tidak penasaran untuk apa aku mengajakmu bertemu mereka?" Tanya Zant sebelum menuju walk in closet.
"Aku akan tahu jika tiba di sana." Jawab Rihan malas.
"Oke. Aku akan mengganti pakaianku sebentar."
"Hm."
"Kapan kita akan ke sana?" Tanya Rihan setelah Zant keluar dari walk in closet.
"Lusa, setelah kamu sembuh."
"Hm."
"Aku akan memanggil seorang suster untuk membantumu membersihkan diri," Ucap Zant sebelum pergi dari sana.
"Hm."
***
__ADS_1
Berikan pendapat kalian tentang Zant dan Neo. Pendapat kalian menentukan siapa pemeran utama prianya.😂😂😂