Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Tunggu Aku, Nyonya Veenick


__ADS_3

Pukul 11 lewat 20 menit, Zant baru keluar dari ruang operasi. Dokter muda itu baru saja selesai melakukan operasi untuk pasien darurat yang datang dari Jerman.


Satu jam lebih Zant pakai untuk melakukan operasi besar ini. Setelah keluar dari ruang operasi, sudah ada seorang pria berwajah datar menunggunya diluar pintu.


"Ada apa?" Tanya Zant datar setelah melepas apron medis, dan membuangnya ke dalam tong sampah di sampingnya, disusul dengan penutup kepala, sarung tangan dan masker.


"Nona muda menghilang. Semua orang sedang mencarinya, Tuan."


"Apa yang terjadi?" Tanya Zant pelan, lalu memijit pelipisnya pusing. Kekhawatiran memenuhi pikirannya, tetapi dia berusaha tenang.


"Dokter yang menjaganya dibuat pingsan, sehingga Nona muda dibawa pergi." Jawab pria berwajah datar itu.


"Pantas saja aku memikirkannya sejak tadi," Gumam Zant lalu dengan langkah cepat menuju ruangannya.


"Kami tidak menemukan jejak apapun di sana, Tuan. Semuanya bersih." Ujar orang kepercayaan Zant itu, setelah mereka masuk ke ruang kerja Zant.


"Gadis kecilku, seharusnya sudah sadar dan bersenang-senang. Siapa yang mencoba menguji kesabaranku?" Kesal Zant sebelum duduk di kursi kebesarannya dan mulai menyalakan laptopnya.


Zant mulai mengotak-atik keyboard laptop dengan cepat. Pria di sampingnya begitu fokus melihat gerakan tangan sang Tuan dan juga layar laptop.


"Seorang pria?" Gumam Zant setelah layar laptop dipenuhi dengan wajah seorang pria dengan topi hitam dan masker hitam yang menutupi dagu hingga hidungnya.


"Dia..."


"Kamu mengenalnya, Vian?" Tanya Zant melirik pria berwajah datar bernama Vian ini.


"Tidak. Tapi anda harus melihat ini, Tuan." Jawab Vian lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukan sesuatu pada Zant.


"Beraninya kamu menggodaku, gadis kecil." Gumam Zant pelan dan menyeringai.


Zant tidak menyangkah ternyata gadis kecilnya berani menggodanya. Mengingat kembali kejadian pagi tadi, telinga Zant tiba-tiba memerah, apalagi mengingat isi memo itu.


"Siapkan mobil! Kita akan menjemput Nyonya Veenick pulang." Sambung Zant setelah berdiri dan menuju kamar pribadinya untuk mengganti pakaian.


"Baik, Tuan."


"Tunggu aku, Nyonya Veenick." Ucap Zant dalam hati lalu menyeringai sambil menatap penampilannya di cermin.


***


Di lain tempat, di kapal pesiar, Rihan sedang memejamkan matanya menghirup angin yang berhembus menerpa wajah cantiknya. Rambutnya yang dikuncir kuda senantiasa bergerak mengikuti arah angin yang berhembus.


"Tuan majikan terlihat senang," Suara Gledy membuat Rihan membuka matanya dan tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya ke arah bawah dimana mereka bisa melihat beberapa kelompok ikan yang terlihat melewati depan kapal.


"Sudah lama aku tidak bersantai. Terima kasih, Gledy." Balas Rihan tenang.


"Sama-sama, Tuan."

__ADS_1


"Mulai sekarang, panggil aku nona." Rihan kembali memejamkan matanya.


"Baik, Nona."


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan. Hingga beberapa menit kemudian Gledy kembali bersuara.


"Ada yang datang, Nona." Sahut Gledy datar.


"Sepertinya jemputan kita, Gledy." Rihan membuka matanya. Sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas menanti jemputan ini.


"Saya merasa ada hawa asam yang cukup kuat, Nona." Perkataan Gledy membuat Rihan membuka mata dan menatap robot itu dengan sebelah alis terangkat.


"Perlihatkan tangan kirimu padaku," Perintah Rihan dan diikuti oleh Gledy.


"Apa ada alat yang rusak? Tidak ada pengaturan semacam ini," Gumam Rihan dalam hati, lalu menekan dada Gledy, letak inti tubuhnya berada sehingga layar hologram berukuran 10x5 cm muncul di atas telapak tangan kiri Gledy.


Rihan menatap layar hologram dan menyentuh beberapa ikon sehingga terdengar notifikasi masuk ke ponselnya. Sambil memegang tangan Gledy, tangan Rihan yang lainnya mengambil ponsel dalam saku celana dan mulai membuka notifikasi yang ternyata inti Gledy sudah terhubung dengan ponselnya.


Rihan tidak mungkin mengoperasikan Gledy secara langsung karena mengingat ada yang akan datang, sehingga dia harus beralih dengan ponsel untuk sementara.


"Tidak ada masalah, tapi kenapa?" Gumam Rihan mengerutkan kening.


"Hawa asamnya semakin mendekat, Nona." Rihan mengalihkan pandangannya ke samping, dan menemukan wajah datar Zant yang semakin dekat dengan mereka.


Sret!


"Hei... aku sesak! Jangan memelukku terlalu erat." Ujar Rihan sedikit dipaksakan karena Zant memeluknya sangat erat.


"Kamu akhirnya bangun, gadis kecil. Betapa aku sangat merindukanmu." Suara Zant terdengar lirih.


"Maaf sudah membuatmu khawatir, Kak. Terima kasih sudah menjagaku selama ini," Rihan menjawab pelan, lalu membalas pelukan Zant.


"Hawa asamnya sudah hilang, Nona." Suara Gledy membuat Zant melepas pelukannya dan menatap tajam Gledy.


"Dia siapa gadis kecil? Kemarikan tangan kirimu. Aku harus membersihkan tangan yang sudah menyentuh pria lain." Ujar Zant datar lalu membersihkan dengan lembut tangan kiri Rihan dengan sapu tangannya.


"Dia bukan kotoran yang harus dibersihkan, Kak." Komentar Rihan menarik tangan kirinya, membuatnya Zant menatap tajam dirinya.


"Jangan terlalu dekat dengan pria lain apalagi menyentuh mereka, Nyonya Veenick. Aku tidak suka!" Zant menarik kembali tangan Rihan dan memnersihkannya. Rihan hanya menggeleng tidak mengerti.


"Mulai sekarang dia yang akan selalu dekat denganku. Tolong mengerti, Kak." Nada suara Rihan pelan.


"Kamu baru saja bangun, kenapa bisa melakukan aksi berbahaya itu? Lihat dirimu, kamu terluka. Bisakah tidak membuatku khawatir? Dan juga, ganti pria itu dengan seorang gadis. Aku akan mencari seorang gadis untukmu," Zant lalu menarik Rihan kedalam pelukannya.


"Tidak bisa begitu," Tolak Rihan dan menggeleng pelan.


"Jangan membantah, Nyonya Veenick. Satu lagi, aku belum memberimu hukuman karena berani menggoda seorang dokter." Zant melepas pelukannya dan menatap intens wajah Rihan.

__ADS_1


"Aku menunggu hukumanku. Aku juga penasaran, siapa istri dokter yang sudah aku goda ini? Dia juga tidak memakai cincin pernikahannya," Balas Rihan dan ikut menatap Zant.


"Ekhem..." Zant segera memutuskan kontak mata dengan Rihan dan menatap arah lain. Telinga pria itu memerah.


"Di mana istri anda, Dok? Aku ingin bertemu." Tanya Rihan semakin menggoda pria di depannya ini.


"Dia sedang berdiri di depanku sekarang." Jawab Zant datar. Pria itu masih tetap menatap ke arah lain.


"Aku? Kenapa aku tidak tahu?" Tanya Rihan lagi.


"Sudahlah. Aku mengaku kalah. Ayo kita pulang! Semua orang khawatir." Nada suara Zant berubah serius.


"Ayo pulang. Ayo Gledy!" Ajak Rihan dan menengok ke arah Gledy di belakang Zant.


"Jangan dekat dengannya. Kamu ikut aku. Putar balik kapalnya!" Perintah Zant datar.


Kapal lalu putar balik menuju pelabuhan.


"Dia..." Gumam Rihan ketika melihat wajah datar Vian yang menunggu mereka di pelabuhan.


"Kamu mengenalnya?" Tanya Zant setelah menuntun Rihan turun dari kapal.


"Tidak."


"Kenapa kalian berdua terlihat mencurigakan?" Kesal Zant karena tingkah Vian juga hampir sama dengan Rihan ketika melihat wajah Rihan.


"Huh?"


"Kalian sepertinya saling mengenal. Respon kalian hampir sama, ketika bertemu. Apa yang kalian sembunyikan dariku?" Tanya Zant datar sambil menatap bergantian Rihan dan Vian.


"Tidak ada!" Jawab Rihan dan Vian hampir bersamaan.


"Jujur padaku, sebelum aku melemparmu ke bawah Vian?" Ancam Zant dan menatap tajam Vian yang tidak merubah ekspresi datarnya sama sekali.


"Jujur saja padanya tentang hubungan kita. Air di bawah juga tidak dingin." Bisik Rihan sambil merangkul bahu Vian.


"Anda mempersulit saya, Nona muda." Batin Vian ketika melihat wajah menyeramkan Zant.


"Vian, jangan menguji kesabaranku. Dan Nyonya Veenick, jangan lupa dengan peringatanku." Ucap Zant datar. Tatapannya begitu tajam pada Vian.


"Aku mengerti. Sampai ketemu di mobil," Balas Rihan lalu melepas rangkulannya dan bergegas menuju mobil.


Masuk ke mobil, Rihan tersenyum tipis. Dia merasa, hari-hari kedepannya akan terus seperti ini. Menggoda Zant sepanjang hari ternyata menyenangkan. Rihan melirik kaca spion penasaran apa yang akan Zant lakukan pada Vian.


Entah apa yang mereka bicarakan, Rihan hanya bisa melihat Vian yang menunduk pada Zant yang menatapnya tajam. Sepertinya Vian sedang meminta maaf.


Tidak lama kemudian Zant masuk ke mobil dan duduk di kursi pengemudi. Tepatnya di sebelah Rihan. Sedangkan Vian di mobil depan. Gledy sendiri menggunakan motornya ikut dari belakang mobil Rihan dan Zant.

__ADS_1


Ketiga kendaraan itu lalu pergi dari pelabuhan kecil itu menuju kediaman Jhack Lesfingtone, mansion utama keluarga Rihan.


__ADS_2