Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Menghibur


__ADS_3

"Nona..." Panggil Alen yang baru saja masuk dan menghampiri Rihan yang masih di balkon kamarnya.


"Hmm."


"Kenapa anda membiarkannya lolos begitu mudah?" Tanya Alen penasaran.


Bagi Alen, apa yang sudah Rine lakukan harus diberi pelajaran yang pantas. Wajar jika Alen berpikir seperti itu karena sudah dua kali Rine membuat sang majikan sakit. Pertama karena peluru beracun itu, dan kedua karena alergi. Tapi kenapa sang majikan membiarkannya begitu saja.


"Dia akan kembali lagi," Balas Rihan datar lalu mengalihkan pandangannya ke arah taman mansion.


"Kembali?" Ulang Alen.


"Aku penasaran dengan siapa dia bekerja. Jadi, biarkan dia pergi dan melapor pada atasannya. Dalam waktu dekat dia tidak akan datang. Tapi persiapkan saja penjagaan di sini dan di mansion utama." Jelas Rihan lalu menatap sekilas pada Alen.


"Bagaimana jika kak Avhin tahu tentang apa yang sudah dilakukan Rine pada anda?"


"Jika sudah waktunya, maka biarkan saja. Lagipula kita harus kembali ke Indonesia. Rubah itu pasti sudah merindukan aku," Rihan kemudian meminum segelas jus di atas meja.


"Baik, Nona. Saya pamit untuk menyiapkan keperluan sebelum kembali ke Indonesia."


"Hmm."


Setelah kepergian Alen, Rihan mengambil ponsel di atas meja kemudian menghubungi Neo.


"Tumben kamu menelponku lebih dulu. Kamu merindukanku?" Tanya Neo lalu terkekeh senang di sana.


"Sama sekali tidak."


"Aku kecewa mendengarnya."


"Aku hanya ingin mengatakan untuk tidak usah mencari orang yang menukar makananku karena aku sudah menemukannya."


"Benarkah? Padahal Logan hampir mendapatkannya. Bawahanmu sungguh hebat, bisa menemukannya secepat itu."


"Hmm. Jadi batalkan saja."


"Baik. Tapi aku juga penasaran siapa dia."


"Kak Neo tidak mengenalnya."


"Ya, sudah. Lalu kamu sedang apa?"


"Memikirkanmu."


"Astaga! sejak kapan, mulutmu semanis ini?" Suara Neo terdengar sangat senang.


"Bagaimana keadaan Tata?"


"Dia baik. Sejauh ini hasil terapinya semakin bagus. Tapi kamu benar sedang memikirkanku?" Neo tentu saja penasaran.


"Kak Neo ingin tahu?"

__ADS_1


"Ya."


"Jawabannya, tidak."


"Sayang sekali. Padahal aku berencana untuk melompat-lompat disini jika kamu benar memikirkan aku."


"Sudahlah. Katakan pada Tata aku akan kembali ke Indonesia besok. Jika dia sembuh, kak Neo bisa membawanya atau aku yang akan datang ke sana."


"Oke. Tunggu kabar baik dariku."


"Hmm. Aku tutup teleponnya."


"Ya."


***


"Kak..." Panggil Rihan pada Avhin yang sedang duduk di sofa kamarnya sambil memejamkan mata. Karena pintu kamar Avhin tidak dikunci sehingga Rihan bisa masuk ke dalam. Rihan sengaja datang karena ingin melihat keadaan kakak sepupunya itu.


"Ada apa? Ayo duduk!" Avhin sedikit kaget dengan kehadiran Rihan.


"Kakak baik-baik saja?" Tanya Rihan menatap rambut Avhin yang sedikit acak-acakan dengan kemeja yang sudah kusut.


"Ya."


"Kakak terlihat tidak baik-baik saja."


"Kalau boleh jujur, kakak tidak baik-baik saja. Tapi, untuk apa harus terlalu berlarut dalam kesedihan hanya untuk dia yang memanfaatkan kakak? So... kakak tidak apa-apa. Memang kita tidak berjodoh, jadi bukan masalah besar. Justru kakak bersyukur tahu lebih awal seperti apa dia. Kakak tidak ingin menyesal karena salah mengambil keputusan." Balas Avhin lalu tersenyum tipis. Kehadiran Rihan sedikit membuatnya lebih baik.


"Seharusnya kakak yang mengatakan itu padamu. Selama ini kamu sudah melewati banyak hal sendirian. Kamu juga yang selalu memperhatikan keluarga kita. Tapi kakak selama ini belum pernah membantumu sama sekali.


Jika kakak tidak bisa membantumu dalam hal materi karena kamu jelas memiliki banyak kekayaan lebih dari pada kakak, sehingga kakak hanya ingin menjadi tempat untukmu bercerita." Avhin masih tetap memasang senyum tipis.


Hanya Avhin sendiri dalam keluarga yang tahu bahwa Rihan adalah pemilik R.A Group, karena awalnya Rihan yang meminta bantuan sang kakak untuk mengenalkan Rihan pada beberapa kolega bisnisnya yang saat ini menjadi pemegang saham dalam perusahaannya.


"Baik. Jadi kak Avhin harus siap aku ganggu jika diperlukan,"


"Tidak masalah. Kamu tahu Rei, kamu segalanya bagi kami. Apapun akan kami lakukan untukmu. Bahkan harus mengorbankan nyawa sekalipun itu bukan masalah bagi kami. Sudah cukup kami melihatmu terbaring begitu lama.


Jadi, mulai sekarang jangan melakukan semua hal sendiri. Ingatlah untuk berbagi setiap lukamu pada kami. Tidak ada hal yang lebih penting daripada seorang princess dalam keluarga Lesfingtone."


Rihan tersentuh mendengar perkataan sang kakak. Dia tidak tahu harus berkata apa, hanya membalas dengan anggukan kemudian mendekatkan diri pada Avhin lalu memeluk erat kakak kesayangannya itu.


"Terima kasih, Kak. Melihat kalian bahagia sudah cukup untukku." Ucap Rihan disela-sela pelukannya.


"Kamu juga harus bahagia maka kami akan bahagia." Avhin ikut membalas pelukan Rihan tak kalah erat.


"Besok aku kembali ke Indonesia. Jaga dirimu baik-baik, Kak. Ingat untuk tidak memikirkan gadis itu lagi." Rihan masih dalam pelukan Avhin. Rihan bahkan sangat nyaman dalam dekapan sang kakak.


"Kakak hanya akan bersedih hari ini. Percayalah, besok semua akan kembali seperti semula dimana kakak tidak pernah mengenalnya. Besok kamu kembali? Padahal kakak masih ingin berlama-lama denganmu. Tapi sudahlah, semakin cepat kamu kesana, semakin cepat juga urusanmu. Ingat untuk selalu memberi kabar pada kami."


"Hmm."

__ADS_1


"Karena besok kamu sudah pulang, ayo tidur bersama kakak. Sudah lama kita tidak tidur bersama. Kalau tidak salah waktu itu kamu masih SMP, dan masih sangat imut. Mau, ya?"


"Hmm."


"Ayo!"


"Ini masih siang loh, Kak." Rihan sudah melepas pelukannya. Pandangannya terlihat malas.


"Biar waktu tidur kita lama. Kakak hanya ingin lebih lama denganmu sebelum kamu kembali."


"Terserah."


Keduanya kemudian naik ke tempat tidur king zise milik Avhin lalu tidur disana. Avhin dengan senyum tipis menarik Rihan kedalam pelukannya.


"Selamat tidur princess lakak." Ucap Avhin setelah mengecup dahi Rihan.


"Selamat tidur juga, Kak."


***


Di Indonesia, tepatnya di atap gedung fakultas kedokteran, David dan Albert sedang duduk santai di salah sofa yang beberapa hari lalu baru saja dibawa ke sana oleh para pekerja yang David sewa. David sengaja membawa sofa itu ke sana agar mereka bisa bersantai.


Tidak ada yang bisa ke sana karena tempat itu sudah David beli untuknya menjadi tempat bersantai di kampus. Selain dua sofa panjang yang saling berhadapan, ada juga sebuah meja khusus sofa juga ditempatkan di bagian tengah.


"Aku bertemu dengannya di sana, Al." David membuka suara setelah meneguk minuman kaleng dan meletakkannya kembali ke atas meja.


"Benarkah? Lalu kalian sudah saling bicara?" Tanya Albert penasaran.


"Dia bahkan tidak melihatku. Dia juga sudah memiliki kekasih," Jawab David dengan lirih lalu tersenyum miris pada Albert.


"Kekasih? Kamu yakin itu kekasihnya?"


"Sepertinya iya, karena pria itu terlihat sangat menyayanginya. Kekasihnya itu bahkan tidak ingin dia melirik kemana-mana."


"Wajar saja. Dia secantik itu, siapapun yang menjadi kekasihnya tidak akan membiarkannya melirik orang lain."


"Aku setuju! Dia juga terlihat bahagia dengan pria itu. Apalagi pria itu adalah seorang direktur di R.A Group."


"Baguslah! Jadi mulai sekarang, kamu harus belajar melupakannya,"


"Aku senang dia sudah mendapat kebahagiaannya. Mereka sangat cocok bersama. Hanya saja aku juga tidak rela dia dimiliki oleh orang lain," David mengusap wajahnya frustasi. Tentu saja di sakit hati melihat gadis yang dia cintai itu bersama orang lain. Tapi dia tidak bisa marah karena semua kesalahannya.


"Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi kamu harus tahu, cinta yang sebenarnya adalah jika melihat orang yang kita sayangi bahagia, maka kita juga ikut bahagia meski hati kita terluka.


Percayalah, jika kalian berjodoh, dia dengan sendiri akan datang padamu." Albert kini sudah berpindah tempat yang tadinya di depan David, kini sudah di samping David hanya sekedar menghiburnya.


"Aku tahu. Tapi hatiku sudah tersimpan untuknya selama beberapa tahun ini. Aku sama sekali tidak bisa melupakannya, Al. Melihatnya dengan pria itu, aku mencoba menghibur diri dan berusaha melupakannya. Tapi, Al. Tidak semudah itu." David menggeleng sedih.


"Aku tahu, dan sangat tahu. Tapi semua itu tergantung apakah dia memang jodohmu atau tidak. Jika memang tidak, maka percayalah lama kelamaan kamu akan melupakannya." Albert tersenyum kemudian menepuk pelan bahu David.


"Ya."

__ADS_1


__ADS_2