Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Calon Istri?


__ADS_3

"Aku sudah melihat catatan medisnya. Kondisinya benar-benar parah. Benturan di kepalanya berakibat fatal padanya. Kondisinya semakin memburuk. Belum lagi, racun permanen dalam tubuhnya yang setiap menitnya selalu mengikis organ tubuhnya perlahan-lahan. Bisa disimpulkan, tingkat kesembuhannya tidak mencapai 5%." Zant menjelaskan kondisi Ariana setelah suami Rihan itu kembali.


"Dokter siapa yang menanganinya?" Tanya Rihan setelah terdiam beberapa saat.


"Kepala rumah sakit."


"Dokter Lio?"


"Ya."


"Ya, sudah. Terima kasih, My King,"


"Jangan lupa jika terima kasihmu di sini," Zant menyeringai setelah menepuk dua kali bibirnya dengan jari telunjuk.


"Kemarilah." Rihan tersenyum tipis memanggil suaminya.


Ciuman beberapa menit pun berlangsung.


"Aku tidak salah membuat perubahan ini." Gumam Zant setelah ciuman mereka berakhir. Pria itu tersenyum senang.


"Aku ingin minta tolong lagi," Rihan membuka suara setelah sedikit mengatur nafasnya sehabis berciuman.


"Dengan senang hati suamimu ini akan melakukannya."


"Aku ingin kak Zant menghubungi keluarga Ariana. Dia sudah menghilang beberapa hari. Mereka pasti khawatir karena belum menemukannya."


"Kamu benar-benar sangat peduli padanya." Zant menggeleng kepalanya. Pria itu mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada bawahannya untuk menjemput keluarga Ariana agar datang ke rumah sakit.


"Sudah. Jangan memikirkan dia lagi. Ini sudah lewat jam makan malam. Mau makan apa? Aku akan menelpon koki milikmu untuk memasak makanan kesukaanmu," Zant bertanya sambil mengusap lembut punggung tangan istrinya.


"Aku ingin memakan masakan suamiku. Apakah boleh?"


"Tentu saja boleh, My Queen. Lagipula ada dapur di sini. Kamu tinggal menyebut makanan yang ingin kamu makan, maka suamimu ini akan memasak untukmu."


"Apa saja yang daddy Zanri masak, dengan senang hati kami akan memakannya."


"Baiklah. Suamimu ini akan meminta orang menyiapkan bahan makanannya. Tunggu daddy sebentar, Baby Zanri."


CUP


CUP


Satu kecupan di kening istrinya dan satu kecupan lagi di perut untuk calon baby mereka, Zant bergegas keluar meminta tolong pada bawahan Rihan yang entah sejak kapan sudah berjaga di depan pintu. Padahal Rihan maupun Zant tidak menghubungi mereka tetapi mereka dengan inisiatif sendiri datang berjaga. Benar-benar bawahan setia.


Setengah jam kemudian, Zant dari arah dapur datang menghampiri istrinya sambil mendorong meja yang di atasnya tertutup kain di semua sisi meja.


"Tara...! Semoga dua kesayanganku ini suka," Ujar Zant dengan semangat setelah membuka penutup makanan yang menutupi sekitar lima piring masakan buatannya.


"Kelihatannya lezat! Mendekat sebentar, Kak." Pintah Rihan dengan senyum manisnya.


CUP


CUP


CUP

__ADS_1


Tiga kecupan di masing-masing pipi dan satu di bibir, Rihan berikan pada Zant. Suaminya Rihan itu begitu senang mendapat kecupan mendadak ini. Telinganya bahkan memerah tanpa sadar.


"Sudah lama aku tidak melihatnya. Duduk di sebelah sini, My King." Rihan menepuk sisi kirinya agar suaminya duduk di sana. Zant dengan patuh duduk di sebelah istrinya, meski dia sedikit bingung dengan kalimat 'sudah lama aku tidak melihatnya'.


Zant menegang di tempatnya, karena istrinya ini menyentuh telinganya yang memerah. Jantung Zant berdebar kencang. Hasratnya untuk mengisi dayanya tiba-tiba muncul. Dia tidak ingin menerkam istrinya sekarang yang sedang menikmati makan malamnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri asik bermain dengan telinganya.


"My Queen." Zant bergumam dengan serak.


"Hm?" Rihan menoleh dengan mulut penuh makanan.


"Tanganmu,"


"Aku suka menyentuhnya di saat dia memerah. Jangan menolak!" Rihan menjawab Zant setelah menelan makanan di mulutnya. Wajahnya datar menatap suaminya yang terlihat mengerutkan kening tidak nyaman dengan apa yang dia lakukan.


"Baiklah." Zant hanya bisa pasrah dan berusaha menahan dirinya demi kebahagiaan istri dan calon anaknya. Rihan tersenyum senang dan semakin kuat memainkan telinga memerah suaminya.


"Kamu! jangan coba-coba bangun." Zant bergumam dalam hati sambil menatap tajam adik kecilnya yang sedikit bergerak.


"Seumur hidupku ini pertama kalinya aku makan banyak. Kenyangnya..." Rihan mengelus perutnya dan tersenyum tipis. Porsi makannya selama kehamilan semakin besar.


Zant yang melihat tingkah menggemaskan istrinya, tersenyum senang. Sebelum itu, Zant bernafas legah karena istrinya sudah tidak bermain dengan telinganya lagi.


"Baguslah. Itu berarti istriku dan Baby Zanri menyukai masakan yang masih kalah jauh dengan masakan koki ternama di luar sana. Terima kasih,"


CUP


"Siapa bilang masakan kak Zant kalah? Ini jauh lebih enak dari masakan koki manapun. Aku ingin masakan kak Zant mulai sekarang dan seterusnya hingga Baby Zanri lahir."


"Siap, My Queen! Dengan senang hati, Kingmu ini akan memasak untukmu dan Baby Zanri. Memasak seumur hidup juga tidak masalah. Asal kalian senang."


"Love you too, My Queen. Love you, Baby Zanri."


"Love you too, Daddy."


***


Pukul 9 pagi, ruang VIP tempat Rihan berada sangat bising. Bagaimana tidak bising, jika semua keluarganya datang dengan jet pribadi, setelah mendapat telepon dari Zant tengah malam bahwa Rihan tengah mengandung lima minggu.


Keluarga besar Lesfingtone dan Veenick begitu senang mendengar kabar baik ini. Mereka begitu bersyukur, karena anak dan menantu mereka yang baru menikah beberapa bulan, kini mendapat berkat sebesar ini. Betapa senangnya mereka.


Bukan hanya keluarga besar Rihan dan Zant saja, ada juga bawahan keduanya yang sedang mengantri di luar ruangan sambil berbincang, hadiah siapa yang paling bagus. Mereka tidak sabar menanti kelahiran majikan muda mereka.


...


"Dad... setelah kita kembali ke New York, mommy mau mendekorasi kamar Baby Zanri. Mommy ingin kamar Baby Zanri didekor semewah mungkin. mommy ingin kamar Baby Zanri menjadi satu-satunya kamar terbaik." Mommy Rosse berbicara dengan semangat.


"Iya, Mom. Daddy akan meminta orang kepercayaan kita di bidang desain untuk mendekor kamar Baby Zanri sebagus mungkin."


"Hubungi dia sekarang, Dad."


"Tentu, Mom."


"Kami juga akan membuat kamar untuk Baby Zanri. Kami tidak ingin kamar Baby Zanri di Jerman kalah saing dengan kamarnya di New York." Daddy Willy tidak kalah semangat. Sepertinya Baby Zanri akan menjadi rebutan kakek dan neneknya. Belum lahir saja, sudah seperti ini.


Papa Jhon dan Mama Shintia hanya tersenyum melihat tingkah para orang tua itu. Tapi dalam hati, mereka sudah berencana membuat hal yang sama dengan mereka.

__ADS_1


Rihan dan Zant saling menatap lalu tersenyum. Keduanya senang melihat keantusiasan orang tua mereka. Calon kakek dan nenek Baby Zanri.


Ada Alex, Alen, Avhin, Mentra, Beatrix, dan Vian juga di sana. Mereka tidak kalah senang mendengar kabar baik ini. Mereka juga berjanji dalam hati untuk menyiapkan hadiah terbaik saat kelahiran Baby Zanri nanti.


"Maaf, Nona. Ketua setiap divisi juga ingin memberikan hadiah pada Baby Zanri. Mereka mewakili anggota setiap divisi untuk datang. Mereka sedang mengantri di luar. Ada sekitar 15 orang pria asing juga di sana. Katanya bawahan Tuan Zant." Alex membuka suara setelah mengingat antrean di luar sana.


"Mereka benar-benar." Rihan hanya bisa menggeleng.


"Biarkan mereka masuk, Sayang. Kasihan jika mereka menunggu." Ucap Mama Shintia dan diangguki oleh Rihan dan yang lainnya.


"Suruh mereka masuk, Kak." Pintah Rihan pada Alex.


"Baik, Nona."


"Kenapa cuma lima orang?" Tanya Papa Jhon bingung.


"Kami terlalu banyak orang, jadi kami masuk secara bergiliran, Tuan besar." Kepala divisi IT menjawab mewakili yang lainnya.


"Ya, sudah."


"Semua anggota mengucapkan selamat untuk anda dan Tuan Zant, Nona! mereka juga meminta maaf, dan berharap semoga anda menyukai hadiah dari mereka semua."


"Ucapan selamat dari kalian saja sudah cukup. Kenapa harus repot-repot menyiapkan hadiah? Kalian ini, benar-benar. Tapi, terima kasih untuk hadiahnya. Aku juga akan memberikan hadiah untuk semua anggota Cruel Devil."


"Tidak perlu hadiah untuk kami, Nona. Kami tidak pantas. Kami yang seharusnya memberikan hadiah, bukan anda. Maafkan kami, Nona... tapi kami menolak hadiah dari anda."


"Aku tidak ingin penolakan!" Suara Rihan datar, membuat kelima ketua divisi itu merinding.


"Kamu membuat mereka takut, My Queen." Zant tersenyum tipis sambil mengelus lembut pucuk kepala istrinya.


"Terima saja hadiah dari nona kalian." Daddy Jhack membuka suara dan tersenyum tipis pada kelima bawahan anaknya.


Keluarga Rihan baru mengetahui beberapa bulan lalu bahwa anak kesayangan mereka ternyata punya perusahaan sendiri dan juga organisasi sendiri. Mereka tentu saja terkejut mendengarnya. Tetapi selanjutnya mereka bangga dengan otak anak kesayangan mereka yang hanya butuh satu tahun, perusahaannya sudah menempati posisi ketiga dalam pasar saham.


Kelima ketua divisi itu akhirnya menerima hadiah dari majikan mereka. Setelah itu, mereka meletakkan hadiah di bagian ujung ruangan dan pamit keluar, karena masih ada anggota lain yang harus masuk.


Sekitar 5 perwakilan kelompok bergantian masuk memberikan hadiah selamat pada Rihan, termasuk orang-orang Zant. Setelah semua selesai dan pamit pulang, keluarga Rihan dan Zant kembali berbincang tentang persiapan kelahiran Baby Zanri nanti. Banyak hal yang mereka bicarakan sampai terjadi perdebatan antara para orang tua, membuat para anak muda hanya bisa menggeleng dan tersenyum.


Trrrinnngggg...


Dering ponsel Alex mengalihkan perhatian semua orang di dalam sana.


"Kenapa ditolak?" Rihan bertanya karena ini pertama kalinya dia melihat kakak angkatnya ini menolak panggilan.


"Siapa yang menelpon, Kak?" Rihan kembali bertanya, tapi kali ini pada Alen karena melihat ekspresi menahan tawa gadis itu. Rihan yakin, dia sudah melewatkan sesuatu.


"Orang tidak penting, Nona." Akex menjawab dengan kesal.


"Setahuku, kak Alex tidak pernah menyimpan nomor orang yang tidak penting. Apa aku melewatkan sesuatu?" Rihan tentu tidak percaya.


Ketika Rihan mengatakan itu, ekspresi Alen, Daddy Jhack dan Mommy Rosse berubah. Ketiganya terlihat menahan tawa.


"Pasti calon istri Alex, Sayang." Mommy Rosse menjawab sambil tersenyum.


"Huh? Calon istri? Sejak kapan? Hahaha... aku ingin cerita lengkapnya." Rihan begitu bersemangat mendengar kabar ini.

__ADS_1


__ADS_2