
"Kenapa harus takut?" Neo menjawab dengan tenang lalu menatap remeh Brand di depannya.
"Sial... apa dia tahu sandera tidak ada lagi bersamaku?" Batin Brand khawatir. Jika Neo tahu sandera tidak ada lagi bersamanya maka Brand tidak akan bisa lagi mengancam Neo.
Ketika Brand akan membalas perkataan Neo, pintu ruangan itu terbuka secara perlahan. Direktur Bimo datang bersama sekretarisnya sehingga pertemuan segera dimulai.
Meski banyak perdebatan antara Brand dan Logan karena Brand sangat tidak setuju untuk bekerja sama dengan Neo. Bagi Brand, Neo tidak mengerti apapun.
Sayangnya, Direktur Bimo mengusulkan untuk kedua perusahaan itu harus saling membantu untuk proyek besar ini. Jika Brand tidak setuju, maka Miara Group terpaksa harus mundur dari proyek pembangunan resort. Mendengar apa yang dikatakan sang direktur, Brand dengan berat hati menerima kerja sama ini. Apalagi Brand memiliki alasan khusus membangun resort itu.
Akhirnya ketiganya sepakat melakukan meeting di lain waktu untuk membahas lebih rinci pembangunan resort yang sudah direncanakan. Setelah itu, mereka pulang ke tempat masing-masing.
Dalam perjalanan ke lobby, Brand hanya menatap marah pada Neo. Brand sangat yakin pasti Neo sengaja ikut memberi proposal yang sama karena ingin bersaing dengannya. Neo yang melihat sikap Brand padanya hanya membalas dengan santai, hingga keduanya masuk ke mobil masing-masing dan pergi dari sana.
"Apa lagi jadwalku?" Tanya Neo pada Logan yang sedang menyetir.
"Tidak ada."
Mendengar tidak ada jadwal lagi, Neo segera melihat jam tangannya dan waktu masih menunjukan pukul 11.25.
"Apa sebaiknya aku mengajak Rei makan siang bersama?" Tanya Neo pelan sambil menatap kendaraan di sisi kanannya yang berlalu lalang.
"Wow! Kenapa tiba-tiba?" Heran Logan.
"Entahlah. Aku hanya ingin makan bersama. Aku akan menelponnya."
"Tidak perlu!" Cegah Logan.
"Why?"
"Kamu akan menelponnya untuk makan siang di luar?"
"Ya."
"Dia tidak akan setuju,"
"Beri aku alasan yang logis." Datar Neo.
"Bocah itu tidak pernah memakan masakan orang lain kecuali chef di mansionnya." Jelas Logan.
"Tahu dari mana? Bukannya waktu itu kita melihatnya makan bersama Ayu?"
"Itu benar. Tapi semua makanan itu dimasak langsung oleh chef pribadinya."
"Kenapa tidak memberitahuku sejak awal?" Dengus Neo kesal pada Logan.
"Ini, sedang aku beri tahu."
"Apa dia menderita suatu penyakit?"
"Entahlah, tapi bisa jadi."
"Padahal aku ingin makan siang bersamanya." Gumam Neo pelan.
"Kita datang saja ke mansionnya." Usul Logan yang sibuk menatap ke depan.
"Hmm. Aku akan menelponnya kalau begitu."
__ADS_1
"Jangan! Takutnya dia akan menolak kedatanganmu, mengingat kalian tidak sedekat itu. Sebaiknya kita datang saja ke sana. Siapa tahu melihat kedatanganmu, dia tidak tegah menolak." Logan lalu memutar setir mobil untuk belok arah.
"Oke."
Logan kemudian mengemudikan mobil menuju mansion Rihan.
***
Di mansion, Rihan dan Alen yang melihat cctv perdebatan Neo dan Brand hanya melihat dengan datar hingga selesai.
"Cari tahu alasan jelas putusnya persahabatan keduanya." Rihan lalu menutup laptop di depannya.
"Baik Tuan."
"Apa yang sedang Tata lakukan?"
"Nona Phi sedang membaca di kamarnya. Sejak sadar, dia tidak ingin merepotkan orang lain sehingga semuanya dilakukan sendiri."
"Hmm."
Drrrttt
Drrrttt
Melihat ponselnya dan ternyata ada panggilan dari nomor tidak dikenal. Rihan segera menjawabnya tanpa penundaan. Tidak lupa juga Rihan mengaktifkan mode speaker.
"Hmm."
"Ini aku, Neo."
"Ada apa?"
"Untuk apa?"
"Ada yang ingin aku katakan."
"Tidak bisa di sini?"
"Tidak."
Mendengar penuturan Neo, Rihan segera melirik pada rekaman cctv di komputer sampingnya yang memperlihatkan lamborgini merah yang terparkir tepat di depan gerbang. Mengerutkan keningnya, Rihan menatap Alen memberi kode untuk membuka gerbang.
Rihan sebenarnya ingin menolak kedatangan Neo, tetapi setelah dipikir-pikir, lebih baik mengizinkannya masuk karena dia juga penasaran apa yang pria itu katakan hingga harus datang ke mansionnya.
"Hmm."
Setelah berdehem, Rihan memutuskan sambungan telepon.
...
Di posisi Neo sendiri, pria itu tiba-tiba merasa dejavu karena untuk pertama kalinya ada orang yang memutuskan panggilan lebih dulu. Biasanya dia yang melakukan itu. Melihat ekspresi aneh Neo, Logan menjadi penasaran.
"Apa katanya?"
"Tidak ada."
"Maksudnya bagaimana?"
__ADS_1
"Dia mematikan sambungan tanpa penjelasan apapun."
"Hahaha... seorang Neo akhirnya merasakan apa yang aku rasakan." Ejek Logan disela tawanya.
"Itu berarti dia tidak ingin kita bertamu?" Sambung Logan ketika tawanya terhenti secara mendadak karena tatapan tajam dari Neo.
"Enta... lah.."
Perkataan Neo sedikit tercekat karena gerbang mansion tiba-tiba terbuka.
Melihat bagaimana keamanan gerbang sebelum masuk ke mansion, Neo dan Logan menjadi takjub.
"Untuk keamanan seperti ini, pasti RS Setia bukan satu-satunya milik bocah itu." Komentar Neo yang masih melirik proses terbukanya gerbang secara bertahap.
"Gerbang mansionmu sangat jauh di bawahnya." Gumam Logan takjub.
Meski Chi Corporation juga bergerak di bidang teknologi, gerbang mansion utama seorang Neo tidak seketat ini.
"Hmm."
Setelah gerbang terbuka sepenuhnya, Logan lalu melajukan mobil memasuki gerbang dan berhenti 10 meter di pintu masuk mansion. Di sana sudah ada Alen yang menunggu kedatangan mereka. Keduanya kemudian diantar oleh Alen ke ruang tamu.
"Silahkan duduk. Tuan sebentar lagi akan turun."
"Terima kasih."
Mengambil posisi duduk, Neo segera menatap setiap sudut ruang tamu. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa menjadi bahan untuk mencari identitas jelas pemilik mansion.
"Kenapa justru foto keluarga besar Lesfingtone yang terpampang di sini daripada fotonya dan kedua orang tuanya?" Heran Neo dalam hati.
Semua orang akan berpikir begitu karena di ruang tamu hanya ada satu foto besar kira-kira berukuran 100 × 50 cm. Di posisi belakang ada Rihan, Mommy Rose, Daddy Jhack, Paman Jhon, Bini Shintia, dan jakak sepupunya Avhin yang berdiri dengan senyum khas masing-masing. Hanya Rihan sendiri yang berekspresi datar.
Di bagian depan dengan posisi duduk berurutan, ada kakek dan nenek dari mommynya. Selanjutnya ada kakek dan nenek dari sang daddy. Kakek dan nenek dari Bibi Shintia tidak ada dalam foto karena keduanya sudah meninggal.
"Kenapa anak gadis Jhack Roland tidak ada di foto keluarga? Apa Rei adalah gadis itu? Tapi itu tidak mungkin. Bisa jadi gadis itu memang sengaja tidak diikutsertakan karena tidak ingin diketahui oleh orang lain." Neo masih saja berbicara dalam hati perihal foto tersebut hingga dia tersadar saat Logan yang menyikutnya pelan karena kedatangan Rihan.
Rihan yang sempat melihat tatapan Neo pada foto keluarga mereka tahu jika Neo pasti merasa ada keanehan di sana. Sayangnya Rihan hanya bersikap datar dan segera mengambil posisi duduk di sofa yang berhadapan dengan Neo dan Logan.
"Ada apa?" Tanya Rihan datar sambil menatap dua pria di depannya.
"Busyet..." Batin Logan yang tidak tahu harus berkata apa dengan sikap datar Rihan.
"Tidak ada. Hanya menyapa seorang teman." Jawab Neo seadanya.
"Sejak kapan kita berteman?"
"Sejak hari itu."
"Terserah!"
Setelah itu, hanya ada keheningan. Neo sendiri tidak tahu harus berkata apa, dan Logan tidak ingin disebut sok dekat sok akrab jika dia memulai pembicaraan. Hanya ada keheningan hingga bunyi lift mengalihkan pandangan ketiganya.
Neo seketika mematung di tempatnya karena melihat orang yang keluar dari lift dalam keadaan menguap. Logan juga berekspresi sama.
***
Jika ada kritik dan saran yang membangun dari pembaca sekalian, silahkan tulis di kolom komentar agar author bisa memperbaiki kesalahan dalam cerita. Jangan lupa juga untuk mendukung cerita ini.
__ADS_1
Terima kasih.